UMAT MANUSIA PERLU TELADAN YANG BAIK

Salah seorang nabi yang diutus Allah SWT untuk menyebarkan wahyuNya kepada umat manusia adalah Nabi Ibrahim AS.  Beliau adalah Nabi yang diberi sebutan Abul Anbiyaa (Bapak para nabi).  Hal itu karena nabi-nabi setelah Beliau adalah keturunannya.  Sebagai contoh adalah Nabi Ismail AS yang merupakan putra beliau dari istri bernama Hajar.  Nabi Ismail AS selanjutnya mempunyai keturunan yang juga diutus sebagai Nabi, salah satunya adalah Nabi Muhammad SAW.  Nabi Isa AS juga keturunan Nabi Ibrahim AS melalui putranya bernama Nabi Ishak AS.

Perjalanan kenabian Nabi Ibrahim AS telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an.  Perjalanan tersebut diawali dengan (1) awal kenabian beliau, (2) berdakwah kepada kaumnya dan melepaskan diri dari kaumnya dan Raja Namrud  setelah mereka ingkar dan zalim,  (3) berdakwah kepada berbagai kaum dan (4) menerima berbagai perintah Allah SWT.

Mencermati perjalanan kenabian Nabi Ibrahim AS, didapatkan kemiripan dengan perjalanan kenabian Nabi Muhammad SAW.  Selanjutnya dapat diambil kesimpulan tentang hakekat kenabian dan apa yang harus dilakukan umat manusia dalam menunaikan ajaran agama yang dbawa para Nabi dan khususnya Nabi Muhammad SAW, Nabi hingga akhir zaman.

 

NABI IBRAHIM AS

  1. 1.      Kesadaran Hubungan dengan Allah dan Kenabian

Pada masa mudanya, Nabi Ibrahim AS selalu diliputi keresahan tentang hakikat alam semesta, manusia dan kehidupan.  Betapa tidak?  Beliau mendapati kerusakan di tengah masyarakat tidak diperbaiki, namun dibiarkan untuk keuntungan segelintir orang khususnya pimpinannya.  Bahkan ada pembelokan berbagai isu dengan cara penyembahan kepada berhala dan patung sebagai Tuhan, yang mana salah satu pembuat patung adalah bapak Nabi Ibrahim.

Muncul keresahan pada diri Ibrahim muda, terhadap situasi yang terjadi yang di dalamnya mencakup juga keresahan tentang keberadaan Tuhan.  Benarkah patung dan berhala yang dibuat oleh manusia adalah Tuhan, yang kemudian aturan dan sistemNya menyebabkan keuntungan segelintir manusia di atas penderitaan manusia lain?  Tentu saja patung dan berhala bukan Tuhan.  Namun siapakah Tuhan itu sebenarnya yang aturanNYA harus diikuti oleh semua manusia?

Keresahan ini menyebabkan Ibrahim muda sering berfikir termasuk menyendiri di pinggir kota memikirkan semua hal yang terjadi.  Yang jelas ada kesimpulan pasti pada dirinya bahwa patung dan berhala bukanlah Tuhan semesta alam, namun Tuhan buatan manusia untuk menutupi isu dan permasalahan yang terjadi saat itu.   Hingga pada suatu malam terlintas pada dirinya bahwa Tuhan itu adalah bulan, bintang atau matahari.  Namun, pada benda-benda langit tersebut ada kelemahan-kelemahan, sehingga disimpulkannya bahwa benda-benda itupun bukan Tuhan. Akhirnya datang hidayah Allah SWT kepada beliau atas keseriusan untuk mencari Tuhan dan kebenaran.  Yaitu bahwa Tuhan tidak diciptakan oleh makhluk, namun Tuhan adalah yang menciptakan semua makhluk termasuk manusia dan benda-benda langit seperti bulan, bintang dan matahari.   Dialah Yang Menciptakan dan Mengatur semuanya.  Proses Ibrahim muda mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan memiliki kesadaran kuat tentang hubungan dengan Allah SWT, Tuhan semesta alam, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam surat Al An’am ayat 74 hingga 83.

 

  1. 2.      Dakwah

Setelah menyakini bahwa hanya Allah SWT yang pantas disembah, bukan patung dan berhala, Nabi Ibrahim AS mendakwahkan keyakinannya.  Sayangnya, dakwah Nabi Ibrahim AS tidak digubris oleh kebanyakan umat manusia pada waktu itu.  Berbagai teknik dakwah dikemukakan, namun mereka tidak bergeming dari keyakinan yang keliru.   Termasuk ayahnya.  Kisah dakwah Beliau sudah sangat dikenal di mana beliau menghancurkan semua patung sesembahan kaumnya, kecuali patung paling besar.  Pada patung paling besar tersebut dikalungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan patung yang lain.  Hal itu dilakukan untuk menyadarkan bahwa semua patung bukanlah sembahan yang pantas disembah, baik patung kecil atau besar.

Bukannya menyadari kesalahan, dipimpin Raja Namrud, mereka bahkan menyalahkan dan menghukum bakar Nabi Ibrahim AS.  Ketika Allah SWT menunjukkan kemukjizatan Nabi Ibrahim, yaitu tidak mengalami luka bakar sedikitpun ketika dibakar yang menunjukkan bahwa beliau Ibrahim AS adalah Nabiyullah, Namrud dan pendukungnya tetap tidak mau tunduk dan ingkar kepada kebenaran yang dibawa Nabi Ibrahim AS.   Kemurkaan Allah pun datang kepada Raja Namrud dan kaumnya.  Setelah memerintahkan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang membenarkan beliau dan ajaranNya untuk menyingkir, Allah SWT mengutus ‘tentara’Nya berupa serangga-serangga kecil yang banyak sekali untuk menggigiti Namrud dan kaumnya yang ingkar dan zalim sampai semuanya mati.

Setelah itu beliau berdakwah ke berbagai wilayah, seperti wilayah Palestina, Mesir dan Mekah.  Pada saat berdakwah di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Mekah, beliau diperintahkan pergi ke suatu tempat untuk menerima firmanNYA. Istri dan anaknya tidak boleh mengikuti.  Padahal daerah itu adalah daerah yang tandus.  Selanjutnya, istri dan anaknya mengalami kehausan sedemikian rupa sehingga istri Nabi Ibrahim, Hajar, harus berlarian ke sana ke mari untuk mendapatkan air. Kemudian datanglah pertolongan Allah SWT dengan keluarnya air dari tanah di tempat anaknya berada.

Pada waktu yang lain, yaitu setelah anaknya, Ismail besar,  Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anaknya Ismail dengan cara disembelih.   Wahyu ini turun kepada beliau dalam bentuk mimpi.  Selanjutnya pada saat beliau akan menyembelih, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor gibas.  Hal yang dialami oleh Nabi Ibrahim ini, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam surat AshShafaat ayat 102 – ayat 107.

Demikian juga beliau Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membangun baitullah Ka’bah.  Bersama dengan anaknya, Ismail, nabi Ibrahim membangun baitullah Ka’bah.  Jejak beliau ketika membangun Ka’bah masih ada yang dikenal dengan nama maqam Ibrahim.

 

NABI IBRAHIM DAN NABI MUHAMMAD SAW              

Terdapat kemiripan antara perjalanan kenabian Nabi Muhammad SAW dengan kenabian Nabi Ibrahim AS.  Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi pada saat Beliau menyendiri di gua Hira karena resah terhadap kemungkaran dan kezaliman masyarakat Mekkah.  Selanjutnya datanglah malaikat Jibril mewahyukan surat Al Alaq ayat 1 sampai 5 sekaligus sebagai pengangkatan Beliau Muhammad SAW sebagai Nabiyullah.  Jadi ada kemiripan antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.  Mereka adalah orang yang baik.  Bahkan Nabi Muhammad mendapat gelar Al Amin  dari orang Mekah.  Oleh karena itu, terhadap keingkaran dan kezaliman yang terjadi mereka resah dan menginginkan perubahan mendasar.  Keseriusan dalam mencari kebenaran menyebabkan mereka diutus oleh Allah SWT sebagai Nabi untuk memberikan teladan yang baik bagi umat manusia.

Kemiripan juga terdapat pada dakwah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.  Dakwah mereka, berupa menyeru untuk tunduk, rela dan berserah diri kepada Allah SWT dan seluruh aturannya.  Dakwah tersebut termasuk menyeru kepada pimpinan dan tokoh masyarakat supaya melepaskan diri dari kepentingan pribadi, kelompok dan negara, melepaskan diri dari melindungi kemungkaran dan kezaliman, kemudian menggantinya dengan memeluk akidah Islam dengan sekuat-kuatnya.  Bahkan apabila nyata sekali keingkaran dan kezalimannya, Nabi Ibrahim maupun Nabi Muhammad SAW tidak segan untuk berlepas dari mereka.

Selanjutnya, siapapun dari tokoh dan pimpinan masyarakat dan pendukungnya yang tidak menerima seruan Islam yang dibawa Nabi Ibrahim AS maupun  Nabi Muhammad SAW pasti akan terkalahkan.   Sebagaimana Raja Namrud dan pengikutnya yang menentang, berusaha membunuh dan mengusir Nabi Ibrahim AS  dan sebagai akibatnya terkalahkan dengan diazab oleh Allah SWT.  Demikian juga kaum kafir Quraisy yang menentang, berusaha membunuh dan mengusir Nabi Muhammad SAW hingga kemudian mereka sendiri terkalahkan dengan ditaklukan  dalam peristiwa Fatkhul Makkah.

Kemiripan yang lain adalah keduanya berdakwah kepada seluruh umat manusia.  Dakwah Nabi Muhammad SAW berhasil mencakup seluruh jazirah Arab.  Bahkan setelah beliau meninggal, para sahabat dan umat Islam setelah para sahabat berhasil mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Pada saat berdakwah ke seluruh jazirah Arab, pusat dakwah Nabi Muhammad SAW adalah di kota Madinah.  Wahyu Allah SWT pun turun mengatur seluruh kehidupan manusia.  Wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad mengatur masalah akidah, ibadah muamalah, akhlak, dan lain-lain dalam seluruh aspek kehidupan manusia.  Di antara wahyu yang turun tersebut adalah menunaikan ibadah haji di baitullah Mekah yang  dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.  Salah satu rukun ibadah haji adalah berlari-lari kecil bolak balik dari bukit Shafa ke Marwah di mana hal itu pernah dilakukan oleh Hajar istri Nabi Ibrahim ketika kebingungan mendapati anaknya, Ismail, kehausan sedangkan daerah itu tandus, tidak nampak ada sumber air, padahal suaminya, Nabi Ibrahim AS, baru berada di tempat lain untuk menerima wahyu Allah SWT.   Turun juga perintah untuk berqurban dalam bentuk menyembelih binatang unta, sapi atau kambing mengikuti sunnah yang pernah dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS.

 

KESIMPULAN

Para Nabi adalah teladan bagi umat manusia pada masanya.  Adapun Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi umat manusia hingga akhir zaman.  Para Nabi menjadi teladan, sebab

  1. Sejak sebelum diangkat menjadi Nabi mereka selalu berpihak kepada kebaikan dan kebenaran, sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
  2. Mereka menjadi Nabi, karena diiutus Allah SWT, sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
  3. Mereka selalu menyampaikan kepada umatnya, wahyu yang mereka terima dari Allah SWT, sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
  4. Mereka selalu memperjuangkan tegaknya kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka, termasuk berlepas diri dari kaumnya yang ingkar dan zalim, sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.

 

Umat manusia saat ini sudah sepantasnya meneladani Nabi Muhammad SAW sebab Nabi Muhammad SAW sejak sebelum diangkat menjadi Nabi, selalu berpihak kepada kebaikan dan kebenaran, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT, Nabi Muhammad SAW selalu menyampaikan kepada umatnya, wahyu yang diterima dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW selalu memperjuangkan tegaknya kebenaran yang telah diwahyukan, termasuk berlepas diri dari kaum kafir Quraisy yang ingkar dan zalim.  Maha benar Allah SWT dengan firmanNYA: “Sungguh bagi kalian pada Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang yang berharap bertemu dengan Allah dan hari akhir

Selanjutnya, marilah kita selalu menjadi teladan bagi yang lainnya.  Bukan dengan menyatakan diri telah diangkat oleh Allah sebagai Nabi, sebab Nabi pungkasan hingga akhir zaman adalah Nabi Muhammad SAW.   Namun dengan selalu melakukan, mendakwahkan dan memperjuangkan kebaikan dan kebenaran sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah SAW,  Maha benar firmanNya:  “Apa yang diberikan Rasul kepadamu ambilah dan apa yang dilarang Rasul kepadamu tinggalkanlah.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: