PERGAULAN BEBAS TETAP HARAM

 

Siswi SMA berumur 16 tahun yang ketahuan menyembunyikan bayi hasil pergaulan bebas di lemari pakaian termasuk siswi yang beruntung.  Proses mengandung dan melahirkan berjalan normal.  Dia sendiri tidak ‘mata gelap’ melakukan kriminalitas membuang dan membunuh bayinya sebagaimana pada banyak kasus.  Selain itu, keluarganya mau mengambil inisiatif untuk bertemu dengan keluarga pihak laki-laki dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.  Sedangkan pihak laki-laki dan keluarganya menyatakan mau bertanggung jawab sepenuhnya dalam bentuk pernikahan, bahkan si bayi sepenuhnya dalam tanggungan pihak laki-laki dan keluarganya.  Ditambah lagi  pihak sekolah memberikan kesempatan kepada siswi ini untuk istirahat belajar yang bukan sanksi sehingga tetap dapat mengasuh bayinya.  Ada juga saran-saran untuk tetap melanjutkan pendidikannya sampai lulus, walaupun tidak di sekolah itu karena tekanan psikologis yang dialami, misalnya melalui Kejar Paket C, dll.

Betapa kagetnya orang tua ketika membuka lemari pakaian dan mendapati bayi ada di sana.  Usut punya usut, sampailah orang tua pada kesimpulan bahwa bayi itu adalah bayi dari anak perempuannya.  Si anak perempuan pun dipanggil untuk klarifikasi.  Diketahui bahwa si anak perempuan telah melakukan pergaulan bebas hingga hamil.  Diketahui juga bahwa selama ini dia sengaja menyembunyikannya, termasuk ketika datang saat melahirkan si bayi, sehingga tidak ada siapapun yang membantu dalam proses melahirkan.  Walaupun ada pihak yang menyangsikannya dan menduga ada orang yang membantu dalam proses melahirkan itu.

Untung saja tidak ada masalah yang terjadi selama proses melahirkan.   Mungkin diam-diam dia sudah mempelajarinya seperti dari internet, bertanya teman-temannya atau belajar dari berbagai buku termasuk yang dapat dikategorikan sebagai buku sekolahan tentang kesehatan reproduksi yang ternyata mudah sekali diselewengkan untuk berbagai hal negatif.  Diapun dapat mengatasi permasalahan yang terjadi saat melahirkan dan merawat bayi.

Perlu dicatat, ada masalah lain yang harus diperhatikan, yaitu masalah pergaulan bebas. Memang masalah lain sudah ditangani dengan baik.  Masalah keberlangsungan hidup bayi sudah ditangani dalam bentuk pertemuan kekeluargaan, tanggung jawab dari keluarga yang laki-laki dan pernikahan. Masalah pendidikan si siswi juga ditangani dengan baik seperti istirahat  belajar atau mengikuti program Paket C.  Jadi semuanya sudah ditangani dengan baik, tinggal masalah pergaulan bebas yang tidak ditangani.

Mungkin ada yang bertanya “Apa perlunya mengatasi masalah pergaulan bebas?” Jawaban terhadap masalah ini jelas sekali.  Minimal tiga jawaban sebagai berikut:

1.      Memberi penyelesaian yang menyeluruh terhadap permasalahan yang terjadi. Tidak dapat dipungkiri bahwa awal mula kejadiannya adalah pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan si siswi tanpa ada dari lingkungannya yang mengetahui.  Setelah melahirkan, merawat dan menyimpan bayinya di lemari dan diketahui orang tuanya, barulah  berlanjut dengan pertemuan antar keluarga dan rencana pernikahan.  Jadi jelas sekali awal mulanya adalah pergaulan bebas.  Dengan demikian wajar saja kalau masalah pergaulan bebas ini juga harus diselesaikan sebagaimana masalah-masalah lanjutannya.

2.      Memberi efek jera bagi yang mau melakukan suatu dosa berupa perilaku menyimpang pergaulan bebas.  Efek jera ini nantinya akan mengingatkan seluruh masyarakat, maupun yang tergoda setan, baik pelaku pergaulan bebas yang laki-laki atau yang wanita.  Selanjutnya di tengah masyarakat pergaulan bebas dapat diminimalisir.  Demikian juga aborsi, pembunuhan bayi, pernikahan karena ‘kecelakaan’, berbagai kriminalitas juga dapat diminimalisir.

3.      Memberi peluang bagi agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi.  Perlu diketahui, sesungguhnya hanya agama Islam yang dengan pasti menganggap pergaulan bebas sebagai masalah dan memberikan solusinya.  Agama dan ideologi selain Islam tidak memberi solusi sebaik agama Islam.  Bahkan ideologi kebebasan dengan kebodohannya menganggap pergaulan bebas sebagai keharusan.  Mereka buta hatinya di dunia terhadap permasalahan pergaulan bebas, termasuk terhadap berbagai dampaknya seperti kecenderungan seksual yang berlebihan, ketidakjelasan nasab keturunan, kriminalitas aborsi, dll, hingga jauh dari ajaran agama Islam, khususnya di bidang ibadah dan pernikahan, di mana kalau itu dilanjut-lanjutkan tentunya mereka akan buta hatinya pula di akhirat.

Bukan hanya Rajam

Banyak yang salah paham dalam memahami penyelesaian Islam terhadap perilaku menyimpang pergaulan bebas.  Mereka hanya mengetahui bahwa penyelesaian Islam hanyalah berupa hukuman rajam bagi pelaku pergaulan bebas.  Padahal penyelesaian Islam terhadap perilaku menyimpang pergaulan bebas sangat luas sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.  Apa saja?

1.      Pendidikan Kepribadian Islam

Pendidikan kepribadian Islam sangat penting supaya umat Islam punya keinginan dan kemampuan untuk lurus menjalankan perintahNYA dan bersungguh-sungguh menjauhi laranganNYA.  Pendidikan kepribadian Islam seperti ini dapat mencegah umat Islam dari melakukan perbuatan menyimpang pergaulan bebas.  Kalau ada orang yang pesimis terhadap kemampuan pendidikan kepribadian Islam, sebenarnya banyak bukti nyata yang menunjukkan kesuksesan pendidikan kepribadian Islam.  Salah satunya adalah keistiqomahan Nabi Yusuf AS dalam menolak perilaku menyimpang pergaulan bebas. Sebagaimana dalam surat Yusuf 33, beliau menyatakan bahwa lebih baik dipenjara daripada melakukan perbuatan menyimpang pergaulan bebas.  Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf 33: “(Yusuf) berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung kepada (memenuhi keinginan) mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.

Tentu hal ini seharusnya juga mendorong para penyelenggara pendidikan saat ini, baik di tingkat negara dan masyarakat, untuk tidak asal-asalan menyelenggarakan pendidikan.  Kurikulum, pendidik, sarana dan prasarana pendidikan tidak asal-asalan.  Mereka harus bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan sedemikian hingga menghasilkan output yang berkualitas, termasuk mampu menghindar dari penyimpangan pergaulan bebas sebagaimana Nabi Yusuf AS.

2.      Sistem Pergaulan Islam

Sistem pergaulan Islam dapat dibagi menjadi dua.  Pertama adalah sistem pergaulan di tengah keluarga.  Istilah lainnya adalah sistem pergaulan pada kehidupan khusus.  Kedua adalah sistem pergaulan di tengah masyarakat.  Istilahnya adalah sistem pergaulan pada kehidupan umum.

Pada sistem pergaulan di tengah keluarga interaksi terjadi di tengah anggota keluarga.  Istilahnya adalah silaturahim.  Berbagai permasalahan di tengah keluarga diselesaikan sebaik-baiknya sehingga keluarga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.  Selanjutnya, anak-anak dari keluarga itu akan menjadi generasi penerus yang akan mewujudkan dan melanggengkan kemuliaan agama Islam.

Pada sistem pergaulan di tengah masyarakat, dimungkinkan terjadi interaksi antara laki-laki dan wanita.  Contohnya adalah jual-beli barang di antara laki-laki dan wanita, menuntut ilmu di antara laki-laki dan wanita, penegakan hukum di antara laki-laki dan wanita, aktifitas politik di antara laki-laki dan wanita, pemilihan pemimpin kenegaraan oleh wanita, dan lain-lain.  Interaksi ini adalah murni interaksi di tengah masyarakat dan untuk mencapai tujuan-tujuan kemasyarakatan, seperti ekonomi, politik, hukum, pendidikan dan lain-lain tujuan umum kemasyarakatan.

Interaksi ini, walaupun dilakukan antara laki-laki dengan wanita, tidak boleh beralih menjadi interaksi pergaulan laki-laki dengan wanita.  Untuk itu, agama Islam telah memberikan aturan-aturannya untuk ditegakkan, sebagai berikut:

1.      Dihilangkannya simbol-simbol pornografi di tengah masyarakat.

2.      Laki-laki dan wanita harus menutup aurat sesuai ajaran Islam, ketika berada di tengah masyarakat yang menjadi tempat kehidupan umum.

3.      Laki-laki dan wanita harus menundukkan atau mengalihkan pandangan ketika interaksi di antara mereka memunculkan nafsu syahwat.

4.      Laki-laki dan wanita tidak boleh berkhalwat.

5.      Dibudayakannya pernikahan dan bukan pergaulan bebas sebagai ‘pintu gerbang’ apabila terjadi perubahan dari interaksi kemasyarakatan menjadi interaksi pergaulan laki-laki dan wanita.

3.      Hukum Rajam dari Negara bagi yang Nekat Melakukan Penyimpangan Pergaulan Bebas

Sistem Islam, termasuk yang dikemukakan di atas, tentunya menyebabkan kebanyakan orang tidak ingin melakukan penyimpangan pergaulan bebas.  Kalau ada segelintir yang tetap bersikeras ingin melakukan penyimpangan pergaulan bebas, pastinya orang tersebut ingin terlibat dalam dua penyimpangan.  Pertama, ingin menyimpang dari ajaran agama Islam yang hak dan lurus yang diturunkan oleh Allah SWT Sang Maha Pencipta sebagai rahmat untuk seluruh alam dan manusia. Kedua, ingin menyimpang dari perilaku normal manusia.

Hal ini tidak dapat dibiarkan.  Orang itu sendiri yang merugi sebab pastinya Allah sangat murka padanya.  Demikian juga masyarakat dirugikan sebab terdapat perilaku tidak normal di tengah masyarakat, yaitu perilaku penyimpangan pergaulan bebas.

Hukum dera dan rajam harus diberlakukan terhadap segelintir orang ini baik laki-laki atau wanita apabila terbukti di depan pengadilan Islam atau berdasar pengakuan sendiri, telah melakukan perbuatan zina.  Apabila si pelaku pergaulan bebas belum menikah, sanksi dera dilakukan sebanyak 100 kali, sedangkan apabila si pelaku pergaulan bebas sudah menikah, sanksi rajam dilakukan sampai mati.  Melalui hukuman ini, insyaAllah murka Allah SWT berubah menjadi ampunanNYA dan masyarakat terbebas dari perilaku menyimpang pergaulan bebas.

Penutup

Di tengah masyarakat harus jelas diimplementasikan pengharaman terhadap perilaku menyimpang pergaulan bebas.  Hal ini sebagai salah satu bukti ketundukan manusia pada Allah SWT dan bahwa agama Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tengah manusia.  Hanya menyelesaikan masalah perawatan bayi, pernikahan setelah ‘kecelakaan’ dan kelanjutan sekolah, namun tidak menyelesaikan masalah awal yaitu pergaulan bebas tentunya adalah hal yang tidak tepat.

Agama Islam memberikan solusi untuk masalah perilaku penyimpangan pergaulan bebas.  Solusi itu di antaranya adalah membangun kesadaran tentang pergaulan Islam melalui Pendidikan Kepribadian Islam dan Sistem Pergaulan Islam.  Selain itu, bagi yang nekat melakukan pergaulan bebas diatasi dengan sanksi dera dan rajam dari peradilan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: