BELAJAR DARI KEJADIAN YANG DIALAMI BIBI AISHA DI AFGHANISTAN

Sebuah LSM di Amerika Serikat bernama Grossman Burn Foundation akan mendanai operasi plastik pada telinga dan hidung Bibi Aisha seorang wanita Afghanistan berumur 18 tahun. (The Huffington Post, 1 Oktober 2010). LSM tersebut mau mendanai operasi karena Aisha adalah wanita Afghanistan yang menjadi korban kekerasan suaminya. LSM tersebut mengharapkan bahwa bantuan operasi tersebut merupakan bagian dari kapitalisme dalam propaganda dan kampanye anti kekerasan yang merupakan permasalahan yang sering terjadi di antara mereka dan propaganda dan kampanye anti Islam yang mereka takutkan kebangkitannya.

Awal mulanya adalah kebiasaan/tradisi di Afghanistan dalam menyelesaikan perkara pembunuhan. Pembunuh tidak diadili di pengadilan menggunakan hukum Islam mengenai qishash atau diyat, namun pembunuh harus menyerahkan 2 wanita yang merupakan keluarganya, misalnya anak dan keponakan perempuannya kepada keluarga yang dibunuh. Kemudian keluarga dari yang membunuh tersebut menikahi kedua wanita tersebut. Itulah tradisi di Afghanistan dalam menyelesaikan perkara pembunuhan.

Tentu saja banyak kelemahan dalam penyelesaian perkara pembunuhan ini. Selain bertentangan dengan ajaran agama Islam, kelemahan lain adalah menimbulkan keluarga yang tidak harmonis, sebagaimana dialami Bibi Aisha dan suaminya. Selanjutnya, menyengsarakan pihak wanita dan istri yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh suami dan keluarganya. Lebih lanjut lagi berbagai permasalahan di tengah keluarga muslim ini digunakan untuk propaganda kapitalisme untuk menyelesaikan permasalahan mereka sekaligus menjelek-jelekan umat Islam dan agama Islam. Bisa disimpulkan bahwa penyelesaian pembunuhan dan berbagai masalah lain yang tidak berdasarkan agama Islam, pasti tidak menyelesaikan masalah itu sendiri, bahkan menimbulkan masalah-masalah lain.

Berdasarkan tradisi Afghanistan ini, Bibi Aisha dan sepupunya diserahkan kepada seorang laki-laki yang sudah cukup berumur yang konon kabarnya adalah anggota kelompok Taliban. Hal itu disebabkan salah satu keluarga Bibi Aisha membunuh keluarga laki-laki tua tersebut. Jadilah Bibi Aisha istri dari laki-laki tua anggota kelompok Taliban.

Celakanya, sang suami selalu melakukan kekerasan kepada Bibi Aisha. Begitu ‘hebatnya’ kekerasan tersebut sehingga Bibi Aisha merasakan bahwa hal itu akan membawa kematian pada dirinya, kecuali kalau dia melarikan diri. Bibi Aisha memilih melarikan diri dan meninggalkan keluarganya yang tidak harmonis.

Suaminya yang merasa bahwa tindakan Bibi Aisha mencemarkan nama baiknya, berusaha mencari keberadaan Bibi Aisha. Pada suatu malam si suami berhasil menemukan Bibi Aisha. Selanjutnya si suami dibantu oleh salah satu anggota keluarganya menghukum Bibi Aisha dengan alasan telah mencemarkan nama baik si suami. Hukumannya adalah dipotong kedua telinganya dan dilanjutkan di potong hidungnya. Jadilah Bibi Aisha mengalami cacat permanen berupa wajahnya tidak sempurna seperti layaknya manusia dan wanita. Dia tidak memiliki telinga dan hidung.

Sekelompok pekerja berkulit putih, mungkin berkewarganegaraan AS, entah bagaimana mulanya dan bagaimana caranya, berhasil menemukan Bibi Aisha. Mereka kemudian melaporkan kepada lembaga bantuan kemanusiaan Amerika Serikat (AS) di mana setelah mengambil Bibi Aisha, mereka menyerahkannya kepada lembaga advokasi perempuan, Women for Afghan Women, di Kabul. Jadilah Bibi Aisha ditampung di penampungan Women for Afghan Women, di Kabul.

Dari tempat penampungannya tersebut kisah tragis Bibi Aisha menyebar secara luas. Wajahnya yang sudah tidak berhidung dan bertelinga, keluarganya yang tidak harmonis, suaminya yang anggota Taliban, tradisi di lingkunganya yang kurang baik, dan pengalaman pelariannya, merupakan bahan isu yang cukup menarik untuk digosipkan dan dikonsumsikan khususnya dalam hubungan kapitalisme dan Islam serta hubungan antara Amerika Serikat dan Afganistan. Hingga isu ini tercium oleh majalah dan wartawan Time. Mereka berniat mengulas masalah ini dan dengan bujuk rayu tertentu bahkan bisa medapatkan ijin dari Bibi Aisha untuk memotret wajahnya yang sudah tidak memiliki hidung dan telinga. Nampaknya Aisha tidak memperdulikan berbagai aspek yang lain, selain ingin hidungnya dipulihkan seperti sedia kala. Dia mengatakan: “Saya hanya ingin hidung saya kembali seperti sedia kala”.

Ketika isu Bibi Aisha ini diterbitkan, sontak saja berbagai komentar bermunculan. Berbagai pihak menyayangkan foto tersebut sebagai tidak etis dan bahkan secara tidak langsung merupakan kampanye yang mendorong kekerasan. Ada juga yang menganggap majalah Time melakukan penipuan. Kejadian tersebut sudah terjadi beberapa tahun lalu dan sudah dipublikasikan seorang wartawan, namun majalah Time menganggkat isu tersebut sebagai kejadian baru. Demikian juga majalah Time mengganti nama si wanita menjadi Bibi Aisha. Selain itu majalah Time tidak menyertakan si wartawan dalam publikasi isu ini.

Pihak Taliban pun juga memberikan tanggapan melalui situsnya. Taliban ikut prihatin atas kasus yang menimpa Aisha. Taliban juga menyangkal bahwa Islam memperbolehkan pemotongan telinga dan hidung sebagai balasan atas pencemaran nama baik. Dikatakan bahwa jelas sekali Islam melarang memotong-motong mayat, apalagi memotong manusia yang masih hidup, dan apalagi memotong anggota tubuh seorang muslim atau muslimah.

Dari kejadian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada tiga permasalahan besar dan pada setiap permasalahan besar tersebut ada permasalahan-permasalahan perinciannya. Jika semua permasalahan tersebut diselesaikan dengan baik dan benar, pastilah kesejahteraan dan kebahagiaan hidup akan diraih. Tiga permasalahan besar tersebut adalah permasalahan pembunuhan, permasalahan pernikahan dan permasalahan hubungan luar negeri.

Permasalahan Pembunuhan

Permasalahan pembunuhan harus diselesaikan melalui pengadilan, tidak boleh main hakim sendiri dan anarki. Di dalam persidangan, hakim menyidang orang yang dituduh melakukan pembunuhan berdasarkan keterangan saksi dan bukti-bukti yang ada. Jika terbukti, hakim memberikan sanksi Islam terhadap orang yang dituduh membunuh. Sanksi Islam tersebut berupa sanksi qishash atau diyat.

Dengan cara seperti itu, orang akan khawatir kalau sampai melukai orang lain apalagi membunuh. Hukumannya sangat berat, yaitu: qishash atau diyat. Dengan itu pula keadilan akan dirasakan oleh keluarga yang anggota keluargnya dibunuh sebab si pembunuh mendapatkan hukuman qishash atau diyat yang setimpal dengan perbuatannya melanggar hukum.

Sangat disayangkan tradisi orang Afghanistan yang mengganti hukum qishash dan diyat dengan tradisi menyerahkan untuk dinikahi dua wanita dari keluarga mereka kepada anggota keluarga terbunuh. Cara seperti itu tidak mampu mengurangi kejadian pembunuhan, bahkan muncul masalah yang lain. Lebih lanjut musuh-musuh Islam mempunyai momen dan kesempatan untuk memfitnah agama Islam dan umat Islam. Seharusnya, kembali ke ajaran Islam secara kaffah.

Permasalahan Pernikahan

Pernikahan merupakan syariat Islam yang diharapkan menyelesaikan permasalahan mewujudkan generasi penerus yang beriman meneruskan orang tua dan generasi tuanya. Pernikahan akan menghasilkan generasi penerus yang karena dididik dengan baik, akan memiliki karakter seperti orang tuanya. Allah SWT berfirman dalam surat an Nisaa’ ayat 1: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak…..”

Untuk mewujudkan pernikahan yang nantinya menghasilkan generasi penerus yang baik, diperlukan tidak adanya keterpaksaan kedua belah pihak untuk menjadi suami istri dan diperlukan akad nikah yang Islami. Mengenai ketiadaan keterpaksaan ini disebutkan dalam berbagai hadits, di antaranya Rasulullah SAW membatalkan pernikahan seorang wanita yang dipaksa oleh orang tuanya. “Khansa’ binti Khadzam al Anshariyah pernah menuturkan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia adalah seorang janda dan tidak suka akan pernikahan itu. Ia kemudian datang kepada Rasulullah Saw, lalu beliau membatalkan pernikahannya itu.” Adapun berkaitan dengan akad nikah yang Islami diwujudkan dalam bentuk ijab kabul dari orang tua atau yang mewakili kepada calon suami yang melalui ijab kabul ini terjadi pemindahan tanggung jawab kepemimpinan dan nafkah dari orang tua kepada si suami. Dengan hal ini pasti suami dan istri akan menjadi bahagia. Si suami bertanggung jawab terhadap istri sebagaimana orang tuanya dulu, dan istri akan betah di rumahnya sendiri bersama dengan suaminya.

Sangat disayangkan jika pernikahan digunakan untuk menyelesaikan perkara pembunuhan. Hukum pernikahan adalah untuk menyelesaikan masalah kebutuhan generasi muda harapan generasi tua, sedangkan masalah pembunuhan diselesaikan dengan hukum qishash dan diyat. Hukum pernikahan tidak untuk menyelesaikan perkara pembunuhan. Mungkin orang Afghanistan menduga mencampuradukkan seperti itu akan mencegah perang antar suku. Faktanya mencampuradukkan seperti itu justru menyebabkan perbudakan dan kekerasan suami terhadap istri, sebagaimana dialami oleh Bibi Aisha. Selanjutnya, musuh-musuh Islam mempunyai momen dan kesempatan untuk memfitnah agama Islam dan umat Islam.

Permasalahan Hubungan Luar Negeri

Umat Islam berbeda dengan umat lainnya, seperti Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, kapitalisme, liberalisme, sosialisme atau nasionalisme. Perbedaan tersebut disebabkan umat Islam menegakan akidah dan syariat Islam dalam ibadah dan kehidupan. Umat lain memiliki agenda yang berbeda. Oleh karena itu, umat Islam berbeda dengan umat lainnya.

Dampak dari perbedaan tersebut adalah kebenciaan umat lain terhadap umat Islam sebab mereka pasti akan dikalahkan oleh umat Islam. Mereka sadar bahwa dengan keburukan mereka tersebut pasti mereka akan dikalahkan oleh umat Islam. Bukannya berpindah menjadi umat Islam, mereka bahkan membenci agama Islam dan umat Islam. Selanjutnya mereka melakukan propaganda memfitnah dan menjelek-jelekan Islam dan umat Islam. Bahkan mereka berusaha memerangi umat Islam. Pada saat ini, dipimpin oleh Amerika Serikat mereka memerangi umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Iraq, Afghanistan, Indonesia, dll.

Untuk mengatasi masalah ini, umat Islam dapat meningkatkan aktifitas dakwah yang mendorong umat lain memahami Islam, bahkan kalau bisa masuk Islam dan mengemban Islam sebagai risalah universal. Dengan itu diharapkan, akan menghilangkan kebencian dan propaganda kebencian umat lain terhadap agama Islam dan umat Islam. Termasuk juga dominasi berbagai tradisi yang bertentangan dengan akidah dan hukum syara’ Islam dapat dilebur menjadi mendukung dan sesuai dengan akidah dan hukum syara’ Islam.

PENUTUP

Keterpurukan umat Islam ternyata dapat dimanfaatkan untuk propaganda permasalahan bangsa Barat dan propaganda anti Islam dan umat Islam. Bibi Aisha yang berada pada lingkungan yang tidak kondusif di Afghanistan telah dimanfaatkan untuk propaganda penjajahan Barat di Afghanistan dan menjelek-jelekan ajaran Islam. Untuk mengatasi itu, seharusnya umat Islam meningkatkan aktifitas dakwah semaksimal mungkin sebagai jalan untuk kembali ke ajaran Islam secara kaffah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: