GERAKAN FEMINISME, SALAH ARAH!

Sejak pertama kali diturunkan untuk manusia, agama Islam telah memandang bahwa kedudukan pria dan wanita adalah sama di hadapan  syara’. Hukum-hukum syara’ yang ada, tidak dimaksudkan sebagai hukum yang melayani kepentingan pria saja, atau kepentingan wanita saja. Tetapi dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan keduanya sebagai manusia ciptaan Allah Swt. Sebab, secara jelas dapat dilihat bahwa  masyarakat merupakan komunitas manusia yang terdiri dari kaum pria dan kaum wanita. Sehingga realitas seperti ini tidak perlu memunculkan pandangan ada tidaknya kesetaraan antara pria dan wanita dalam sistem interaksi keduanya.

Perbincangan mengenai kesetaraan antara pria dan wanita dimulai dari Barat yang memang telah merenggut hak-hak wanita sebagai manusia. Kehidupan wanita Barat terkoyak-koyak di bawah hegemoni gereja. Sejarah telah mencatat bahwa pada abad pertengahan, gereja berperan menjadi sentral kekuatan dan sumber kekuasaan. Kondisi hegemoni gereja ini berlangsung sampai abad ke- 17. Setiap hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja, dianggap sebagai pembangkangan (heresy) dan dihadapkan ke Mahkamah Inkuisisi.

Nasib wanita Barat tak luput dari kekejian doktrin-doktrin gereja  yang ekstrim yang memandang rendah martabat kaum wanita. Mereka dianggap sebagai sumber dosa dan merupakan makhluk kelas dua di dunia ini. Mereka juga diperlakukan sebagai makhluk yang hina, tidak manusiawi dan makhluk tidak rasional. Kondisi ini membawa kaum wanita saat itu menjadi makhluk yang inferior, bahkan statusnya dipertanyakan apakah wanita itu manusia atau bukan.

Adadua doktrin dasar Gereja yang membuat kedudukan wanita di Barat pada abad pertengahan tak ubahnya seperti binatang. Pertama, Gereja menganggap wanita  sebagai ibu dari segala dosa yang berakar dari setan jahat. Wanitalah yang menjerumuskan pria ke dalam dosa dan kejahatan, dan menuntunnya ke neraka. Kedua, menganggap hubungan seksual pria dan wanita   adalah peristiwa kotor walaupun mereka telah menikah. Wanita Barat menjadi makhluk lemah dan tidak berdaya dilihat dari seluruh aspek kehidupan.

Berbagai penindasan terhadap wanita Barat di bawah hegemoni gereja membuat suara-suara wanita yang menginginkan kebebasan semakin menggema di mana-mana. Mereka terdorong bergerak untuk mendapatkan kembali hak individu dan hak sipil mereka yang terampas selama ratusan tahun.  Dari kondisi yang kelam inilah kaum wanita saat itu sadar dan berusaha untuk mengakhirinya dengan membuat suatu gerakan pembebasan dari keterpurukan yang dikenal dengan gerakan feminisme.

Fokus perjuangan gerakan feminisme ialah kesetaraan gender antara pria dan wanita dalam segala aspek.Adaempat aliran feminisme yang berjuang  untuk membela kaum wanita dari keterpurukan, yaitu: feminisme liberal, feminisme Marxis, feminisme sosialis, dan feminime radikal.  Secara umum keempat aliran tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu: (1) Wanita dan pria adalah makhluk yang sama, maka mempunyai hak dan peran yang sama pula, keduanya bisa bekerja bersama secara totalitas di segala bidang. (2) Wanita dan pria sama-sama makhluk rasional sehingga tidak boleh ada diskriminasi antara keduanya. (3) Wanita mempunyai kedudukan  yang seimbang dalam dunia kerja dan upah, tidak ada pembagian kerja berdasarkan seks, dan keduanya berhak berkiprah di sektor domestik dan publik. (4) Kedudukan wanita dan pria adalah setara, tidak ada yang superior dan inferior. (5) Dalam rumah tangga wanita bukan milik pribadi suami, suami bukan kepala rumah tangga.

Kemajuan Semu

Setelah sekian lama dihidupkan, para pengemban pemikiran feminisme menduga mereka telah berhasil membawa kaum wanita dalam mencapai kemajuan yang sama dengan pria dalam berbagai bidang kehidupan, seperti: ekonomi, politik dan sosial. Di Indonesia sendiri gerakan feminisme semakin mengakar ke bawah setelah dimasukannya peran wanita dalam 10 program PKK dan diresmikannya UU Pemilu th 2003 pasal 65 ayat 1 yang menyatakan  batas minimal keterwakilan wanita sebagai anggota DPR/DPRD dari setiap partai peserta pemilu sebesar 30%.

Namun demikian, sebagian kalangan dari tokoh-tokoh feminis menganggap bahwa kemajuan yang dicapai kaum wanita pada masa ini merupakan kemajuan semu. Sebab, berdasarkan catatan-catatan yang ada dari tahun ke tahun justru terjadi peningkatan kasus-kasus yang menempatkan wanita menjadi korban,   seperti: perdagangan wanita, penyiksaan terhadap buruh wanita, maupun diskriminasi wanita dalam peraturan perundangan. Menurut catatan Komnas Perempuan, ada peningkatan jumlah perda yang mendiskriminasikan wanita dari 154 perda menjadi 191 perda selama kurun waktu 1999- awal Maret 2011 yang tersebar di lebih dari 100 kabupaten pada 25 propinsi. Sedangkan BPI (Barisan Perempuan Indonesia) yang merupakan koalisi lebih dari 35 organisasi non pemerintah menyatakan: rata-rata per hari, 12 buruh wanita migran meninggal di negara tempatnya bekerja, 20 wanita menjadi komoditas seksual perdagangan orang, 12 orang menjadi korban kekerasan seksual, dan masih adanya  wanita usia 15 tahun keatas yang buta aksara sejumlah 5,3 juta. (Kompas.com, 11 Maret 2011).

Selain itu, gambaran kemajuan semu yang dicapai oleh para wanita dewasa ini bisa juga dilihat dari pernyataan Direktur Biro ILO untuk Kesetaraan Gender pada peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret lalu, yang menyatakan: karakteristik kondisi wanita pekerja umumnya ditandai dengan upah yang rendah, jam kerja panjang dan kondisi kerja informal. Prosentase wanita yang terjebak dalam bentuk pekerjaan rentan secara global (51,8%) lebih tinggi dari laki-laki (48,2%). (Kompas.com, 14 Maret 2011).

Dampak Gerakan Feminisme Terhadap Hukum Islam

Dapat dikatakan bahwa kemajuan yang dicapai oleh gerakan feminisme menuai masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan lebih rumit untuk diselesaikan.  Apalagi ketika gerakan feminisme mulai didengungkan dalam kehidupan umat Islam. Muncul masalah-masalah yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam kehidupan umat Islam terdahulu. Ini terjadi karena tokoh-tokoh feminis Barat tidak kenal lelah mempropagandakan pemikiran mereka dan menyatakan bahwa masalah-masalah yang menimpa mereka di Barat merupakan masalah universal mewakili seluruh wanita di dunia. Dari sini muncullah tokoh-tokoh feminis dari kalangan umat Islam sendiri. Konsep kesetaraan gender dijadikan sebagai standar berfikir dalam menafsirkan teks Al-Quran. Mereka menganggap bahwa ajaran Islam yang tertuang dalam Al Qur’an dan hadist,  banyak yang merugikan wanita. Karena itu kaum feminis juga menuntut adanya tafsir ulang dari Al Qur’an dan hadist sehingga lebih memihak terhadap wanita.Adaanggapan bahwa tafsiran yang ada merupakan rekayasa dan konspirasi ulama untuk menempatkan wanita sebagai korban baik dalam rumah tangga maupun dalam ranah publik.

Sebagai contoh: kasus yang terjadi pada Tim Pengarusutamaan Gender DepartemenAgamaRItahun 2004 yang menerbitkan sebuah buku bertajuk “Pembaruan Hukum Islam: Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam”.Adabeberapa pasal yang menimbulkan  perdebatan dalam draf tersebut: (1) Asas perkawinan adalah monogami dan perkawinan di luar itu tidak sah dan harus dinyatakan batal secara hukum. (2) Batas umur calon suami atau calon istri minimal 19 tahun. Artinya walau sudah baligh tetapi keduanya belum mencapai umur 19 tahun, maka pernikahannya dinyatakan tidak sah. (3) Perkawinan beda agama disahkan, artinya perkawinan lintas agama bukanlah menjadi soal. (4)  Calon suami atau istri dapat mengawinkan dirinya (tanpa wali), asalkan keduanya sudah mencapai umur  21 tahun, berakal sehat, dan rasyid atau rasyidah.  (5) Ijab-qabul boleh dilakukan oleh istri-suami atau sebaliknya suami-istri. (6) Masa iddah bukan hanya dimiliki oleh wanita saja tetapi juga untuk laki-laki. Masa iddah bagi laki-laki adalah seratus tiga puluh hari (130 hari). (7) Talak tidak dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh istri di depan sidang pengadilan agama. (8) Bagian waris anak  laki-laki dan wanita adalah sama.

Pilihan Muslimah: Mengambil Yang Islami

            Jika kita menenggok kehidupan umat Islam di masa lalu, dimulai sejak kehidupan Rasulullah Saw di Madinah yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafa’ur Rasyidin  sampai runtuhnya kekuasaan Islam pada awal tahun 1924,       adanya perbedaan aturan/hukum untuk kaum wanita dan kaum pria tidak pernah menimbulkan masalah dalam kehidupan mereka. Seluruh aturan/hukum Islam bisa diterapkan dalam kehidupan manusia, sebab agama Islam adalah akidah dan syari’at yang pasti sesuai dengan fitrah manusia baik pria  maupun wanita.

Kisah ‘Asma Binti Yazid yang pernah gelisah menghadapi masalah kaumnya, bisa menjadi pelajaran berharga untuk kaum muslimah sekarang. Beliau mengadukan masalahnya pada Rasulullah Saw dengan berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah dibelakangku. Mereka mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan mereka berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Swt mengutusmu bagi seluruh pria dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai’atmu. Sementara kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Padahal kami menjadi penyangga rumah tangga kaum pria, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, dan kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Tapi kaum pria mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jumat, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka, apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapatkan?”

Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah Saw menoleh kepada para shahabat dan bersabda: “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang ia tanyakan?” Para shahabat menjawab: “Belum pernah, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah bersabda: “Kembalilah wahai ‘Asma, dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhoan suaminya, mengikuti (mematuhi) apa yang disetujui suaminya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum pria.” Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu ‘Asma kembali kepada kaumnya sambil bertahlil dan bertakbir, merasa puas dan ridho dengan apa yang telah disampaikan Rasulullah kepadanya.

Dengan demikan, cukuplah bagi wanita muslimah sekarang untuk mengambil semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang Rasulullah untuk kita. Untuk itu, wanita muslimah harus selalu meyakini dan memahami akidah dan syari’at Islam sehingga bisa mengetahui akidah dan syari’at  diluar Islam yang harus ditinggalkannya. Dan hendaklah kita semua selalu mengingat firman Allah Swt dalam QS. Al An’aam ayat 57 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) diatas keterangan yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah Swt. Dia Menerangkan kebenaran dan Dia Pemberi Keputusan yang terbaik.Wallahu ‘alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: