MEWUJUDKAN GURU BERKUALITAS YANG DIGUGU DAN DITIRU

Dukungan untuk para guru sudah begitu banyak mengalir.  Pada masa lampau orang mendukung para guru dengan memberi kepanjangan kepada kata guru sebagai “(YANG) DIGUGU DAN DITIRU”.  Guru adalah sosok panutan dalam ucapan dan perbuatan.  Selanjutnya pun masih ada dukungan pada para guru.  Guru diakui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.  Untuk itu bahkan dibuatkan lagu khusus untuk guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.  Akhir-akhir ini pun dukungan untuk para guru tetap mengalir deras, walaupun di dalamnya mulai ada kritik dan ketidakpuasan.  Dikatakan bahwa para guru di Indonesia hebat sekali, karena guru SD saja dapat menyebabkan muridnya menjadi presiden AS dua kali, yaitu Barrack Obama.  Padahal Obama dididik oleh guru dan sekolah di Indonesia tidak sampai lulus. Tentu saja ini tidak murni dukungan dan apresiasi terhadap para guru.  Bahkan cenderung pada kritik dan ketidakpuasan kepada para guru dari berbagai sisi supaya guru lebih bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas dirinya.

Kenyataannnya, kemunduran pendidikan seringkali dikaitkan dengan kualitas guru. Sebagai contoh, adanya kegagalan anak didik pada mata pelajaran yang di UAN-kan diduga disebabkan guru yang kurang berkualitas. Demikian juga ketika anak didiknya terlibat hal yang buruk, misal: tawuran, mengkonsumsi narkoba, pergaulan dan seks bebas, dll, banyak kalangan yang menuding guru-gurunya tidak mampu mendidik dan ujung-ujungnya dianggap sebagai guru yang tidak berkualitas.

Perbuatan atau tingkah laku guru yang buruk juga dianggap dapat menyebabkan kemunduran dalam bidang pendidikan. Sebab perbuatan-perbuatan seperti itu tidak mencerminkan dirinya sebagai pendidik, dan guru semacam itu dianggap berkualitas rendah. Seperti yang diberitakan oleh Republika.co.id, 9 April 2012,  seorang guru SMP yang bergelar master pendidikan ditangkap petugas Satnarkoba Polres Karawang karena mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Perbuatan seperti itu tentu saja dianggap mencoreng profesi guru.  Sedangkan Solopos.com tanggal 11 Oktober 2012 melaporkan adanya guru di daerah Cawas Klaten yang tega-teganya menampar siswanya, sampai telinganya sakit.  Sekelompok masyarakat yang tidak terima, serta merta menggruduk guru tersebut dan sekolahnya untuk meminta pertanggungjawaban. Ada juga berita penggerebekan terhadap terduga pasangan selingkuh.  Ternyata di antara mereka yang tertangkap tangan adalah guru.

Guru pun diduga kurang memperhatikan aspek kualitas dirinya.  Yang dikejar hanya aspek materi dan penghasilan. Hal itu dapat dilihat dari masih maraknya kasus pungutan liar yang dilakukan sekolah dan pastinya langsung atau tidak langsung melibatkan guru.  Koran Tempo.com, 13 Juli 2012 melaporkan bahwa sejak 25 Juni 2012, ICW dan Ombudsman membuka posko pengaduan di 21 kabupaten/kota di tujuh propinsi bagi kejadian pungutan liar saat penerimaan siswa baru.  Ternyata, terdapat 112 kasus pungutan liar di 108 sekolah  saat penerimaan siswa baru.   Nilai pungutan liar untuk masuk SD rata-rata senilai Rp 1,3 juta, masuk SMP sebesar Rp 2 juta dan masuk SMA sebesar Rp 2,4 juta.  Konon kabarnya pungutan liar tidak hanya pada saat penerimaan siswa, namun juga setelah siswa diterima dan ketika siswa mau lulus.  Memanfaatkan posisi kuat, sekolah dapat mengendalikan komite sekolah, guru, dll pihak untuk melakukan berbagai penyimpangan dana publik, korupsi dan penyuapan. www.Jurnas.com, 19 Oktober 2012 melaporkan kajian yang dilakukan FGII dan ICW menyebutkan salah satunya berupa suap untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi di rapor dan ijazah.  Intinya adalah kajian adanya penyimpangan dana publik, suap menyuap dan korupsi di sekolah yang sedikit banyak, langsung atau tidak langsung melibatkan para guru.

Adanya ‘sergur’ dan tunjangannya yang ‘sedikit’ itu, ternyata dikhawatirkan hanya sedikit berpengaruh dalam mendongkrak kualitas guru.  Sebagaimana diketahui, ‘sergur’ dan tunjangannya diharapkan meningkatkan kualitas guru.  UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru adalah pekerjaan profesional dan untuk menjabat profesi itu harus memenuhi berbagai syarat.  Bukti telah profesional adalah memiliki sertifikasi sebagai seorang pendidik. Selanjutnya guru yang sudah dianggap sebagai guru profesional tersebut berhak mendapatkan tambahan penghasilan yang disebut sebagai tunjangan profesi.

Dalam pelaksanaannya sertifikasi guru dapat ditempuh melalui  3 jalur, yaitu: jalur porto polio, jalur PLPG dan sertifikasi jalur pendidikan profesi melalui Uji Kompetensi Guru (UKG). Hanya saja patut disayangkan karena ternyata pelaksanaan sertifikasi guru mengakibatkan banyak guru yang stress karena meskipun nantinya terdapat kompensasi berupa tunjangan profesi namun mereka merasakan beban kerjanya semakin berat. Untuk memenuhi persyaratan, guru harus mendapatkan dan mengumpulkan berbagai sertifikat seminar, workshop, pelatihan pendidikan, harus melakukan penelitian, dan selanjutnya harus mengikuti uji kompetensi guru yang serba computerized dan  penuh teknologi informasi.

Tentu saja para guru menjadi hiruk pikuk dan tunggang langgang berusaha memenuhinya.  Berbagai hal, walaupun kadang-kadang kurang patut, dilakukan pula oleh guru demi selembar sertifikat guru profesional.  Contohnya adalah tidak hadir tapi titip nama untuk sekadar mendapat sertifikat seminar, pelatihan dan workshop.  Contoh lain adalah penelitian yang sekadar  seberkas laporan penelitian juga mudah ditemui.  Uji kompetensi pun jadi suatu hal yang mendebarkan, apalagi bagi guru yang usianya sudah cukup lanjut yang kurang mampu dalam penguasaan komputer dan teknologi informasi.

Setelah memenuhi syarat menjadi guru profesional, seorang guru dituntut untuk memenuhi berbagai kewajiban. Seperti batas minimal jumlah jam mengajar, batas pendidikan minimal, dll.  Ternyata hal itu pun tidak mudah.  Tunjangan profesi yang diharapkan mempermudah guru memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan keprofesionalannya, ternyata sudah habis untuk berbagai keperluan hidup, termasuk gali lubang tutup lubang hutang piutang.  Karena itu dapat dikatakan bahwa harapan sertifikasi guru dapat meningkatkan kualitas guru ibarat jauh panggang dari api. Pertanyaannya, bagaimanakah pandangan Islam dalam peningkatan kualitas guru? Peningkatan kualitas guru dapat dilakukan melalui pendidikan guru yang terus menerus.  Selain itu, berbagai hal yang mendukung kualitas guru, yaitu kurikulum pendidikan yang benar, sarana dan prasarana pendidikan yang cukup dan penggajian yang layak harus tersedia.  Tentu saja tidak mudah untuk mewujudkannya.  Diperlukan dukungan seluruh masyarakat, khususnya negara. 

 

Pendidikan Guru Yang Terus Menerus

Pendidikan  bagi guru harus selalu diadakan.  Pendidikan ini mencakup materi-materi terbaru maupun teknik mendidik dan mengajar yang baik.  Dengan  pendidikan semacam ini kualitas dan profesionalitas guru selalu dapat dijaga dan ditingkatkan.  Siswa pun akan merasakan efek positif dari pendidikan guru secara terus menerus ini.  Siswa mudah menerima ‘pesan’ pendidikan dan pengajaran yang diberikan guru.

 

Kurikulum Pendidikan Yang Benar

Kurikulum pendidikan yang benar sangat membantu guru dalam meningkatkan kualitasnya, sebab guru bekerja sesuai dengan kurikulum pendidikan yang ada. Kenyataannya, kurikulum pendidikan sekarang ini masih kurang sesuai.  Yang paling nyata kekurangsesuaiannya adalah adanya sekulerisme dalam kurikulum pendidikan, yaitu adanya pemisahan agama dari kehidupan dalam kurikulum pendidikan.  Sebagaimana diketahui, sekulerisme menyebabkan orang menjadi prakmatis dan tidak memperhatikan idealisme. Guru pun akan terpengaruh. Mendidik berdasar kurikulum yang intinya adalah sekulerisme prakmatisme dan kurang memperhatikan idealisme, sedikit demi sedikit hidupnya akan terpengaruh pula.  Dampaknya guru menjadi prakmatis dalam profesionalismenya.  Mau profesional asal mendapat manfaat dari profesionalisme guru.  Sebaliknya, kalau profesionalisme guru kurang atau tidak ada manfaatnya, guru tidak mau profesional dan berkualitas, namun tetap mengambil tunjangan profesinya.   Semua ini terjadi karena kurikulum pendidikan yang tidak benar.  Oleh karena itu untuk mendukung mewujudkan guru yang berkualitas haruslah didukung kurikulum yang benar.

 

Sarana dan Prasarana Pendidikan Yang Cukup

Sarana dan prasarana pendidikan yang cukup sangatlah dibutuhkan oleh para guru, sebab para guru bekerja mendidik dan mengajar para siswa.  Sarana dan prasarana pendidikan menyebabkan ‘pesan’ pendidikan dan pengajaran yang disampaikan guru lebih mudah diterima siswa.  Seberapa pun tingginya kualitas guru,  kalau tidak didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan yang cukup, boleh jadi kurang maksimal dalam menyampaikan ‘pesan’ pendidikan dan pengajaran kepada siswa.  Oleh karena itu, untuk mendukung terwujudnya guru yang berkualitas diperlukan sarana dan prasarana pendidikan yang cukup.

Penggajian Yang Layak

Penggajian yang layak sangat bermanfaat bagi guru, sebab dia akan merasa dihargai sesuai dengan kualitasnya.  Kalau tidak digaji secara layak, guru akan merasa tidak dihargai kualitasnya, bahkan berdampak pada mencari pekerjaan lain yang lebih memberikan penggajian yang layak.  Jadi penggajian yang layak mendukung mewujudkan guru yang berkualitas.

 

Tanggung Jawab Negara

Negara harus bertanggung jawab secara maksimal dalam pendidikan.  Setiap pengurangan tanggung jawab negara dalam pendidikan, yaitu pengurangan penggajian yang layak bagi guru, pengurangan sarana dan prasarana pendidikan yang mencukupi, setengah-setengah dalam penetapan kurikulum yang benar, dan hanya temporer mendidik guru pasti akan berdampak negatif bagi para guru dan pendidikan umumnya.  Meningkatkan kualitas guru ibarat menggantang asap.  Sertifikasi guru hanyalah menghabiskan anggaran negara dan jauh panggang dari api untuk meningkatkan kualitas guru.  Media masa pun akan dihiasi berita-berita negatif dari para guru, baik itu perilakunya yang buruk atau kualitasnya yang rendah.

Oleh karena itu negara harus memikul penuh tanggung jawab pendidikan. Pendidikan terus menerus bagi guru, kurikulum pendidikan yang benar, sarana dan prasarana pendidikan yang cukup dan penggajian yang layak harus didukung negara.      Hanya dengan cara itu akan terwujud guru berkualitas yang digugu dan ditiru. Selain itu juga harus diingat bahwa kualitas guru sekarang ini akan mempengaruhi kualitas  anak didiknya sebagai generasi penerus yang akan datang. Karena itu semua fihak tidak boleh melalaikan masalah ini. Allah Swt berfirman dalam QS. An Nisaa’ ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”

MARI MENJADI GURU YANG BERKUALITAS SESUAI AJARAN ISLAM.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: