KELUARGA YANG HARMONIS

Pada saat ini hubungan dalam keluarga banyak yang tidak harmonis, tidak sesuai dengan tuntutan agama Islam. Bukti banyak keluarga yang tidak harmonis dapat dilihat dari jumlah perceraian yang selalu meningkat tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Di Amerika Serikat dan di Inggris jumlah perceraian lebih banyak daripada jumlah pernikahan. Di Cina, perceraian pada tahun 2007 berjumlah 1,7 juta pasangan. (BBCIndonesia.com (25 Januari 2008)). Bukti lain dari keluarga tidak harmonis adalah banyak terjadi perselingkuhan oleh suami atau istri. Sebagai contoh, baru-baru ini aparat kepolisian kabupaten Sleman DIJ menangkap polwan AKP RW, yang merupakan kapolsek di Sleman yang berselingkuh dengan AKP AR, yang juga kapolsek di Sleman. (Kompas.Com (16 mei 2008)). Sebuah perisitiwa yang ironis. Biasanya polisi melakukan operasi untuk menertibkan masyarakat, namun sekarang justru polisi yang ditangkap, bahkan yang ditangkap setingkat kapolsek yang selingkuh dengan kapolsek yang lain. Kejadian KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) juga merupakan bukti bahwa banyak terjadi kejadian keluarga yang tidak harmonis. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menginformasikan bahwa pada tahun 2007 terjadi 25 ribu kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), selain itu juga diinformasikan bahwa fenomena KDRT adalah fenomena puncak gunung es, yaitu tidak terlihat keseluruhan, yang terlihat hanya bagian permukaan yang sedikit. Dengan kata lain kasus sesungguhnya KDRT lebih banyak dari 25 ribu.
Di luar negeri terdapat lebih banyak bukti yang menunjukkan keluarga tidak harmonis. Sebagaimana dikemukakan di atas, di AS dan di Inggris jumlah perceraian lebih banyak dari pernikahan. Di Australia perceraian selalui mengalami peningkatan. Sebagaimana diakui oleh Biro Statistik Australia, pada periode tahun 1985-1987, 28% pernikahan berakhir dengan perceraian, sedangkan pada periode tahun 2000-2002 meningkat menjadi 33%. Di berbagai negara lain kasus perceraian lebih tinggi dari di Australia. Sebagai contoh pada tahun 2006, di Kanada, tingkat perceraian mencapai 37% dari pernikahan, di Perancis 38%, Jerman 39% dan Swedia 54,9%. Bukti lain ketidakharmonisan dalam rumah tangga adalah kejadian tragis yang dialami oleh Elizabeth, warga Austria yang disekap bapaknya sendiri, Josef Firtzl, selama 25 tahun di ruang bawah tanah tanpa jendela, dan digauli sehingga melahirkan 7 anak. Terhadap peristiwa tersebut, Istri Josef Firtzl, Rosemarie mengaku tidak mengetahui. Dia mengira anaknya tersebut, Elizabeth, sudah meninggalkan rumah sejak puluhan tahun yang lalu.
Tingkat aborsi yang tinggi juga bisa menunjukkan keluarga yang tidak harmonis sebab di berbagai negara aborsi dilakukan secara legal bukan hanya untuk menjaga keselamatan ibu, namun juga untuk kepentingan lain, seperti pemerkosaan, alasan ekonomi dan atas permintaan. Di China, tingkat aborsi mencapai 24.2% pada tahun 1998, artinya setiap 1000 wanita usia 15 – 44 tahun terdapat 242 aborsi. Di Israel pada tahun 2004, 13.9%. di negara-negara yang bergabung dalam Federasi Rusia pada tahun 2004 mencapai 53.7%, Perancis tahun 2002 dan Inggris tahun 2005 rata-rata 17% dan AS pada tahun 2003 mencapai 20.8%.

MENGAPA TIDAK HARMONIS ?
Terdapat berbagai penyebab ketidakharmonisan dalam keluarga, sebagai berikut :
1. Sifat egois dan individualis lebih kuat dari kesadaran hakikat keluarga. Sebagai contoh seorang suami yang diliputi ego sebagai kepala keluarga mendominasi dan meluapkan emosi dengan melakukan pemukulan dan kekerasan terhadap istri atau anak. Contoh lain, adalah istri yang diliputi pemikiran mengenai kebebasan bertingkah laku dan menafikkan kepemimpinan suami dan tanggung jawab istri dalam keluarga. Egoisme istri seperti itu, apalagi jika didukung oleh kelebihan istri karena status sosial, pendidikan atau penghasilan berpotensi menimbulkan dominasi istri atas suami dan keluarga tidak harmonis. Sifat egois dan individualis lebih kuat daripada kesadaran hakikat keluarga merupakan penyebab utama ketidakharmonisan dalam keluarga sebab semua penyebab lain pasti melewati sebab utama ini.
2. Budaya di tengah masyarakat. Sebagai contoh adalah budaya yang menempatkan hubungan keluarga sebagai hubungan yang tidak terlalu penting dibandingkan hubungan kerja atau hubungan bisnis. Dalam masyarakat kapitalis, seluruh individu diharapkan berperan dalam mensukseskan produksi. Laki-laki atau wanita, sudah berkeluarga atau belum berkeluarga, atau apapun pendidikannya, semua diharapkan menjadi tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM). Boleh dikatakan, bahwa kebajikan utama di atas berbagai kebajikan yang lain pada diri manusia adalah menjadi SDM.
Oleh karena itu, berbagai hal yang menghalangi dan membelokkan dari individu sebagai SDM harus disingkirkan, dihilangkan, atau disesuaikan, termasuk ikatan keluarga. Dalam perspektif kapitalisme ikatan keluarga menghalangi wanita, yaitu istri untuk menjadi SDM yang terikat dalam ikatan produksi. Para istri harus mengurus rumah tangga dan anak sedemikian hingga tidak dapat maksimal sebagai SDM. Belum lagi jika dalam keadaan mengandung, melahirkan, da nmengasuh bayi tentu semakin sedikit waktu, pikiran dan tenaga yang dapat dicurahkan. Jumlah SDM semakin sedikit sehingga produksi tidak dapat dipacu secara maksimal. Lagi pula, secara tidak langsung ikatan keluarga berpotensi menaikkan ‘nilai’ tawar dan upah SDM laki-laki. Jika jumlah wanita yang menjadi SDM sedikit, tentu SDM laki-laki lebih dibutuhkan dengan upah yang lebih mahal di mana berpotensi mengurangi keuntungan yang bakal diraup para kapitalis.
Dalam perspektif seperti itu, para kapitalis sesungguhnya tidak peduli dengan pernikahan atau perceraian, keluarga yang harmonis atau dominasi jender, dan rasa kasih sayang dalam keluarga atau KDRT. Mereka hanya memfokuskan pada ikatan keluarga yang longgar, sehingga wanita bisa menjadi SDM dalam ikatan produksi dan berdampak di satu sisi produksi berjalan dengan maksimal dan di sisi lain mereka dapat meraup keuntungan dari upah yang murah.
Oleh karena itu, para kapitalis membangun opini berupa budaya ikatan keluarga yang longgar. Mereka mengungkapkan kebobrokan keluarga seperti KDRT, dominasi laki-laki atas wanita dan memberikan solusi feminisme, emansipasi atau kesetaraan jender, bahkan mereka tidak ragu memfitnah agama Islam, ulama dan umat Islam sebagai biang kerok permasalahan di tengah keluarga. Sesungguhnya hal itu hanya ‘strategi’ untuk membangun budaya ikatan keluarga yang longgar, sehingga wanita bisa menjadi SDM dalam ikatan produksi dan berdampak di satu sisi produksi berjalan dengan maksimal dan di sisi lain mereka dapat meraup keuntungan dari upah yang murah.
3. Sistem ekonomi yang buruk, lapangan kerja yang kurang tersedia dan tingkat kemiskinan yang merajalela dapat menjadi penyebab keluarga yang tidak harmonis. Istri atau anak mengharapkan suami/bapak untuk menyediakan harta benda dan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, namun sang bapak tidak mampu memenuhinya. Jadilah keluarga menjadi tidak harmonis. Bahkan telah terjadi hal-hal lanjutan yang tidak diharapkan seperti istri/ibu mencuri di super market karena kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi, rebutan harta warisan, atau anak memaksa orang tua membelikan produk tertentu seperti sepeda motor, di mana kadang-kadang diikuti dengan kekerasan yang melukai bapak atau ibu.
Sistem ekonomi yang buruk, lapangan kerja yang kurang tersedia dan tingkat kemiskinan yang merajalela memaksa suami/bapak harus bekerja di tempat yang jauh dari keluarga atau bahkan terjadi keadaan di mana istri yang harus bekerja di tempat jauh, seperti menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di negara lain. Akibatnya interaksi di tengah keluarga tidak terjadi dengan baik dan berbuntut ketidakharmonisan dalam keluarga.
4. Selain sistem ekonomi, sistem yang lain yang juga buruk menyebabkan keluarga tidak harmonis. Sistem pendidikan yang tidak mampu membentuk kepribadian Islami menyebabkan manusia tidak mampu menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan dan tidak mengetahui arti penting keluarga dan generasi penerus. Hal itu terbukti dengan sering terjadi fenomena “Sukses dalam pendidikan atau pekerjaan namun berantakan dan gagal dalam keluarga dan rumah tangga”. Sistem pergaulan yang menghalalkan pergaulan permisif, walaupun pemikiran dan perasaan mayoritas rakyat menolak, telah dimanfaatkan oleh sebagian kecil masyarakat untuk mengeksploitasi dan mengembangkan berbagai bentuk pergaulan bebas. Salah satu akibatnya adalah perselingkuhan yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam keluarga.

BAGAIMANA MENGATASINYA ?
Ajakan dan ajaran ideologi kapitalisme untuk melonggarkan ikatan keluarga untuk memberi ruang luas bagi ikatan produksi, sangat berbahaya. Ikatan keluarga harus berjalan dengan sebaik-baiknya sebab ikatan keluarga menjadi ruang terbaik bagi pembinaan generasi penerus. Ikatan keluarga dapat berjalan dengan sempurna dan membentuk keluarga yang harmonis jika didukung oleh berbagai macam hal, sebagai berikut :
1. Seluruh anggota keluarga; ayah, ibu dan anak sadar akan hakikat keluarga. Anggota keluarga harus sadar bahwa keluarga bukan sekadar tempat bernaung di malam hari setelah seharian melakukan berbagai macam kegiatan yang dianggap penting. Namun di tengah keluarga juga dilakukan kegiatan yang sangat penting yaitu pembinaan generasi penerus.Kesadaran ini sangat penting supaya seluruh keluarga tidak terjerumus dalam egoisme dan individualisme yang membahayakan keharmonisan keluarga. Allah SWT berfirman dalam surat Ar Ruum: 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNYA adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih sayang”. Allah SWT berfirman dalam surat An Nisaa’:1: “Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…”.
2. Budaya kapitalisme harus dienyahkan, termasuk menomorsatukan manusia sebagai SDM. Yang harus dinomorsatukan adalah manusia sebagai hamba Allah SWT yang berbuat untuk memenuhi ajaran Allah SWT. Seorang wanita yang menjadi ibu rumah tangga karena memenuhi seruan Allah SWT adalah wanita nomor satu, yaitu mar’atusshalihah. Demikian juga seorang wanita yang menjadi SDM karena memenuhi seruan Allah SWT untuk mendapatkan harta bagi kebutuhan dirinya dan membantu beban suami atau keluarganya adalah nomor satu, yaitu mar’atasushalihah. Yang tidak nomor satu dan bukan mar’atusshalihah adalah wanita yang mengikuti budaya kapitalisme. Demikian juga laki-laki, ayah atau anak yang terhanyutkan tebar pesona budaya kapitalisme pasti bukan pribadi nomor satu. Selama budaya kapitalisme tidak dienyahkan, ikatan keluarga di ujung tanduk menuju ketidakharmonisan.
3. Pemerintahan juga memiliki peranan membentuk keluarga harmonis. Menerapkan sistem ekonomi yang rahmatan lil alamin, sistem pendidikan Islam, dan penegakan peraturan yang benar dalam sistem pergaulan diharapkan memperkokoh keharmonisan dalam keluarga. Sebagai contoh, Suami/Bapak yang mampu memenuhi kebutuhan pokok istri dan anak dengan mudah tentu memperkokoh perwujudan keluarga yang harmonis.

PENUTUP
Jika pada saat ini ajaran Islam difitnah tidak mendorong keharmonisan dalam ikatan keluarga, maka hal ini karena ajaran Islam diterapkan secara parsial dalam sistem kehidupan kapitalisme atau sosialisme. Padahal, sesungguhnya ajaran agama Islam yang terdapat dalam Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ dan qiyas, mendorong harmonisasi dalam segala hal, termasuk dalam ikatan keluarga. Oleh karena itu kita berharap semoga Allah SWT menunjukkan Yang Benar kepada seluruh umat manusia dan memberikan pertolonganNYA sehingga tidak ada fitnah terhadap agama Islam dan umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: