MENYELAMATKAN UMAT ISLAM DARI NARKOBA (Refleksi Peringatan Hari Internasional Tanpa Penyalahgunaan Narkoba dan Perdagangan Gelap)

Penyalahgunaan Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan Terlarang) kian meningkat dari tahun ke tahun. Dicanangkannya tanggal 26 Juni sebagai Hari internasional tanpa penyalahgunaan narkoba dan perdagangan gelap oleh negara-negara yang bergabung dalam Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) seolah tiada pengaruhnya sama sekali. Kampanye tahunan yang  ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masalah narkoba secara global dengan beragam tema juga serasa tiada artinya. Sejak PBB mulai mendirikan UNODC pada tahun 1987 sampai saat ini, masalah terkait narkoba tak kunjung selesai bahkan semakin kompleks.

Kepala BNN Komjen Gories Mere mengemukakan: ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba di Indonesia jika tidak ditangani secara serius, korban narkoba bisa mencapai 5 juta hingga 6 juta pada 2015 mendatang, mengingat berdasarkan data pada 2008, angka prevensi penyalahgunaan narkoba sebesar 1,99% dari seluruh penduduk Indonesia atau setara dengan 3,2 juta – 3,6 juta jiwa. Pada 2010, jumlahnya meningkat menjadi 2,21% sedangkan pada 2011 menjadi 3,8 juta jiwa. (www.Nttonlinenews.com).

Di negeri ini adanya UU Narkotika yang baru, UU No. 35/2009 maupun PP No. 25/2011 tentang wajib lapor bagi pecandu/pemakai narkoba ternyata belum mampu menyelesaikan berbagai masalah terkait  penyalahgunaan narkoba. Bahkan Ketua Komisi II DPR RI Khairuman Harahap menilai pemerintah gagal memberantas beredarnya narkoba di Indonesia. Menurut beliau pemerintah belum serius melakukan penegakan hukum untuk memberantas narkoba. Meluasnya peredaran narkoba tersebut karena di semua lini kita bocor untuk mengantisipsinya. Dulu, penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahap pemakai masih rendah, namun sekarang ini sudah semakin meluas bahkan sudah menjadi distributor dan pabrik-pabrik narkoba juga sudah ada di Indonesia. (BNN, Maret 2012).

Masyarakat pun sebenarnya melihat standart ganda pemerintah dalam upaya pemberantasan narkoba. Di satu sisi tampak bersungguh-sungguh memberantas narkoba, seperti: disahkannya UU Narkotika yang baru (UU No.35/2009) yang menghilangkan kategori  pemakai dan pengedar narkoba serta tidak membedakan lagi hukuman antara pengguna narkotika dan psikotropika. Begitu pula adanya keberhasilan aparat pemerintah dalam menggagalkan berbagai upaya penyelundupan narkoba bernilai milyaran rupiah. Namun di sisi yang lain, pemerintah terkesan melemahkan upaya pemberantasan narkoba. Ini bisa dilihat dari dikabulkannya permohonan grasi Leigh Corby, terpidana kasus narkoba karena ketahuan membawa mariyuana atau ganja 4,2 kilogram. Menurut mantan menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza M, hal tersebut bertentangan dengan semangat pembatasan remisi narapidana koruptor dan narkoba yang tertuang dalam PP No.28/2006. (Jawa Pos, 24 Mei 2012).

Masalahnya, narkoba sudah terlanjur merusak dan menghancurkan kehidupan manusia tidak terkecuali generasi umat Islam. Padahal upaya-upaya pemberantasan yang sudah dilakukan sampai saat ini tidak mampu  mengatasi berbagai penyalahgunaan narkoba. Bahkan jarak antara narkoba dengan generasi umat Islam semakin dekat. Jika ini dibiarkan terus terjadi bukan tidak mungkin narkoba akan mengendalikan hidup umat Islam. Pertanyaannya, bagaimana menyelamatkan generasi umat Islam dari narkoba?  

 

Tidak Cukup Melalui Pendekatan Individu Dalam Keluarga

            Ada anggapan di masyarakat, penyalahgunaan narkoba terkait dengan kenakalan remaja, kondisi rumah tangga ‘broken home’ dan kurangnya perhatian keluarga (orang tua) terhadap anak-anak. Kesimpulan ini diambil dari banyaknya pengedar dan pemakai  yang memiliki latar belakang keluarga seperti itu hingga mereka bersinggungan dengan narkoba sejak usia anak-anak. Sifat narkoba yang menyebabkan kecanduan membawa mereka semakin terjerumus dalam jurang narkoba hingga usia dewasa dan menjadi orang tua. Dari sini berkembang biaklah rumah tangga yang dikendalikan narkoba. Peristiwa penangkapan Resti Destami Arifin ketika sedang bertransaksi sabu-sabu di RM Duta Minang, Cengkareng, Jakarta Barat (Jawa Pos, 25 Mei 2012) bisa menjadi contoh. Resti Destami ternyata mengikuti jejak sang ayah, Imam S. Arifin -penyanyi dangdut- yang saat ini juga masih di penjara karena kasus penyalahgunaan narkoba. Begitu pula peristiwa penangkapan seorang wanita yang sedang bertransaksi narkoba di Solo. Dalam penyidikan selanjutnya diketahui wanita itu adalah istri dari seorang napi di Rutan Kelas II Sragen yang juga merupakan tahanan atas kasus narkoba. (Radar Solo, 19 Mei 2012). 

            Terciptanya keluarga yang harmonis dan perhatian orang tua terhadap pergaulan anak-anaknya dianggap sebagai faktor protektif seseorang sehingga tidak terjerumus pada narkoba atau setidaknya mempersempit gerak peredaran narkoba. Sedangkan jika terdapat anggota keluarga yang sudah menjadi pecandu narkoba dihimbau untuk segera melapor agar bisa segera direhabilitasi. Karena itu tindakan Polri dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-66 dan hari internasional tanpa penyalahgunaan narkoba yang memberikan fasilitas rehabilitasi gratis dan tidak diproses hukum bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba yang melaporkan diri ke Polri dan BNN dari tanggal 1-30 Juni 2012 juga dianggap sudah efektif. Padahal jika benar-benar menginginkan rakyat negeri ini bersih dari narkoba, fasilitas rehabilitasi gratis bagi korban harus selalu tersedia dan hukuman bagi siapa saja yang terlibat narkoba harus ditegakkan tanpa pandang bulu agar menimbulkan efek jera.

Jika dicermati,  keluarga harmonis dan perhatian orang tua terhadap pergaulan anak-anaknya tidak menjamin anggota keluarga bisa bebas dari pengaruh narkoba. Sebab lingkungan di luar keluarga, seperti: lingkungan masyarakat, lingkungan kerja, lingkungan sekolah, dll, juga turut mempengaruhi seseorang untuk memilih narkoba atau tidak. Sebagai contoh, kasus Efriyani -sopir Xenia maut- yang bersinggungan dengan narkoba melalui komunitas kerjanya. Konon, dia berasal dari keluarga yang baik-baik saja. Begitu pula, kasus narkoba yang menimpa artis Roy Marten padahal keluarganya dianggap taat beribadah dan rajin ke gereja.

Karena itu upaya pemberantasan narkoba tidak cukup dengan pendekatan individu dalam keluarga, namun harus dilihat sebagai upaya memberantas narkoba pada masyarakat. Sebab masyarakat bukanlah sekedar kumpulan individu manusia. Masyarakat terbentuk dari: pemikiran manusia, perasaan manusia dan aturan yang diterapkan pada mereka. Karena  itu  jika pemikiran dan perasaan yang berkembang di masyarakat masih menganggap bahwa narkoba dapat memenuhi kebutuhan mereka (ingat: secara ekonomi bisnis narkoba sangat menguntungkan), keadaan ini akan menyulitkan upaya pemberantasan narkoba pada masyarakat. Apalagi aturan penyalahgunaan narkoba tidak  ditegakkan secara adil.

 

Solusi: Merubah Pemikiran, Perasaan Dan Menegakkan Aturan Secara Adil

            Pandangan Islam, narkoba merupakan barang yang haram. Ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah SAW: ”Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikit darinya dinilai haram.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Maksud dari hadist tersebut “apabila sesuatu yang jika diminum dalam jumlah banyak bisa memabukkan maka sesuatu tersebut haram, meskipun dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit”. Syaikhul Ibnu Taimiyah dalam kitab Al halalu wal Haram mengatakan “ganja (hasyisyu) adalah bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak”.

Barang yang telah dinyatakan haram, maka haram juga untuk dikonsumsi, diproduksi maupun diperdagangkan. Rasulullah SAW pernah melaknat orang-orang yang memproduksi khamr, membuka warung khamr atau bekerja di tempat penjualan khamr, seperti yang dinyatakan dalam hadist berikut:  ”Rasulullah SAW melaknat tentang arak, 10 golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta diantarinya (yang memesannya), (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan hasil penjualannya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dengan pandangan seperti itu jelas bahwa narkoba termasuk barang yang haram. Sudah sepantasnya manusia menjauhinya.  Segala potensi yang dimiliki manusia harus digunakan untuk menjauhi narkoba.  Di akhirat kelak, Allah SWT akan memberi pahala atas setiap penggunaan potensi untuk menjauhi narkoba, dan sebaliknya Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban dan mengadzab atas setiap penggunaan potensi manusia untuk mendekati narkoba.  Allah SWT berfirman dalam surat An Nuur ayat 24: “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan’.  Adapun dalam surat Fushshilat ayat 21, Allah SWT berfirman: “Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNYA kamu dikembalikan”. Ayat ini menunjukkan setiap pelanggaran terhadap perintah dan laranganNYA pasti akan terbukti di hadapan Allah SWT sebab saksinya adalah anggota tubuh itu sendiri seperti kulit, lidah, tangan dan kaki.  Ayat ini bersifat umum, tidak hanya pelanggaran perintah dan larangan Allah SWT dalam ibadah atau akhlak.  Namun juga pelanggaran larangan Allah SWT dalam masalah narkoba.  Pelanggar narkoba pasti tidak dapat mengelak, sebab saksi di hadapan Allah SWT adalah badan, kulit, tangan atau kaki mereka sendiri yang telah disuntik narkoba atau mulut mereka sendiri yang telah mengkonsumsi narkoba.

Tidak kalah penting adalah penegakan hukum dan keadilan.  Kenyataannya ada orang-orang yang tertipu dunia dan tidak menghiraukan pedihnya neraka akhirat, baik dari kalangan kafir maupun munafik.  Mereka tidak peduli dengan keharaman narkoba, bahaya narkoba bagi diri sendiri dan orang lain. Mereka tidak sungkan-sungkan memproduksi, mengedarkan atau mengkonsumsi narkoba. Bagi mereka yang penting adalah kenikmatan materi dan khayali dari narkoba.Negara, seharusnya tidak segan-segan untuk memberikan hukuman setimpal terhadap orang-orang ini, sehingga dirinya dan orang lain takut untuk berinteraksi dengan narkoba.  Termasuk orang asing semacam Corby seharusnya tidak diberikan keringanan hukuman.  Hal ini akan menyebabkan mereka yang berinteraksi dengan narkoba jadi bergembira ria sebab hukum terhadap pelaku narkoba lambat laun dapat diringankan.

Apabila dipandang meresahkan masyarakat, hakim dapat berijtihad berupa menjatuhkan hukuman yang berat, seperti hukuman mati, sehingga di masa selanjutnya orang tidak berani berinteraksi dengan narkoba dan keresahan di tengah masyarakat dapat dihilangkan.  Ketegasan yang dilakukan Rasulullah SAW yang kemudian diikuti para khalifah sesudahnya dapat dijadikan contoh.  Anas RA meriwayatkan: “Nabi SAW  telah melaksanakan hukuman dera dengan memakai pelepah kurma dan terompah dalam kasus minum khamar, kemudian khalifah Abu Bakar menderanya sebanyak empat puluh kali.  Ketika Umar ra menjadi khalifah dan manusia sudah mengenal pertanian dan perkotaan, maka ia bertanya: “Bagaimana pendapat kalian tentang hukuman dera dalam kasus minum khamar?” Abdurrahman bin Auf menjawab: “Aku berpendapat sebaiknya engkau jadikan untuknya hukuman had (berat) yang paling ringan”.  Lalu Khalifah Umar ra menetapkan delapan puluh kali dera”. (Riwayat Arba’ah).

 

Penutup

Narkoba adalah barang haram.  Semua interaksi dengan narkoba seperti memproduksi, mengedarkan hingga mengkonsumsi narkoba adalah perbuatan yang haram.  Manusia dengan pemikiran dan perasaannya menyadari tentang pertanggungjawaban dan adzab di akhirat terhadap perbuatan meninggalkan perintah dan laranganNYA seharusnya menjauhi interaksi dengan narkoba.  Negara pun harus tegas dalam menegakkan hukum terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan narkoba.  Dengan seluruh hal tersebut akan sangat jelas bahwa narkoba adalah barang haram.  Demikian juga dengan hal tersebut akan sangat jelas bahwa masyarakat terhindar dari barang haram narkoba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: