“TANYA: BENARKAH ISLAM MELINDUNGI WANITA DAN ANAK?”

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) yang dimulai tanggal 25 November sampai 10 Desember memang sudah usai. Selama waktu itu banyak digelar berbagai kegiatan, seperti: pameran karya perempuan, pentas seni dan fashion show anak, talk show, seminar, donor darah, bazar untuk penggalangan dana, bagi-bagi stiker/pin, flashmob, dll. Berbagai kegiatan tersebut tentunya dimaksudkan untuk mendorong upaya penghapusan kekerasan terhadap wanita dan anak di seluruh dunia. Sayangnya, sampai saat ini tanda-tanda untuk terhapusnya kekerasan terhadap wanita maupun anak sama sekali belum nampak.

Sejak digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang menekankan bahwa kekerasan terhadap wanita dan anak merupakan bentuk pelanggaran HAM, berbagai kasus kekerasan terhadap wanita justru mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di berbagai wilayah di Indonesia juga terlihat bahwa kekerasan terhadap wanita semakin bertambah. Sebagai contoh di Solo, berdasar data yang diambil tahun 2010 terjadi 110 kasus, tahun 2011 mulai bulan Januari-November terjadi 89 kasus, tahun 2012  sejak Januari-Juni sudah mencapai 83 kasus. Sedangkan menurut koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sragen (APPS), kasus kekerasan seksual berbasis gender di kabupaten Sragen terus mengalami peningkatan dan sepanjang tahun 2012 terjadi 52 kasus. Yang paling menonjol adalah kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yaitu 32 kasus. (Jawa Pos Radar Solo, 10 Desember 2012).

Antaranews.com, 10 Desember 2012 juga memberitakan bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Cianjur, mengalami peningkatan yang signifikan. Selama satu tahun ini, tingkat kekerasan terhadap perempuan meningkat 60 persen. Adapun berdasarkan data yang diperoleh Metrojambi.com,27 November 2012, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang tahun 2012 masih cukup tinggi. Hingga November 2012  tercatat 91 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sudah dilaporkan ke Polresta Jambi.

Meningkatnya kasus-kasus seperti itu menunjukkan semakin terbukanya korban kekerasan di masyarakat. Artinya, selain jumlah kasusnya bertambah, jumlah korban yang melaporkan kasusnya juga bertambah. Para wanita korban kekerasan mulai terbuka dan mengadukan kekerasan yang menimpanya dengan harapan mendapatkan perlindungan hukum. Sayangnya, para wanita korban kekerasan yang terbuka kasusnya dan ingin mendapatkan perlindungan hukum seringkali tidak mendapatkannya. Alih-alih mendapatkan perlindungan hukum, ternyata justru mereka yang dipersalahkan dan dihukum, baik secara mental maupun fisik.

Lihat saja peristiwa yang menimpa Fany Octora, mantan istri Bupati Garut Aceng H.M.Fikri. Secara psikologis Fany terguncang dan menjadi labil begitu kasusnya mendapat sorotan berbagai kalangan dan media. Fany yang tidak bersalah dan seharusnya mendapat perlindungan hukum justru mendapatkan hukuman mental.

Begitu pula peristiwa yang menimpa Bripka Tatik -seorang polwan di Polda- yang mengirim surat ‘curhat’ ke Kapolri karena merasa diterlantarkan suaminya yang juga seorang polisi. Bripka Tatik melakukan itu karena ingin mendapatkan perlindungan hukum untuk keluarganya. Namun imbasnya, majelis hakim PN Semarang memvonisnya tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan karena dinilai terbukti melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik seorang wanita pengusaha di kota Semarang. (Jawa Pos, 20 Januari 2012).

 

Waspada Terhadap Sekulerisme dan Liberalisme

Banyak catatan sejarah yang menunjukkan bahwa awal dari tindakan kekerasan adalah dari dunia Barat sendiri. Pada waktu itu, masyarakat di sana memandang rendah  wanita dan menganggap pentingnya pria mendominasi kehidupan wanita dan anak. Berbagai pandangan buruk dilekatkan pada wanita, bahkan mereka waktu itu masih mempertanyakan apakah wanita termasuk manusia atau bukan. Sedangkan anak-anak dianggap makhluk yang lemah fisik dan akalnya sehingga dianggap tidak berguna,  Dengan keadaan seperti itu dapat dibayangkan betapa buruknya perlakuan yang diperoleh wanita dan anak.

Sekulerisme tidak dapat berbuat banyak menyelesaikan masalah kekerasan yang dihadapi wanita dan anak.  Masalahnya, sekulerisme membenarkan semua agama, kepercayaan dan sekte selama tidak masuk wilayah negara dan kekuasaan.  Agama, kepercayaan dan sekte yang mendukung kekerasan terhadap wanita dan anak juga dibenarkan.  Pada masyarakat sekulerisme, maraknya kekerasan terhadap wanita dan anak berbanding lurus dengan maraknya agama, kepercayaan dan sekte, termasuk yang menistakan wanita dan anak.  Karena itu sekulerisme tidak akan mampu berbuat banyak dalam menyelesaikan masalah kekerasan terhadap wanita dan anak.

Apalagi, sekulerisme mencegah agama Islam masuk dalam wilayah negara dan kekuasaan.  Padahal agama Islam memiliki komponen lengkap, termasuk komponen kenegaraan dan hukum untuk  memuliakan wanita dan anak serta mengatasi masalah kekerasan terhadap wanita dan anak. Dapat dibayangkan betapa kekerasan terhadap wanita dan anak akan merajalela sebab agama Islam dihalangi oleh sekulerisme laknatullah untuk menyelesaikannya.

Di sisi lain, sekulerisme mengakomodir hukum buatan manusia yang penuh tarik ulur dan tidak menyelesaikan permasalahan.  Dapat dibuktikan dengan kasus yang dialami Fany.  Kalau hukum Islam yang diberlakukan, memungkinkan Bupati Aceng dipidana terkait dengan pelecehan hukum-hukum pernikahan.  Perlu diketahui, pelecehan satu saja terhadap hukum Islam akan mendapat hukuman yang sangat berat.  Kenyataannya hukum yang dipakai tidak jelas.  Justru Fany yang terhukum secara mental dengan maraknya pemberitaan mengenai kasusnya.  Sedangkan Bupati Aceng hanya mengalami sedikit gonjang-ganjing terhadap kursi Bupatinya.  Kasusnya sendiri tertangani atau tidak, dan bagaimana hukumannya, sepertinya orang sudah mafhum bahwa Bupati dapat ‘bernafas lega’.  Sangat jelas sekali sekulerisme laknatullah tidak mampu berbuat banyak menyelesaikan masalah kekerasan terhadap wanita dan anak.

Bagaimana dengan liberalisme? Jawabannya, setali tiga uang dengan sekulerisme yaitu tidak mampu menyelesaikan kekerasan terhadap wanita dan anak. Sebagai bukti bisa dilihat draf Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) yang lebih pada mempropagandakan HAM dan liberalisme daripada menyelesaikan kekerasan terhadap wanita dan anak.  Wajar saja kalau umat Islam di Indonesia banyak yang memprotes dan menolaknya.

Sekulerisme dan liberalisme, produk hukum maupun budayanya, bukan jawaban terhadap kekerasan yang dialami wanita dan anak.  Hanya ajaran Islam yang mampu melindungi semua manusia dari kejahatan di dunia dan adzab akhirat, walaupun orang kafir dan musyrik benci.

 

Ajaran Islam Melindungi Seluruh Manusia Termasuk  Wanita Dan Anak

            Budaya Islam adalah budaya memuliakan anak, sebab anak yang sholih/sholihah dapat memberikan tambahan pahala yang terus menerus kepada orang tuanya. Bahkan, setelah orang tuanya meninggal, masih memiliki kemungkinan mendapat pahala yang terus mengalir dari anak yang sholih/sholihah yang mendoakannya.  Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang anak Adam mati putus amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat kepada orang lain atau anak sholih yang berdoa untuknya“. Jadi jelaslah bahwa budaya Islam adalah budaya memuliakan anak.  Sebaliknya, Islam tidak memiliki budaya kekerasan terhadap anak.  Kekerasan terhadap anak merugikan orang tua dan lingkungan si anak sebab kekerasan menyebabkan si anak terluka hatinya, dendam dan susah menjadi anak yang solih/solihah. Si anak pun  tidak akan menjadi anak solih/solihah dan tidak mau mendoakan orang tuanya.  Manyadari risiko itu, tentunya orang tua  dan lingkungan si anak akan menjauhi kekerasan terhadap anak dan berusaha memuliakan anak.

Budaya  Islam adalah budaya memuliakan wanita sebab wanita berjodoh dengan laki-laki.  Perjodohan tersebut diikat dengan ikatan pernikahan Islam dan menghasilkan anak-anak dan generasi penerus sholih/sholihah yang mendoakan orang tuanya dan menyebabkan orang tua mendapat pahala tidak terputus.  Hal itu bisa terjadi kalau si wanita adalah wanita sholihah yang dapat terbentuk dari lingkungannya yang tidak membudayakan kekerasan terhadap wanita.  Bahkan wanita sholihah hanya terbentuk jika lingkungannya memiliki budaya mempersiapkan wanita sholihah untuk berjodoh dengan laki-laki sholih dalam ikatan pernikahan Islami dan  menghasilkan generasi penerus sholih/sholihah yang selalu mendoakan orang tuanya sehingga orang tuanya mendapat pahala yang terus menerus.  Hal seperti itu, tentu saja tidak mungkin terjadi dalam budaya yang menghalalkan kekerasan terhadap wanita.  Jadi budaya Islam adalah budaya memuliakan wanita bukan menghalalkan kekerasan terhadap wanita.

Budaya memuliakan wanita dan anak hanya dapat terjadi kalau didukung oleh budaya yang lain.  Budaya pemerintahan, hukum, politik, pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi dan berkeluarga  harus saling mendukung satu  dengan yang lain untuk mendukung budaya memuliakan wanita dan anak.  Budaya seperti itu sangat kompleks dan tidak mungkin budaya buatan manusia.  Budaya itu berasal dari ajaran Allah SWT yang menciptakan manusia dan Maha Mengetahui bagaimana memuliakan manusia, laki-laki, wanita dan anak-anak di dunia maupun di akhirat.  Budaya itu berasal dari ajaran agama Islam.  Sungguh, Allah SWT telah memberikan nikmatNYA kepada umat manusia semua, sangat disayangkan kalau umat manusia mendustakannya.  Allah SWT berfirman dalam surat Ar Rahmaan: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.

Dari sini jelas bahwa masalah kekerasan terhadap wanita dan anak tidak akan tuntas dengan hukum dan budaya sekulerisme-liberalisme. Budaya Islamlah yang akan melindungi wanita dan anak. Yaitu dengan menerapkan hukum-hukum yang berasal dari Sang Pencipta manusia sehingga terwujud budaya memuliakan wanita dan anak yang didukung oleh budaya pemerintahan, hukum, politik, pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi dan berkeluarga yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Itu semua akan menyebabkan manusia, laki-laki maupun wanita, anak-anak maupun orang tua, mendapatkan perlindungan di dunia dan terhindar dari azab akhirat.

Mari kita mengingat firman Allah SWT dalam QS. An Nisaa’ ayat 115: “Dan siapa saja yang menentang Rasul (Muhammad) sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: