DI BALIK GERBANG PERNIKAHAN

Sudah lazim di masyarakat, pernikahan adalah jalan yang harus ditempuh agar terbentuk keluarga dan lahir keturunan yang menjadi generasi penerus. Faktanya, pernikahan adalah awal terbentuknya status sebagai suami, istri, ayah, ibu, anak, dst, sehingga menjadi sebuah keluarga. Tanpa pernikahan status tersebut tidak akan muncul, dan tidak akan muncul kehidupan keluarga dan keturunan.

Realitasnya sekarang, masih terdapat kekurangsadaran bahwa melaksanakan pernikahan adalah untuk mendapat keluarga dan mendapatkan keturunan yang baik.  Demikian juga di kalangan masyarakat masih kurang ada kesadaran mengenai konsekuensi-konsekuensi dari pernikahan itu sendiri. Kesadaran menjadi orang tua, mengasuh dan mendidik anak sehingga menjadi generasi penerus yang baik masih perlu ditingkatkan.

Sebagai contoh, banyak di kalangan orang tua yang memiliki anak-anak yang sudah cukup usia untuk menikah, sudah selesai dalam menempuh pendidikannya atau sudah mendapat pekerjaan, mereka telah menyadari untuk segera menikahkan anak-anaknya. Namun, kesadaran itu terbatas pada kewajiban untuk menikahkan saja. Mereka rela untuk sibuk dengan berbagai persiapan pernikahan, seperti: memilih hari yang dianggap baik untuk pernikahan, menyediakan dana yang cukup untuk acara akad nikah dan resepsi pernikahan, menyiapkan uba rampe untuk ritual-ritual yang harus dilakukan dalam prosesi pernikahan, dll. Sedangkan bagaimana kehidupan keluarga anak-anak mereka setelah pernikahan nanti, banyak orang tua yang kurang memikirkan bekal untuk itu. Umumnya, bekal materi, seperti: punya penghasilan besar, rumah, kendaraan, dll, sudah dianggap cukup untuk menjalankan kehidupan keluarga. Sedangkan bekal non materi, seperti: pemahaman mengenai bagaimana aturan kehidupan suami istri, bagaimana cara mengasuh anak, dll, banyak orang tua yang  menganggap anak-anaknya akan mengerti dengan sendirinya.

Sedangkan di kalangan anak-anak muda sekarang, banyak yang menganggap bahwa pernikahan adalah jalan mereka untuk bersenang-senang dengan lawan jenis daripada melakukan pergaulan bebas.  Masih sedikit diantara mereka yang meningkatkan kesadaran  dari pernikahan untuk menghindari pergaulan bebas menjadi pernikahan untuk menghindari pergaulan bebas dan tanggung jawab kehidupan keluarga. Dapat dikatakan, kesadaran mereka terbatas pada kesenangan memiliki pasangan hidup dan yang lain-lain dipikirkan belakangan. Tentu saja permasalahan besar pun siap menerpa mereka.  Ada di antara mereka yang tidak mau memiliki dan memelihara anak dan mudah tergoda dengan pergaulan bebas yang menyebabkan retaknya hubungan keluarga, perselingkuhan dan perceraian. Hal seperti itu  sudah banyak terjadi di masyarakat.

Menurut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, sebanyak 12-15 persen dari rata-rata dua juta masalah perkawinan setiap tahunnya adalah perceraian. Ironisnya lagi, sebanyak 80 persen perceraian itu terjadi pada usia perkawinan di bawah usia lima tahun. (Koranmuslim.com, 19 Agustus 2011). Sedangkan Kepala BKKBN menyebutkan angka perceraian di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Angka perceraian tahun 2010 ada 280.000 kasus, pada tahun 2009 tercatat 250 ribu kasus dimana angka ini setara dg 10 % dari jumlah pernikahan di tahun 2009, yakni sebanyak 2,5 juta. Jumlah  tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200 ribu perceraian. (Kompassiana.com, 20 Oktober  2011).

Memang juga tidak sedikit yang menganggap bahwa pernikahan sekedar tradisi dengan aturan-aturan tertentu yang mengikat dan membatasi tingkah laku mereka sebagai anak-anak muda. Terikat dan terbatas dianggap tidak cocok dengan jiwa muda, sebab keinginan mereka hanya bersenang-senang. Karena itu daripada menikah dan hidup berkeluarga, anak-anak muda ini lebih cenderung pada pergaulan bebas, seperti: pacaran dan seks bebas. Apalagi jika mereka masih harus menyelesaikan pendidikannya, masih usia sekolah dan belum bekerja, pacaran dan seks bebas dianggap sebagai pilihan yang tepat sekaligus menyenangkan daripada melakukan pernikahan dan hidup berkeluarga yang menyebabkan mereka terikat dengan berbagai aturan. Dampaknya sangat negatif sekali seperti kehamilan sebelum menikah, terjadinya pembuangan bayi-bayi yang tidak diharapkan orang tuanya, adanya anak-anak yang tidak jelas siapa ayahnya, dll.

Berdasar data dari Komnas PA Jakarta, angka pembuangan bayi dan aborsi di Indonesia setiap tahun meningkat. Pada tahun 2010 ditemukan  104 balita, tahun 2011 ditemukan 186 balita dimana sebagian balita yang ditemukan dalam keadaan hidup. Menurut Dirjen Rehsos, Departemen Sosial, ada tiga faktor  yang menyebabkan angka pembuangan bayi meningkat: pertama, karena faktor ekonomi, kedua, hamil diluar nikah, dan ketiga, ketidaksiapan orang tua untuk merawat bayinya dikarenakan usia mereka yang masih muda. Sedangkan angka aborsi juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 ada sekitar 2 juta kasus aborsi, tahun 2009 sekitar 2,3 juta dan tahun 2010 sekitar 2,5 juta. Banyak kalangan mensinyalir bahwa peningkatan kasus aborsi ini disebabkan adanya seks bebas dan ketidaksiapan orang tua untuk merawat anak. Selain itu, survei Komnas PA tahun 2008 dengan responden sekitar 4.726 siswa SMP dan SMU di 17 kota besar di Indonesia menunjukkan sebanyak 62,7% responden sudah pernah melakukan hubungan seksual selayaknya suami istri dan 21,2% responden mengaku pernah melakukan aborsi. Menurut Ketua Komnas PA, perilaku seks bebas telah menyebar di kota dan di desa, pada tingkat ekonomi kaya maupun miskin.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami pemikiran dan ajaran Islam dalam masalah pernikahan dengan harapan tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan Allah Swt. Ibarat sebuah kapal yang hendak berlayar ke samudra yang luas, nahkoda dan awak kapal sudah harus memahami hendak kemana kapal akan berlayar, telah memiliki perbekalan yang cukup dan mengetahui solusi yang harus diambil ketika sewaktu-waktu badai datang hendak menerjang kapal. Inilah yang seharusnya dipahami terlebih dulu sebelum melaksanakan pernikahan untuk membentuk keluarga dan lahirnya  keturunan yang baik.

 

Ajaran Islam Tentang Pernikahan

            Ajaran Islam menjelaskan pernikahan adalah peraturan khusus terkait hubungan antara laki-laki dan wanita yang berorientasi untuk mendapatkan keturunan dan melestarikan generasi manusia melalui sebuah keluarga. Aturan pernikahan dan kehidupan keluarga pun telah diajarkan oleh Islam agar tujuan pernikahan dan kehidupan keluarga dapat tercapai. Di awali dengan seruan dari Allah Swt untuk menikah, seperti yang tercantum dalam QS. An Nur ayat 32: ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan…” Demikian pula berdasar riwayat yang diketengahkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah yang menyebutkan: Rasulullah Saw selalu memerintahkan untuk kawin dan melarang bertabatul (membujang) dengan larangan yang keras, dan beliau selalu menganjurkan,Kawinlah kalian dengan wanita yang kalian cintai dan yang subur, karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian kelak di hari Kiamat di hadapan para nabi.” Namun harus dipahami, bahwa ajaran Islam tidak hanya mendorong umat Islam agar melangsungkan pernikahan saja.

Lebih dari itu, ajaran Islam telah menjelaskan siapa saja yang boleh dikawini dan siapa saja yang haram untuk dikawini. Demikian pula kehidupan suami istri dalam keluarga, ajaran Islam telah mengatur sedemikian rupa sehingga dapat memberikan ketenangan dan kedamaian kedua belah pihak. Sebagai contoh: perintah Allah Swt untuk menciptakan suasana pergaulan yang baik diantara suami istri, seperti yang tercantum dalam QS. An Nisa’ ayat 19. Termasuk juga ketika ada persoalan yang melanda kehidupan rumah tangga, Allah Swt telah menyiapkan aturan-aturanNya sehingga kehidupan manusia tetap berlangsung sesuai dengan ajaran Islam.  Sebagai contoh: aturan mengenai talak, cerai, rujuk, iddah, dll.

Begitu pula ketentuan dari Allah Swt yang telah menetapkan kepemimpinan rumah tangga berada di tangan suaminya, yang berarti suami adalah pemimpin istrinya dalam masalah rumah tangganya (QS. An Nisa’ ayat 34). Posisi suami sebagai pemimpin istrinya bukan berarti menjadikan suami sebagai otoriter di rumah atau seperti penguasa yang tidak bisa dilanggar perintahnya. Tetapi hanya dalam hal pengurusan dan pengelolaan urusan rumah tangga saja, bukan dalam hal kekuasaan dan hak memerintah dalam rumah tangga. Karena itu mereka bisa saling berdiskusi sebab pada dasarnya mereka harus menciptakan pergaulan yang baik sebagaimana perintah dari Allah Swt.

Inilah pemikiran dan aturan yang diajarkan oleh Islam terkait pernikahan. Setiap muslim/muslimah hendaknya memahami pemikiran dan aturan ini sehingga kesadaran di masyarakat yang menganggap pernikahan sekedar kelaziman yang harus dilakukan oleh orang tua, atau sekedar untuk bersenang-senang dan kebanggaan maupun dianggap sebagai tradisi yang mengikat dan membatasi tingkah laku, akan berubah menuju kesadaran yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi, pernikahan dalam pandangan Islam diorientasikan untuk tujuan mendapatkan keturunan sehingga terwujud generasi penerus manusia. Selanjutnya jika pernikahan dan kehidupan keluarga dijalankan sesuai ajaran Islam, pastilah kehidupan keluarga akan mendapatkan kesenangan dan ketentraman, seperti yang telah dinyatakan dalam QS. Ar Ruum ayat 21: “Di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri supaya kalin merasa tentram (senang) kepada mereka dan Dia menciptakan di antara kalian rasa kasih sayang.”

 

Tanggung jawab Negara Dalam  Menjaga Keluarga

            Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 22: “maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan keluarga”.  Ayat ini menjelaskan bahwa negara juga bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan keluarga.  Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Mendidik masyarakat mengenai arti penting pernikahan dan keluarga dalam menghasilkan keturunan yang baik. Termasuk mendidik masyarakat akan bahaya perzinahan dan berbagai hal yang bertentangan dengan pernikahan dan keluarga.  Harapannya muncul  kesadaran penuh di tengah masyarakat untuk mendapatkan generasi penerus yang baik.
  2. Menghukum perzinahan dan berbagai keyakinan dan aktivitas yang merusak pernikahan dan keluarga dengan hukuman yang setimpal.  Harapannya, nampak jelas di tengah masyarakat bahwa kesadaran mengenai pernikahan dan keluarga adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan.
  3. Memberikan jaminan kebutuhan pokok bagi individu dan masyarakat. Harapannya masyarakat tidak melupakan pendidikan mengenai pernikahan dan keluarga dengan alasan masalah ekonomi dan tidak terjaminnya kebutuhan pokok.

 

Penutup

            AturanIslam tentang pernikahan merupakan aturan khas yang berasal dari Allah Swt yang dapat mengarahkan manusia memiliki keluarga dan keturunan yang baik yang akan menjadi generasi penerus manusia.  Aturan Islam tentang pernikahan dan keluarga ini harus dijaga bersama.  Masyarakat harus menjadikannya sebagai kesadaran dan pemahaman dalam diri mereka. Sedangkan negara harus menjaganya melalui sistem pendidikan, hukum dan ekonomi untuk menjamin kebutuhan pokok seluruh rakyatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: