MATERI BUKAN UKURAN KESUKSESAN HIDUP

Terdapat kenyataan di tengah masyarakat yang harus kita pikirkan.   Sebagai contoh, seorang wanita yang telah selesai menempuh pendidikan sebagai perawat kesehatan, menganggap dirinya belum bekerja meskipun tenaganya sebagai perawat kesehatan sangat dibutuhkan untuk merawat orang tuanya yang sakit di rumah.  Menurut wanita tersebut bekerja adalah bekerja kantoran, misal: sebagai perawat di klinik atau di rumah sakit, dan dia akan memperoleh gaji sebagai imbalannya.  Sedangkan bekerja merawat orang tuanya yang sakit, karena tidak mendapatkan gaji, tidak dianggap sebagai bentuk pekerjaan. Aktivitas merawat orang tua yang sakit juga tidak dianggap sebagai suatu yang bernilai lebih karena tidak menghasilkan uang (materi).

Contoh lain adalah adanya anggapan untuk para wanita yang telah menjadi seorang istri yang bergantung nafkah kehidupan dari suami, atau para wanita yang telah menjadi ibu dan memilih tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangganya, sebagai kelompok wanita yang masih harus diberdayakan (baca: pemberdayaan ekonomi). Dengan alasan untuk kepentingan kesejahteraan keluarga, para wanita pada kelompok ini diarahkan untuk bisa menghasilkan materi. Seseorang yang memiliki materi dianggap bernilai lebih tinggi dari yang tidak memiliki materi, dan para wanita yang menghasilkan materi dianggap memiliki posisi tawar yang lebih tinggi daripada para wanita yang tidak menghasilkan materi. Karena itu, nilai-nilai kecintaan, kasih sayang maupun pengabdian seorang ibu dalam mengurus rumah tangganya dianggap bernilai rendah dalam kaitannya dengan kesejahteraan keluarga karena tidak bernilai materi. Demikian juga sering munculnya  pertanyaan yang ditujukan pada para wanita, seperti: ”ibu bekerja dimana?” Yang kemudian dijawab dengan pernyataan bahwa “saya di rumah saja” atau “saya tidak bekerja” maka pertanyaan dan jawaban seperti ini seolah-olah menegaskan bahwa wanita yang berada di rumah atau wanita yang menyelesaikan urusan-urusan rumah tangganya di dalam rumah dianggap tidak bekerja dan bernilai rendah karena tidak menghasilkan materi (uang).

Masalah bekerja yang mendapatkan imbalan materi (uang atau barang), dengan konsekuensi menyebabkan wanita meninggalkan rumah dan aktivitas sebagai ibu rumah tangga sudah diatur dengan jelas dalam ajaran Islam.   Namun, pada saat ini semua dapat merasakan bahwa manusia menjadikan materi (harta/uang) sebagai tolok ukur kesuksesan hidup manusia. Kehidupan serba materi ini ternyata mengarahkan seseorang untuk mengarungi kehidupan semata-mata untuk mendapatkan materi dan mendapatkan kepuasan hidup jika telah mendapatkan materi.   Pemikiran seperti ini mengakibatkan, seseorang dikatakan sudah beramal dan berguna dalam kehidupan, jika orang tersebut  menghasilkan materi atau mengarahkan usahanya untuk mendapatkan materi. Sedangkan orang yang beramal namun tidak menghasilkan materi atau usahanya tidak mengarah pada hasil yang berupa materi, dikatakan sebagai orang yang belum/tidak beramal. Bahkan orang seperti ini akan dianggap sebagai orang yang tidak sukses dalam kehidupan.

Menjadi suatu hal yang harus dipikirkan, ketika pemikiran seperti ini diterapkan dalam kehidupan umat Islam.  Dan patut sekali  disayangkan, banyaknya wanita muslimah  yang menjadi terwarnai dengan pemikiran ini. Entah karena arus peradaban sekarang atau memang tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka menjalankan hidup dengan pemikiran yang salah. Mereka berpikir bahwa ketiadaan materi akan menempatkannya pada posisi yang lebih rendah dari mereka yang menghasilkan dan memiliki materi. Inilah yang mengarahkan para wanita muslimah pada aktivitas-aktivitas yang selalu berorientasi untuk menghasilkan materi. Tidak sedikit dari mereka yang harus keluar rumah seharian, terpaksa meninggalkan keluarganya, bahkan ada yang sampai meninggalkan negerinya, untuk melakukan perbuatan apa saja yang penting menghasilkan materi. Terdapat pula wanita-wanita yang sampai melakukan tindakan tercela untuk mendapatkan materi. Misalnya dengan melakukan korupsi, riba, penipuan, perzinahan, dll.

Padahal dengan bergelutnya para wanita dalam urusan untuk menghasilkan materi (uang) ternyata tidak serta merta persoalan-persoalan kehidupan mereka dalam aspek yang lain turut selesai. Dengan kata lain, tingginya nilai materi atau melimpahnya materi ternyata tidak menyebabkan tuntasnya berbagai persoalan dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh dalam aspek pendidikan anak (kriminalitas anak, pornografi, penggunaan narkoba, dll), atau dalam aspek keharmonisan keluarga (masalah perselingkuhan, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga,dll), serta persoalan hukum dan peradilan. Kenyataannya, dari waktu ke waktu persoalan-persoalan seperti itu semakin beragam dan meningkat. Dari sini muncul pertanyaan: Mengapa di tengah masyarakat, khususnya di kalangan muslimah, terdapat kesalahan dalam memandang ukuran kesuksesan hidup? Apa sebenarnya ukuran kesuksesan hidup?

 

Jangan Percaya Pada Sekulerisme

Berikan hak Tuhan pada Tuhan, dan berikan hak Kaisar pada Kaisar. Inilah salah satu semboyan yang sering diucapkan oleh pengikut sekulerisme di masa lalu. Maknanya Tuhan hanya boleh mengurus manusia dalam urusan ritual saja, sebagaimana yang terjadi di Eropa yang kemudian direalisasikan dalam bentuk kekuasaan gereja di Vatikan. Sedangkan selain urusan ritual, yaitu urusan kemasyarakatan dan negara diurus oleh pemegang kekuasaan negara.

Karena itu, mereka tidak mengakui adanya hukum-hukum Tuhan selain dalam masalah ritual, bahkan selalu menghalangi kalau hukum Tuhan diterapkan dalam urusan kemasyarakatan dan negara. Hukum-hukum dalam urusan itu diserahkan pada manusia untuk mengaturnya sehingga memunculkan berbagai kebebasan bermasyarakat dan bernegara, seperti: bebas dalam beragama, berpendapat, bertingkah laku dan memiliki.

Yang paling menonjol dari kebebasan-kebebasan tersebut adalah kebebasan memiliki. Rumusan kebebasan memiliki terkenal dengan istilah sistem ekonomi kapitalisme. Kenyataannya, sistem ekonomi kapitalisme hanya memayungi dua hal, yaitu: melebih-lebihkan nilai materi dan melegitimasi kerakusan.   Naudzubillahimindzalika.

Sebenarnya sistem ekonomi kapitalisme dan ideologi sekulerisme nampak jelas kekurangan dan kesalahannya.  Namun ternyata masih ada orang yang mempercayainya dan mengikutinya.   Termasuk di kalangan muslimah ada yang terjebak dalam kejahiliyahan itu.  Jadilah mereka itu kalau tidak terlihat kerakusannya, terlihat selalu mengukur kesuksesan suatu perbuatan  berdasar materi.  Sebagaimana contoh di atas, pekerjaan merawat orang tua bukan pekerjaan yang sukses, sebab merawat orang tua tidak mendapat imbalan materi.  Begitu juga posisi sebagai ibu rumah tangga dianggap posisi yang tidak sukses sebab mereka tidak punya penghasilan dan dianggap tidak punya posisi tawar terhadap suaminya.  Bahkan tidak sedikit dari kalangan muslimah yang terjebak dalam pekerjaan yang nista dan haram demi sebuah kesuksesan bernama materi. Sungguh, sebenarnya pada ideologi sekulerisme, sistem ekonomi kapitalisme bersama kerakusan dan melebih-lebihkan materi sebagai ukuran kesuksesan, nampak jelas kekurangan dan kesalahannya.  Maha benar Allah SWT yang telah berfirman dalam suratAn Nisaa’ ayat 150-151: “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan,”kami beriman dengan sebagian dan kami mengingkari dengan sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah, merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya……

 

Percaya Pada Islam: Kunci Sukses Kehidupan

            Ketika Islam menolak pemikiran sekulerisme, bukan berarti Islam menganggap keberadaan materi, seperti: uang atau harta kekayaan,  menjadi suatu hal yang tidak penting. Dan juga tidak berarti bahwa para wanita muslimah dilarang berkiprah untuk mendapatkan materi. Islam menempatkan keberadaan materi sesuai dengan sifatnya sebagai materi, yaitu sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia saja dan bukan menjadi satu-satunya hal yang hendak diraih dalam kehidupan manusia. Sebab  Islam memandang bahwa manusia hidup di dunia untuk menjalankan seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi laranganNya, sehingga tujuan dari segala tujuan hidupnya adalah mendapatkan ridho Allah Swt. Manusia diperkenankan oleh Allah Swt untuk mendapatkan materi dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturanNya dan tidak dengan menghalalkan segala cara. Dengan itu manusia akan mendapatkan materi sekaligus memperoleh ridho Allah Swt.

Adapun terkait dengan pemikiran pemberdayaan wanita untuk kesejahteraan, Islam memandang bahwa para wanita tidak harus dilibatkan secara langsung dalam sektor ekonomi/industri. Sebab masalah ekonomi sebenarnya merupakan masalah pendistribuan harta. Dan kesejahteraan para wanita dalam pandangan Islam dijamin melalui penerapan distribusi harta yang sesuai dengan syara’ Islam. Yaitu, mendapatkan hak nafkah yang menjadi kewajiban ayahnya, walinya atau suaminya. Jika itu tidak terpenuhi, negara bertanggung jawab melalui distribusi harta yang ada di baitul maal untuk diserahkan secara langsung pada mereka.

Karena itulah keberadaan materi tidak bisa dijadikan sebagai ukuran kesuksesan hidup seseorang. Wanita muslimah pastilah dengan ijin Allah SWT akan mendapat harta yang mencukupi melalui dirinya dan walinya, baik itu ayahnya, saudaranya, suaminya atau negara.  Demikian juga keberadaan pekerjaan untuk mencari materi dan penghasilan bukan ukuran kesuksesan seorang muslimah.  Artinya, wanita muslimah yang tidak melakukan pekerjaan untuk mencari materi dan penghasilan, tidak bisa dikatakan sebagai muslimah yang tidak sukses dalam hidup. Sebaliknya wanita muslimah yang memiliki pekerjaan untuk mencari materi dan penghasilan pun tidak bisa dikatakan sebagai muslimah yang sukses dalam hidup. Kesuksesan hidup diukur dari sejauh mana keterikatan manusia dalam melaksanakan seluruh perintah dan larangan Allah Swt yang mereka wujudkan dalam kehidupan di dunia dengan dorongan karena ketakwaannya pada Allah Swt.

Dengan demikian, para wanita muslimah hendaknya selalu mengarahkan kehidupannya sesuai dengan arahan ajaran Islam dan meninggalkan arahan kehidupan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Rasul Saw pernah bersabda: “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir akan digelarkan dunia ini sebagaimana telah digelarkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengenainya sebagaimana mereka berlomba-lomba tentangnya, dan duniawi pun nanti akan membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.”(HR. Syaikhain dan Turmudzi).

 

Penutup

Umat Islam baik laki-laki maupun wanita harus tidak percaya pada sekulerisme dan sistem ekonomi kapitalisme bersama dengan kerakusannya dan materi sebagai ukuran sukses kehidupan. Sebab kunci sukses hidup adalah percaya pada Islam. Untuk itu umat Islam harus memiliki keyakinan yang benar terhadap ajaran Islam, yaitu: adanya keimanan pada seluruh yang datangnya dari Allah Swt dan RasulNya. Keimanan tersebut membawa konsekuensi pada keimanannya terhadap aturan-aturan Islam, sikap penyerahan dan penerimaan secara menyeluruh terhadap segala yang datang dari Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS.An Nisaa’ ayat 65, artinya: “Maka demi Tuhan-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: