MEMILIH MAKANAN/MINUMAN YANG HALAL DAN THOYYIB

Akhir-akhir ini, masyarakat semakin resah dan tidak tahu harus bagaimana menyikapi peredaran makanan dan minuman dalam hidup keseharian mereka. Masalahnya makanan dan minuman yang tersedia sekarang ini ditengarai mengandung zat-zat yang dapat membahayakan tubuh manusia. Jumlah makanan dan minuman  seperti itu tersedia cukup banyak di masyarakat, bahkan harganya pun relatif terjangkau, sehingga masyarakat cukup mudah untuk memperolehnya. Seperti makanan dan minuman jenis kudapan/jajanan pasar yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat diluar jam makan.

Dari berbagai hasil penelitian, ternyata makanan dan minuman yang telah banyak beredar di masyarakat sekarang ini mengandung bahan-bahan, seperti: boraks, formalin, zat pewarna tekstil, melamin dan penyedap rasa, yang sangat membahayakan tubuh manusia apabila dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu. Boraks, misalnya: apabila terdapat pada makanan, maka dalam jangka waktu lama walau hanya mengkonsumsi dalam jumlah yang sedikit akan terjadi akumulasi (penumpukan) pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian. Formalin juga sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit ataupun tertelan. Meskipun formalin dikenal sebagai bahan insektisida, kenyataannya disalahgunakan dengan dicampurkan pada bahan makanan dengan tujuan untuk mengawetkan makanan agar tidak lekas membusuk. Padahal akibat yang ditimbulkan dari formalin bisa berupa: luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.

Hebohnya polemik susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii beberapa   waktu yang lalu juga menjadi bukti bahwa makanan dan minuman yang beredar di masyarakat tidak terjamin dapat menjaga kesehatan tubuh manusia, justru sebaliknya makanan  dan minuman yang beredar  di masyarakat banyak yang membahayakan. Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, Badriul Hegar, bakteri Enterobacter Sakazakii ini dapat menyebabkan radang selaput otak atau meningitis, adanya bakteri dalam darah (bakteremia), penyebaran bakteri patogen dalam jaringan darah (sepsis), radang usus halus dan usus besar (enterokolitis), hingga kematian sel (necrosis).(health.kompas.com, 2011/02/10).

Memang benar  bahwa akibat yang paling sering terjadi setelah mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti itu hanya sekedar keracunan, yang ditandai dengan pusing, mual, muntah dan tubuh menjadi lemas. Namun sebenarnya kondisi seperti itu akan mempengaruhi vitalitas hidup seseorang, yang pada akhirnya berpengaruh juga terhadap kualitas generasi penerus manusia. Jika masalah seperti ini tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang akan muncul generasi yang lemah tubuhnya dan sakit badannya akibat banyak mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan yang berbahaya.

Padahal jika kita cermati, peristiwa keracunan setelah mengkonsumsi suatu jenis makanan/minuman  sudah sering terjadi. Di antaranya, peristiwa keracunan yang menimpa puluhan siswa SD di Kec. Percut Tei Tuan Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara, setelah mengkonsumsi jajanan bakso yang mereka beli dari kantin sekolahnya.(Medantalk.com, 11-1-2011). Juga peristiwa keracunan pada puluhan siswa SDN Sawah, Kec. Rumpin, Kab. Bogor, setelah mereka mengkonsumsi jajanan berbentuk daging olahan yang dijajakan oleh pedagang makanan di depan sekolah mereka.(Pos Kota Online, 8 November 2010). Ada lagi peristiwa keracunan yang menimpa seluruh karyawati shift malam pada PT Panasonic Shikoku, Batam, Kep. Riau, setelah mereka meminum susu kemasan yang diberikan oleh perusahaan. Padahal pemberian susu tersebut sebenarnya dimaksudkan oleh pihak perusahaan untuk menambah stamina para karyawan karena mereka masuk kerja malam hari. (Metrotvnews.com, 24 Desember 2010). Dan masih banyak lagi peristiwa keracunan makanan/minuman di desa-desa, yang terjadi seusai acara hajatan warga, seperti: pernikahan, khitanan, dll, yang luput dari pemberitaan media. Sebagai seorang muslim, kita patut memikirkan: Bagaimana cara Islam dalam menyelesaikan masalah ini?

 

Makanan/Minuman Menurut Pandangan Islam

Islam merupakan agama yang sempurna karena menyelesaikan masalah manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Terkait dengan masalah makanan/minuman, agama Islam memerintahkan pada manusia untuk memperhatikan terhadap apa yang hendak dimakan/diminumnya. Di dalam Al Qur’an, disebutkan beberapa kali kata ‘halal’ yang digabungkan dengan “thayyib(baik)”. Seperti firman  Allah Swt dalam QS. Al Maidah ayat 88: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Demikian pula dalam QS. An Nahl ayat 114: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepadaNya.” Juga dalam QS. Al Baqarah ayat 168: “Hai manusia makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Dan QS. Surat Al Anfal ayat 69: “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertaqwalah kepada Allah.Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Para mufasirin mengatakan bahwa rangkaian kata “halal” dan “thayyib” tersebut menunjukkan bahwa yang diperintahkan oleh Allah Swt untuk dimakan/diminum adalah yang memenuhi keduanya. Artinya, tidak cukup dengan hanya memperhatikan halalnya saja, tetapi juga harus memperhatikan thayyibnya. Sebab bisa saja suatu makanan/minuman itu halal tetapi mengakibatkan hal yang tidak baik bagi tubuh manusia. Itu berarti makanan/minuman tersebut halal tapi tidak thayyib. Sebagai contoh, makanan instan yang banyak dikonsumsi oleh manusia sekarang ini dengan alasan: murah, mudah dan cepat saji, ternyata miskin gizi. Padahal tubuh manusia memerlukan makanan yang kaya gizi untuk kepentingan tumbuh kembangnya. Karena itu tidak salah jika ada yang menyebut makanan instan dengan istilah makanan sampah (junk food) yang memang selayaknya manusia tidak mengkonsumsinya.  Begitu juga berbagai minuman dalam bentuk kemasan yang berwarna-warni untuk menggugah selera konsumen/pembeli, yang ternyata menggunakan bahan pewarna yang biasa digunakan untuk pewarna tekstil. Padahal bahan pewarna seperti itu bersifat karsinogenik dan dapat merusak organ hati. Bisa dipikirkan seandainya makanan/minuman seperti itu yang terus menerus dikonsumsi oleh kebanyakan dari kaum muslim, tentulah sangat membahayakan terhadap kualitas generasi penerus umat Islam. Karena itu,  sudah menjadi keharusan bagi setiap individu muslim untuk melaksanakan perintah Allah Swt dalam memilih makanan/minuman, yaitu yang halal dan thayyib.

 

Cara Islam Dalam Mengatasi Masalah Ini

Munculnya masalah-masalah yang disebabkan oleh beredarnya makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan yang berbahaya, tidak serta merta akan selesai dengan hanya mewajibkan setiap individu untuk memilih makanan/minuman yang halal dan thayyib saja. Sebab pilihan individu terhadap makanan/minuman, juga sangat tergantung dengan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat.            Dengan alasan lebih ekonomis, bisa saja seseorang memilih makanan/minuman yang halal tapi tidak thayyib. Atau dengan alasan untuk menunjukkan status sosialnya, seseorang biasa menyantap makanan jenis junk food. Karena itu diperlukan peranan pemerintah untuk menguatkan aturan yang terkait dengan masalah ini dan memikirkan metode penegakan aturannya di masyarakat.

Sebagian kalangan menganggap bahwa peraturan-peraturan dari pemerintah yang terkait dengan masalah ini masih terbatas pada anjuran. Sebagai contoh Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/1988 yang diperkuat dengan Permenkes No.1168/Menkes/1999 hanya menyebutkan bahan-bahan yang diijinkan sebagai bahan tambahan pangan. Begitu pula dalam Peraturan Pemerintah No.69/1999 yang mengatur masalah labelisasi halal, membedakan antara produk dalam negeri dengan produk impor. Untuk produk dalam negeri, label halal bersifat voluntary (sukarela) sedangkan untuk produk impor yang memang halal, label halal bersifat mandatory (wajib). Peraturan-peraturan ini ternyata tidak  mampu membendung peredaran makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya di masyarakat. Memang sekarang ini pemerintah mulai mengajukan Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal yang sifatnya mandatory (wajib) dan memberikan sanksi administrasi dan tindak pidana bagi para pelanggar. Namun ternyata RUU ini masih menjadi polemik berbagai pihak dengan alasan akan menyebabkan terjadinya sentralisasi proses sertifikasi yang justru dapat meningkatkan biaya produksi dan masih adanya tarik ulur mengenai siapa yang lebih berhak memberikan sertifikasi.

Berdasar pada fakta-fakta seperti itu, dengan tujuan mendapatkan solusi dari masalah ini maka yang harus menjadi paradigma pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini adalah bahwa tugas pokok pemerintah sebagai penyelenggara negara adalah melayani urusan rakyat. Karena Rasulullah Saw bersabda:“Seorang amir (pemimpin) yang berkuasa atas manusia adalah penanggungjawab (atas segala urusan rakyat) dan dia (amir/pemimpin) akan ditanyai tentang rakyatnya.”(HR. Imam Muslim dari Ibnu Umar). Pemerintah bertanggung jawab terhadap terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan untuk seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Semua itu harus diberikan kepada rakyatnya secara adil tanpa membeda-bedakan golongan ekonomi atas, menengah maupun bawah, muslim maupun non muslim. Sehingga termasuk tugas pemerintah juga untuk menyediakan kebutuhan pangan yang halal dan thayyib bagi seluruh rakyatnya.

Ketegasan pemerintah terhadap siapapun, produsen ataupun individu yang sengaja mengedarkan makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya juga sangat diperlukan. Yaitu, dalam bentuk pemberian sanksi (hukum ta’zir) mulai dari pemberian nasehat sebagai peringatan sampai hukuman yang setimpal dengan akibat perbuatannya. Perbuatan sengaja mengedarkan makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya, termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Sebab, Islam memerintahkan untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “La dharara wala dhirara”. (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah), yang artinya:”Tidak boleh membuat mudharat/membahayakan kepada dirinya sendiri dan tidak pula membuat mudharat/membahayakan kepada orang lain.”

 

Penutup

Sebagai seorang muslim, memang sudah saatnya kita harus lebih semangat lagi untuk mengembalikan kehidupan kita dalam naungan Islam. Sebab, Islam  agama yang berasal dari Allah Swt, Dzat yang menciptakan manusia, langit, bumi beserta seluruh isinya. Karenanya,  Allah Swt yang paling berhak mengatur urusan-urusan manusia. Islam telah terbukti  mampu untuk menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan manusia selama hampir 14 abad.  Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, dan hal ini akan terwujud ketika seluruh aturan Islam diterapkan di muka bumi ini. Oleh karena itu, umat Islam haruslah menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang selalu dipegang dan diterapkannya dalam kehidupan ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: