REFLEKSI PERINGATAN BULAN ASI (Jangan Melupakan Pengasuhan Anak)

Seiring dengan berkembangnya berbagai masalah dalam kehidupan manusia menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi para pengemban dan pendukung pemikiran kapitalisme. Pemikiran kapitalisme yang berupa ide-ide mengenai kebebasan, persamaan hak, kesetaraan gender maupun peran ganda wanita yang mereka implementasikan dalam kehidupan sehari-hari realitasnya tidak cocok untuk manusia. Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa ide-ide tersebut ternyata mengharuskan para wanita untuk beraktivitas pada ruang publik. Sementara terpampang jelas pula bagi para pengemban dan pendukung pemikiran kapitalisme bahwa melahirkan dan menyusui bayi adalah hal yang kodrati bagi wanita. Dari sini muncul berbagai masalah sebagai akibat diterapkannya ide-ide tersebut yang kemudian menimbulkan benturan dengan sifat kodrati yang ada pada diri wanita. Sebagai contoh terjadinya kesulitan untuk menyusui bayinya bagi seorang ibu yang lebih banyak beraktivitas dalam ruang publik. Hal ini yang kemudian menyebabkan prosentase ibu menyusui menjadi rendah. Berdasarkan SDKI (Survei Demografi Kesehatan Indonesia) tahun 2003-2004 prosentase ibu menyusui dianggap rendah yaitu hanya 55,1% untuk menyusui 0-4 bulan dan 39,5% untuk menyusui 0-6 bulan.
Agar ide kebebasan, persamaan hak, kesetaraan gender maupun peran ganda wanita bisa tetap diterapkan dalam kehidupan, maka para pengemban dan pendukung pemikiran kapitalisme harus mempunyai solusi terhadap masalah ini.
Propaganda dan kampanye pemberian ASI eksklusif (menyusui bayi sampai enam bulan) melalui berbagai pencanangan dan gerakan peduli ASI dijadikan solusi untuk masalah tersebut. Sebab dengan adanya pembatasan ASI eksklusif seorang ibu dianggap sudah cukup memenuhi kebutuhan bayinya. Artinya seorang ibu dianggap sudah bertanggungjawab terhadap pemenuhan kebutuhan anaknya selama enam bulan pertama kehidupan anak. Dengan demikian setelah masa ASI eksklusif berakhir seorang ibu bisa segera kembali beraktivitas dalam ruang publik. Solusi ini akan tampak bisa menyelesaikan masalah ataupun kesulitan yang dihadapi oleh seorang ibu pada saat memiliki bayi dan tampak sudah memberikan perlindungan yang dibutuhkan untuk anak pada periode penting kehidupannya.
Berkembangnya berbagai pengetahuan dan informasi tentang manfaat pemberian ASI bagi ibu dan bayinya digunakan sebagai pendukung agar para wanita percaya dengan solusi yang ditawarkan. Sebagai contoh adanya berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa ASI eksklusif ternyata dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi untuk bayi serta dapat mengurangi resiko kanker payudara bagi ibu. Begitu pula adanya informasi tentang berbagai penyakit yang menyerang anak-anak yang disinyalir terkait dengan pemberian ASI pada saat masih bayi, seperti: leukemia, pneumonia, infeksi saluran nafas dan asma. Itu semua menjadi bahan pendukung yang berharga bagi para pengemban dan pendukung kapitalisme dalam upaya menerapkan pemikirannya pada kehidupan manusia.
Dari sini dapat diketahui bahwa rendahnya prosentase ibu menyusui, termasuk pula timbulnya masalah-masalah yang terkait dengan itu hanya dimungkinkan muncul dalam masyarakat kapitalisme. Sebagai contoh: masalah mal nutrisi/kurang gizi dan tingginya angka kematian pada bayi. Hal-hal seperti itu dijamin tidak muncul dalam masyarakat yang menerapkan aturan-aturan Islam.

Menyusui Adalah Bagian Dari Pengasuhan Anak
Disebabkan adanya rahman dan rahim dari Allah Swt maka manusia sejak lahir didunia dijaga kemaslahatannya melalui tuntunan kewajiban yang dibebankan kepada ayah dan ibunya yang berupa aturan mengenai pengasuhan anak. Pengasuhan anak merupakan hak anak yang harus terpenuhi.
Oleh karena itu dalam pandangan Islam aktivitas pengasuhan anak terkait dengan semua hal yang bertujuan untuk mencegah dan menyelamatkan anak dari kebinasaan dirinya. Orang tua dari anak wajib melakukan pengasuhan pada anaknya dan tidak boleh melalaikannya. Sebab jika orang tua lalai bisa mengakibatkan kebinasaan pada diri anaknya. Seorang ibu adalah orang yang paling berhak mengasuh anaknya sendiri. Namun jika karena suatu hal ibu dari anak tidak mampu melakukan kewajiban ini maka pengasuhan beralih pada mereka yang berhak. Yaitu dari kalangan kerabat dekat anak yang dianggap mampu untuk mengasuh anak. Sedangkan orang-orang yang berhak dan harus bertanggung jawab dalam pengasuhan anak sudah banyak dijelaskan urutan-urutannya dalam kitab-kitab fiqih.
Adapun tindakan menyusui merupakan salah satu bagian dari aktivitas pengasuhan anak. Menyusui merupakan tindakan memenuhi kebutuhan anak dalam hal makanan yang dibutuhkannya, memberikan rasa aman dan kasih sayang pada anaknya. Islam menjelaskan agar seorang ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh agar sempurna penyusuannya. Meskipun demikian adakalanya terjadi seorang ibu yang hanya mampu menyusui anaknya dalam waktu tertentu kurang dari dua tahun karena berbagai alasan. Bahkan kadang terjadi seorang ibu tidak mampu menyusui anaknya sendiri. Masalah tersebut bisa diselesaikan dengan merujuk pada firman Allah Swt dalam QS. Al Baqarah ayat 233 yang artinya:”Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli warispun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anak kamu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Firman Allah Swt tersebut menjelaskan tentang kebolehan bagi seorang ibu untuk menyusui anaknya selama waktu tertentu sesuai dengan kemampuannya. Dan membolehkan pula bagi seorang ibu untuk menyempurnakan penyusuannya selama dua tahun penuh. Begitu juga dibolehkannya bagi seorang ibu untuk menyerahkan anaknya pada seorang ibu susu jika terdapat hal-hal yang menyebabkannya tidak mampu menyusui sendiri. Aturan seperti inilah yang merupakan satu-satunya aturan yang dapat memberikan jaminan pada anak untuk mendapatkan ASI. Hal ini juga merupakan jaminan bagi anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Terdapat berbagai penelitian yang membuktikan bahwa pemberian ASI ternyata turut mempengaruhi kehidupan dalam beberapa aspek. Seperti dalam aspek kesehatan yaitu dalam hal respon Imun. Dalam aspek ekonomi yaitu mengurangi biaya pembelian susu formula serta bisa digunakan sebagai pengatur jarak kelahiran anak berikutnya.
Namun perlu diketahui bahwa tindakan menyusui ini terkait pula dengan aturan-aturan lain yang tidak boleh diabaikan. Seperti aturan tentang nasab (keturunan) dan aturan tentang pernikahan. Oleh karena itu jika seorang ibu hendak menyusukan anaknya pada seorang ibu susu, maka harus memperhatikan pula aturan-aturan tersebut. Tidak dibenarkan seorang ibu menyerahkan anaknya pada seorang ibu susu dengan alasan agar anaknya bisa mendapatkan ASI yang cukup saja tanpa mengetahui aturan-aturan lain yang terkait dengan aturan penyusuan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan-aturan Islam di kemudian hari, seperti menikah dengan saudara sesusuan.

Meyakini Dan Melaksanakan Seluruh Aturan Islam
Menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh seluruh kaum muslimin sekarang adalah keyakinan bahwa hanya aturan Islamlah yang dapat memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik untuk seluruh umat manusia. Sebab pemikiran Islam berbeda dengan pemikiran yang lain termasuk pemikiran kapitalisme. Aturan-aturan Islam berbeda dengan aturan-aturan kapitalisme dari sisi asasnya maupun standar perbuatannya. Asas dari aturan Islam adalah akidah Islam sedangkan asas dari aturan kapitalisme adalah sekulerisme yang memisahkan urusan dalam masalah kehidupan dunia dari urusan agama. Adapun standar perbuatan dalam perspektif Islam bukanlah kemanfaatan seperti yang terdapat dalam aturan kapitalisme. Yang berarti perbuatan hanya akan dilakukan jika memberikan manfaat bagi dirinya sedangkan jika dianggap tidak bermanfaat maka perbuatan tersebut tidak akan dilakukan. Standar perbuatan dalam Islam adalah menyesuaikan dengan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah Swt. Sehingga semua perbuatan seorang muslim distandarisasi dengan aturan-aturan Islam.
Selain itu ukuran kebahagiaan hidup seorang wanita muslimah tidak dilihat dari keberhasilannya berperan dalam ruang publik atau keberhasilannya berperan dalam ruang domestik keluarganya maupun keberhasilannya dalam menjalankan peran gandanya. Sebab konsekuensi dari kepemelukannya terhadap Islam, seorang wanita muslimah harus selalu mengikatkan dirinya dengan aturan-aturan Islam. Dan keterikatan tersebut bukan dengan pertimbangan karena adanya manfaat yang dapat diperolehnya. Namun berdasarkan pada kesadarannya terhadap hubungannya dengan Allah Swt dan keyakinannya bahwa aturan-aturan Islam pasti mengandung maslahat untuk manusia. Seperti firman Allah Swt dalam QS. Al Anbiya ayat 107 yang artinya:”(Dan) tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh umat manusia.” Begitu pula firman Allah Swt dalam QS Al An’am ayat 157:”..Sesungguhnya telah datang kepada kamu penjelasan yang nyata dari Tuhan-mu sebagai sebagai petunjuk dan rahmat…”
Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi kaum muslimin seluruhnya untuk meyakini, mengambil dan menerapkan semua aturan-aturan dari Allah Swt dalam kehidupan manusia di dunia. Kaum muslimim harus segera membuang keyakinan-keyakinan, pemikiran-pemikiran dan ide-ide beserta aturan-aturan yang tidak berasal dari Allah Swt seperti pemikiran, ide dan aturan dari kapitalisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: