DENGAN ATURAN ALLAH SWT KEJAHATAN PROSTITUSI BISA DISELESAIKAN

Terbongkarnya jaringan layanan prostitusi online berskala nasional dan tertangkapnya Keyko -seorang wanita pengendali layanan ini- oleh tim Vice Control (VC) Kejahatan Umum (Jatanum) Satreskrim Polrestabes Surabaya baru-baru ini membuat sebagian masyarakat merasa marah, geram, prihatin dan sedih. Bagaimana tidak muncul perasaan seperti itu, sebab jaringan seperti ini ibaratnya tidak berbeda dengan jaringan terorisme, yaitu: sama-sama merusak generasi manusia dan menghancurkan kehidupannya. Hal ini bisa dilihat dari pengakuan salah seorang mucikari asal Semarang -patner Keyko- yang berhasil ditangkap oleh tim VC Jatanum Satreskrim Polrestabes Surabaya, bahwa dia memiliki sekitar 200an anggota ‘siap pakai’ yang berasal dari sekitar Semarang dan Yogyakarta. Padahal Keyko memiliki banyak mucikari yang tersebar di kota lain, seperti Malang, Banjarmasin dan Jakarta. Menurut pemberitaan di Jawa Pos, 12 September 2012, pekerja seks yang ditawarkan Keyko mencapai 1.900an orang. Mereka tersebar di kota-kota besar di Indonesia dan bersedia dikirim ke beberapa daerah. Sebagian besar dari pekerja seks tersebut berlatar belakang model, lady escort (biasa disebut purel ditempat karaoke), mahasiswi dan SPG (Sales Promotion Girl).

Dari sini bisa dibayangkan, betapa banyak orang-orang yang terlibat dan generasi manusia yang menjadi rusak akibat kejahatan prostitusi. Belum lagi munculnya masalah-masalah lain akibat kejahatan model ini, seperti: meluasnya berbagai penyakit kelamin, menyebarnya virus HIV, meningkatnya jumlah kehamilan tanpa ikatan pernikahan, meningkatnya perilaku aborsi dikalangan remaja, dll. Itu semua, jelas akan membawa pada kehancuran bangsa ini dan lambat laun akan membawa pada kehancuran kehidupan manusia seluruhnya.

Masalahnya sekarang, tidak banyak kalangan yang peduli terhadap langkah-langkah penyelesaian masalah kejahatan prostitusi. Bahkan banyak yang memandang sebelah mata terhadap masalah ini dengan alasan: masalah kejahatan prostitusi sudah menyebarluas di dunia tidak hanya di negeri ini, sehingga sulit untuk mengatasinya. Alasan yang lain, bahwa kejahatan prostitusi tidak bisa dihilangkan karena terkait hukum ekonomi: permintaan dan penawaran. Hal ini memunculkan berbagai pihak yang menjadikan kejahatan prostitusi sebagai ladang bisnis dan mengelolanya dengan rapi dan technocable. Faktanya seperti yang dilakukan Keyko dan jaringannya, bisnisnya menghasilkan keuntungan materi yang sangat mengiurkan. Karena itu jika ada pihak-pihak yang membuka jalan untuk menghilangkan kejahatan prostitusi pasti akan dihalangi. Hal-hal semacam inilah yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai sebab tidak terpecahkannya masalah kejahatan prostitusi. Ibarat lingkaran setan, sulit untuk memutusnya. Akibatnya, kejahatan prostitusi tetap ada dan semakin berkembang sehingga nampak seperti hal yang lumrah dan sah-sah saja untuk dilakukan.

Sebagai bagian dari umat manusia, kaum muslimin memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya keburukan dan kehancuran dalam kehidupan umat. Terlebih lagi adanya fakta yang menunjukkan terlibatnya umat Islam termasuk dari kalangan wanita –bahkan yang telah menutup aurat dengan kerudung dan abaya- dalam jaringan bisnis kejahatan prostitusi. Karena itu, umat Islam harus memikirkan masalah ini. Sebagai umat yang meyakini agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, harus juga memahami bahwa ajaran Islam memberikan petunjuk untuk manusia dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupannya. Lantas, bagaimanakah pandangan Islam dalam menyelesaikan masalah kejahatan prostitusi?

 

Kejahatan Prostitusi Dicegah Dan Dihilangkan Dengan Penerapan Peradilan Islam

            Jauh-jauh hari, ribuan tahun yang lalu, sebelum kejahatan prostitusi merajalela seperti sekarang ini, Allah Swt telah menurunkan seperangkat aturan terkait interaksi antara pria dan wanita sekaligus sebagai solusi terhadap masalah-masalah yang muncul akibat interaksi tersebut. Seperangkat aturan tersebut sebenarnya merupakan suatu sistem sosial yang khas yang mengandung berbagai hukum sesuai ajaran Islam, seperti: aturan pergaulan antara pria dan wanita, aturan menutup aurat, aturan pernikahan, aturan kehidupan suami istri, aturan dalam pengasuhan anak, dll. Allah Swt juga telah menolong manusia melalui aturan-aturan Islam dalam masalah perekonomian, seperti: kewajiban bekerja mencari nafkah, larangan riba dan penimbunan, hukum-hukum pemilikan harta, dll. Dalam masalah pendidikan, Islam juga telah menetapkan aturan, seperti: wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim,  dan kewajiban pemimpin umat Islam untuk menyediakan sarana/prasarana pendidikan yang terjangkau seluruh rakyat, dll. Dan masih banyak lagi aturan-aturan Allah Swt yang terkait dengan masalah kesehatan, keamanan, dll.

Harus dipahami bahwa penerapan aturan-aturan tersebut tidak akan berarti tanpa adanya pemberian sanksi bagi orang yang melanggar. Ajaran Islam menetapkan bahwa orang yang melakukan pelanggaran terhadap aturan Islam berarti telah melakukan tindak kejahatan, karena itu harus mendapatkan sanksi dari peradilan Islam. Peradilan Islam ini harus dilaksanakan oleh kepala negara atau pihak yang mewakili negara, dan tidak bisa dilakukan oleh pemimpin umat Islam dalam organisasi, partai, kelompok dakwah, atau yang semacam itu. Sebab Islam memberikan kewenangan menegakkan hudud Allah Swt dan melaksanakan hukum-hukum yang terkait peradilan Islam pada pihak yang menyelenggarakan negara (pemerintah) bukan pada individu. Sehingga negaralah yang memberikan sanksi dan menghukum orang yang dinyatakan bersalah menurut peradilan Islam.  Demikian pula dalam masalah prostitusi –dalam ajaran Islam dikenal dengan perzinaan- yang merupakan perbuatan melanggar aturan Islam, wajib dikenai sanksi oleh peradilan Islam.

Dalam pandangan Islam, ‘uqubat (sanksi/hukuman) bagi orang yang melanggar aturan di dunia akan menjadi penghapus sanksinya di akhirat. Karena itulah ‘uqubat berfungsi sebagai pencegah dan penebus. Pencegah manusia dari perbuatan dosa dan pelanggaran, dan sebagai penebus sanksi di akhirat. Hal ini bisa dilihat dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Ubadah bin Shamit: Kami bersama Rasulullah Saw dalam suatu majelis dan beliau bersabda “Kalian telah membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut, “Barangsiapa diantara kalian memenuhinya, maka pahala disisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu maka sanksinya adalah kifarat baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau mengazab”.”

Selain itu harus dipahami, bahwa peradilan Islam tidak bisa diterapkan tanpa adanya  jaminan akan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.  Artinya, seluruh aturan Islam dalam masalah sosial, perekonomian, pendidikan, kesehatan, dll, sudah harus diterapkan lebih dulu dalam kehidupan masyarakat sebagai jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat sebagai seorang individu manusia, yang meliputi kebutuhan pangan, sandang dan papan. Begitu juga harus ada jaminan dari negara akan terpenuhinya kebutuhan rakyat sebagai anggota masyarakat yang meliputi kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan. Setelah kondisi ini terwujud maka diterapkan peradilan Islam untuk seluruh rakyat, tanpa kecuali dan tidak membedakannya karena perbedaan suku, ras, agama, dll. Dengan pandangan seperti ini, berbagai tindak kejahatan yang dilakukan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pokok tidak bisa diterima. Sebagai contoh, terlibat dalam bisnis prostitusi dengan alasan untuk memenuhi biaya hidup, biaya sekolah, biaya kesehatan, dll.

Dari sini dapat dikatakan bahwa setiap bentuk kejahatan termasuk kejahatan prostitusi, akan dapat diatasi dengan penerapan peradilan Islam. Sebab peradilan Islam berfungsi sebagai pencegah terjadinya kejahatan serupa sekaligus penebus sanksi pelaku kejahatan di akhirat kelak. Dengan dorongan pemikiran seperti ini  Ma’iz dan Ghamidiyah mengakui perbuatannya. Mereka datang menghadap Rasulullah Saw dengan penuh kesadaran dan minta sanksi terhadap pelanggaran yang telah mereka lakukan, yakni berzina. Ghamidiyah berkata pada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, sucikanlah aku!”. Mereka mau menanggung sakitnya sanksi yang dijatuhkan peradilan Islam di dunia karena menyadari sanksi di akhirat –azab Allah Swt- lebih pedih lagi.

 

Meyakini Bahwa Aturan Allah Swt Adalah Yang Terbaik

            Tidak bisadipungkiri bahwa saat ini umat Islam tengah berada dalam kekacauan akibat serangan berbagai pemikiran diluar Islam seperti: sekulerisme, kapitalisme, terorisme, dll. Begitu kuatnya serangan tersebut hingga tidak sedikit dari umat Islam yang terjerumus dalam pelanggaran aturan Allah Swt. Bahkan telah ditiupkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam di kalangan umat sehingga umat Islam  tidak menyadari pelanggaran yang  mereka lakukan.

Karena itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari umat Islam sendiri, agar senantiasa dapat meyakini Islam dalam dua hal. Pertama, yakin bahwa ajaran Islam dapat mengantarkan manusia pada kebaikan. Sebab, tidak diturunkan Islam kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam, sesuai dengan firman Allah Swt: ”(Dan) tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh umat manusia”(QS. Al Anbiya ayat 107). Kedua, yakin bahwa aturan-aturan Islam mampu menyelesaikan masalah kehidupan manusia dan menjangkau masa depan. Sebab, aturan-aturan Islam berasal dari Allah Swt dan Dialah yang menciptakan masa depan. Allah Swt berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah ayat 50).

 

Penutup

            Peradilan Islam merupakan aturan Allah Swt yang berfungsi untuk menegakkan aturan-aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan manusia sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran terhadap aturan Allah Swt yang harus dikenai sanksi oleh peradilan Islam. Penerapan peradilan Islam harus dimulai dengan adanya jaminan terhadap kebutuhan pokok rakyat sebagai individu (kebutuhan pangan, sandang, papan) dan sebagai anggota masyarakat (kebutuhan pendidikan, kesehatan, keamanan). Peradilan Islam dapat menjadi pencegah dan penebus berbagai tindak kejahatan yang dilakukan oleh manusia, termasuk kejahatan prostitusi/perzinaan.

Banyaknya serangan pemikiran yang bertentangan dengan ajaran Islam, memerlukan kesungguhan umat Islam dalam mempertahankan keyakinan bahwa aturan Allah Swt merupakan aturan yang terbaik untuk manusia. Allah Swt telah menolong umat Islam dengan aturan-aturanNYa. Selanjutnya, kembali pada umat Islam sendiri: mau hidup dengan aturan Islam tidak?

                       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: