KESUKSESAN ADALAH KESESUAIAN DENGAN AJARAN ISLAM

Banyak orang menyadari bahwa perjalanan kehidupan di dunia ini merupakan perjuangan yang bisa membawa pada kesuksesan, bisa juga membawa pada  kegagalan. Hanya saja ukuran kesuksesan maupun kegagalan hidup  masing-masing orang bisa berbeda. Ada yang beranggapan bahwa kesuksesan hidup diukur dari harta yang melimpah atau pangkat serta jabatan yang tinggi.  Namun ada juga yang beranggapan bahwa memiliki badan sehat meskipun tidak memiliki harta yang banyak, sudah dianggap sukses dalam hidupnya.  Adapun ukuran kegagalan hidup juga bermacam-macam. Sebagian orang beranggapan, tidak memiliki harta yang melimpah, tidak memiliki jabatan tinggi, orang yang badannya tidak sehat alias sakit-sakitan atau orang yang terbelit hutang dianggap mengalami  kegagalan dalam hidupnya.

Jika diperhatikan, ukuran  kesuksesan dan kegagalan seperti itu seringkali menyebabkan seseorang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maksudnya begini, ketika seseorang menganggap bahwa kesuksesan hidup diukur dengan harta yang banyak, atau dengan jabatan tertentu, ini akan mendorong seseorang melakukan segala cara untuk itu. Seperti: korupsi, mencuri, melakukan kebohongan publik, dll. Begitu pula ketika gagal mendapatkan apa yang diinginkannya, misal: gagal dalam ujian sekolah, gagal mendapatkan kesembuhan setelah berobat dari sakit tertentu, gagal mendapat jabatan yang diinginkan, dll, seseorang  akan mudah terdorong melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Contoh: memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Ironisnya, peristiwa-peristiwa seperti itu banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai contoh, diberitakan bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Sumut menangkap seorang pembobol brangkas milik BRI Unit Karya Wisata Medan Johor sebesar Rp1,6 miliar, yaitu Syamsyuar Nasution (44) Kepala Unit BRI cabang Medan Johor. Tersangka mengaku terpaksa membobol brangkas milik kantornya sendiri karena terbelit hutang Rp 50 juta. (www.dnaberita.com, 20 Juli 2012).  Begitu pula pada pertengahan tahun 2010 yang lalu warga Semarang dikejutkan oleh peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh suami mantan calon wakil walikota Semarang. Berbagai pihak mensinyalir bahwa motif bunuh diri adalah kegagalan sang istri menduduki jabatan wakil walikota pada pilkada Semarang yang digelar pada bulan April 2010. (detikNews, 24 Juli 2010).

Sama halnya ketika seseorang menganggap bahwa memiliki badan sehat termasuk kesuksesan hidup. Sehingga ketika orang tersebut menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, maka dia akan menganggap gagal dalam hidup. Hal ini  mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seperti yang dilakukan M. Rivky Arbianto (24) yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dapur rumahnya di Jl Komplek Guru RT 13/04 No.13 Klender, Jakarta Timur lantaran memiliki  penyakit paru-paru yang tak kunjung sembuh. (Inilah.com, 31 Juli 2012). Demikian pula ketika tidak lulus ujian sekolah dianggap sebagai kegagalan hidup sehingga memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Padahal tindakan tersebut dilarang oleh ajaran Islam. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang siswi SMKN Muaro Jambi ketika mengetahui dirinya merupakan siswa satu-satunya di kelas yang harus mengulang UN mapel matematika. Merasa gagal dan khawatir mendapat marah dari orang tuanya, siswi tersebut melakukan tindakan bunuh diri dengan menelan serbuk fungisida (racun jamur tanaman) yang ada di rumahnya. (Kompas.com, 28 April 2010).

Sungguh patut disayangkan terjadinya perbuatan-perbuatan seperti itu di tengah-tengah masyarakat. Dari sini muncul pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya pandangan Islam mengenai kesuksesan dan kegagalan dalam kehidupan manusia? Dan bagaimanakah sikap yang harus diambil oleh seorang muslim?

 

Allah Swt Menguji Manusia Sepanjang Kehidupannya  

Banyak orang beranggapan bahwa kesulitan, kesedihan, tidak memiliki harta identik dengan ujian hidup. Sedangkan kesenangan atau harta yang melimpah identik dengan kenikmatan hidup. Padahal yang namanya ujian hidup tidak hanya berbentuk kesulitan, kesedihan maupun kemiskinan. Bahkan kesenangan atau harta yang banyak pun juga merupakan ujian. Harta, jabatan, anak-anak, dll, semuanya merupakan ujian dari Allah Swt. Al Qur’an telah banyak menyebutkan ayat-ayat mengenai masalah tersebut. Seperti dalam QS. Al Mulk ayat 1-2: “Maha Suci Allah yang Menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang Menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” Disebutkan  juga dalam QS. Al Anfal ayat 28:“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang besar”. Begitu pula dalam QS. Al Anbiyaa’ ayat 35: “Setiap yang hidup akan merasakan mati, dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.” Rasulullah Saw juga telah bersabda: “Sesungguhnya setiap umat diuji, dan ujian umatku ini adalah dengan harta”. (HR Tirmidzi dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu danisnadnya dinyatakan sahih oleh al-Hakim).

Memang benar bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mendapatkan harta yang sebanyak-banyaknya, mempunyai anak-anak yang bisa dibanggakan dan mendapatkan jabatan yang terpandang.  Manusia juga memiliki kecenderungan untuk mencintai itu semua. Hanya saja terkadang manusia merasa bahwa harta, anak-anak maupun jabatan yang mereka miliki itu,  bukanlah bentuk ujian dari Allah Swt. Manusia merasa sedang mendapatkan ujian ketika tidak mempunyai harta, tidak memiliki jabatan atau ketika mendapat musibah saja. Padahal ketika manusia mendapatkan semua itu juga merupakan bentuk ujian dari Allah Swt seperti ditunjukkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang telah dikemukakan sebelumnya.  Apakah dengan harta, anak-anak atau jabatan yang diperolehnya, manusia mampu menyesuaikan perbuatannya dengan aturan-aturan Allah Swt ataukah justru melanggarnya. Artinya, ketika manusia memiliki harta yang banyak, anak-anak yang dibanggakan maupun jabatan yang tinggi, sebenarnya dia sedang diuji oleh Allah Swt pada masalah itu, namun seringkali manusia tidak menyadari. Sehingga adakalanya manusia menjadi sangat mencintai hartanya, anak-anaknya maupun jabatannya. Keadaan ini memungkinkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan Allah Swt.

Karena itu Rasulullah Saw  pernah bersabda: “Tidaklah marabahaya yang dialami seekor kambing manakala diserang dua serigala yang kelaparan, lebih parah dibandingkan marabahaya yang terjadi pada agama seseorang akibat kerakusan dia terhadap harta dan kedudukan”. (HR.Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu. At-Tirmidzy menilai hadits ini hasan sahih). Demikian pula sabda Rasulullah Saw  terkait keberadaan anak : “Anak itu bisa menyebabkan seseorang menjadi sedih, pengecut, bodoh dan kikir”. (HR.Thabrani dari Khaulah binti Hakim dan dinyatakan sahih oleh al-Albany).

Adapun bentuk-bentuk seperti kesulitan, kekurangan, dan kesedihan yang menimpa manusia juga merupakan ujian dari Allah Swt. Seperti keadaan sakit, terjadinya kecelakaan, pada kondisi kurang harta/miskin, kematian orang-orang yang dicintai, dll,  semua itu termasuk ujian dari Allah Swt. Ketika seorang muslim mengalami keadaan-keadaan seperti itu  dan berhasil menyelesaikannya tanpa melanggar aturan-aturan Islam berarti dia telah lulus ujian dari Allah Swt dan akan memperoleh kegembiraan dalam hidupnya. Hal ini juga berarti dia telah memperoleh kesuksesan. Sebaliknya jika seorang muslim yang mengalami keadaan-keadaan seperti itu, lantas menyelesaikannya  dengan cara-cara yang melanggar aturan Islam, hal itu dapat menjerumuskan dirinya pada kebinasaan dan itu berarti dia telah gagal dalam menjalankan kehidupannya.

Inilah pandangan Islam mengenai kesuksesan dan kegagalan. Karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan kekurangan harta, gagal mendapatkan jabatan, gagal untuk sembuh dari suatu penyakit, tidak lulus ujian, tidak berarti telah mengalami kegagalan dalam hidup. Demikian juga kondisi harta yang melimpah, jabatan tinggi, badan yang sehat, dll, tidak berarti telah memperoleh kesuksesan dalam hidup.

 

Memilih Sikap Sabar

Aturan Islam mengajarkan pada pemeluknya untuk memilih sikap sabar dalam menghadapi berbagai ujian dari Allah Swt. Baik ujian yang terkait dengan masalah harta, jabatan, anak, dll, maupun ujian yang terkait dengan masalah melaksanakan perbuatan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Misalnya, dalam masalah ibadah, amar ma’ruf nahi munkar, muamalah, dll. Kesabaran itu terwujud pada sikap seorang muslim yang senantiasa mengupayakan kesesuaian perbuatannya dalam menyelesaikan berbagai urusannya dengan aturan-aturan Islam. Dengan kesabaran ini seorang muslim akan memperoleh balasan dari Allah Swt dan terhindar dari marabahaya.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 155: Dan sesungguhnya kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Demikian pula dari hadistAbu Sa’id dan Abu Hurairah r.a dari Nabi Saw, bersabda: ”Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Penting untuk disadari bahwa sesungguhnya semua ujian yang menimpa manusia adalah  untuk mengetahui ketangguhan dan kekuatan dari keimanannya sebagai seorang muslim. Allah Swt telah mengingatkan hal tersebut dalam QS. Al ‘Ankabut ayat 2-3: ”Apakah manusia itu akan mengira mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benardan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Selain itu, harus pula diyakini bahwa ujian dari Allah Swt tersebut pastilah tidak mungkin melebihi dari kemampuan manusia. Ingat firman Allah Swt  dalam QS. Al Baqarah ayat 286:”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kadar kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.”

Karena itu sikap sabar dalam menghadapi ujian, baik yang berupa kesenangan atau kelebihan maupun kesedihan atau kekurangan, merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Sebab, ujian yang diterimanya pasti bisa diselesaikan tanpa melanggar aturan-aturan Allah Swt. Dengan keimanan dan kesabaran itu seorang  muslim akan sanggup menghadapi setiap ujian sepanjang kehidupannya.  Ujian itu akan membuat dirinya tegak berjalan di jalan Allah Swt dan itulah jalan untuk menggapai syurgaNya.

 

Penutup

            Kesuksesandan kegagalan dalam kehidupan manusia bukanlah kondisi kelebihan atau kekurangan yang diterimanya.  Dalam pandangan Islam, kesuksesan dan kegagalan hidup seorang muslim dilihat dari kesesuaian perbuatan-perbuatannya dengan ajaran Islam ketika menghadapi berbagai ujian yang harus dihadapi dan dalam menyelesaikan berbagai urusan kehidupannya.

Sikap sabar dalam menghadapi berbagai ujian adalah pilihan yang harus diambil oleh seorang muslim. Kesabaran itu terwujud pada sikapnya yang senantiasa mengupayakan kesesuaian perbuatannya dalam menyelesaikan urusan-urusan tersebut dengan aturan-aturan Islam. Dengan kesabaran ini seorang muslim akan memperoleh balasan dari Allah Swt dan terhindar dari mara bahaya.  Insya Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: