PELAJARAN TENTANG POPULARITAS MALALA

Untuk gadis seumurannya yang sekitar 15 – 16 tahunan, Malala Y., tergolong luar biasa popularitasnya.  Bahkan dibandingkan dengan seluruh penduduk di negaranya, Pakistan, seumuran atau tidak seumuran, laki-laki atau wanita, kaya atau miskin, popularitasnya termasuk luar biasa. Demikian juga kalau dibandingkan dengan seluruh penduduk dunia, dia pun termasuk luar biasa popularitasnya.

Bayangkan saja, sejak tahun 2011 sampai sekarang ini, dia telah memperoleh 26 penghargaan internasional.  Selain itu, hari lahirnya, 12 Juli ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Malala.  Berbagai negara telah dikunjungi, seperti India, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat.  Demikian juga, dia pernah bertemu dengan berbagai orang populer saat ini macam Ratu Elisabeth, Sekjen PBB Ban Ki Moon, mantan PM Inggris Gordon Brown, Menlu AS Hilary Clinton dan Presiden AS Barrack Obama.  Seorang artis mengusulkannya sebagai pemenang hadiah nobel perdamaian dan artis lainnya mentato punggung dengan inisial namanya.  Masih banyak hal lain mengenainya, semuanya membawa pada suatu hal, Malala Y. adalah gadis yang luar biasa popularitasnya.

Timbul pertanyaan bagaimana dia mendapatkan itu semua? Jawaban atas pertanyaan itu adalah aktifitasnya memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak seumurannya dan pendidikan untuk wanita.  Pada tahun 2009 sampai dengan 2011, walaupun masih menjadi anak sekolahan, dia menjadi ketua Majelis Anak di daerah kelahirannya, kota Mingora, distrik Swat, Propinsi Khyber Pakhtunkhwa, negara Pakistan.  Malala berani mengkritisi kebijakan pemerintahan yang dikuasai kelompok Taliban, yang di daerahnya pada waktu itu konon melarang anak wanita bersekolah.  Adapun pada tahun 2012, dia hampir mati ketika ditembak pada bagian kepala dan leher pada saat pulang dari sekolah.  Namun, setelah berobat hingga ke Inggris, akhirnya dia mendapatkan kesehatannya seperti sedia kala.

Sayangnya, terdapat berbagai sisi negatif yang menyertai popularitasnya.  Adapun sisi negatif tersebut sebagai berikut:

1.      Ayahnya, yaitu Ziauddin Y, boleh dikatakan ‘mengintervensi’ kehidupannya.  Ayahnya memanfaatkannya untuk kegiatan bisnis dan sekaligus politik praktis yang membahayakan jiwanya.  Hal itu dapat diketahui sebab ayahnya menjalankan berbagai sekolah yang berorientasi mencari keuntungan, namanya Khusal Public School.  Sekolah ini keberlangsungannya mungkin menjadi sulit karena Taliban melarang anak perempuan bersekolah. Untuk mengatasi masalah itu, Ziauddin mendorong anaknya berkampanye perlunya anak perempuan bersekolah sekaligus berkampanye menentang rezim Taliban yang melarang anak perempuan bersekolah.

2.      Malala dan ayahnya dimanfaatkan oleh BBC dan beberapa media masa yang lain.  Setelah bersedia mengikuti program BBC tentang menulis blog dengan nama samaran dalam bahasa Inggris Corn Flower, yang berisi kecaman terhadap pemerintahan Taliban di bidang pendidikan, nama asli Malala terbocorkan.  New York Times adalah pihak pertama yang mempublikasikannya.  Hal ini membahayakan keselamatan Malala, sebab di satu sisi kecamannya terhadap Taliban berarti dia menentang kelompok yang memiliki kekuasaan dan di sisi lain dia dimungkinkan menjadi agennya CIA dan negara Barat lainnya. Terancamnya keselamatan Malala terbukti. Pada 9 Oktober 2012, bus sekolah yang mengantarkan pulang dihentikan sekelompok bersenjata Taliban, yang kemudian menembak kepala dan lehernya dan dua orang lainnya.

3.      Malala tidak memiliki pemahaman agama Islam yang mendalam. Hal itu dapat diketahui dari hubungannya dengan ibunya.  Ibunya ternyata orang ‘rumahan’ di mana konon kabarnya ‘terhalang’ untuk menyampaikan pendapat tentang anaknya sendiri.  Selain itu minimnya pemahaman Islam pada Malala dengan mudah diketahui dari pidatonya pada saat Hari Malala di PBB.  Salah satunya adalah ketika menyatakan bahwa dirinya tidak memusuhi siapapun, dia menyebutkan itu sebagai pancaran ajaran Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus, Budha, Martin Luther King, Nelson Mandela, Muhammad Ali Jinnah, Gandhi, Bacha Khan, dan Bunda Teresa.  Padahal agama yang benar hanya agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammmad SAW dan disebarkan oleh para sahabatnya.  Jadi Malala tidak memahami agama Islam.  Pidatonya juga tidak menjelaskan pentingnya pendidikan Islam.

4.      Malala berfikir tidak integral dan komprehensif, bahkan cenderung parsial dan sepotong-sepotong sehingga seolah-olah membenarkan intervensi asing, khususnya Amerika, di semua aspek.  Hal itu dapat diketahui pada saat bertemu dengan Barrack Obama, Malala mengkritisi penggunaan pesawat tanpa awak yang ternyata tidak tepat sasaran, dan berakibat dalam suatu serangan membunuh tiga anak-anak.  Solusinya, menurut Malala adalah bukan intervensi militer, termasuk menggunakan pesawat tanpa awak, namun (intervensi) pendidikan. Ini sesungguhnya berarti membuka peluang intervensi, padahal seharusnya semua intervensi harus dicegah.  Hal ini terjadi karena tidak tahu kapan harus berfikir integral dan komprehensif dan kapan harus berfikir parsial dan sepotong-sepotong.

Beberapa Pelajaran Penting

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam. Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan adanya pendidikan Islam.  Salah satu di antara dalil-dalil pendidikan Islam adalah firman Allah SWT dalam surat Al Israa’ ayat 36: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”

Agama Islam memerintahkan kepala negara untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Islam seluruh rakyat.  Dalil untuk hal itu sangat banyak. Contohnya, hadits Rasulullah SAW berupa perkataan beliau bahwa seorang imam adalah penanggung jawab.  Contoh Hadits lain adalah perbuatan beliau menetapkan pembebasan tawanan perang Badar yang miskin dalam bentuk mengajari umat Islam membaca dan menulis.

Atsar dari para khalifah juga banyak.  Ada yang membangun madrasah, laboratorium, perpustakaan, dll.  Semuanya menunjukkan dalil bahwa kepala negara bertanggung jawab atas pendidikan Islam untuk seluruh rakyat. Negara mempersiapkan kurikulum, guru, sarana dan prasarana, dana dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk mewujudkan tanggung jawab negara dalam pendidikan Islam.

 Berdasarkan hal itu, komersialisasi pendidikan Islam sebagaimana dipromosikan dan dilakukan ayah Malala, sangat disayangkan. Seharusnya ayah Malala mendorong seluruh masyarakat, termasuk anak dan seluruh keluarganya, tentang arti penting dan pelaksanaan tanggung jawab negara di bidang pendidikan Islam untuk seluruh masyarakat, baik untuk laki-laki maupun wanita.

Islam memberi peluang kepada masyarakat atau rakyat untuk membantu negara dalam segala hal tugasnya.  Akan tetapi di dalam membantu ini tidak boleh bersifat komersial.  Pada saat akan berangkat melakukan perang Tabuk, para sahabat Rasulullah SAW banyak memberikan bantuan perlengkapan dan persenjataan perang.  Itu dilakukan tanpa ada niat meminta imbalan apapun atau komersialisasi sedikitpun.  Berdasarkan hal itu, kalau ada dari kalangan masyarakat yang ingin membantu tugas negara dalam kewajiban pendidikan, tentunya juga tidak diperbolehkan untuk mengkomersialisasikannya.

Pendidikan Islam ini akan menghasilkan anak didik yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.      Memiliki kepribadian Islam. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk:

a.       Hanya menyembah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukanNYA.

b.      Selalu ingin mendekatkan diri kepadaNYA.

c.       Mampu mengemban ideologi Islam dan memiliki kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap ideologi yang bertentangan dengan Islam.

d.      Mampu berfikir ideologis yang tepat.  Pada saat diperlukan untuk berfikir komprehensif dan integral, anak didik akan berfikir komprehensif dan integral.  Pada saat diperlukan untuk berfikir parsial, anak didik akan berfikir parsial.

2.      Memiliki kemampuan pendidikan teknis mengarungi kehidupan untuk menggapai rejekiNYA.   Hal ini ditunjukkan dengan profesionalitas dan kemampuan untuk bekerja cerdas dan bekerja keras.

Penutup

Popularitas Malala tidak boleh menyebabkan umat Islam silau.  Dia memang di usia muda mendapatkan berbagai penghargaan, bertemu dengan berbagai pihak yang juga sekarang ini terkenal, melakukan perjalanan ke berbagai negara dan pidatonya ditepukin tangan banyak pihak.  Kenyataannya, yang dikemukakannya adalah hanya pentingnya pendidikan untuk wanita.  Adapun lingkungan di sekitarnya kurang baik dan dirinya kurang memahami agama Islam.

Idenya tentang pendidikan untuk wanita sangat tidak ‘berkelas’ dibandingkan dengan konsep Islam tentang pendidikan.  Kenyataannya, dia tidak menjelaskan tentang kurikulum pendidikan, guru, penyediaan infrastruktur pendidikan, dan berbagai hal lain.  Yang nampak pada dirinya sebagai ‘warisan’ dari ayahnya adalah komersialisasi pendidikan yang justru berdampak berupa konflik dengan sesama muslim, khususnya kelompok Taliban, dan situasi tersebut justru termanfaatkan untuk opini intervensi pendidikan Barat, setelah intervensi militer, khususnya di Afghanistan.

Agama Islam memberikan konsep berupa pendidikan untuk semua pihak. Dimulai dari konsep pendidikan sebagai salah satu kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat yang harus dipenuhi negara, dan dapat dibantu masyarakat dengan syarat tidak dikomersialkan.  Di tengahnya sudah ada penyiapan kurikulum, guru, sarana dan prasarana pendidikan, pendanaan yang memadahi hingga sanksi bagi pelanggarannya. Itu semua menyebabkan proses pendidikan adalah proses pendidikan yang baik lagi menyenangkan.  Di akhirnya adalah hasil pendidikan berupa individu yang berkepribadian Islam dan memiliki kemampuan kerja yang baik.  Individu tempaan pendidikan Islam ini siap memperjuangkan Islam dan sekaligus siap mengarungi kehidupan menggapai nikmat Allah SWT.  Maha benar Allah dengan firmanNYA dalam surat Al Mujadilah ayat 11”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” dan firmanNYA dalam surat Fathir 28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: