Menengok Kembali Lapangan Perjuangan Wanita (Mengambil Pelajaran Dari Perjuangan Para Wanita Chechnya)

Dunia kembali terguncang ketika terjadi lagi peristiwa serangan bom bunuh diri di Moskwa, Senin, 29 Maret yang lalu. Dua ledakan bom bunuh diri di stasiun Lubyana dan stasiun Park Kultury yang merupakan stasiun kereta bawah tanah, telah menewaskan 38 orang dan melukai 73 orang lainnya. Memang bukan kali ini saja serangan bom bunuh diri terjadi di Moskwa, dan pemerintah Rusia selalu menuding orang-orang Chechnya -muslim- sebagai pelakunya. Dunia semakin tersentak ketika diketahui bahwa pelaku serangan bom bunuh diri tersebut ternyata seorang wanita. Seorang janda berusia 17 tahun yang berasal dari Dagestan, Kaukasus Utara. Suaminya dianggap sebagai tokoh pemberontak Dagestan dan telah tewas tahun lalu dalam operasi khusus pemerintah Rusia. Sedangkan pelaku bom bunuh diri yang lain diduga seorang janda warga Chechnya berusia 20 tahun, yang suaminya juga telah ditembak mati oleh aparat pemerintah Rusia pada Oktober tahun 2009. (Kompas, 3 April 2010).
Aksi serangan bom bunuh diri dengan pelaku wanita -pemerintah Rusia menyebutnya dengan Black Widow yang berarti janda hitam- sebetulnya bukan hanya kali ini saja terjadi. Sejak tahun 1994, pemimpin rakyat Chechnya untuk melawan Rusia sudah merekrut para wanita untuk bergabung dengan membentuk pasukan khusus wanita yang mereka sebut dengan “brigade shakhidy”. Pasukan ini berasal dari para wanita yang telah kehilangan suami, saudara lelaki atau keluarga dekat dalam menghadapi perlawanan dengan tentara Rusia. Namun hal itu baru diketahui oleh pemerintah Rusia setelah pada bulan Juni tahun 2000 terjadi aksi dua orang wanita Chechnya mengendarai sebuah truk yang penuh dengan bahan peledak menerjang kantor polisi. (Kompas, 31 Maret 2010).
Banyak analisa yang menyatakan bahwa konflik berdarah di wilayah negara bagian Rusia itu merupakan perjuangan panjang umat Islam Chechnya sebagai penduduk sipil yang diperlakukan sewenang-wenang oleh otoritas pemerintah Rusia. Perang mulai berkobar di Chechnya pada Desember 1994, dilakukan pemerintahan Yelsin yang bermaksud untuk mengintegrasikan Chechnya sebagai bagian dari Rusia tetapi rakyat Chechnya menolak. Meskipun pemerintah Rusia berhasil menempatkan pemimpin boneka di Chechnya, namun mereka tidak berhasil untuk mendapat dukungan dari rakyat Chechnya. Artinya, rakyat Chechnya tetap menolak bergabung dengan pemerintahan Rusia. Sejak itu pemerintah Rusia mengumumkan perang dengan rakyat Chechnya yang mereka sebut dengan perang melawan terorisme.
Aksi para wanita Chechnya tersebut menimbulkan pertanyaan: Apa yang menjadi motivasi mereka melakukan aksi tersebut? Apakah mereka terinspirasi oleh perjuangan para wanita Islam yang ikut berperang melawan orang-orang kafir pada masa Rasulullah Saw dahulu? Bagaimana sebenarnya lapangan perjuangan wanita muslimah?

Memilih Jalan Perjuangan Yang Islami
Sebagai umat Islam tentunya rakyat Chechnya memahami bagaimana mereka harus menghadapi siapa saja yang dianggap sebagai musuh yang hendak merampas hak-hak mereka. Mereka tidak peduli dengan tudingan yang ditujukan kepada mereka sebagai teroris. Sebab mereka menyadari hal itu hanya untuk menarik perhatian dunia agar berpartisipasi dalam menekan rakyat Chechnya. Sementara itu dorongan yang selalu menggelora dalam dada mereka adalah mengusir pemerintahan Rusia keluar dari wilayah Chechnya. Dan dorongan seperti itu dimiliki oleh rakyat Chechnya termasuk para wanita dikalangan mereka. Kiprah perjuangan para muslimah pada awal pemerintahan Islam tegak di Madinah bisa jadi memberikan inspirasi bagi para wanita Chechnya untuk melakukan hal yang sama dalam perjuangan mereka. Para wanita tersebut terjun langsung ke ‘medan perang’ sebagai pelaku bom bunuh diri. Hanya saja cara seperti itu sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para pejuang Islam terdahulu.
Sejarah memang telah mencatat para wanita pejuang Islam yang benar-benar terjun langsung ke medan perang melawan kaum kafir yang hendak mengguncang pemerintahan Islam di Madinah yang pada waktu itu baru saja tegak. Sebagai contoh: Ummu Imarah ketika terjadi perang Uhud, selain bertugas membawa air minum untuk para prajurit yang berperang, wanita ini juga berusaha untuk menghalau orang-orang kafir yang ingin mendekati dan membunuh Rasulullah dengan mengangkat pedang dan busur panah. Begitu pula Rufaidah Al Anshariah dan Sofiah –bibi Rasulullah-, yang terjun ke medan perang Khandak untuk mengobati para prajurit yang terluka. Konon usia Sofiah pada waktu itu 60 tahun, namun ternyata tidak menjadi halangan untuk ikut dalam peperangan.
Masalahnya, terdapat perbedaan sistem kehidupan pada masa itu –masa Rasulullah- dengan sistem kehidupan pada masa sekarang. Umat Islam di Madinah pada waktu itu hidup dalam naungan sistem kehidupan Islam yang tegak dalam kepemimpinan Rasulullah Saw. Sistem kehidupan Islam memecahkan seluruh problema rakyat dan melindunginya dari berbagai ancaman yang datang dari luar negara maupun dari dalam negara sendiri dengan cara menerapkan aturan-aturan yang berasal dari wahyu Allah Swt. Sedangkan sistem kehidupan sekarang –termasuk di Chechnya- tidak mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan umat Islam dan bahkan tidak mampu melindungi umat Islam dari berbagai ancaman yang membahayakannya. Sebab sistem kehidupan sekarang sudah terpengaruh dengan pandangan sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan dunia. Ditambah lagi, para pengemban pandangan sekulerisme dalam menyebarkan pemikirannya dikalangan umat manusia menggunakan metode imperialisme. Sebuah metode yang sangat tidak bisa diterima oleh fitrah manusia.
Pandangan sekulerisme mengenai kehidupan juga bertentangan dengan pandangan Islam mengenai kehidupan. Umat Islam meyakini bahwa kehidupannya harus berjalan sesuai aturan Allah Swt sedangkan aturanNya meliputi aturan yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia dan tidak terpisahkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sesudah dunia. Dengan demikian ketika pandangan sekulerisme hendak diterapkan dalam diri umat Islam apalagi melalui berbagai macam imperialisme, tentu umat Islam menolak. Hal ini menyebabkan umat Islam bergerak untuk melawan negara-negara imperialis yang dianggap mengancam kehidupan umat Islam.
Masalah yang lain, problema-problema kehidupan yang seakan-akan tidak ada ujung pangkalnya seperti sekarang ini mengarahkan umat Islam untuk memperjuangkan kehidupannya sendiri dengan cara yang mereka fahami. Terkadang pemikiran sekulerisme dan pemikiran lain yang tidak Islami mempengaruhi pola perjuangan yang dilaksanakan oleh umat Islam sendiri. Akibatnya umat Islam semakin terpuruk dan kemenangan Islam tidak bisa segera diraih. Mereka tidak mengingat lagi bagaimana Rasulullah Saw mengajarkan pada umat Islam terdahulu metode perjuangan yang berlandaskan wahyu dari Allah Swt. Padahal dengan metode tersebut beliau berhasil menerapkan sistem kehidupan Islam di Madinah dan berhasil menyiapkan pengembangan risalah Islam oleh generasi penerus sesudahnya. Rasulullah Saw juga mengajarkan bagaimana umat Islam harus mengatur jalannya pemerintahan, membentuk strukturnya, politik dalam negeri dan luar negerinya serta segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem dan mekanisme pemerintahan.
Oleh karena itu, umat Islam harus memegang erat petunjuk dari Rasulullah Saw tersebut dan memilihnya sebagai jalan yang harus ditempuh dalam memperjuangkan Islam dan umatnya. Umat Islam harus meninggalkan metode perjuangan dan cara-cara yang terpengaruh oleh pemikiran yang tidak Islami seperti: imperialisme, terorisme, dll. Sebab hal-hal tersebut hanya akan menyebabkan umat Islam kehilangan potensi yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersatu dalam naungan kepemimpinan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Terlebih lagi, dapat menghancurkan pertumbuhan generasi penerus umat Islam yang selalu siap untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Lapangan Perjuangan Wanita Menurut Islam
Lapangan perjuangan wanita menurut Islam sebenarnya identik dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah Swt pada dirinya. Kewajiban tersebut antara lain meliputi: (1) Kewajiban untuk selalu membentuk dirinya menjadi seorang yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh yang tampak pada pola pikir dan pola sikapnya yang Islami. (2) Kewajiban yang terkait dengan keluarga dan rumah tangganya. (3) Kewajiban yang terkait dengan lingkungan sekitarnya. (4) Kewajiban yang terkait dengan tanggung jawab mengemban dan meyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia.
Kewajiban-kewajiban tersebut merupakan ladang aktivitas para wanita yang harus senantiasa diperjuangkan sampai sempurna pelaksanaanya. Hanya saja dalam memperjuangkan pelaksanaan kewajiban ini tetaplah harus terikat dengan aturan-aturan dari Allah Swt dan tidak melanggarnya. Sebagai contoh: ketika terjadi kondisi dimana pada waktu yang bersamaan, seorang wanita harus mengerjakan lebih dari satu kewajiban sehingga hal itu tidak mungkin baginya. Maka pada saat seperti ini, ia harus memikirkan mana kewajiban yang harus lebih dulu dikerjakannya berdasar pada prioritas hukum syara’, bukan berdasar pada seleranya sendiri. Demikian pula cara-cara yang diterapkan untuk menyempurnakan kewajiban-kewajibannya haruslah dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan Allah Swt. Hal itu dimaksudkan agar para wanita tetap berada pada jalan yang benar, yaitu jalan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Adapun ketika terjadi keadaan dimana negara dalam kondisi perang mempertahankan wilayah ataupun dalam rangka menghadapi musuh yang mengancam keberadaan negara, para wanita mempunyai hak untuk turut berpartisipasi. Sebab Rasulullah Saw juga tidak melarang wanita untuk turut secara langsung dalam medan perang. Terbukti dengan banyaknya para wanita pada masa itu yang terlibat dalam medan perang bersama beliau seperti: Ummu Imarah, Rufaidah, Sofiah, Aisyah, Asma’,dll. Hanya saja memang dibutuhkan kecermatan dari seorang kepala negara untuk menentukan apakah peranan yang paling tepat untuk para wanita dalam masalah ini. Kepala negara harus memutuskan masalah itu dengan pertimbangan bahwa para wanita mempunyai kewajiban pokok yang terkait dengan tabiat dasarnya sebagai wanita. Hal ini menyebabkan wanita berhadapan dengan berbagai masalah yang tidak mungkin dihadapi oleh laki-laki. Yaitu seperti: mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mengasuh anak. Dengan kata lain, wanita sebagai tempat lahir dan pangkal pembinaan generasi penerus umat Islam. Karena itu keterlibatan para wanita di medan perang tidak boleh mengakibatkan terganggunya peranan wanita dalam melaksanakan kewajiban pokoknya tersebut.
Penutup
Rasulullah Saw telah memberikan kepada umat Islam petunjuk dan penjelasan untuk mengarungi kehidupan ini. Dengan demikian sudah seharusnya umat Islam menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam segala aktivitas kehidupannya. Tidak hanya untuk para laki-laki muslim, para wanita muslimah pun juga demikian. Sebab petunjuk Islam telah menempatkan para wanita dengan kedudukan yang sama dengan para laki-laki sebagai hamba Allah Swt. Masing-masing dari keduanya telah diberikan hak dan kewajiban yang sesuai dengan tabiat mereka sebagai manusia. Meskipun hak dan kewajiban tersebut adakalanya berbeda antara laki-laki dan wanita, namun tidak ada maksud untuk merendahkan atau melemahkan salah satu dari keduanya. Bahkan Allah Swt akan memberikan balasan bagi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka usahakan. Seperti firman Allah Swt dalam QS.An Nisaa’ ayat 32: “…Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan…”
Dari penjelasan tersebut cukuplah kiranya bagi para wanita muslimah untuk berkiprah dalam lapangan perjuangan yang telah ditunjukkan oleh Islam serta menjauhkan diri dari pemikiran dan lapangan perjuangan yang tidak Islami.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: