MEMULIAKAN WANITA DENGAN ATURAN ALLAH SWT

Terungkapnya teka-teki pelaku pembunuhan pelajar putri madrasah tsanawiyah di kabupaten Tegal akhir bulan lalu sungguh membuat resah masyarakat. Sebab pelaku pembunuhan itu adalah seorang pelajar putra teman satu sekolahnya sendiri. Menurut pengakuan pelaku ia mencabuli gadis tersebut sebelum membunuhnya. (Suara Merdeka, 30 Juni 2013). Begitu juga kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap seorang siswi SMK YPKK 3 Sleman Jogjakarta beberapa waktu lalu.  Ternyata pelaku dari pemerkosaan dan pembunuhan itu adalah teman-teman sekolahnya sendiri atas inisiatif ayah dari salah satu pelaku.(www.krjogja.com, April 2013).

Awal bulan Maret lalu unit PPA Polres Metro Jakarta Timur juga telah menerima laporan dari orang tua seorang remaja putri yang mengaku diperkosa secara bergilir oleh 10 teman facebooknya di sebuah rumah kontrakan salah seorang pelaku. Korban mengaku kepada ibunya setelah beberapa hari menghilang dari rumah dan tidak tahan memendam beban psikologis. (Jawa Pos, 7 April 2013).

Peristiwa tersebut menambah panjang deretan kekerasan dan pembunuhan terhadap wanita yang terjadi di negeri ini. Bukan mustahil pada masa mendatang akan terus terjadi. Terbukti, meskipun pelakunya sudah ditangkap dan dihukum, kasus-kasus seperti itu masih juga terjadi di daerah lainnya. Bahkan kasus pelecehan seksual, kekerasan, pemerkosaan, termasuk pula kasus pemerkosaan yang disertai pembunuhan semakin beragam dan menjamur.

Sebelumnya, pada 30 April 2012, Komnas Perempuan juga menerima pengaduan keluarga IN (24 tahun) mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat sebagai korban pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Berdasar catatan Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2011 telah tercatat sebanyak 2.937 kasus kekerasan seksual yang terjadi di ruang publik. Lembaga ini juga menyesalkan atas terulangnya kasus-kasus serupa. (www.komnasperempuan.or.id).

Kenyataan ini jelas menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan masyarakat. Perasaan cemas dan khawatir selalu menyelimuti kalau-kalau salah seorang dari keluarga atau kerabatnya, tetangganya, temannya, dll, akan menjadi korban selanjutnya.  Padahal sudah pasti masyarakat tidak menginginkan itu terjadi.

Terulangnya peristiwa-peristiwa seperti itu juga menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap wanita. Adanya kondisi yang tidak dapat  memberikan rasa aman pada wanita apalagi untuk memuliakannya terkesan tidak memungkinkan. Namun jika hal ini dibiarkan terus terjadi akan menghancurkan kehidupan wanita yang lambat laun akan membawa pada kehancuran umat manusia seluruhnya. Karena itu dibutuhkan solusi yang mampu melindungi wanita, menjaga kehormatannya sekaligus menempatkan wanita pada posisi yang mulia.

 

Berbagai Pandangan Masyarakat

             Sebagian dari masyarakat sebenarnya menyadari bahwa maraknya pelecehan seksual, pemerkosaan bahkan sampai terjadi pembunuhan terhadap wanita membutuhkan solusi sehingga peristiwa seperti itu tidak berlanjut. Dari sini muncul anggapan, para wanita dengan pakaian seksi atau baju mini di tempat umum dapat menyebabkan terjadinya tindakan pelecehan seksual, pemerkosaan maupun pemerkosaan yang berlanjut pada pembunuhan. Namun sebagian kalangan tidak setuju dengan anggapan tersebut dengan alasan bahwa di daerah pedalaman yang mengenakan pakaian terbuka dan tidak menutup aurat, tidak menimbulkan masalah yang terkait dengan kejahatan dan penyimpangan seksual. Mereka menganggap, tidak bisa mengendalikan nafsu dari para pelaku itulah yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual, pemerkosaan dan perilaku penyimpangan seksual lainnya. Karena itu dalam pandangan mereka, hukuman yang berat bagi para pelaku dianggap sebagai solusi untuk mencegah terjadinya kejahatan seperti itu bukan dengan cara melarang para wanita memakai pakaian seksi/mini. Benarkah?

Ada pula yang berpendapat, depresi dalam kehidupan sehingga menimbulkan rusaknya pola pikir pelaku dan banyaknya perceraian, bisa menjadi sebab terjadinya berbagai kejahatan dan penyimpangan seksual. Misal, tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak kandungnya sendiri atau anak tirinya, paman terhadap keponakannya, atau kakak terhadap adiknya. Dari sini kemudian dilontarkan pandangan bahwa untuk mencegah terjadinya tindakan kejahatan maupun penyimpangan seksual harus dimulai dari level keluarga (rumah tangga). Misal dengan memisahkan kamar tidur anak laki-laki dengan anak perempuan, mengajarkan etika untuk masuk kamar, memperbanyak kegiatan keagamaan di rumah, dll. Kalangan ini juga sepakat pelakunya harus diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Benarkah?

Selain itu, adanya pengakuan dominansi/superioritas laki-laki terhadap wanita yang sudah membudaya di masyarakat dianggap pula menjadi salah satu penyebab terjadinya tindakan kejahatan maupun penyimpangan seksual terhadap wanita. Dengan budaya seperti ini wanita diposisikan sebagai pihak yang lemah sedangkan laki-laki menduduki posisi yang kuat. Dari sini muncul pendapat bahwa pendidikan mengenai kesetaraan gender yang mengharuskan kesamaan peran dan posisi antara laki-laki dan wanita diyakini dapat mencegah terjadinya tindakan seksual yang menyimpang.  Padahal kenyataannya, pencegahan melalui program pendidikan kesetaraan gender dan pendidikan tentang perilaku seksual yang tepat, tidak mampu mencegah terjadinya berbagai tindakan kejahatan seksual. Buktinya, di negara Amerika yang mengaku sudah menerapkan pendidikan kesetaraan gender, setiap menit terdapat lebih dari 24 orang wanita yang melaporkan tindakan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dialaminya. (Liputan6.com, 15 Desember 2011).

Bahkan serangkaian kampanye anti kekerasan seksual dengan model pendidikan dan pelatihan  perilaku seksual yang tepat, yang sudah diterapkan di lingkungan angkatan bersenjata Amerika Serikat selama beberapa tahun  sudah dianggap gagal dan terbukti tidak mampu mencegah terjadinya tindakan kekerasan seksual. Hal ini diakui oleh Anu Bhagwati direktur eksekutif Service Women’s Action Network yang merupakan mantan personel militer. Sadar bahwa jalur pelatihan seperti itu tidak membawa efek, Bhagwati menginginkan dituntaskannya kasus-kasus kekerasan seksual melalui sistem peradilan. (tempo.co, 20 Mei 2013).

Jika diperhatikan dengan teliti berbagai tindak kejahatan terhadap wanita dan terulangnya kejadian seperti itu, merupakan masalah komplek yang muncul akibat diterapkannya pemikiran kebebasan pada kehidupan manusia sekarang ini. Dengan pemikiran kebebasan ini, siapa pun bisa melakukan apa saja yang dia mau. Ukuran benar dan salah, baik dan buruk, sesuai selera sendiri berdasar kepentingannya masing-masing. Sehingga penilaian terhadap suatu hal apakah itu baik/buruk, benar/salah, senang/benci, terserah pada yang memberi nilai. Apa yang dinilai baik oleh seseorang bisa jadi bernilai buruk menurut orang lain. Begitu pula apa yang dianggap benar oleh sebagian orang mungkin dianggap salah oleh sebagian orang lainnya. Dan yang demikian itu terjadi dalam seluruh aspek kehidupan. Akibatnya menjadi lumrah jika banyak orang yang berbuat seenaknya. Misal: ada wanita yang seenaknya berpakaian tanpa mempertimbangkan menutup aurat atau tidak, ada perusahaan yang seenaknya mengeksploitasi kecantikan wanita untuk kepentingan bisnisnya, ada pihak-pihak yang memang  memposisikan wanita sebagai komoditas seksual sehingga wanita dianggap sebagai pemuas nafsu seksual saja. Itu semua bisa terjadi sebab yang ada dalam pikirannya adalah bebas ‘terserah gue semau gue’ yang penting enak, senang dan untung! Benarkah?

 

Solusi Islam

             Selayaknya seorang muslim selalu menempatkan benar/salah atau baik/buruk  berdasar kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Allah Swt sebagai pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan, maka kedudukanNya sebagai Pencipta memastikan Dia Yang Maha Mengetahui terhadap apa yang diciptakanNya. Karena itu, Allah Swt yang paling berhak membuat aturan untuk manusia sehingga kehidupan ini menjadi teratur. Allah Swt berfirman dalam QS. Al An’aam ayat 57: “…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah Swt. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik”. Dengan keyakinan ini seharusnya manusia bisa menerima semua aturan yang berasal dari Allah Swt untuk kebaikan hidupnya dan tidak menjadikan ide kebebasan sebagai solusi dalam segala urusannya.                               

            Aturan-aturan dari Allah Swt mampu menjadi solusi dari masalah-masalah yang telah diuraikan diatas. Aturan-aturan ini  mampu melindungi wanita dan pria serta  menempatkan wanita pada posisi yang mulia, meliputi:

  1. Aturan Islam yang memerintahkan laki-laki dan wanita untuk senantiasa menjaga kehormatan dirinya, menjauh dari hal-hal yang dapat mengarahkan pada perzinahan, menutup aurat, menjaga pandangan dan kemaluannya, seperti yang tercantum dalam QS.An Nuur ayat 30-31, Al Ahzab ayat 59 dan QS. Al Isra’ ayat 32. Aturan ini akan mencegah manusia dari perbuatan maksiyat dan akhlak yang merusak.
  2. Islam memerintahkan untuk memenuhi kebutuhan naluri  rasa senang terhadap lawan jenis dengan aturan yang telah ditetapkan Allah Swt, seperti: aturan pernikahan, aturan pergaulan dalam kehidupan khusus keluarga dan kehidupan umum masyarakat. Aturan-aturan ini mewujudkan  interaksi dalam keluarga dan masyarakat  menjadi  interaksi yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, saling menghormati dan tolong menolong. Bukan interaksi yang dapat menimbulkan perselingkuhan, perceraian, penyimpangan seksual ataupun kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat.
  3. Islam memandang wanita setara dengan laki-laki dalam kedudukannya sebagai manusia. Adanya hak dan kewajiban yang berbeda antara keduanya tidak berarti Islam menganggap laki-laki lebih dominan/superior daripada wanita. Perbedaan tersebut hanya terkait dengan kesesuaiannya dengan tabiat masing-masing dan Allah Swt memberikan balasan yang sama untuk keduanya, seperti yang tercantum dalam QS. Al Ahzab ayat 35, QS. An Nahl ayat 97, QS. An Nisaa’ ayat 32.
  4. Adanya sanksi hukum yang tegas terhadap para pelaku perzinahan, pelecehan seksual,pemerkosaan maupun pembunuhan. Fakta sejarah menunjukan diterapkannya hukum rajam dan jilid bagi pelaku perzinahan serta hukum qishash bagi pelaku pembunuhan menimbulkan efek jera sehingga orang lain terhindar dari melakukan kejahatan serupa itu. Sanksi hukum tersebut dilaksanakan oleh Negara melalui lembaga peradilan yang sudah membuktikan adanya pelanggaran terhadap siapa saja  yang melanggar tanpa kecuali.

 

Sekarang kembali pada manusia sendiri, aturan siapa yang diterapkan dalam kehidupannya? Aturan Allah Swt yang melindungi dan memuliakan laki-laki dan wanita? Ataukah aturan kebebasan manusia ‘terserah gue semau gue’ yang telah menghancurkan manusia seluruhnya? Allah Swt berfirman:“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maaidah ayat 50).

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: