BAGAIMANA MEMPERJUANGKAN HAK-HAK WANITA?

Hari Kartini dianggap sebagai kesempatan yang tepat untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang  bertujuan memperjuangkan hak-hak wanita. Alasan yang seringkali diungkapkan:  wanita dianggap belum setara dengan pria, sehingga banyak wanita yang belum mendapatkan hak-haknya sehingga tertinggal dari kaum pria. Karena itu hari Kartini diperingati sebagai penanda era kesetaraan antara pria dan wanita.

Berbagai kegiatan sudah mulai digelar sejak awal bulan April. Contoh, di lingkungan Dharma Wanita Pemprov Jateng, mengelar kegiatan  ziarah ke Taman Makam Pahlawan, talkshow dengan tema ‘Melestarikan Citra Berbusana Tradisional Jawa dan Berbusana Batik’ yang dilanjutkan dengan peragaan busana dan resepsi sebagai puncak acara peringatan Hari Kartini 2012. (Suaraberita.com, 9 April 2012). Di lingkungan pemda Yogjakarta diselenggarakan kegiatan donor darah, alih tekhnologi gemar ikan, senam massal dan pemberian sembako kepada para buruh gendong di pasar Beringharjo. Ada juga aksi tanam pohon yang sudah dilakukan pada bulan Maret yang lalu di Kulon Progo. (pemda-diy.go.id, 04/04/2012). Sedangkan di daerah Wonogiri diadakan kegiatan lomba paduan suara antara kelompok ibu-ibu dengan lagu wajib yang harus dinyanyikan yaitu Ibu Kita Kartini. (JP Radar Solo, 13 April 2012).

Selain itu, kegiatan yang sepertinya sudah menjadi rutinitas dalam rangka memperingati Hari Kartini adalah pemakaian busana yang dianggap sebagai busana tradisional Jawa, baju kebaya dan bersanggul.  Ini biasanya banyak terlihat di sekolah-sekolah dari tingkat PAUD sampai sekolah menengah, dan juga di berbagai instansi pemerintah.

Dari sini terlintas pertanyaan: Apakah kegiatan-kegiatan seperti itu sudah menunjukkan kesetaraan antara pria dan wanita? Apakah sekarang ini hak-hak wanita sudah terpenuhi? Bagaimana pandangan Islam tentang hak-hak wanita dan cara memenuhinya?

 

 Kegiatan yang Hanya Memperjuangkan Feminisme, Tidak Memperjuangkan Hak Wanita

Memprihatinkan jika melihat kenyataan, peringatan hari Kartini sudah dilakukan sekian tahun, yang berarti gerakan untuk memperjuangkan hak-hak wanita juga telah lama bergema, tetapi kondisi kaum wanita tetap terpuruk. Artinya, sampai saat ini banyak wanita yang belum mendapatkan hak-haknya bahkan masih terbelenggu dengan masalah-masalah seperti: kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dll. Berdasar data MDG’s (2010) dapat diketahui bahwa sepertiga penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan, sekitar 70%-nya adalah wanita. Di Indonesia (BPS, 2009), dari jumlah penduduk miskin yang mencapai 32,53 juta jiwa (14,15%), 70% dari mereka adalah wanita.  Sedangkan angka buta aksara wanita sebanyak 12,28%, padahal laki-laki hanya sebanyak 5,84%. Dalam bidang kesehatan, status gizi wanita masih merupakan masalah utama. Angka kematian ibu (AKI) juga masih sangat tinggi, yaitu sebanyak 248 per 100.000 kelahiran hidup. Di bidang ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) laki-laki jauh lebih tinggi (86,5%) dari perempuan (50,2%). (www.stiead.ac.id).

            Sedikitnya jumlah kaum wanita yang terlibat pada aktivitas politik, seperti jumlah yang hanya 30% di DPR juga dianggap sebagai ketertinggalan wanita.  Seharusnya seluruh kaum wanita dapat terlibat dalam aktivitas politik Islami.

Adapun adanya Instruksi Presiden No 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional dan bahkan adanya draft Rancangan Undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) yang saat ini di DPR tengah dilakukan pembahasannya secara terbuka pun ternyata hanya mengarahkan kepada dukungan terhadap gerakan feminisme dan tidak sepenuhnya memenuhi hak wanita.  Hal itu dapat diketahui dari penolakan sebagian kalangan umat Islam karena menganggapnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebagian kalangan lain yang juga menolak  karena menganggapnya tidak sesuai dengan budaya Indonesia.  Sesungguhnya telah terjadi penyelewengan dari gerakan memenuhi hak wanita menjadi gerakan feminisme.  Kalau yang terjadi terus menerus seperti itu, hak wanita tidak akan terpenuhi.

Jika kita cermati gerakan feminisme, sebenarnya ide gerakan itu diilhami dari adanya fakta penindasan dan perampasan hak-hak wanita yang terjadi di Eropa beberapa abad lampau. Pada waktu itu gereja berperan menjadi sentral kekuatan dan sumber kekuasaan. Kondisi ini berlangsung sampai abad 17. Setiap hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja, dianggap sebagai pembangkangan (heresy) dan dihadapkan ke Mahkamah Inkuisisi. Doktrin-doktrin gereja yang ekstrim memandang rendah martabat kaum wanita. Mereka dianggap sebagai sumber dosa, makhluk kelas dua, dan diperlakukan sebagai makhluk yang hina, tidak manusiawi dan makhluk tidak rasional. Bahkan statusnya dipertanyakan apakah wanita itu manusia atau bukan. Berbagai penindasan terhadap wanita Barat di bawah hegemoni gereja membuat suara-suara wanita yang menginginkan kesetaraan semakin menggema.  Dari kondisi yang kelam inilah lahir gerakan feminisme yang memperjuangkan kesetaraan gender dalam segala aspek. (www.sm019.wordpress.com).

Jika demikian, bisa dimengerti bahwa gerakan feminisme sebenarnya bukan merupakan gerakan yang menginginkan terpenuhinya hak-hak wanita, namun menginginkan kesetaraan peran antara pria dan wanita.  Dengan pemikiran yang jernih dapat diketahui bahwa feminisme hanya dibakar emosi karena tertindas, namun tidak teliti dalam melihat bahwa dalam diri wanita dan pria terdapat perbedaannya, yang tidak akan berubah sampai akhir jaman karena perbedaan itu adalah kehendak Allah Swt.   Selanjutnya Allah Swt telah menurunkan Al Quran dan Rasulullah Saw sebagai petunjuk untuk manusia -pria dan wanita- agar bisa hidup di dunia dengan saling melayani, menyayangi dan mengasihi.  Allah Swt berfirman dalam surat Ar Ruum ayat 21:  “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.  Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.   Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang dilakukan gereja pada masa lalu yaitu menindas wanita, merupakan suatu hal yang tidak bisa dibenarkan sama sekali.

 

Solusi: Meyakini Akidah Islam Dan Menerapkan Seluruh Ajarannya

Allah Swt telah menciptakan pria dan wanita serta membimbing dengan ajaran Islam yang sesuai dengan fakta masing-masing sehingga mereka bisa berperanan dalam kehidupan. Termasuk ketika ajaran Islam mengatur hak dan kewajiban pria dan wanita, sehingga terjadi hak dan kewajiban yang sama, hal ini merupakan aturan Allah Swt yang ditujukan untuk kemaslahatan manusia. Begitu juga ketika terdapat hak dan kewajiban yang berbeda antara pria dengan wanita. Pembedaan tersebut tidak bermaksud menunjukkan ketidaksetaraan antara wanita dengan pria atau mengabaikan hak-hak wanita. Pembedaan tersebut karena kesesuaiannya dengan fakta masing-masing serta untuk kemaslahatan mereka sebagai manusia. Contoh: hak pengasuhan anak diberikan kepada wanita karena wanitalah yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya, meskipun bisa terjadi  hak pengasuhan anak dialihkan kepada pria (misal, ayah) karena keadaan tertentu, seperti ketika wanita (ibu) sakit sehingga ada kekhawatiran jika pengasuhan anak diserahkan padanya akan berakibat buruk pada anak. Contoh lainnya: dibebankan pada pria kewajiban untuk memberikan nafkah pada istri dan anak-anaknya, sedangkan wanita tidak diwajibkan untuk mencari nafkah meskipun tidak ada larangan bagi wanita untuk bekerja mencari nafkah dengan tetap melaksanakan aturan-aturan Allah Swt, seperti mendapatkan keridhoan suami, menutup aurat, menjaga pergaulan dan kehormatan dirinya, tidak menelantarkan anak-anaknya, dll.

Ketika ada seorang wanita yang tidak memiliki pihak yang menanggung nafkahnya (tidak punya ayah, suami, saudara laki-laki), atau memiliki pihak yang menanggung nafkahnya namun mereka tidak mampu (karena sakit, miskin, dll) dia tetap memiliki hak untuk dinafkahi, dimana pada keadaan seperti ini negara bertanggung jawab atas nafkah wanita tersebut melalui distribusi harta zakat, infak, sedekah, dll. Namun jika kemudian dia mewajibkan dirinya untuk bekerja mencari nafkah, pastilah beban yang harus ditanggungnya menjadi semakin berat.  Benturan akan terjadi antara beban pekerjaan mencari nafkah, beban mengurus dirinya sendiri, dan jika dia sudah berumah tangga berarti ada tambahan beban mengurus rumah tangganya.

Karena itu pemikiran peran ganda wanita yang dijadikan cara untuk memperjuangkan hak-hak wanita bukan solusi yang sesuai dengan fakta wanita. Alih-alih hak-hak wanita terpenuhi, justru beban kewajiban wanita semakin banyak. Wanita yang seharusnya mendapatkan nafkah untuk menyelesaikan masalah ekonominya, justru dia sendiri yang harus mengatasi masalah ekonominya. Padahal pada saat yang bersamaan dia juga harus menyelesaikan masalah individunya, pendidikan anak-anaknya, mengurus rumah tangganya, dll. Ini berarti hak-hak wanita tidak terpenuhi. Akibatnya, konon dari tahun ke tahun jumlah wanita yang stress, depresi, atau berkeinginan untuk melakukan bunuh diri semakin meningkat. Naudzubillahimindzalik.

Ajaran Islam menjamin terpenuhinya hak-hak wanita termasuk pula menjamin hak-hak pria. Sejarah telah mencatat bahwa selama hampir empat belas abad ajaran Islam ditegakkan di muka bumi ini tidak ada problem perampasan hak wanita maupun pria, muslim maupun non muslim. Gerakan-gerakan yang menuntut hak wanita dimulai dari dunia Barat yang hidup dengan pemikiran sekulerisme, materialisme dan individualisme yang mengarahkan terjadinya perampasan hak wanita. Karena itu pemenuhan hak-hak wanita tidak akan tercapai dengan aktivitas yang ‘asal melibatkan kaum wanita’ namun tetap dengan pemikiran sekulerisme, materialisme dan individualisme.

Pemenuhan hak-hak wanita akan tercapai dengan terlebih dahulu meyakini kebenaran  akidah dan ajaran Islam, termasuk meyakini bahwa pembagian peran antara wanita dan pria maupun pembagian hak dan kewajibannya merupakan bagian dari aturan Allah Swt. Selanjutnya, menerapkan  ajaran Islam pada  seluruh aspek kehidupan. Allah Swt telah berfirman dalam QS. Al An’aam ayat 57 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah Swt. Dia Menerangkan kebenaran dan Dia Pemberi Keputusan yang terbaik.Wallahu ‘alam bishshawab.

 

 

           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: