STOP AIDS ATAU TEBARKAN?

Telah berlalu 23 tahun peringatan hari AIDS sedunia yang tahun ini diselenggarakan dengan tema “Getting to Zero, Safety Riding and Safety Life, Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV/AIDS” ternyata masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Laju perkembangan penyakit yang mematikan ini, seakan tidak bisa dikendalikan. Demikian pula penderita dari penyakit ini dari sisi usia, jenis kelamin dan komunitasnya, juga mulai berubah. Penyakit ini pertama kali ditemukan tahun 1981 pada lima orang laki-laki homoseksual di Los Angeles. Namun pada tahun-tahun selanjutnya sudah ditemukan penderita pada bayi/anak-anak dan remaja/pemuda usia produktif. Penyakit ini selain ditemukan pada komunitas pelaku seks bebas, ternyata juga ditemukan pada komunitas pemakai narkoba jenis suntik, pengguna jarum tato maupun komunitas ibu-ibu rumah tangga. Sungguh, HIV/AIDS merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia di dunia.

Memang terdapat perubahan kondisi yang bisa dianggap cukup baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terkait jumlah penderita dan angka kematiannya yang menurun.   Seperti yang dinyatakan Wapres Budiono dalam sambutan peringatan hari AIDS Sedunia 2011 bahwa di seluruh dunia jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS mencapai puncaknya pada tahun 2005 dengan jumlah 2,2 juta kematian. Angka itu telah menurun menjadi 1,8 juta. Jumlah mereka yang terkena infeksi baru menurun dari puncaknya sebanyak 3,2 juta orang pada tahun 1997 menjadi sekitar 2,7 juta saat ini. Sedangkan di Indonesia jumlah orang yang meninggal akibat AIDS saat ini masih signifikan, yaitu sekitar 3000-5000 orang per tahun atau sekitar 10 orang yang meninggal setiap hari akibat AIDS.

Demikian pula pernyataan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta yang menyebutkan mulai tahun 1987 hingga bulan Juni 2011, secara kumulatif angka kasus HIV/AIDS bisa ditekan hingga 9.784 kasus, dengan rincian 4.957 HIV dan 4.827 AIDS. Sementara jumlah kasus HIV dan AIDS baru di DKI Jakarta pada tahun 2011 hingga Juni adalah 675 HIV dan 509 AIDS, dengan angka kematian 109. Angka tersebut cenderung menurun ketimbang data tahun 2010, di mana ditemukan 1.433 kasus HIV dan 1.310 AIDS baru, dengan angka kematian 280. (Health.KOMPAS.com, 2 November 2011).

Ternyata kondisi tersebut berbeda dengan beberapa daerah lain yang menunjukkan terjadinya peningkatan kasus HIV/AIDS. Seperti yang terjadi di Solo, sejak ditangani tahun 2005 kasus HIV/AIDS terungkap 657 kasus. Sementara selama 2009 diketahui ada 110 kasus, tahun 2010 mencapai 175 kasus, dan tahun ini hingga September 2011 terdata 163 kasus. Menurut Direktur LSM SPEK HAM, angka ini menunjukkan terjadinya lonjakan kasus sampai 100% sebab masih ada penjaringan bulan November dan Desember. (Radar Solo, 2 Desember 2011). Sedangkan menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Solo, dari tahun ke tahun belum ada penurunan signifikan jumlah penderita di Solo. Dinyatakan bahwa data terakhir dari tahun 2005 hingga 2011 terdapat 656 kasus, dengan perincian 280 kasus berasal dari High Risk Man (pria yang membeli seks) dan 166 kasus dari ibu rumah tangga dan anak-anak. (Radar Solo, 3 Desember 2011).

Peningkatan kasus HIV/AIDS juga terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Jika selama 2010 ditemukan 14 kasus, tahun ini dinas kesehatan setempat mendeteksi sebanyak 27 kasus. Para penderita didominasi dari warga lokal yang merantau ke luar kota atau ke luar negeri. (Jawa Pos, 16 September 2011). Begitu pula yang terjadi di propinsi Papua jumlah pengidap HIV/AIDS pada 2011  mencapai 10.522 kasus, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 7000 kasus. Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Papua mengatakan, peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS di wilayah paling timur Indonesia itu sangat cepat bahkan sudah merambah sampai ke daerah pedalaman. Termasuk juga di propinsi Kalimantan Tengah, dimana pada tahun 2010 terjadi 57 kasus namun pada tahun 2011 sudah meningkat menjadi 62 kasus. (ANTARANEWS.com, 2 Desember 2011). Bahkan menurut perkiraan UNAIDS (Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS) di dunia ini setiap harinya bertambah pengidap baru HIV dan AIDS lebih dari 5000 orang yang berusia antara 15-24 tahun. Ironisnya hampir 1800 orang di bawah usia 15 tahun hidup dengan HIV positif yang tertular dari ibunya. Data UNAIDS tersebut menunjukkan bahwa kelompok penduduk usia muda saat ini  sangat besar beresiko terkena HIV, karena lebih dari 85% usia produktif terjangkit HIV/AIDS.

Masalahnya sekarang, mengapa meskipun sudah dilakukan berbagai upaya untuk menahan laju perkembangannya, penyakit ini masih belum terkendali bahkan sudah mulai menyerang siapa saja tanpa melihat usia, jenis kelamin, maupun profesi? Bagaimana aturan Islam menyelesaikan masalah ini?

Bukan Sekedar Problema Kesehatan Manusia

Jika diperhatikan selama ini segala upaya dan penanganan terhadap seputar masalah HIV/AIDS cenderung dianggap sebagai problem kesehatan manusia saja. Konon penyakit ini belum ditemukan obatnya sehingga manusia hanya bisa melakukan tindakan pencegahan dan menahan laju penularan saja. Karena itu penderita penyakit ini hanya diupayakan untuk sehat kembali dan tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Ketika diketahui bahwa penyebab penularan yang paling dominan dari penyakit ini melalui hubungan seksual yang bergonta-ganti pasangan, lantas diupayakan cara-cara yang dikatakan sebagai hubungan seksual yang sehat. Dari sinilah kampanye setia pada satu pasangan dan sex safety dengan kondom dimulai. Di negeri ini, hal itu dicantumkan dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS Keppres No. 36/1994 yang diatur dalam Keputusan Menko Kesra No. 9/Kep/Menko/Kesra/IV/1994, yang antara lain menyebutkan “… penyediaan dan pemanfaatan kondom dan lain-lain, merupakan unsur-unsur penting dalam pelaksanaan yang efektif dari kebijaksanaan ini…”

Sesungguhnya, cara-cara yang direkomendasikan ini tidak mempermasalahkan apakah pasangan seks tersebut sudah dalam ikatan pernikahan atau belum, antara laki-laki dengan wanita atau sesama jenis, yang penting setia pada satu pasangan dan menggunakan kondom. Karena itu tidak mengherankan jika setiap peringatan hari AIDS Sedunia disertai dengan aksi tebar kondom. Dengan cara-cara seperti ini pemerintah mengharapkan setiap orang peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya sehingga bisa terbebas dari penyakit tersebut. Padahal dalam peradaban yang permissive (serba boleh, serba bebas) seperti sekarang ini, program tebar kondom menimbulkan dampak yang akan menjadi masalah tersendiri. Seperti: memicu terjadinya coba-coba seks bebas di kalangan anak-anak atau remaja. Akibat selanjutnya pasti menimbulkan masalah yang lebih rumit lagi. Yaitu, menjadi  cikal bakal tersebarnya HIV/AIDS secara gratis sebab untuk mendapatkan kondom mudah dan kalau pun harus membeli harganya murah.

Sebenarnya sudah ada beberapa kalangan yang meragukan penggunaan kondom sebagai pencegah laju penularan HIV/AIDS. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Dadang Hawari  (SuaraPublika, 13 September 2002) yang merupakan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan, antara lain menyebutkan: (1) Memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan. (V Cline, 1995, profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat).  (2) Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom. (Laporan Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand,1995).

Selain itu terdapat juga pendapat yang dinyatakan oleh pakar AIDS, R. Smith (1995), yang mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995). Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) yang menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.

Karena itu dapat dikatakan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS tidak akan berhasil selama masih terdapat anggapan bahwa masalah ini hanya terkait dengan masalah kesehatan manusia saja. Padahal jelas terlihat jika penyakit ini juga terkait dengan perbuatan-perbuatan manusia yang menyimpang, seperti: seks bebas yang dilakukan dengan motif ekonomi atau sekedar untuk kesenangan saja. Harus pula diingat pertama kali penyakit ini ditemukan pada komunitas laki-laki homoseksual, dimana hal itu merupakan indikasi adanya bentuk pergaulan antar manusia yang keliru. Kalaupun selanjutnya penyakit ini menyebar luas dan menyerang siapa saja termasuk pada komunitas yang tidak terlibat pada perbuatan-perbuatan yang menyimpang, hal itu merupakan fakta dari adanya virus HIV/AIDS yang memang harus dilawan sehingga tidak menyebabkan rusaknya kehidupan manusia.

Namun membiarkan pergaulan manusia yang menyimpang dengan menggunakan peraturan-peraturan yang menuruti -nafsu  seksual- manusia, jelas bukan sebuah penyelesaian dari masalah ini. Sebagai contoh: dilegalkan perbuatan pelacuran dengan melokalisasikannya ataupun dibiarkannya  transaksi-transaksi seksual di berbagai tempat. Sebab dari situlah sebenarnya benih virus berasal kemudian disebarkan ke dalam rumah tangga melalui hubungan seksual dari suami/isteri yang sudah terinfeksi, kemudian menular ke bayi-bayi yang ada di rumah melalui ASI ibunya. Selanjutnya virus bisa tersebar pula ke rumah sakit maupun klinik-klinik kesehatan melalui jarum suntik atau transfusi-transfusi darah yang terinfeksi virus ini. Demikian seterusnya,  sehingga virus  tetap bertebaran karena sumber virusnya tetap dihidupkan.

Solusi Menurut Islam

            Aturan Islam telah mencegah terjadinya keburukan-keburukan yang dapat menimpa manusia sejak diturunkan Islam kepada Nabi Muhammad Saw. Hanya saja terkadang manusia tidak menyadari dan justru kadang menolak aturan yang berasal dari Penciptanya. Allah Swt berfirman dalam QS. Al Isra’ ayat 32:“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dilarang  melakukan perzinahan, mendekati tempat perzinahan dan melakukan hal-hal yang bisa mengarahkan pada perzinahan seperti: perselingkuhan, pergaulan bebas, pornografi, dll. Hanya saja aturan ini harus diterapkan bersama dengan aturan-aturan Islam lainnya. Sebab jika aturan Islam hanya diterapkan dalam satu aspek saja, hanya  masalah ibadah, sedangkan dalam aspek yang lain (sosial, ekonomi, peradilan, pemerintahan, dll) menerapkan hukum kufur buatan manusia, maka Islam rahmatan lil ‘alamin tidak akan terwujud. Kondisi ini justru menyebabkan problema kehidupan manusia semakin komplek dan umat Islam tetap terpuruk.

Karena itu semangat “Stop HIV/AIDS dan Jaga Janjinya” tidak akan bermakna dalam upaya pencegahan dan penularan penyakit HIV/AIDS tanpa dibarengi dengan upaya penerapan aturan-aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan umat. Mari kita mengingat firman Allah Swt:”Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti.” (QS.Al Anfal: 22). Semoga kita bukan termasuk golongan yang seperti itu. Amin.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: