ALLAH SWT ADALAH DZAT YANG MAHA PEMBERI REJEKI (Perlu Memahami Hukum Syara’ Sebab Pemilikan Harta Individu)

Sudah jelas sekali bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki. Namun, kenyataannya masih banyak yang berpendapat dan berkeyakinan bahwa ada selain Allah SWT yang memberi rejeki. Bahkan pendapat itu sampai menjerumuskan pada ketidakpedulian akan halal dan haram, dan akhirnya menjerumuskan pada perbuatan yang kurang benar dan haram.

Berbagai alasan pun dikemukakan. Namun demikian, alasan-alasan tersebut lemah sekali dibandingkan fakta yang menunjukkan bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki. Fakta di tengah masyarakat juga menunjukan bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki.  Hewan-hewan yang lemah selalu bisa memperoleh makanan yang mereka butuhkan sebagaimana hewan yang buas dan menakutkan pun juga mendapatkan makanan yang mereka butuhkan.  Demikian juga umat manusia yang selalu dicukupi kebutuhannya oleh Allah SWT Sang Maha Pemberi Rejeki. Allah memberikan rejeki, baik kepada muslim atau kepada kafir.

Termasuk fakta yang menunjukkan bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki adalah di antara kaum muslim atau non muslim ada yang diberi rejeki banyak dan ada yang diberi rejeki sedikit.  Ada muslim yang taat, namun rejekinya sedikit sebagaimana ada muslim yang taat namun rejekinya banyak.  Pada masa Rasulullah SAW, Abu Hurairoh ra adalah sahabat yang miskin, sedangkan Abu Bakar  Ashshiddiq adalah sahabat yang kaya.  Demikian juga ada muslim yang tidak taat bahkan ada orang kafir atau musyrik, sedangkan rejekinya banyak sebagaimana ada muslim yang tidak taat, bahkan kafir atau musyrik namun rejekinya sedikit.  Hal itu disebabkan  Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki.

Apalagi bukti-bukti yang sangat kuat sekali, qath’i tsubut dan qath’i dalalah, menunjukkan bahwa Allah SWT adalah dzat yang Maha Pemberi Rejeki. Banyak sekali ayat-ayat dalam Al Qur’an menunjukkan dengan jelas bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki.  Salah satu contoh dari ayat-ayat tersebut adalah surat Al An’aam ayat 142 yang artinya: “Makanlah dari rejeki yang telah diberikan Allah kepadamu”. Contoh yang lain adalah surat Al Ankabut ayat 17 yang artinya: “Maka mintalah rejeki itu di sisi Allah”.  Demikian juga Allah SWT berfirman dalam surat Huud ayat 6: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah yang memberikan rejekinya”.  Sedangkan dalam surat Ad Dzaariyat ayat 58, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah, Dialah Sang Pemberi Rejeki yang mempunyai kekuatan dan sangat kokoh

Oleh karena itu wajar-wajar saja kalau ada orang yang menunaikan zakat sedangkan dia tetap dalam keadaan kaya, sebab Allah SWT Sang Maha Pemberi Rejeki berkehendak memberikan rejeki yang banyak kepada orang tersebut.  Sebagaimana wajar-wajar saja kalau ada orang yang menunaikan zakat, kemudian  dia jatuh miskin, sebab Allah SWT Sang Maha Pemberi Rejeki berkehendak memberikan rejeki yang sedikit kepada orang tersebut.  Demikian juga wajar-wajar saja kalau ada orang yang menunaikan haji sedangkan dia tetap dalam keadaan kaya, sebab Allah SWT Sang Maha Pemberi Rejeki berkehendak memberikan rejeki yang banyak kepada orang tersebut. Sebagaimana wajar-wajar saja kalau ada orang yang menunaikan haji, kemudian  dia jatuh miskin, sebab Allah SWT Sang Maha Pemberi Rejeki berkehendak memberikan rejeki yang sedikit kepada orang tersebut.

Demikianlah, bukti yang qath’i tsubut-qath’i dalalah dan fakta di tengah masyarakat menunjukkan bahwa  sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki.  Semua makhluknya, rejekinya tergantung kepada pemberian Allah SWT.

Adapun kesalahan yang banyak terjadi yang menganggap rejeki tidak dari Allah SWT disebabkan kesalahan dalam memahami sebab datangnya rejeki dengan sebab pemilikan harta.  Sebab datangnya rejeki dianggap sama dengan sebab pemilikan harta.  Padahal di antara keduanya berbeda satu dengan lain.  Sebab datangnya rejeki adalah Allah SWT, sedangkan sebab pemilikan harta adalah cara-cara yang menyebabkan penguasaan harta seperti bekerja, berdagang, bertani, dll.  Mencuri, merampok, membungakan uang, menjual dengan harga yang sangat mahal (ghabn), memonopoli dan menjual harta umum juga merupakan contoh  dari cara menguasai harta, namun cara-cara tersebut telah diharamkan oleh Allah SWT dan RasulNYA.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini akan dijelaskan sebab pemilikan harta dalam pandangan Islam. Akan dijelaskan cara-cara Islami untuk penguasaan harta dengan harapan umat Islam tidak salah membedakan antara keyakinan tentang sebab datangnya rejeki dengan hukum syara’ Islami untuk memiliki harta.  Yaitu dengan harapan umat Islam memiliki keyakinan yang benar bahwa Allah SWT sebagai Dzat yang Memberikan Rejeki. Demikian juga dengan harapan umat Islam mengetahui cara Islami untuk memiliki harta.

 

Sebab Pemilikan Harta

          Ajaran agama Islam telah memberikan petunjuk tentang cara-cara untuk menguasai dan memiliki harta.  Orang dapat menguasai dan memiliki harta melalui bekerja, baik bekerja sendiri seperti bertani, berburu, berdagang atau membuat perusahaan individu, bekerja bersama orang lain yaitu membuat usaha bersama (syirkah), dan bekerja untuk orang lain yaitu menjadi tenaga kerja.

Banyak sekali dalil-dalil dalam Al Qur’an dan dalam AsSunnah yang memerintahkan manusia untuk bekerja.  Di Dalam surat Al Baqarah ayat 168, Allah SWT berfirman: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.   Sedangkan di dalam surat Al Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejekiNYA, dan hanya kepadaNYa kamu dibangkitkan”.  Di dalam surat Jumuah ayat 10, Allah SWT berfirman: “Apabila telah ditunaikan sholat Jum’at, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah

Adapun Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim: “Barang siapa menjadi beban dari kerja tangannya sendiri, diampunilah ia (dosanya)”.  Imam Muslim juga meriwayatkan hadist: “Mencari yang halal adalah wajib sesudah yang wajib”.   Demikian juga Rasulullah SAW bersabda: “Tidak seorang pun memakan satu makanan yang lebih baik dari apa yang ia makan dari hasil kerja tangannya, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud itu makan dari hasil kerja tangannya”. (HR. Imam Bukhari).

Selain peluang memperoleh, menguasai dan memiliki harta melalui bekerja, agama Islam juga membuka peluang untuk memiliki harta melalui selain bekerja, seperti: warisan dan pemberian negara. Terdapat juga peluang untuk memiliki harta karena keadaan darurat yang membahayakan jiwa, mendapat hadiah, mahar, kompensasi, dan barang temuan.  Kesemuanya itu dapat dimasukan dalam sebab memperoleh harta selain bekerja.

Perlu disadari bahwa menunaikan zakat bukan sebab untuk memperoleh, menguasai dan memiliki harta.  Menunaikan zakat adalah ibadah maliyah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Memang pada saat ini banyak digencarkan ajakan penunaian zakat dengan modus kapitalisasi dan politisasi zakat seperti zakat menyebabkan kaya atau zakat menyebabkan harta semakin banyak.  Namun sesungguhnya kalau mencermati kitab-kitab para ulama, zakat diletakkan dalam bab ibadah, bersama dengan thaharah, shalat, puasa dan ibadah haji. Dengan demikian, Islam telah membahas sebab memperoleh harta, yaitu melalui bekerja dan selain bekerja di mana menunaikan zakat tidak termasuk dalam sebab memiliki harta, namun termasuk dalam ibadah yang berfungsi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perlu juga disadari bahwa bekerja dan selain bekerja seperti yang dijelaskan sebelumnya adalah sebab pemilikan harta individu. Bekerja dan selain bekerja bukan sebab untuk memiliki harta bersama. Bekerja dan selain bekerja tidak digunakan untuk menguasai fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat atau menguasai tambang-tambang berskala besar.  Rasulullah SAW pernah membatalkan ijin beliau kepada seseorang untuk menguasai suatu tambang, sebab ternyata tambang tersebut berskala besar.  Rasulullah juga pernah bersabda dalam hadits yang berasal dari Ibnu Abbas ra: “Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api” (HR Abu Daud), di mana Anas r.a. juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan: wa tsamanuhu haram (dan harganya haram), yang berarti harta milik umum dilarang untuk diperjualbelikan.

Demikian juga bekerja dan selain bekerja bukan sebab untuk menguasai negara dan harta negara.  Bekerja dan selain bekerja adalah sebab untuk memiliki harta individu.

 

Kesimpulan

          Sangat disayangkan kalau masih ada orang yang menduga bahwa ada dzat selain Allah SWT yang memberikan rejeki.  Fakta-fakta yang ada  dan bukti  yang qath’i tsubut-qath’i dalalah menunjukkan bahwa rejeki datang dari Allah SWT.  Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki.  Kesalahan dugaan yang terjadi disebabkan oleh ketidakpahaman mengenai sebab datangnya rejeki yang dianggap sebagai sebab pemilikan harta.  Padahal sebab datangnya rejeki berbeda dengan sebab pemilikan harta. Sebab datangnya rejeki adalah Allah SWT sedangkan sebab pemilikan harta adalah sebab penguasaan harta.

Berkaitan dengan sebab pemilikan dan penguasaan harta, Allah SWT telah memberikan ajaranNYA berupa bekerja dan selain bekerja.  Bekerja dapat berupa bekerja sendiri, bekerja bersama orang lain dan bekerja pada orang lain.  Selain bekerja yang dapat menjadikan seseorang memiliki harta contohnya adalah mendapat warisan, mendapat pemberian dan santunan negara, memperoleh harta karena keadaan darurat yang membahayakan jiwa, mendapat hadiah, mahar, kompensasi, dan menemukan barang temuan yang secara syar’i tidak ada pemiliknya.

Ajaran Islam juga menunjukkan bahwa menunaikan zakat bukan sebab memiliki harta.  Menunaikan zakat adalah ibadah sebagaimana ibadah shalat, puasa atau haji.

Demikian juga ajaran Islam menunjukan bahwa sebab memiliki harta adalah untuk memiliki harta individu, bukan untuk memiliki harta bersama atau menguasai negara dan hartanya.

Dengan demikian berkaitan dengan harta, agama Islam telah mengajarkan keyakinan bahwa Allah SWT adalah Dzat Sang Maha Pemberi Rejeki dan telah memberikan petunjukNYA dalam bentuk hukum syara’ Islam tentang sebab pemilikan harta individu. Harapannya umat Islam memiliki keyakinan yang benar bahwa Allah SWT adalah Sang Maha Pemberi Rejeki dan tidak ada selain Allah SWT yang mampu memberikan rejeki.  Harapan yang lain adalah umat Islam memiliki dan menguasai harta dengan sebab pemilikan harta yang benar sesuai dengan hukum syara’ Islam.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: