MEMPERTANYAKAN GERAKAN FEMINISME

Jika kita cermati aktivitas LSM-LSM ‘Perempuan’ beserta pendukungnya selama ini, senantiasa menuding ajaran-ajaran dalam agama Islam yang sempurna dalam pengaturan kehidupan manusia sebagai penyebab terjadinya ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu mereka menganggap bahwa hal tersebut merugikan perempuan. Seperti dalam masalah pembagian warisan, persaksian, batasan aurat dan pakaian ihram, poligami, aqiqah, dan lain-lain. Bahkan mereka juga menganggap bahwa ada ajaran-ajaran dalam agama Islam yang bisa memberi peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan sehingga mereka menginginkan adanya penafsiran Al Qur’an dan Hadist dalam perspektif gender.

Dalam wacana studi keislaman, pemikiran seperti itu merupakan bagian dari pemikiran liberalisme yang menganut ide kebebasan dalam segala hal. Termasuk kebebasan untuk berpendapat dan bertingkah laku sesuai dengan keinginan mereka. Usaha-usaha yang mereka lakukan untuk bisa bebas dalam segala hal sehingga dalam pandangan mereka tidak merugikan perempuan, kemudian dikenal dengan gerakan feminisme. Kacaunya sistem kehidupan manusia sekarang menyebabkan gerakan ini terus berkembang di seluruh dunia dan bahkan melahirkan kaum feminis dari kalangan umat Islam. Mereka menuntut pembebasan perempuan dari dominasi sistem patriarki dan menganggap Islam sebagai agama pro patriarki yang memojokkan kaum perempuan.

Kaum feminis berusaha menunjukkan nash-nash dalam Al Qur’an dan Hadist yang mereka anggap merugikan perempuan dan menafsirkannya sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai contoh dalam QS. Al Baqarah ayat 223 yang artinya:”Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemuiNya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” Ayat ini dianggap sebagai pemicu timbulnya tindak kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan (istri). Begitu pula dengan QS. An Nisaa’ ayat 34 yang artinya:”Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah Menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka ditempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” Ayat ini juga dianggap sebagai ajaran kekerasan terhadap perempuan. Padahal ayat-ayat tersebut tidak ada kaitannya dengan kekerasan terhadap kaum perempuan. Bahkan ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memerintahkan hubungan yang harmonis dalam hubungan antara laki-laki dan wanita dalam kehidupan rumah tangga.

Dengan mengatasnamakan untuk kepentingan hak asasi manusia, kaum feminis mempropagandakan kebebasan untuk perempuan secara mutlak. Mereka menghendaki kesetaraan laki-laki dengan perempuan. Mereka menganggap ada banyak aturan agama Islam yang mendiskriminasikan perempuan dan memprioritaskan laki-laki sehingga menyebutnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Karena itulah mereka menginginkan kebebasan mutlak untuk perempuan. Mereka menduga dengan kebebasan seperti itu problem-problem kaum perempuan dapat teratasi dan mereka dapat mencapai kemajuan sebagaimana yang telah dicapai oleh kaum laki-laki.

Liberalisme-Feminisme Tidak Sesuai Dengan Islam

Sejatinya gerakan liberalisme-feminisme merupakan dampak dari adanya konflik kalangan agamawan (gereja) yang menjadi penguasa Eropa pada abad 18 Masehi dengan kehidupan diluar gereja (rakyat). Peristiwa itu menyebabkan terjadinya pergolakan pemikiran yang menghasilkan jalan kompromi berupa sekulerisme. Pemikiran sekulerisme mengarahkan adanya pemisahan agama dari kehidupan manusia. Artinya, agama tidak berhak mengatur kehidupan manusia sehingga manusia bebas dalam mengatur kehidupannya sendiri termasuk bebas pula untuk membuat aturan/undang-undang. Kebebasan seperti ini menghasilkan kebebasan mutlak untuk manusia sehingga melahirkan berbagai pemikiran termasuk pemikiran liberalisme-feminisme. Dengan gerakan feminisme ini kaum perempuan pada waktu itu menjadikannya sebagai jalan untuk meminta kembali hak-haknya sebagai manusia. Sebab pada masa itu hak-hak perempuan terpasung akibat masih diperdebatkannya kedudukan perempuan: apakah sebagai manusia atau bukan.

Dari sini jelas terlihat bahwa liberalisme-feminisme tidak berasal dari wahyu Allah Swt tapi berasal dari manusia yang terbatas akal dan pikirannya. Dalam QS. Al An’aam ayat 57 dinyatakan:”Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) diatas keterangan yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukankah kewenanganku (untuk menurunkan azab)yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah Swt. Dia Menerangkan kebenaran dan Dia Pemberi keputusan yang terbaik.” Begitu juga dalam QS. An Nisaa’ ayat 59 yang artinya:”Kemudian jika kalian (rakyat dan negara) berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya).” Ayat-ayat tersebut menjelaskan pada umat Islam untuk mengarungi kehidupan dunia ini menurut peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Dan Allah Swt telah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupan manusia.

Pemikiran kebebasan mutlak yang pada awalnya dianut oleh masyarakat Barat terbukti menghasilkan kehidupan manusia dengan hukum rimba: orang yang kuat/berkuasa dialah yang menguasai kehidupan, orang yang lemah semakin lemah dan tertindas dalam kehidupan. Termasuk pula menyebabkan rusaknya tatanan kehidupan dalam berbagai aspek seperti: rusaknya sendi-sendi kehidupan rumah tangga, degradasi moral manusia, dan kehancuran generasi penerus bangsa.

Dugaan kaum liberalisme-feminisme bahwa kebebasan akan mengakibatkan kaum perempuan terjaga hak asasinya sebagai manusia, ternyata jauh dari kebenaran. Pemikiran tersebut justru telah memproduksi nilai-nilai kehidupan yang individualistik dan materilistik yang mengarahkan manusia termasuk para perempuan untuk menjadikan materi/uang sebagai ukuran segala sesuatunya. Mereka menganggap bahwa kehidupan rumah tangga merupakan kehidupan yang membatasi kehidupan kaum perempuan. Dalam pandangannya kehidupan rumah tangga menyebabkan kaum perempuan menjadi bergantung pada kaum laki-laki. Karena itu mereka mempropagandakan sosok perempuan modern/ideal adalah perempuan yang sukses berperan ganda, berhasil dalam sektor publik dan domestik sehingga mandiri secara ekonomi dan tidak tergantung dari nafkah kaum laki-laki (suami). Hak dan kewajiban perempuan (istri) menurut mereka adalah sama dengan hak dan kewajiban laki-laki (suami).

Mereka menghendaki pengaturan yang sama terhadap laki-laki dan perempuan dalam urusan-urusan yang telah diatur dalam ajaran agama (Islam) dengan dalih hak asasi manusia. Meskipun terdapat juga dalam urusan yang lain, mereka ingin tetap dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh dalam urusan pertandingan olah raga (misal angkat besi) mereka menghendaki dibedakan. Karena itu sebenarnya mereka hendak mengarahkan manusia agar menjauhi ajaran agama yang mengatur urusan kehidupan manusia. Sebab dalam pandangan mereka ajaran agama hanya cocok untuk mengatur dalam masalah ibadah ritual saja bagi orang yang meyakini agama. Sedangkan jika ada orang yang tidak meyakini adanya agama, menurut mereka sah-sah saja.

Dengan demikian jelaslah bahwa pemikiran dan aturan mereka sebenarnya tidak akan mampu untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan dalam kehidupan manusia. Sebab aturan seperti itu bukan berasal dari wahyu Allah Swt. Yang mampu untuk menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan manusia adalah aturan dari pencipta manusia yaitu dari Allah Swt. Dialah yang menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan keduanya sebagai pasangan dalam hidup ini. Dan Allah Swt juga telah menurunkan agama Islam sebagai pedoman hidup keduanya sebagai manusia dalam mengarungi kehidupan dunia.

Penutup

Sejak diturunkan untuk manusia, agama Islam telah memandang bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama dihadapan syara’. Diberikan pada kaum perempuan hak dan kewajiban, diberikan pula hak dan kewajiban pada kaum laki-laki. Meskipun terkadang hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan berbeda ragamnya, hal itu terkait dengan kemaslahatan mereka sendiri sebagai manusia dan tabiat yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Artinya, ketika hak dan kewajiban laki-laki berbeda dengan hak dan kewajiban perempuan tidak dimaksudkan untuk memprioritaskan kaum laki-laki dari kaum perempuan. Dan tidak dimaksudkan pula untuk memojokkan kaum perempuan dari kaum laki-laki.

Sejarah telah mencatat bahwa pada masa lalu sepanjang kehidupan Islam tegak di dunia ini, adanya perbedaan aturan untuk laki-laki dan perempuan tidak pernah menimbulkan masalah dalam kehidupan manusia. Seluruh aturan Islam bisa diterapkan dalam kehidupan manusia di berbagai belahan bumi dimulai sejak diutusnya Rasulullah Saw sampai empat belas abad kemudian. Permasalahan justru muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang menganut pemikiran sekulerisme dan liberalisme-feminisme. Dan hal itu tidak hanya terjadi pada masyarakat Barat, namun terjadi juga pada umat Islam dewasa ini. Sebab sistem kehidupan umat Islam sekarang juga banyak terpengaruh dengan pemikiran sekulerisme. Ada upaya-upaya dari fihak yang membenci Islam untuk selalu mengarahkan umat Islam agar terpisah dengan kesempurnaan ajaran Islam. Dan menjadikan agama Islam sebagai agama yang hanya terkait ibadah ritual saja sebagaimana agama-agama yang lain. Padahal agama Islam merupakan pedoman hidup manusia dalam seluruh aspek kehidupannya tanpa kecuali Oleh karena itu, yang harus dilakukan pada saat ini adalah kembali kepada ajaran Islam secara kaffah. Dengan itu kehidupan yang rahmatan lil ‘alamin akan terwujud, sedangkan sekulerisme dan gerakan politik liberalisme-feminisme yang membelokkan dari kebenaran akan sirna. Allah SWT berfirman dalam surat Adz Dzaariyat 107: “Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad), kecuali (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: