MARI BERJILBAB KARENA ALLAH SWT

Di negeri ini, sekitar tiga puluhan tahun yang lalu, bisa dikatakan sebagai era tumbuhnya kesadaran para wanita muslimah untuk menutup auratnya dengan jilbab.  Walaupun menerima berbagai ejekan, tekanan dan ancaman dari berbagai pihak, seperti: dari anggota keluarga sendiri, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lain-lain, para wanita muslimah yang berjilbab pantang mundur untuk mempertahankan jilbabnya. Kasus larangan berjilbab bagi karyawati PT.Sanyo yang mendapat perhatian menteri agama waktu itu, bisa menjadi salah satu bukti. Para karyawati itu sampai mengadukan nasib mereka ke DPR RI dengan alasan bahwa karyawati yang memakai jilbab dilarang bekerja selama jam kerja berlangsung, bahkan meraka diperintahkan masuk ke gudang.(Republika Online, 25-05-1995).

Pada tahun 1982, pemerintah sendiri melalui departemen P&K waktu itu, mengeluarkan SK. No. 052/C/Kep/D/82 untuk mengatur penggunaan seragam sekolah. Ternyata SK ini menyebabkan sejumlah siswi berjilbab di beberapa sekolah tidak dibolehkan mengikuti pelajaran olah raga dan ujung-ujungnya ada yang keluar dari sekolahnya.

Di luar negeri, sebagai contoh di Perancis, juga terjadi pelarangan jilbab di tempat publik. Meskipun dikenal sebagai Negara yang menghargai keragaman budaya, namun dalam kasus jilbab, pemerintah Perancis menganggap pakaian tersebut sebagai simbol pemisahan diri kaum muslim dari masyarakat Eropa, sehingga pemerintah Perancis melarang jilbab dikenakan di sekolah dan di tempat kerja.

Masih banyak lagi kasus-kasus seputar pelarangan dan penolakan jilbab yang terjadi di berbagai belahan bumi ini, namun ternyata hal-hal seperti itu tidak menjadikan para wanita muslimah berhenti untuk berjilbab. Sebaliknya wanita yang berjilbab semakin banyak, sehingga seolah-olah berjilbab itu  sudah menjadi pakaian yang lazim.

Seiring dengan bertambah banyaknya wanita berjilbab, berbagai pihak yang menolak jilbab pun tampak mengendur dan membiarkannya. Karena itu sekarang dapat kita lihat di mana-mana, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai nenek-nenek menggunakan jilbab, termasuk pada acara-acara resmi maupun acara santai, di instansi pemerintah maupun swasta. Didukung oleh pesatnya perkembangan dunia fashion pada sektor busana muslim/muslimah, menjadikan para wanita berjilbab semakin enjoy dan jauh dari perasaan asing/aneh karena berjilbab.

Hanya saja keadaan sekarang ini jika dicermati, terdapat suatu hal yang patut disayangkan, yaitu: bergesernya dorongan untuk menggunakan jilbab dari para wanita muslimah, di mana para wanita muslimah era sebelumnya memutuskan berjilbab dalam hidupnya dengan dorongan untuk mencapai ketaatan maksimal pada Allah Swt.  Namun  realitas yang ada sekarang, dorongan seperti itu, tidak selalu dimiliki oleh wanita berjilbab pada masa sekarang ini. Muncul dan populernya  “jilbab semau gue”, seperti: jilbab gaul (sekedar dililitkan di kepala dan leher) , jilbab ukhti (yang lebar dan menutupi kepala sampai dada), jilbab gaya (yang menutupi kepala dengan beragam lilitan dan hiasan), jilbab politik (dipakai oleh kader parpol untuk mendongkrak suara), bisa menjadi bukti munculnya fenomena pergeseran dorongan dalam berjilbab. Karena itu tidak mengherankan jika pada masa sekarang, berkembang anggapan bahwa jilbab sekedar bagian dari perkembangan dunia fashion yang menciptakan sub industri mode tersendiri. Akibatnya, banyak terlihat para wanita muslimah yang mengenakan jilbab atas dasar: “sekedar mengikuti mode” saja. Dari sini muncul pertanyaan: Mengapa bisa terjadi pergeseran seperti itu? Apa yang seharusnya menjadi pendorong para wanita muslimah dalam mengenakan jilbab?

 

Harus Ada Kesadaran Yang Benar Terhadap Hubungan Manusia Dengan Allah Swt

Disadari atau tidak, sesungguhnya pemikiran-pemikiran non Islam seperti: sekulerisme, liberalisme, pluralisme, sosialisme, dan komunisme, sangat mempengaruhi berbagai bidang kehidupan umat Islam saat ini. Sebagian dari pemikiran-pemikiran itu menganggap manusia perlu terikat dengan aturan agama hanya dalam masalah penyembahan/ibadah kepada Tuhannya saja sedangkan dalam masalah, seperti: ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, manusia bisa bebas membuat aturan untuk mereka sendiri. Pemikiran ini turut mempengaruhi kesadaran sebagian wanita muslimah dalam melaksanakan aturan-aturan Islam, termasuk dalam hal berpakaian. Mereka membenarkan anggapan bahwa Allah Swt hanya berhak mengatur manusia dalam masalah ibadah saja, sedangkan dalam masalah d luar ibadah bisa terserah manusianya. Karena itu, di satu sisi mereka ingin melaksanakan perintah Allah Swt untuk berjilbab, di sisi yang lain mereka juga ingin bebas dalam berpakaian. Mereka bisa menerima aturan Islam mengenai cara berpakaian pada waktu ibadah, seperti: sholat/haji. Namun untuk cara berpakaian di luar waktu sholat/haji, mereka menyesuaikan dengan seleranya sendiri.  Dengan pemikiran seperti itu, jilbab turut dikembangkan sedemikian rupa mengikuti dan menyesuaikan dengan kepentingan manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Dari sini dapat dikatakan bahwa suatu aturan akan mudah untuk dilaksanakan jika sudah ada kesadaran dari manusia untuk melaksanakannya. Hanya saja kesadaran itu bisa merupakan kesadaran yang benar, bisa juga merupakan kesadaran yang salah. Dikatakan sebagai kesadaran yang benar jika kesadaran itu disandarkan pada keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt sehingga hanya Allah Swt yang paling berhak mengatur dan membuat aturan untuk makhluknya. Konsekuensi dari kesadaran ini, manusia akan menyesuaikan seluruh perbuatannya dengan aturan yang bersumber dari Allah Swt tanpa melihat keuntungan atau kemanfaatan yang dapat diperoleh karena melaksanakan aturan tersebut. Artinya, dengan kesadaran yang benar manusia akan menempatkan Allah Swt sebagai satu-satunya pendorong untuk melaksanakan aturan tersebut. Karena itulah jilbab yang dalam pandangan Islam merupakan salah satu perintah Allah Swt -disebutkan dalam QS. An Nur ayat 31 dan QS. Al Ahzab ayat 59- akan dilaksanakan oleh seorang muslimah semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah Swt saja.

Sedangkan kesadaran yang tidak seperti itu, merupakan kesadaran yang salah. Misalnya, kesadaran yang disandarkan pada keuntungan/kemanfaatan yang diperoleh dari pelaksanaan suatu aturan. Kesadaran seperti ini justru menyebabkan suatu aturan tidak dilaksanakan bahkan berpotensi melanggar aturan-aturan yang lainnya. Dalam masalah jilbab, contohnya, ketika jilbab dipandang bermanfaat untuk menutupi kejahatan yang akan dilakukannya, maka jilbab menjadi sangat menguntungkan bagi dirinya dan hal itu akan mendorong dirinya untuk berjilbab. Seperti yang terjadi pada kasus perjokian seleksi masuk melalui Paper Based Test Regular I, Universitas Islam Indonesia, ditemukan tujuh calon mahasiswi yang memanfaatkan jilbabnya untuk  menyembunyikan headset yang dipasang di telinga mereka sebagai alat yang mereka gunakan untuk memuluskan perjokian mereka.(Jawa Pos, 8 Maret 2011). Contoh sebaliknya,  ketika jilbab dianggap tidak memberikan keuntungan apa-apa bahkan dianggap merugikan, akan  mudah bagi orang tersebut untuk menanggalkan jilbabnya. Konon, Qory Sandioriva (warga NAD, propinsi yang menerapkan perda wajib jilbab bagi warga wanita), yang dinobatkan sebagai pemenang kontes kecantikan puteri Indonesia 2009, menganggap bahwa berjilbab dapat merugikannya. Sebab, jika dia berjilbab berarti dapat   mengagalkan keikutsertaanya pada kontes kecantikan tersebut. Karena itu dia memilih menanggalkan jilbabnya.

Oleh karena itu, hendaknya selalu diwujudkan kesadaran yang benar dalam diri seorang muslim/muslimah. Yaitu, kesadaran yang ketika dirinya melaksanakan aturan Allah Swt tujuannya hanya untuk mencapai ridho Allah Swt, bukan sekedar mendapatkan keuntungan/kemanfaatan dari aturan tersebut.  Kesadaran seperti itu juga dapat menjaga dirinya dari pengaruh pemikiran-pemikiran yang tidak Islami serta memudahkan untuk beristiqomah dalam melaksanakan aturan-aturan Islam.

 

Melaksanakan Semua Aturan Islam

Hal lain yang juga seringkali menyebabkan persoalan di kalangan para muslimah terkait  jilbab adalah adanya pernyataan-pernyataan yang seolah-olah mengharuskan para muslimah untuk memilih salah satu di antaranya. Sebagai contoh: “Berjilbab tidak penting, yang penting  akhlaknya baik”, atau “Percuma berjilbab, jika hati munafik”. Pernyataan-pernyataan seperti itu sebenarnya tidak terpancar dari akidah dan hukum syara’ Islam. Sebab, akidah dan hukum syara’ Islam telah menjelaskan secara rinci hukum dari perbuatan-perbuatan manusia di dunia, yaitu berupa hukum wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang bebas nilai, sehingga manusia bisa seenaknya sendiri melakukan atau tidak melakukan ini dan itu.

Islam adalah agama yang telah diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw  sebagai pengatur perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Yaitu: (1) Mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt sebagai Penciptanya yang tercakup dalam masalah akidah dan ibadah, (2) Mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang tercakup dalam masalah akhlak, makanan/minuman dan pakaian, (3) Mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya yang tercakup dalam masalah mu’amalah dan uqubat/sanksi.

Dengan demikian,  seorang muslim/muslimah harus mengikatkan diri dengan aturan-aturan Islam sebagai wujud perintah Allah Swt dan memahami hukum-hukum perbuatan manusia menurut aturan Islam. Seorang muslim tidak hanya diperintahkan untuk sholat saja, tetapi juga diperintahkan untuk menuntut ilmu, bekerja, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, meninggalkan yang haram, melaksanakan yang sunnah, dll. Karena itu, tidak layak bagi seorang muslimah melaksanakan perintah Allah Swt untuk berjilbab tetapi meninggalkan perintah Allah Swt yang lain, bahkan melanggar larangan Allah Swt, seperti: berakhlak buruk,  munafik, dusta, menipu, mencuri, dan lain-lain. Seluruh perintah Allah Swt harus dilaksanakan semuanya oleh seorang muslim/muslimah, dengan dorongan semata-mata untuk mencapai ridhoNya. Bukan karena kemanfaatan/keuntungan semata, atau karena adat istiadat saja.  Demikian pula seluruh ajaran Islam harus dilaksanakan bukan karena adanya kesamaan Al Qur’an dengan kitab agama-agama non Islam, seperti Injil, dan lain-lain. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 208: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: