INDAHNYA BERSILATURAHIM

Hari yang paling ditunggu kaum muslimin sedunia setelah berpuasa Ramadan sebulan penuh ialah hari raya Idul Fitri. Dalam terminologi Islam, Idul fitri adalah hari raya yang datang setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Untuk merayakan hari gembira itu setelah sholat sunah Ied dua rakaat berjamaah di tanah lapang, kaum muslimin biasanya mengunjungi sanak keluarga dan tetangga untuk bersilaturahim dan saling bermaafan. Bagi mereka yang berjauhan saling mengirim ucapan selamat Idul fitri dan saling memohon serta memberi maaf melalui telepon, sms,  maupun melalui akun jejaring sosial di internet, dll.

Demi merayakan kegembiraan Idul Fitri bersama-sama, mereka yang jauh dari keluarga berjuang dengan segala upaya untuk bisa mudik/pulang kampung. Jarak laut, udara, darat ditempuh dengan berbagai alat transportasi yang tersedia. Yang hanya memiliki motor roda dua bahkan memboncengkan istri dan kedua anaknya ditambah berbagai bekal serta oleh-oleh ditaruh di atas dua kayu yang diikat dibagian belakang jok. Penat lelah seakan tidak dirasa. Antusiasme bersilaturahmi terlihat dari  jumlah pemudik tahun ini yang diperkirakan oleh pemerintah DKI sekitar 7.129 juta orang. (TV One, 16 Agustus 2011).

Jika dicermati, budaya  saling mengunjungi karib kerabat -yang merupakan wujud silaturahim-  hanya marak saat Idul fitri saja. Entah karena kesibukan lain sehingga tidak mempunyai banyak keluangan waktu kecuali saat Idul fitri saja. Atau memang memiliki pemahaman bahwa silaturahim lebih utama dilakukan pada saat Idul fitri. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap masalah silaturahim ini?

Pandangan Islam terhadap Silaturahim

Silaturahim merupakan salah satu perintah dari Allah Swt sehingga silaturahim termasuk hukum syara’ Islam. Karena itu kaum muslimin harus mengetahui dan  memahami  hukum syara’ tersebut  sebagaimana harus mengetahui hukum-hukum syara’ yang lainnya.  Jangan sampai kaum muslimin seperti halnya orang musyrik ketika ditanya mengapa mereka membuat sesajen, menyembah berhala, mereka menjawab “ini adalah yang diajarkan oleh bapak-bapak kami terdahulu”. Jangan sampai kaum muslimin bersilaturahim hanya karena berdasarkan kebiasaan orang terdahulu, adat istiadat kampung, tidak enak hati kalau tidak mengikutinya, sekedar ingin refreshing, atau pamer kekayaan. Karena yang demikian itu tiada nilai pahalanya di sisi Allah Swt.

Perintah  Allah Swt terkait dengan silaturahim dapat diperhatikan dalam firmanNya:”…..Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim…..” (QS.An Nisa: 1). Demikian pula sabda Rasulullah Saw: ”Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim.” (HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud).

Masih banyak  lagi perintah Allah Swt dengan ketetapan yang shahih terkait perintah untuk  senantiasa melaksanakan hubungan dengan kerabat dan berbuat baik kepada mereka (bersilaturahim). Terkait dengan siapa saja yang termasuk dalam  kerabat, Islam telah menjadikan kerabat itu ada dua macam, yaitu:

  1. Dzawil Irtsi (saudara yang mempunyai hak waris terhadap harta yang ditinggal mati), rinciannya adalah: (1) Ibnun (anak laki-laki), (2) Ibnu ibnin dst. (cucu laki-laki dst), (3) Abun (bapak), (4) Jaddun (kakek), (5) Akhun dst (saudara laki-laki dst.), (6) Ammun (paman), (7) Ibnul ammi (anak laki-laki paman), (8) Ibnu akhi li ghoiri ummi (anak laki-laki dari saudara laki-laki beda ibu), (9) Zaujun (suami), (10) Wala’ laki-laki (pemilik budak laki-laki yang memerdekakan budaknya), (11) Bintun (anak perempuan), (12) Bintu ibni dst (anak perempuan dari keturunan anak laki-laki), (13) Ummun (ibu), (14) Jaddatun (nenek), (15) Ukhtun (saudara perempuan), (16) Zaujatun (istri), (17) Wala’ perempuan (pemilik budak perempuan yang memerdekakan budaknya)
  2. Dzawil Arham (Saudara yang tidak punya hak waris terhadap harta yang ditinggal mati), rinciannya adalah: (1) Khol (paman dari ibu), (2) Kholah (bibi dari ibu), (3) Jad li um (kakek dari ibu), (4)Walaadul binti (cucu laki-laki dari anak perempuan), (5)Walaadul ukhti (anak laki-laki dari saudara perempuan), (6)Bintul akhi (anak perempuan dari saudara laki-laki), (7)Bintul ammi (anak perempuan paman dari bapak), (8)Ammah (bibi dari bapak), (9)Ibnul akhi li um (anak laki-laki dari saudara ibu), (10)Keturunan dari mereka (nomor 1-9).

Mereka adalah kerabat yang oleh Allah tidak diberikan hak nafkah, tetapi Allah memerintahkan silaturahim (menyambung tali persaudaraan) dan berbuat baik secara keseluruhan kepada mereka karena ada hubungan kekerabatan.  Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw  dari Jabir r.a yang  menuturkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda: ”Jika seorang diantara kalian fakir, maka hendaklah dimulai dari dirinya sendiri (untuk memenuhi kebutuhannya-pen); jika ia memiliki suatu kelebihan, hendaknya ia memberikannya kepada keluarganya; jika masih memiliki kelebihan, hendaknya ia memberikannya kepada kerabatnya.”

Banyak  cara dalam  bersilaturahim  baik  secara langsung (mendatangi ke rumahnya) maupun melalui perantara media (telepon, sms, surat menyurat, e-mail, dll).  Perintah  untuk silaturahim menunjukkan  agar terjadi hubungan kasih sayang, kerja sama, saling  membantu menyelesaikan berbagai masalah dan saling menasehati dalam ketakwaan, kebaikan serta dalam kebenaran dan melarang berbuat mungkar. Silaturahim diarahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi seperti: perjodohan,  kesulitan pekerjaan, kesulitan keuangan, dll. Namun harus dipahami bahwa silaturahim bukan untuk menyelesaikan masalah ashobiyah jahiliyah yaitu ikatan keluarga/kesukuan yang kemudian diarahkan pada nepotisme yang  selanjutnya membentuk kekuasaan kerajaan. Sebab hal itu dilarang dalam Islam sebagaimana sabda Rasulullah Saw: ”Tidak termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashobiyah.”

Realitas yang terjadi pada masyarakat sekarang ini, silaturahim kadang digunakan sebagai ajang pamer kekayaan, pamer keberhasilan usaha dan jabatan/gelar.          Jika yang terjadi seperti itu, silaturahim  tidak  mendatangkan kebaikan. Sebab pameran seperti itu memungkinkan datangnya  iri dengki dan kemudharatan yang bisa saja  menyebabkan terputusnya hubungan kekeluargaan. Padahal seorang muslim dilarang memutuskan silaturahim terhadap kerabatnya, bahkan diperintahkan untuk menyambungnya.

Bersilaturahim sebagaimana hukum syara’ lainnya tentu mengandung maslahat. Maslahat dari  silaturahim disebutkan Rasulullah Saw dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah  Saw. bersabda: “Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahim) .” (Shahih Muslim No.4638). Lebih dari  itu, dengan bersilaturahim seorang muslim akan mendapat keridhoan Allah Swt sebab ia telah melaksanakan perintahNya, menggembirakan kerabat,  dan memupuk rasa cinta dikalangan kerabat  karena biasa saling membantu diantara mereka.

Kapan Saja Bisa Bersilaturahim Dan Bermaafan

          Dari penjelasan sebelumnya dapat dipahami bahwa silaturahim adalah menyambung tali persaudaraan terhadap  keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan. Adanya  ketidaktahuan  hukum syara’ Islam mengenai silaturahim mengakibatkan terjadinya kekeliruan dalam beramal terkait silaturahim. Seperti yang sekarang ini banyak terjadi, silaturahim diwujudkan dalam bentuk kunjungan kepada teman/sahabat,  tetangga, kolega bisnis, dll,  yang tidak ada hubungan kekerabatan. Sedangkan dalam pandangan Islam, kunjungan  seperti itu – dikenal dengan istilah anjang sana- bukan merupakan bentuk silaturahim, namun disebut sebagai kunjungan saja atau dalam istilah bahasa Arab dikenal dengan istilah: ziarah.

Karena itu sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk tidak hanya mencukupkan silaturahim hanya saat hari Raya Idul fitri saja. Artinya, seorang muslim  harus selalu menghidupkan silaturahim sepanjang waktu. Sehingga jika antar kerabat itu saling berjauhan, silaturahim  bisa tetap dilakukan dengan memanfaatkan media seperti: surat menyurat, telepon, sms, dll.

Begitu juga saling meminta dan memberi maaf. Setiap melakukan kesalahan hendaknya segera menyadari dan minta maaf kepada orang yang disalahi. Bagi orang yang dimintai maaf dengan lapang dada segera memberi maaf. Tidak perlu menunggu kesalahan menumpuk satu tahun baru minta maaf pada saat hari raya Idul Fitri.

Penutup

Inilah pandangan Islam terkait dengan  silaturahim.  Silaturahim merupakan salah satu dari hukum syara’ Islam yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim. Dengan melaksanakan hukum syara’ ini banyak kemaslahatan yang diperoleh umat Islam.  Karena itu hendaknya seorang muslim  selalu menyadari  hal ini, sehingga mereka bisa  saling menjalin dan memelihara hubungan baik, saling menolong dan saling menasehati  serta mencegah kemungkaran dalam lingkungan keluarga dan kerabat. Dan melaksanakan hukum syara’ ini tidak  hanya pada saat Idul Fitri saja  namun bisa kapan saja. Demikian juga saling meminta dan memberi maaf setiap berbuat salah, tidak perlu menunggu sampai Idul Fitri tiba. Wallahu’alam bisshowab.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: