MENJADI IBU IDAMAN

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ibu masih berkisar pada wilayah dapur. Hal itu disebabkan oleh maraknya kegiatan memperingati hari ibu dalam bentuk lomba seperti: menghias nasi kuning, nasi tumpeng, merangkai bunga, atau adu cepat mengupas buah nanas. Padahal yang dimaksud urusan rumah tangga yang menjadi ‘proporsi’ ibu tidak sekadar masalah dapur. Dapur hanya salah satu bagian dari rumah tangga.
Kegiatan lain yang terkadang juga diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ibu adalah seminar/diskusi atau berbagai kegiatan sosial. Seminar/diskusi yang sering dilakukan berupa seminar/diskusi dengan tema kesehatan reproduksi, pembentukan keluarga sakinah, atau pendidikan anak. Kegiatan sosial yang sering dilakukan adalah mengunjungi dan memberi bantuan pada panti asuhan yatim atau panti jompo. Namun kegiatan-kegiatan seperti itu kurang peminat dan kurang semarak jika dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan lomba-lomba seputar wilayah dapur.
Pada masyarakat sendiri opini yang berkembang terhadap sosok ibu adalah sebagai seorang wanita dengan tugas-tugas kompleks nan berat. Ibu harus mengurus dapur, ibu harus mendidik anak-anak dan ibu harus mendampingi tugas-tugas suami, ibu juga harus mendapatkan nafkah bagi dirinya dan keluarga dan ibu harus mampu menyelesaikan permasalahan secara tuntas dan sempurna. Sebagai contoh ketika ibu berada pada posisi bekerja untuk membantu nafkah keluarga sementara pada saat yang sama harus merawat anak yang sakit, ternyata ibu tetap dituntut untuk bekerja keras sekaligus menyelesaikan permasalahan merawat anaknya dengan sempurna. Apabila ibu tidak mampu melaksanakan tugas dengan sempurna atau tidak menyelesaikan permasalahan dengan sempurna maka ibu akan mengalami masalah yang lebih rumit dan sulit untuk diselesaikan.
Pada sisi yang lain, dalam masyarakat juga terdapat banyak hal yang menunjukkan bahwa problem-problem yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup ibu seperti kesehatan ibu, belum terjamin pemenuhannya. Sebagai contoh : angka kematian pada ibu melahirkan masih cukup tinggi. Menurut BPS berdasarkan data tahun 2005 angka kematian ibu melahirkan di Jawa Tengah mencapai 252 per 100.000 kelahiran hidup. Ada dua faktor utama penyebab tingginya angka kematian pada ibu melahirkan yaitu: penyakit dan keterlambatan penanganan. (Kompas.com, 30 Juni 2008).
Dapat dibayangkan betapa berat tugas sesorang ibu pada saat ini. Tetapi para ibu tidak sekadar membayangkan bahwa tugas mereka memang sangat berat. Mereka telah menerima, melaksanakan tugas ibu dan telah merasakan beratnya sebagai ibu pada saat ini. Suka dan duka sebagai ibu yang mengemban tugas berat tidak hanya diterima satu hari, dua hari, namun berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga ketika Allah SWT berkehendak lain. Rasanya tidak ada yang membantu meringankan beban berat ibu sebab peringatan hari ibu lebih pada seremonial seperti lomba ‘kedapuran’, seminar dan kunjungan. Jika seperti ini peringatan hari ibu tidak memberikan solusi kongkrit untuk meringankan beban berat ibu.
Kadang-kadang, terdapat ibu rumah tangga yang merasa tidak mampu menanggung beban super berat ini sehingga mengalami stres dan mengambil jalan pintas. Kasus-kasus ibu yang membunuh anaknya karena alasan ekonomi keluarga merupakan salah satu bukti. Seperti yang terjadi di Makasar, seorang ibu membunuh anaknya yang baru berumur empat tahun.(Kompas.com, 17 Juli 2007). Masih banyak lagi kasus serupa sepanjang tahun ini antara lain di Pekalongan, di Malang, di Bandung dan di Samarinda. (Tempo interaktif.com, 28 Oktober 2008).
Sesungguhnya Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang adalah satu-satunya dzat yang mampu meringankan beban berat para ibu. Seandainya setiap hari adalah hari ibu, bahkan setiap detik adalah detik ibu, tetap tidak akan mampu menyamai kasih sayang Allah SWT pada para ibu. Bahkan kasih sayang Allah SWT tidak hanya untuk para ibu, namun juga untuk seluruh manusia dan seluruh alam semesta, dan juga kasih sayang di dunia dan di akhirat.
Kasih sayang Allah SWT kepada seluruh manusia, termasuk kasih sayang Allah SWT kepada ibu dapat kita ketahui dari aturan Allah SWT yang terdapat dalam agama Islam. Kasih sayang Allah SWT tersebut pastilah akan meringankan beban ibu yang sekarang ini menjadi super berat namun tidak memiliki posisi ‘strategis’ dalam kehidupan di mana setiap saat ibu hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan lain. Sebaliknya, agama Islam sebagai rahmatan lil alamin dari Allah SWT memberikan posisi ‘strategis’ bagi ibu sekaligus meringankan beban yang harus ditanggung ibu.

Posisi ‘Strategis’ Ibu Dalam Perspektif Agama Islam
Agama Islam telah memberikan posisi ‘strategis’ bagi para ibu dalam menghasilkan generasi penerus yang beriman, berilmu dan beramal sholeh untuk menegakkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Ibu memiliki peran strategis membentuk kepribadian anak-anaknya. Memang benar bahwa tugas mendidik juga merupakan tanggung jawab ayah. Tetapi peranan ibu dalam pembentukan kepribadian anak tidak bisa tergantikan.
Untuk menjamin terlaksananya peran ‘strategis’ tersebut, agama Islam telah menetapkan aturan-aturan khusus untuk para ibu berupa aturan dalam masalah kehamilan, kelahiran, penyusuan, pemeliharaan dan pengasuhan anak. Aturan-aturan tersebut berperanan penting dalam proses mengawal pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sehingga menjadi manusia dewasa. Peran ‘strategis’ ibu yang tidak tergantikan yaitu: mengawal pembentukan kepribadian anak sehingga ketika telah dewasa menjadi orang yang beriman, berilmu dan beramal sholeh untuk menegakkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Sungguh posisi ‘strategis’ yang mulia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda sebagaimana disampaikan oleh sahabat Anas r.a.: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu” (H.R. Khothib). Hadist ini dapat bermakna bahwa rido ibu terhadap anaknya akan membawa si anak masuk surga. Namun hadits ini juga bermakna posisi strategis ibu. Ibu yang mengawal anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian anak sehingga ketika telah dewasa menjadi orang yang beriman, berilmu dan beramal sholeh untuk menegakkan Islam sebagai rahmatan lil alamin menjadi pintu masuk bagi anak-anaknya (dan dirinya) dalam surga jannatun na’im.
Kisah perjalanan hidup ibunda Hajar (ibunda Nabi Ismail a.s.) patut diteladani. Dengan kerelaan dan pengorbanan yang besar ibunda Hajar sendiri menjaga dan memelihara Ismail kecil sejak ditinggal oleh ayahnya Nabi Ibrahim a.s. di sebuah bukit dekat Ka’bah. Padahal daerah itu merupakan daerah gersang dan tandus yang tidak ada penghuninya selain mereka berdua. Sampai ketika bekal sudah habis ibunda Hajar dan Ismail mengalami rasa lapar dan haus yang amat sangat. Sang ibu berlari-lari dari bukit Shafa ke bukit Marwa bolak-balik sampai tujuh kali namun beliau tidak menemukan sumber air/makanan untuk dirinya dan anaknya. Kepasrahannya pada Allah SWT sebagai pencipta diri dan anaknya menjadikan ibunda Hajar tetap kuat. Sehingga pertolongan Allah SWT datang sesuai dengan janjiNya. Ismail kecil kemudian tumbuh dan berkembang menjadi hamba yang patuh dan taat pada Allah SWT hingga diangkat menjadi Nabi utusanNya.

Kewajiban Ibu Selain Tugas Pokok
Tugas pokok ibu memang sudah ditetapkan. Tapi ini bukan berarti aktivitas ibu hanya terbatas pada tugas pokok dan tidak boleh melakukan aktivitas yang lain. Sebab seorang ibu tetaplah sebagai wanita hamba Allah SWT yang terbebani kewajiban-kewajiban sebagaimana hamba Allah SWT yang lainnya. Seperti beribadah kepada Allah SWT, melakukan aktivitas dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar, mempelajari ilmu, silaturahim, dll. Hal ini ditunjukkan oleh Allah SWT dalam firmanNya QS. At Taubah ayat 71 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Kewajiban ibu selain tugas pokok terkadang mengharuskan ibu untuk beraktivitas dalam kehidupan khusus keluarga seperti silaturahim terhadap kerabat-kerabatnya, terkadang pula mengharuskan ibu untuk beraktivitas dalam kehidupan umum seperti berdakwah atau amar ma’ruf nahi munkar. Aktivitas ibu dalam kehidupan khusus keluarga maupun dalam kehidupan umum juga merupakan posisi yang ‘srategis’ untuk ibu. Sebab berbagai permasalahan yang terjadi pada masyarakat bisa diselesaikan oleh ibu. Sebagai contoh: ketika anak mendapatkan masalah terkait pendidikan di sekolah, maka ibu akan segera menyelesaikannya karena hal itu juga merupakan kewajiban ibu.

Penutup
Pengaruh sistem kehidupan kapitalisme feminisme sekarang ini menggiring kaum wanita untuk selalu menilai bahwa eksistensinya akan diakui apabila berperanan aktif dalam sektor publik. Sehingga aktivitas wanita dalam kedudukannya sebagai ibu rumah tangga (sektor domestik) seringkali dianggap rendah. Realitas yang terjadi, pengemban ide kapitalisme feminisme kelelahan dalam mewujudkan ide mengenai peran ganda wanita. Secara fitrah mereka tidak bisa mengelak terhadap kodratnya sebagai wanita dengan tugas pokok sebagai ibu dan pengatur rumah tangganya. Sementara sistem kehidupan yang ada menuntut mereka untuk beraktifitas di luar rumah atas dorongan kesetaraan gender yang mereka yakini kebenarannya. Dari sinilah beban para ibu menjadi berat dan ibu mengalami berbagai problem seperti perceraian, anak-anak yang terjerumus dalam pergaulan bebas, kejahatan anak-anak, dll.
Adanya ungkapan yang menyatakan bahwa keluarga dan karier di luar rumah sama pentingnya. Ini merupakan pernyataan yang terpengaruh ide kapitalisme feminisme. Dalam perspektif agama Islam prioritas pelaksanaan suatu hukum perbuatan manusia merupakan hak syara’ bukan hak individu manusia dan bukan pula merupakan pilihan yang bisa disesuaikan dengan selera atau keinginan ibu. Hukum syara’ telah menetapkan mana yang wajib, sunah, haram, makruh dan yang mubah (boleh) dikerjakan oleh manusia. Yang wajib lebih prioritas dikerjakan daripada yang sunah atau mubah. Sehingga ketika tejadi benturan antara kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang ibu, misal kewajiban menuntut ilmu berbenturan dengan kewajiban mengasuh anak maka hukum syara’lah yang menetapkan kewajiban mana yang harus didahulukan.
Untuk menjadi figur ibu yang sesuai dengan aturan Allah SWT ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu:
(1) Melepaskan diri dari ide kapitalisme feminisme dan mengikatkan diri dengan aturan-aturan Islam pada seluruh aspek kehidupan. Sebab ide kapitalisme feminisme selalu berusaha untuk menciptakan keraguan dalam benak kaum muslimin terhadap hukum-hukum Allah SWT sampai akhirnya kaum muslimin rela melepaskan hukum-hukum Islam dalam kehidupannya.
(2) Terciptanya sistem kehidupan yang kondusif untuk ibu sehingga mereka mampu berperanan optimal dalam pembentukan generasi penerus yang berkualitas tinggi dalam mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Problem-problem seperti kesehatan ibu, beban ekonomi keluarga yang berat, kenakalan anak-anak, tidak akan bisa selesai dengan solusi-solusi pragmatis. Dibutuhkan sistem yang layak untuk kehidupan manusia seluruhnya, yaitu sistem kehidupan Islam yang dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: