KEMUNGKARAN KEBUDAYAAN VALENTINE DAY

Umat Islam telah begitu gencar menjelaskan bahwa kebudayaan dan perayaan Valentine Day (VD) tidak sesuai dengan ajaran Islam.  Materi khutbah, materi ceramah, materi buletin, atau materi majalah yang diterbitkan umat Islam menunjukkan bahwa umat Islam tidak setuju dengan kebudayaan dan perayaaan VD.

Pada kenyataannya masih terjadi pada sebagian kalangan, begitu masuk bulan Februari, menyiapkan aneka kegiatan untuk menyambut dan merayakan VD. Seolah-olah mereka tidak memperhatikan penolakan umat Islam. Hal ini sebagaimana terlihat pada berbagai tempat seperti mall, hotel, tempat wisata, tempat hiburan dan penyedia layanan informasi dan komunikasi. Mereka menggelar berbagai paket acara dengan nuansa/ aroma VD yang mana paket acara tersebut mencapai puncak tema VD pada tanggal 14 Februari. Media masa, baik visual atau audio visual, juga  melibatkan diri dalam momen VD. Warna merah jambu (pink), simbol hati, ungkapan cinta dan kasih sayang antara laki-laki dan wanita ditonjolkan seolah-olah media masa turut berbahagia dengan adanya VD dan mendorong orang untuk memahami dan merayakan VD.

Sebagai seorang muslim yang harus selalu mengikatkan diri dengan hukum-hukum syara’ dari Allah SWT, bagaimana memandang kebudayaan dan perayaan VD? Dan bagaimana harus bersikap terhadap kebudayaan dan perayaan VD?

 

Valentine Day Bukan Kebudayaan Islam

Jika memperhatikan berbagai penjelasan umat Islam, baik yang ada dalam ceramah/khutbah atau tulisan dalam buletin /majalah, jelas sekali bahwa umat Islam menolak VD dan perayaan VD sebab bukan merupakan kebudayaan Islam. Dalil yang mendasari umat Islam untuk sampai pada kesimpulan bahwa VD bukan merupakan kebudayaan Islam adalah :

  1. VD dimunculkan oleh Paus (pemimpin agama Nasrani) pada sekitar abad 498 M dan dipopulerkan oleh kalangan umat Nasrani di Eropa dan disebarluaskan ke seluruh penduduk dunia. Padahal Allah SWT Yang Maha Berilmu dan Maha Mengetahui telah berfirman bahwa pemeluk agama Nasrani tidak ridho hingga uamt Islam mengikuti agama mereka, agama Nasrani. Allah SWT berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung  dan penolong bagimu.” (Al Baqarah  ayat 120). Demikian pula firman Allah SWT dalam surat  Al Qalam ayat 8 hingga 9: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”
  2. VD menunjukkan persetujuan terhadap kebudayaan pacaran yang mendekatkan pada perzinahan. Padahal Allah SWT telah melarang mendekati perzinahan. Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 32:“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
  3. VD dirayakan dengan meniru kebudayaan liberalisme. Dalam perayaan diungkapkan sejarah VD yang berasal dari Paus. Selain itu, yang merayakan VD adalah orang-orang yang telah mendekati perzinahan dan orang yang telah melakukan perzinahan, seolah-olah mereka bukan orang yang bersalah. Padahal mereka adalah orang yang salah dan seharusnya mereka bertaubat bukan justru merayakan kesalahan mereka melalui VD. Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang menyerupai perbuatan suatu kaum, maka ia termasuk di dalamnya.”(HR. Abu Dawud, Ahmad, Ath Thabrani).

Berdasarkan hal itu, sesungguhnya umat Islam memandang perayaan VD sebagai kemungkaran. Baik dilihat dari sejarahnya, berbagai pemikirannya, maupun aktivitas untuk merayakan, merupakan hal-hal yang bertentangan dengan agama Islam. Apa yang dilarang dalam Islam, justru diperbolehkan dan dilakukan oleh kebudayaan dan perayaan VD. Dengan demikian kebudayaan dan perayaan VD merupakan kemungkaran.

 

Sikap Umat Islam Terhadap Perayaan Valentine Day

Karena merupakan kemungkaran, maka umat Islam harus segera menyingkirkan dan menghilangkan. Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang melihat kemungkaran, maka hendahlah ia berusaha mengubah dengan tangannya, apabila ia tidak mampu (dengan tangannya), hendaklah ia berusaha dengan lisannya. Dan apabila ia tidak mampu juga, hendaklah ia berusaha mengingkari dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, dapat diketahui kelemahan sikap umat Islam sehingga perayaan VD yang merupakan kemungkaran tetap merajalela. Umat Islam baru mencegah kemungkaran menggunakan lisan (dan tulisan). Melalui berbagai khutbah dan ceramah diserukan bahwa VD dan perayaan VD adalah kemungkaran. Bahkan penggunaan lisan (dan tulisan) belum maksimal dengan alasan sbb :

  1. Penggunaan lisan (dan tulisan) diarahkan kepada kalangan kaum muda. Tidak bisa dipungkiri, kalangan kaum muda yang tidak berdasarkan keimanan dan ketakwaan, adalah pelaku VD. Tetapi terdapat orang-orang yang menjadi penyedia sarana dan prasarana perayaan VD. Bahkan media masa juga menyebarluaskan perayaan VD. Oleh karena itu, seharusnya penggunaan lisan (dan tulisan) juga diarahkan kepada mereka. Perbuatan mereka dapat tergolong pada mengadakan sarana keharaman, yang hal itu juga telah dilarang Allah SWT. Lisan (dan tulisan ) harus menghimbau penyedia sarana dan prasarana perayaan VD, termasuk media massa, supaya tidak menjadi sarana dan prasarana perayaan VD.
  2. Belum ada penggunaan lisan (dan tulisan) berupa mengadukan kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD ke pengadilan. Padahal penggunaan lisan bukan hanya untuk memberi penjelasan dan nasihat. Penggunaan lisan juga dapat berbentuk pengaduan kepada pengadilan.

Seharusnya umat Islam menghentikan kemungkaran VD dan perayaan VD dengan menggunakan tangan. Namun bukan berarti umat Islam melakukan tindakan main hakim sendiri dan anarki. Maksud menggunakan tangan dalam hadits  tersebut adalah menggunakan kekuasaan negara. Umat Islam yang memiliki kekuasaan dengan metode yang benar, harus memerintah dan melayani rakyat dengan berdasarkan ajaran Islam. Allah SWT telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104:“Hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.“

Aparat keamanan harus dikerahkan dengan serius untuk mencegah kebudayaan dan perayaan VD di tengah masyarakat. Aparat keamanan dapat dikerahkan ke hotel, tempat hiburan, tempat pariwisata, percetakan dan penerbitan media masa, atau penyedia jasa informasi dan komunikasi. Di sana, aparat keamanan melakukan pengawasan. Jika terdapat orang-orang yang menjadi sarana dan prasarana perayaan VD, maka ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Dalam hal ini, kelompok-kelompok di tengah umat Islam tidak perlu melakukan demonstrasi yang mengganggu hak-hak umum, apalagi melakukan tindakan anarki dan main hakim sendiri.

Terhadap kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD tidak boleh dilakukan toleransi. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Kafirun ayat 6:“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan:“ayat ini menyatakan kekufuran itu satu, sebab semua agama dalam kepalsuannya sama kecuali Islam yang semua amal perbuatannya dan hukum ajarannya hanya dari tuntunan Allah, wahyu dari Allah maka itulah yang bernama agama Allah, yang tidak dinodai buatan dan perkiraan manusia.”

Menjauhi kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD memang harus dilakukan umat Islam, manakala tidak mampu untuk menyingkirkan dan menghilangkan kebudayaan dan perayaan VD. Namun hal itu menunjukkan bahwa umat Islam dalam keadaan selemah-lemahnya iman. Apakah umat Islam dalam keadaan selemah-lemah iman? Umat Islam harus membuktikan bahwa iman mereka terhadap Islam tidak lemah, bahkan kuat. Hal itu dapat dibuktikan dengan penggunaan lisan (dan tulisan) yang optimal dalam mencegah kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD. Pada saat yang sama keimanan yang kuat dibuktikan dengan pelaksanaan firman Allah SWT dalam surat Ali Imron ayat 104:“Hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.“

 

Penutup

Umat Islam sudah menyimpulkan bahwa kebudayaan dan perayaan VD adalah kemungkaran. Namun demikian di tengah umat Islam masih berlangsung kebudayaan dan peradaban VD. Hal ini disebabkan umat Islam belum optimal dalam menyingkirkan dan menghilangkan kebudayaan dan perayaan VD.

Selain menggunakan lisan (dan tulisan) untuk menjelaskan dan menasehati kaum muda tentang kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD, umat Islam dapat melakukan berbagai hal berikut :

  1. Menggunakan lisan (dan tulisan) untuk menjelaskan dan menasihati berbagai pihak yang menyediakan sarana dan prasarana kebudayaan dan perayaan VD termasuk dalam memberikan sarana kepada kemungkaran.
  2. Menggunakan lisan (dan tulisan) untuk mengadukan kemungkaran kebudayaan dan perayaan VD kepada pengadilan.
  3. Melaksanakan surat Ali Imron ayat 104.
  4. Menunjukkan bahwa umat Islam tidak lemah keimanannya.
  5. Tidak bertoleransi dengan kemungkaran
  6. Tidak melakukan demonstrasi yang mengganggu hak-hak umum, tindakan anarki dan main hakim sendiri.

Insya Allah dengan menggunakan langkah yang lebih konkrit dan sesuai dengan ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, umat Islam segera dapat menyingkirkan dan menghilangkan kemungkaran kebudayan dan perayaan VD. Bahkan berbagai kemungkaran yang lain, baik yang merupakan kemungkaran tradisional dan modern dapat disingkirkan dan dihilangkan.

Selanjutnya dapat dikembangkan kebudayaan umat Islam, yaitu kebudayaan Islam. Diterapkannya aqidah dan hukum-hukum syara’ Islam akan melahirkan masyarakat yang Islami yang mengembangkan kebudayaan Islam. Dari sana akan berkembang kebiasaan-kebiasaan, tradisi, atau seni budaya yang Islami. Adapun kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan, tradisi atau seni budaya yang tidak Islami akan ditinggalkan oleh masyarakat.

Perlu diingat bahwa berkembangnya kebudayaan Islam tidak berarti mematikan perkembangan teknologi/industri. Peradaban Islam bisa menerima dan memanfaatkan hasil perkembangan teknologi/industri. Bahkan dibawah naungan kebudayaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, perkembangan teknologi/industri dapat maju lebih pesat dan dapat dimanfaatkan semua lapisan masyarakat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: