KESETARAAN PALSU ITU TIDAK DIBUTUHKAN PARA WANITA

Hari ini 8 Maret, sebagian dari kalangan wanita di berbagai wilayah merayakan peringatan hari wanita sedunia. Tidak berbeda dengan peringatan hari Kartini, peringatan hari wanita dianggap sebagai momen penting penanda keberhasilan gerakan wanita dalam memperjuangkan kesetaraan di bidang politik, ekonomi maupun sosial. Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa momen hari wanita merupakan refleksi kemenangan gerakan wanita dalam memperjuangkan hak-hak dan kesetaraannya dengan kaum pria. Adanya kaum wanita yang menduduki posisi tertentu di parlemen atau terpilih sebagai kepala Negara/kepala pemerintahan, hal ini dianggap sebagai salah satu indikasi keberhasilan gerakan wanita sebab sudah ada wanita yang menunjukkan partisipasinya dalam bidang politik yang selama ini banyak didominasi kaum pria.

Di Negara-negara Barat sendiri, peringatan Hari Wanita  sudah mulai dirayakan pada  sekitar tahun 1910-an, tetapi setelah itu tidak dirayakan.  Ketika ide feminisme mulai dipropagandakan pada tahun 1960-an, perayaan hari wanita dibangkitkan lagi.  Sejak  PBB mulai menjadi sponsor pada tahun 1975, perayaan hari wanita dirayakan secara internasional dan  berlanjut  sampai sekarang.

Menurut www.lbh-apik.or.id, secara historis ada beberapa kejadian yang menjadi latar belakang ditetapkannya hari wanita. Kejadian yang kemudian mendapatkan sorotan dan kecaman dari berbagai fihak yaitu kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang wanita kehilangan nyawanya. Peraturan perburuhan dan kondisi kerja yang buruk di Amerika Serikat dianggap sebagai penyebab peristiwa kebakaran tersebut terjadi.  Kemudian pada tahun 1917, karena dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang hal itu mendorong wanita-wanita Rusia turun ke jalan pada hari minggu terakhir di bulan Februari  dan menyerukan “Roti dan Perdamaian”. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para wanita tersebut tetap bertahan. Empat hari kemudian, Tsar (raja) turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak wanita untuk ikut serta dalam pemilu. Hari itu bertepatan dengan tanggal 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian (kalender Masehi). Sejak saat itulah Hari Wanita Sedunia diperingati pada setiap 8 Maret.

Jika dicermati berbagai momen peringatan terkait kaum wanita seperti hari wanita, hari Kartini, hari anti kekerasan terhadap wanita, hari penghormatan hak asasi, dll, selalu mengusung anggapan tentang kesetaraan palsu, seperti: tidak ada perbedaan fisik antara wanita dan pria, tidak ada pembagian peran antara wanita dan pria, wanita dituntut bekerja sebagaimana pria, dll.  Itulah dasar dari kesetaraan gender yang selalu menjadi isu utama dalam setiap hari-hari peringatan gerakan wanita sekaligus dianggap sebagai bagian dari perjuangan wanita dalam menuntut kesetaraan dan hak-haknya.

Kenyataannya kesetaraan palsu ini tidak menyelesaikan masalah-masalah terkait kekerasan terhadap wanita, kemiskinan wanita, tingkat pendidikan yang rendah, pelecehan, diskriminasi kerja, dll. Masalah-masalah seperti itu masih terus terjadi bahkan ada kecenderungan meningkat. Setiap tahun Komnas Perempuan mendokumentasikan data kekerasan terhadap perempuan yang terus mengalami peningkatan. Tahun 2010, data perempuan yang mengalami kekerasan mencapai 105.103 orang dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 119.107 orang. (www.migrantcare.net, 8 Maret 2012).  Selain itu, pemberitaan Kompas.com, 14 Maret 2011 yang merupakan pernyataan Direktur Biro ILO untuk Kesetaraan Gender pada peringatan Hari Wanita Internasional tahun 2011 lalu menyatakan bahwa kondisi wanita pekerja umumnya ditandai dengan upah yang rendah, jam kerja yang panjang, kondisi kerja informal dan wanita yang terjebak dalam bentuk pekerjaan rentan secara global lebih tinggi (51,8%) dari laki-laki (48,2%).

Demikian juga berdasar data MDG’s (2010) diketahui bahwa sepertiga penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan, sekitar 70%-nya adalah wanita. Di Indonesia (BPS, 2009), dari jumlah penduduk miskin yang mencapai 32,53 juta jiwa (14,15%), 70% dari mereka adalah wanita.  Sedangkan angka buta aksara wanita sebanyak 12,28%, sedangkan laki-laki sebanyak 5,84%. Sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) laki-laki jauh lebih tinggi (86,5%) dari wanita (50,2%). (www.stiead.ac.id).

Pertanyaannya, apakah ide kesetaraan palsu itu dibutuhkan para wanita? Padahal banyak sekali fakta yang menunjukkan bahwa ide kesetaraan palsu ini tidak solutif terhadap permasalahan kehidupan para wanita. Artinya, kehidupan para wanita tidak lebih baik dengan  penerapan ide kesetaraan yang palsu. Apakah kondisi seperti ini bisa dikatakan sebagai bentuk keberhasilan para wanita? Bagaimanakah pandangan Islam dalam masalah ini?

 

Ide Kesetaraan Yang Memuat Ide Feminisme: Palsu!

            Banyak pihak yang tidak menyadari adanya perbedaan yang nyata antara pandangan Islam dengan pandangan feminisme dalam hal kesetaraan wanita dengan pria.  Pandangan Islam tentang kesetaraan adalah pandangan yang asli, sedangkan pandangan feminisme adalah pandangan yang palsu.  Seharusnya yang dipilih dan digunakan adalah yang asli dan hakiki, yaitu pandangan berdasarkan Islam.

Ajaran Islam memandang bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan Allah Swt sebagaimana pria dan tidak ada perbedaan di antara keduanya dilihat dari sisi kemanusiaannya. Allah Swt menyiapkan keduanya untuk bersama-sama mengarungi kehidupan dunia dan hidup berdampingan dalam sebuah masyarakat. Karena itu, ajaran Islam memberikan aturan-aturan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan manusia tidak dilihat dari konteks wanita maupun pria. Yang dilihat adalah ada permasalahan manusia yang membutuhkan aturan. Tidak dilihat apakah ini masalahnya wanita dan ini solusi untuk wanita atau ini masalahnya pria dan ini solusi untuk pria. Dari sini dapat dikatakan bahwa ajaran Islam memandang bahwa wanita maupun pria memiliki kedudukan yang sama dihadapan aturan/hukum syara’ Islam.

            Memang adakalanya terdapat aturan yang berbeda antara wanita dengan pria misalnya dalam masalah hak dan kewajiban. Sebagai contoh: kaum pria diwajibkan mencari nafkah untuk keluarganya sedangkan untuk wanita hal tersebut tidak wajib. Begitu pula perbedaan aturan hukum dalam masalah persaksian, warisan, pernikahan, mahar, dll. Perbedaan itu bukan karena wanita dianggap lebih lemah dari pria atau pria lebih kuat dari wanita. Perbedaan itu juga tidak terkait dengan masalah kesetaraan atau ketidaksetaraan. Hal itu hanya merupakan pembagian peran dari Allah Swt sebagai pencipta wanita maupun pria yang sesuai untuk masing-masing.

Dalam hal ini, jika wanita maupun pria beraktivitas sesuai peranannya masing-masing tentulah kehidupan ini akan berjalan dengan penuh ketenangan sebab keduanya dapat saling meyayangi dan mengasihi. Allah Swt berfirman  dalam surat Ar Ruum ayat 21:  “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.  Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.

            Hal tersebut berbeda dengan pandangan feminisme. Feminisme menginginkan pembagian peran termasuk pula pembagian hak dan kewajiban yang sama antara wanita dan pria dalam segala urusan. Padahal faktanya itu tidak mungkin terjadi. Ada perbedaan dalam diri wanita dan pria yang tidak akan berubah sampai akhir jaman. Perbedaan itu merupakan kehendak Allah Swt sebagai pencipta keduanya. Jika kemudian wanita dipaksakan untuk berperan yang sama dengan peran pria atau dibebankan kepada wanita kewajiban yang sama dengan pria, tentulah kehidupan ini menjadi kacau. Meningkatnya masalah-masalah yang terkait dengan kekerasan terhadap wanita, kemiskinan wanita, kebodohan wanita, dll, bisa dijadikan bukti.

Dengan demikian pandangan feminisme terhadap masalah kesetaraan antara wanita dengan pria bukanlah pandangan yang tepat untuk kehidupan manusia. Lebih dari itu, pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang berasal dari wahyu Allah Swt. Dia-lah Sang Pencipta manusia, alam semesta dan seluruh isinya yang berhak mengatur dengan aturan-aturanNYA untuk kemaslahatan kehidupan manusia, wanita maupun pria. Karena itu yang dibutuhkan kaum wanita dan kaum pria adalah ketaatan mereka terhadap aturan-aturan Allah Swt. Ketaatan itu akan mengantarkan manusia pada kebaikan kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah Swt berfirman:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNYA telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS.Al Ahzab ayat 36).

 

Penutup

Pandangan tentang kesetaraan ada yang asli dan ada yang palsu.  Kesetaraan yang asli adalah kesetaraan yang sesuai ajaran Islam.  Kesetaraan yang palsu adalah kesetaraan yang berasal dari feminisme.  Kesetaraan yang asli dan hakiki menyebabkan wanita dalam keadaan yang terhormat, kesetaraan yang palsu menyebabkan wanita dalam keadaan yang terpuruk.  Kesetaraan yang asli harus diambil, sedangkan kesetaraan yang palsu harus ditinggalkan.  Wanita tidak membutuhkan kesetaraan yang palsu.  Bahkan seluruh dunia, baik pria atau wanita tidak membutuhkan kesetaraan yang palsu.

  Peringatan-peringatan yang mendukung kesetaraan yang palsu seharusnya ditinggalkan saja.  Tidak ada yang diuntungkan dari kesetaraan palsu.  Keterpurukan akan selalu menerpa, belum lagi kemurkaan Allah Swt bagi penganut dan pendukung kesetaraan palsu. 

Sebaliknya, menyongsong keinsyafan pada kesetaraan yang asli harus selalu dilakukan.  Contohnya dengan mendidik umat Islam  -wanita maupun pria- dengan akidah dan aturan/hukum Islam sampai terbentuk dalam dirinya kepribadian yang kuat sehingga mampu memahami ide-ide yang tidak sesuai dengan agama Islam dan meninggalkan ide-ide tersebut.   Contoh yang lain, negara berperan aktif untuk menghidupkan ide kesetaraan yang asli dan mematikan ide kesetaraan yang palsu.  Hanya dengan itu, umat manusia mendapatkan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. An Nahl ayat 97:”Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: