MENCERMATI TUMBUHNYA KOMUNITAS GENG

Sampai hari ini beberapa media masih memberitakan ulah brutal dan anarkis geng motor di berbagai daerah. Bermula dari aksi segerombolan pengendara motor berjumlah sekitar 200 orang dengan membawa parang dan kayu dari arah Kemayoran menuju Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Jumat (13/4) sekitar pukul 01.35 WIB. Kemudian mereka melintas Polsek Tanjung Priok menuju Jalan Warakas I Gang 21 masuk Kampung Bahari lantas menyerang beberapa pemuda yang tengah nongkrong di pinggir jalan itu hingga terluka. Diduga kelompok tersebut juga menyerang seorang pemuda warga Tambor, Jakarta Barat,  di Jalan Masjid Akbar dekat Apartemen Puri, Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka  juga  menganiaya teman korban dan mengambil sepeda motornya. (Republika.co.id,13 April  2012).

Pada 24 April yang lalu, polisi juga telah menangkap 10 orang anggota geng motor yang diduga akan berbuat onar di Kota Medan, Sumatera Utara. Seminggu sebelumnya polisi juga telah menangkap dua dari empat orang pelaku perkosaan seorang remaja putri di Garut, Jawa Barat. Pelaku mengaku sebagai anggota geng motor Brigez yang berdalih bahwa hubungan badan harus dilakukan sebagai syarat untuk bergabung dengan kelompoknya. (okezone, 25 April 2012).

Rentetan peristiwa itu jelas membuat masyarakat prihatin, merasa tidak aman dan menimbulkan kekhawatiran sebab kejadian seperti itu sudah pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya namun sampai sekarang masih terjadi. Apalagi melihat kenyataan bahwa siapa saja, laki-laki maupun perempuan bisa menjadi pelaku aksi brutal tersebut dan mungkin juga menjadi korban ulah brutal dan anarkis mereka. Seperti yang terjadi di Denpasar, Bali, polisi mengamankan lima remaja perempuan Bali anggota geng motor yang diduga melakukan penganiayaan terhadap rekannya sesama anggota geng setelah video penganiayaannya nongol di situs You Tube dan meresahkan masyarakat. Mereka mengakui sebagai anggota geng motor bernama Cewek Macho Performance (CMP) dan mengatakan peristiwa tersebut sebenarnya sudah terjadi pada Desember tahun 2011. (news.detik.com, 8 Februari 2012).

Begitu juga aksi brutal yang dilakukan oleh seorang remaja usia sekolah yang ditengarai sebagai ketua geng Wools dan geng Teror 58 yang baru-baru ini melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat dengan alasan emosi melihat korban naik sepeda motor sambil menggeber gas di depan anggota geng itu biasa kumpul. (Tempo.co.id, 24 April 2012).

Lebih miris lagi ketika diketahui bahwa komunitas geng ternyata juga berkembang di dunia pendidikan (baca: sekolah) padahal di tempat tersebutlah masyarakat mengantung harapan munculnya generasi emas penerus bangsa ini. Seperti geng Nero di Juwana, Pati yang beranggota pelajar putri setingkat SMU. Geng Nero dikenal masyarakat setelah polisi menangkap beberapa anggotanya karena melakukan tindakan kekerasan terhadap anggota baru yang akan bergabung dengan kelompoknya. (AntaraNews, 13 Juni 2008).

Dari sini muncul pertanyaan, mengapa geng-geng seperti itu tumbuh subur padahal aktivitasnya jelas-jelas meresahkan masyarakat? Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?

 

Kebutuhan Manusia Untuk Hidup Berkelompok

Sudah menjadi hal yang alami bahwa manusia -pria dan wanita- selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri di tengah masyarakat. Sebagai contoh: seorang anak membutuhkan orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu pula orang tua membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti: membutuhkan saudara/kerabat, tetangga, pegawai atau atasannya, dll. Ini berarti seseorang terhadap orang lain terdapat kebutuhan untuk saling melayani, saling memenuhi dan saling membantu. Jika kebutuhan terhadap ‘rasa saling’ ini  tidak terpenuhi maka kehidupan manusia menjadi gersang dan tidak ada kedamaian. Dari sini dapat dikatakan bahwa berkelompok merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Kebutuhan ini tidak bisa dihilangkan maupun dimatikan sebab kebutuhan hidup berkelompok merupakan naluri yang ada dalam diri manusia. Sehingga setiap upaya manusia yang ditujukan untuk menghilangkan atau mematikan naluri ini akan sia-sia.

Jika diteliti, aktivitas manusia hidup berkelompok menyebabkan berbagai kebutuhan umumnya terpenuhi. Hal ini bisa dilihat pada manusia yang hidup berkelompok dalam wilayah tertentu sehingga terbentuk masyarakat umum (negara) dimana pemerintah sebagai penyelenggara negara berperan dalam memenuhi kebutuhan umum rakyatnya. Seperti: kebutuhan terhadap pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan serta  sarana dan prasarana yang dibutuhkan sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi. Justru jika manusia hidup menyendiri  memungkinkan  kebutuhan umumnya tidak terpenuhi bahkan bisa menyebabkan kebinasaan manusia. Sebagai contoh: seseorang yang hidup sendiri di daerah terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selain dapat memenuhi kebutuhan umum manusia, aktivitas hidup berkelompok dapat pula memenuhi kebutuhan khusus manusia dengan terbentuknya kelompok khusus. Sebagai contoh, organisasi profesi yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mengembangkan profesinya. Misalkan organisasi profesi dokter,  profesi mekanik motor, ahli ekonomi, ahli komputer, dll. Meskipun bentuknya kelompok khusus dan untuk memenuhi kebutuhan khusus manusia, kelompok khusus seperti ini bisa dikembangkan sedemikian rupa sehingga aktivitasnya dapat mengarah pada kemaslahatan umum. Sebagai contoh organisasi profesi dokter yang mengembangkan sistem pengobatan penyakit tertentu sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian dapat dikatakan dengan hidup berkelompok kebutuhan umum maupun kebutuhan khusus manusia dapat terpenuhi dengan baik.

 

Pengaruh Liberalisme            

             Saat ini kita bisa melihat dan merasakan terjadinya aktivitas hidup berkelompok secara umum namun tidak menyebabkan tercapainya kemaslahatan umum. Contoh: adanya kekacauan dalam kehidupan rakyat yang tidak terpenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan lain-lainnya karena sistem penyelenggaraan negara yang buruk. Terjadi pula aktivitas hidup berkelompok secara khusus untuk memenuhi kebutuhan khusus sebagian manusia namun  menyebabkan kerusakan jiwa, akal maupun harta sebagian manusia yang lain. Kehidupan berkelompok seperti itu jelas sangat membahayakan kehidupan manusia seluruhnya.

Munculnya berbagai komunitas geng bisa dijadikan sebagai bukti. Geng motor, misalnya, memang dimungkinkan memenuhi kebutuhan khusus dalam menyalurkan hobi dari anggotanya. Tetapi aktivitas kelompok seperti itu menyebabkan kehidupan manusia menjadi kacau. Sebagai contoh, adanya tradisi geng tersebut yang mengharuskan seseorang melakukan perkosaan terhadap seorang wanita jika ingin bergabung dengan geng tersebut. Atau adanya keharusan potong jari kelingking bagi anggota geng yang mengundurkan diri. (www.kawasaki-2X130.org,2007). Hidup berkelompok seperti ini bukan kehidupan berkelompok yang baik dan pastilah tidak sesuai dengan fitrah manusia. Seharusnya secara umum manusia akan menolak dan meninggalkan hidup berkelompok seperti itu.

Dengan pemikiran yang jernih dapat diketahui: munculnya berbagai kelompok khusus seperti itu sangat dipengaruhi pemikiran liberalisme yang menginginkan adanya kebebasan manusia dalam segala hal. Pemikiran ini berujung pada individualisme yang meyakini bahwa setiap individu manusia harus dibiarkan bebas dalam mengarungi kehidupannya serta bebas berbuat apa saja. Karena itu terbentuknya kelompok khusus apa saja, baik maupun buruk, seperti: sekte-sekte agama/kepercayaan, klub olah raga, grup kesenian, kelompok pendaki gunung, geng motor/mobil, dll, dianggap sah-sah saja sebab itu merupakan perwujudan dari kebebasan yang mereka yakini. Bahkan liberalisme menganggap jika kelompok-kelompok khusus tersebut dilarang berarti melanggar hak asasi manusia yang menyebabkan kehidupan manusia terganggu.

Ini berbeda dengan ajaran agama Islam yang menganggap bahwa perbuatan manusia itu tidaklah bebas tapi terikat dengan aturan tertentu. Bagi seorang muslim, dia harus mengikatkan perbuatannya di dunia dengan aturan dari Allah Swt. Artinya, seorang muslim harus menyesuaikan perbuatannya dengan perintah dan larangan dari ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al Hasyr ayat 7, artinya: ”…apa saja yang diperintahkan oleh Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya.”

Ajaran Islam memiliki peraturan yang khas dalam menyelesaikan permasalahan hidup berkelompok manusia. Manusia yang hidup berkelompok dalam wilayah tertentu (negara) dijamin kehidupannya sehingga kebutuhan umum seluruh manusia terpenuhi dengan baik. Hal itu terlihat jelas dalam ajaran Islam yang memerintahkan kepala negara untuk bertanggung jawab terhadap seluruh urusan rakyatnya. Rasulullah Saw bersabda: “Imam (Kepala negara) adalah pemimpin (rakyatnya). Dia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selain hidup berkelompok secara umum, aturan Islam membolehkan dibentuknya kelompok khusus (jama’ah) untuk memenuhi kebutuhan umat Islam dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt. Jama’ah umat Islam ini bertujuan menyelesaikan permasalahan umat dalam masalah ibadah, dakwah, menyelesaikan masalah kepentingan umum, dll. Misal: dibentuknya jama’ah sholat untuk melaksanakan sholat fardhu di masjid-masjid, ataupun sholat-sholat sunnah pada waktu tertentu,  dibentuknya berbagai jama’ah dakwah yang bertujuan untuk mengajak umat pada kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan, serta dibentuknya organisasi-organisasi profesi untuk kemaslahatan umum. Semua aktivitas jama’ah/kelompok khusus tersebut harus sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah Saw menjelaskan tentang keharusan dilakukannya setiap perbuatan agar sesuai dengan ajaran Islam melalui sabdanya: “Siapa saja melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunanku, maka perbuatan itu akan tertolak.”

 

Penutup

Aktivitas hidup berkelompok manusia berdasar ajaran Islam akan membawa pada pemenuhan kebutuhan umum manusia maupun kebutuhan khususnya. Dengan terpenuhinya kebutuhan umum manusia hal itu berarti terpenuhi pula kebutuhannya terhadap pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dll, bagi seluruh rakyat –laki-laki dan perempuan, muslim maupun non muslim- tanpa kecuali. Begitu pula kebutuhan khusus sebagian manusia bisa terpenuhi dengan adanya kelompok khusus yang aktivitasnya berorientasi pada kemaslahatan umum manusia. Sedangkan kelompok khusus yang meskipun dianggap memenuhi kebutuhan khusus sebagian orang namun membahayakan kehidupan manusia secara umum tidak layak untuk diikuti bahkan harus ditinggalkan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun kesadaran umat manusia terhadap bahaya ide kebebasan yang diusung liberalisme. Kebebasan yang mereka inginkan tidak  ada faktanya dalam kehidupan manusia. Sebab secara alami manusia memiliki kebutuhan untuk hidup berkelompok bersama manusia lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Hal itu berarti manusia saling terikat dengan aturan tertentu bukan dibebaskan dengan aturan yang bebas nilai. Banyak bukti yang menunjukkan kebebasan liberalisme justru menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan umum manusia maupun kebutuhan khususnya. Dengan ajaran Islam aktivitas hidup berkelompok membawa kemaslahatan untuk seluruh manusia. Allah Swt berfirman dalam QS. Al Anbiya’ ayat 107, artinya:”(Dan) tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: