BUSANA, SOLUSI MASALAH PELECEHAN SEKSUAL DAN PERKOSAAN?

Masalah pelecehan seksual dan perkosaan terhadap kaum wanita semakin meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar data di wilayah hukum Polda Metro Jaya, tindak kejahatan pemerkosaan mengalami peningkatan sebesar 13,33 persen dibanding 2010 lalu. Tahun 2011 kasus pemerkosaan sebanyak 68 kasus, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 60 kasus. (Okezone,30 Desember 2011). Di wilayah hukum Polda Jawa Tengah  menurut  Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) mengungkapkan, jumlah kasus perkosaan sepanjang tahun 2010 di Jawa Tengah mencapai 202 kasus dengan jumlah korban 229 orang dan melibatkan 301 pelaku. (SINDO, 9 Desember 2010). Demikian pula terjadinya kasus perkosaan disertai pembunuhan yang menimpa seorang mahasiswi Bina Nusantara dan kasus perkosaan dan perampasan yang menimpa seorang karyawati berinisial RS ketika berada dalam angkot D-02 jurusan Ciputat-Pondok Labu pada pertengahan Agustus dan awal September tahun lalu (Metronews.com, 16 September 2011) jelas sekali menimbulkan keresahan di masyarakat.

Timbulnya rasa takut dan tidak aman pada banyak para wanita yang selama ini menggantungkan sarana transportasinya pada angkutan umum menyebabkan mereka harus memutar otak agar aktivitas hidup tetap berjalan. Mereka yang memiliki kemampuan untuk pindah sarana transportasi yang dirasakan lebih menjamin keamanannya, no problem. Tapi  mereka yang tidak mampu dan tidak ada pilihan lain kecuali dengan memanfaatkan transportasi umum, akan menimbulkan masalah baru bagi dirinya. Begitu juga dari pihak penyedia layanan transportasinya, mereka bingung dan resah karena seringnya kejadian perkosaan dan pelecehan seksual dalam sarana transportasi umum berimbas pada pendapatan yang mereka terima. Biasanya penurunan pendapatan harian akan mereka alami begitu muncul kasus-kasus seperti itu.

Adanya kejadian-kejadian tersebut memunculkan pendapat dan pernyataan dari berbagai kalangan. Seperti yang diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, menyebutkan ada lima tips untuk mencegah pemerkosaan di angkutan umum.  Pertama, jangan sendirian naik angkutan terutama pada malam hari. Kedua, penumpang berpakaian yang sopan dan menutup aurat. “Jangan sampai pakaian yang digunakan menimbulkan syahwat,” jelas perwira menengah ini. Ketiga, penumpang mengetahui angkutan umum yang dinaiki. Keempat, identifikasi pengendara angkutan mulai dari baju yang dikenakan hingga bentuk muka. Kelima, jika terjadi gangguan segera menghubungi pihak kepolisian.

Fauzi Bowo, gubernur DKI Jakarta, mengungkapkan pendapat dengan mengatakan “Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga,” katanya sembari bercanda. “Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang.” Namun selang dua hari kemudian sang gubernur minta maaf  setelah banyak orang menumpahkan ketidaksetujuan terhadap pernyataannya di dunia twitter, karena mereka menilai pernyataan itu seolah-olah menyudutkan korban pelecehan seksual/perkosaan dan  membiarkan pelakunya. (Tempo.co, 18 September 2011)

Dari sini muncul pendapat yang menolak dihubungkannya pelecehan seksual dan perkosaan dengan busana/pakaian. Sebagai contoh, pernyataan Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Neng Dara Affiah, yang menyatakan bahwa pelecehan atau pemerkosaan terhadap perempuan terjadi karena cara pandang yang salah, bukan karena cara berpakaian korban. “Di Bali, orang merasa aman dan nyaman meski ‘telanjang’ di depan umum. Di Arab, meski perempuan memakai pakaian tertutup dengan abaya, pemerkosaan di tempat umum tetap terjadi,” jelasnya. (Kompas, 16/9/2011.) Bahkan sejumlah aktivis perempuan menggelar demo di bundaran Hotel Indonesia dengan mengenakan busana mini sebagai bentuk protesnya. Pada demo tersebut, Faiza Mardzoeki yang mengatas namakan Kelompok Perempuan Menolak Perkosaan (KPMP) mengatakan jika pihaknya tidak sepakat jika busana  mini dikatakan sebagai penyebab terjadinya kasus perkosaan. “Jangan salahkan pakaian kami, bagaimana dengan pemerkosanya,”ujarnya. Mereka juga menyatakan  bahwa perkosaan muncul bukan karena masalah rok mini atau pakaian ketat dengan mengambil contoh di Aceh yang wilayahnya dianggap menggunakan syariat Islam, perkosaan tetap terjadi walau korbannya sudah menutup badannya. “Kalau otaknya porno, ya porno saja,” imbuhnya. (jpnn.com, 19 September 2011).

Dapat disimpulkan bahwa munculnya polemik cara berbusana sebenarnya berawal dari adanya upaya untuk menyelesaikan masalah pelecehan seksual dan perkosaan yang makin marak terjadi ditengah masyarakat. Sebagian pihak menganggap bahwa cara berbusana bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah pelecehan seksual dan perkosaan. Sedangkan pihak yang lain menganggap bahwa cara berbusana tidak ada hubungannya dengan masalah pelecehan seksual dan perkosaan.  Bagaimana pandangan Islam dalam masalah ini? 

 

Cara Berbusana Merupakan Hukum Syara’ Islam

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Rasul Muhammad Saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt sebagai penciptanya, mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan mengatur hubungan manusia dengan manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Allah Swt mencakup peraturan-peraturan yang berkaitan dengan akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup peraturan-peraturan yang berkaitan dengan akhlak, makanan dan pakaian. Hubungan manusia dengan manusia sesamanya mencakup peraturan-peraturan yang berkaitan dengan muamalah dan uqubat (pelanggaran, sanksi dan peradilan).

Berdasar penjelasan sebelumnya bahwa pakaian merupakan salah satu peraturan untuk manusia terkait dengan dirinya sendiri, maka dapat dikatakan bahwa cara berbusana manusia merupakan aturan yang memang telah ditetapkan oleh Islam. Artinya, seorang muslim tidak dibiarkan bebas dalam masalah ini. Mereka terikat dengan aturan-aturan mengenai busana yang hendak dikenakannya. Dalam kitab-kitab fikih, banyak pembahasan yang terkait dengan masalah aurat dan perintah untuk menutup aurat. Dibedakan antara aurat anak kecil, aurat laki-laki dan aurat wanita. Dibedakan antara aurat dalam kehidupan khusus dengan kehidupan umum. Ada perintah menutup aurat ketika akan melakukan ibadah sholat atau ihram. Ada pula perintah menutup aurat ketika berhadapan dengan orang-orang yang bukan mahramnya, dll. Ini semua menunjukkan bahwa Islam memiliki aturan berupa hukum syara’ mengenai cara menutup aurat, yang itu berarti pemikiran mengenai cara berbusana. Sebagaimana  firman Allah Swt dalam QS. An Nur ayat 30-31 dan QS. Al Ahzab ayat 59.

Hanya saja harus dipahami bahwa hukum syara’ Islam yang berkaitan dengan pakaian tidak boleh dicari-cari ‘illatnya (sebab-sebab ketentuan hukum). Demikian pula hukum syara’ yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan akhlak. Sedangkan hukum syara’ yang berkaitan dengan muamalah dan uqubat dikaitkan berdasarkan ‘illat yang melatarbelakangi adanya hukum.  Memang ada kebiasaan dari umat  Islam yang terpengaruh dengan  cara berpikir  Barat -yang selalu menjadikan kemanfaatan sebagai asas perbuatannya- dengan mencari-cari ‘illat terhadap seluruh hukum syara’ Islam. Termasuk mencari-cari ‘illat terhadap hukum syara’ yang memerintahkan pada seorang muslim (laki-laki dan wanita) untuk menutup aurat, menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, tidak menampakkan perhiasannya, dll. Padahal yang demikian itu bertentangan dengan pandangan Islam yang mengharuskan seorang muslim melaksanakan hukum syara’ atas dorongan ketakwaannya pada Sang Pencipta. Ini berarti seorang muslim melaksanakan hukum syara’ bukan karena dorongan manfaat yang akan diperoleh.

Akibatnya munculnya pendapat-pendapat tidak Islami di masyarakat kita. Seperti: “ngapain berjilbab yang penting hatinya bersih”, atau “percuma pake pakaian tertutup kalo pikirannya porno”, dll. Ditambah banyak fakta terjadinya kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang tidak hanya menimpa wanita-wanita berbusana mini tapi menimpa juga para wanita yang sudah menutup rapat auratnya. Hal ini menyebabkan seseorang tidak terdorong untuk menutup auratnya sesuai hukum syara’ bahkan menganggap bahwa berbusana bagian dari hak asasi manusia dan mengikuti selera masing-masing. Pendapat-pendapat seperti ini seolah-olah membenarkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa cara berbusana itu tidak terkait dengan pelecehan seksual maupun perkosaan. Padahal sebenarnya yang mereka inginkan adalah dukungan untuk mendapatkan kebebasan bertingkah laku, termasuk dalam  berbusana, seperti yang terjadi di dunia Barat.

Karena itu penting untuk dipahami bahwa Islam mengatur manusia dalam cara berbusana dan kaum muslimin terikat dengan aturan itu. Lantas bagaimana dengan busana mini? Fakta dari busana mini adalah busana yang menyebabkan terbukanya aurat, sehingga busana mini bukanlah pakaian yang bisa dikenakan di tempat-tempat umum. Kita sendiri sebagai seorang muslim hendaknya melaksanakan hukum syara’ menutup aurat seperti yang diajarkan oleh Islam semata-mata karena ketakwaan kita pada Allah Swt. Bukan justru mengikuti kebebasan bertingkah laku yang sengaja diciptakan oleh orang-orang kafir untuk merusak akhlak kaum muslimin. Allah Swt berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS. Al-A’raaf: 26).

 

Solusi Masalah Pelecehan Seksual Dan Perkosaan

Tingginya jumlah kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi pada masyarakat yang telah mengenakan pakaian tertutup (menutup aurat) seperti di wilayah Aceh, Arab Saudi, Mesir, dll, seringkali menyebabkan sebagian orang berpikir bahwa cara berbusana tidak ada hubungan dengan pelecehan seksual dan perkosaan. Dalam pandangan orang-orang ini, pelecehan seksual dan perkosaan adalah kesalahan di pihak pelaku sehingga mereka berpendapat pelaku yang harus diberi sanksi hukum bukannya mengatur korban dengan aturan berbusana atau keharusan menutup aurat.  Pandangan seperti itu jelas tidak sesuai dengan Islam. Termasuk menjadikan Aceh, Arab Saudi, Mesir, dll, sebagai rujukan dalam menyelesaikan masalah kehidupan manusia bukanlah tindakan yang tepat. Sebab rujukan dalam menerapkan Islam adalah mengikuti jejak Rasulullah dan para shahabatnya yang telah memberikan fakta riil penerapan dan penegakan Islam di seluruh aspek kehidupan.

Islam adalah aturan dari Allah Swt untuk manusia. Ketika Allah Swt mengatur perbuatan manusia berarti Allah Swt mengantarkan manusia pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan nalurinya sehingga tidak mengarah pada pemenuhan yang salah atau pemenuhan yang tercela. Pelecehan seksual dan perkosaan merupakan contoh pemenuhan naluri yang salah, begitu juga mengenakan busana yang mempertontonkan aurat. Sehingga ketika diterapkan hukum syara’ untuk menutup aurat, diterapkan pula sanksi bagi yang melanggarnya. Begitu pula ketika diterapkan hukum syara’ larangan mendekati zina, diterapkan pula sanksi bagi pezina, pelaku pelecehan seksual dan perkosaan. Termasuk diterapkannya hukum syara’ dan sanksi bagi semua perbuatan yang dapat merusak akhlak dan kehidupan manusia, seperti: pornografi, korupsi, penipuan, pembunuhan, dll. Karena itu solusi dari masalah pelecehan seksual dan perkosaan adalah satu paket, yaitu: adanya individu-individu yang bertakwa pada Allah Swt dan adanya peraturan yang ditegakkan oleh sistem kehidupan yang adil untuk seluruh umat manusia.

Akal manusia sangat terbatas untuk mengetahui manakah jalan yang harus ditempuh, namun Allah Swt telah menunjukkan jalan yang harus ditempuh manusia menuju keselamatan hidup, sebagaimana firmanNya: “Dan ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu, agar kamu bertakwa.”  (QS. Al An’aam: 153).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: