POLEMIK KERUDUNG

Di berbagai negara muncul polemik mengenai kerudung.  Di Belanda misalnya, dimotori oleh politikus Geerts Wilder, berbagai pihak pernah mengajukan rancangan undang-undang larangan kerudung dan burka.  Umat Islam yang lama tinggal di Belanda pun pada protes.  Polemik juga terjadi di Philipina dan berbagai negara yang umat beragama Islam merupakan minoritas.  Mereka merasa kehidupan beragama, khususnya untuk muslimah yang ingin menggunakan kerudung di sekolah, tidak diakomodasikan. Adapun di berbagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan wanitanya menggunakan kerudung, polemik mencuat di seputaran foto KTP.  Sebagian penduduk protes dengan keharusan foto KTP dan paspor tanpa kerudung.  Polemik lain terkait keharusan berkerudung bagi tamu negara dan wisman wanita yang mengunjungi obyek-obyek yang nuansanya kental dengan agama Islam seperti masjid.

Polemik juga terjadi di Indonesia.  Disadari atau tidak, polemik mengenai kerudung di masyarakat tak kunjung usai. Pada era tahun 1980-an mulai bermunculan berbagai ketegangan di lembaga-lembaga pendidikan khususnya tingkat menengah, terkait adanya sebagian siswa wanita yang memakai kerudung.  Siswi yang menggunakan dan pendukungnya menganggap sebagai salah satu pelaksanaan ajaran agama Islam, namun berbagai pihak yang kontra menganggapnya sebagai pelanggaran aturan, seperti aturan seragam sekolah.     

Entah apa penyebabnya, ternyata berkerudung menjadi trend.  Muslimah pengguna kerudung bukan hanya siswi sekolah menengah, namun meluas pada karyawati dan tenaga kerja di berbagai kantor dan perusahaan.  Konflik juga terjadi.  Para penentang memberikan pilihan keluar dari perusahaan atau melepaskan kerudung.  Alasannya pada waktu itu kerudung menganggu aktivitas kerja sebab pernah ada laporan terjadinya peristiwa kecelakaan kerja karena  kerudung seorang pekerja wanita  tersangkut alat pabrik yang sedang beroperasi.

  Hal yang sama terjadi di instansi-instansi pemerintah. Layaknya fashion yang sedang in, pemakaian kerudung semakin populer saja. Hingga beberapa waktu belakangan ini ketegangan terkait pemakaian kerudung muncul di lingkungan Polri. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu sempat terjadi perbedaan pendapat antara Kapolri Jenderal Pol Sutarman dengan Wakapolri Komjen Pol Oegroseno. Sutarman telah memberikan lampu hijau kepada para polwan untuk menggunakan kerudung. Sementara Oegroseno menyatakan jika penggunaan kerudung harus ditunda dengan dalih tak memiliki landasan aturan yang jelas. Selanjutnya, Mabes Polri menerbitkan Telegram yang berisi penundaan (moratorium) penggunaan kerudung bagi polwan pada 28 November 2013 lalu sehingga menimbulkan polemik di masyarakat.

Ada yang menganggap penundaan (moratorium) penggunaan kerudung bagi polwan berdampak terhadap kejiwaan para polwan yang ingin menggunakan kerudung. Hal ini dinyatakan oleh anggota Komisi Kepolisian Nasional, Hamidah Abdurrahman. Ia juga menyayangkan, pernyataan Wakapolri Komjen Pol Oegroseno yang meminta kepada para polwan untuk pindah ke Polda Aceh jika ingin menggunakan kerudung. (Kompas.com, 7 Desember 2013).

Selain itu ada pula yang tidak menerima larangan berkerudung ini dengan alasan melanggar hak asasi manusia. Dikemukakan: “Kembalikan saja (kepada polwan). Masing-masing punya hak azasi. Yang mau pakai silakan, yang tidak mau, ya tidak disalahkan.” (Kompas.com, 8 Desember 2013).

Adapun menurut salah satu anggota dewan, sebenarnya Polri sudah membolehkan polwan memakai kerudung. “Saat ini hanya tinggal menunggu SK nya saja,” katanya yang juga menerangkan bahwa SK ini nantinya mengatur mengenai bentuk dan warna kerudung. Sehingga menurut dia, tidak ada lagi masalah mengenai kerudung. (Republika.co.id, 9 Desember 2013).

Sedangkan menurut Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Ronny F Sompie, penundaan tersebut terjadi karena terkait dengan anggaran polri saat ini.
Kita dipaksa seragam karena kita memang dibagikan baju seragam, semuanya dibagikan bahkan reserse pun juga dibagikan, dan itu menyangkut dengan anggaran.”
(Republika.co.id,10 Desember 2013).

Pertanyaannya, mengapa seringkali terjadi polemik di masyarakat tentang kerudung? Bagaimana perspektif ajaran Islam dalam masalah ini? 

 

Pengaruh Liberalisme  

             Fenomena pemakaian kerudung di kalangan wanita muslimah pernah dianggap sebagai salah satu tanda adanya kebangkitan Islam. Lebih-lebih posisi mereka pada masa itu sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi negeri favorit yang dipandang masyarakat sebagai agen perubahan. Sebelum memakai kerudung para wanita muslimah itu aktif dalam gerakan  mempelajari dan mengkaji ajaran-ajaran Islam sehingga mereka terdorong untuk melaksanakannya. Karena itu kerudung kemudian dikaitkan dengan bentuk ketaatan seorang wanita muslimah terhadap ajaran Islam. Setelah memakai kerudung mereka juga terdorong untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam lainnya, seperti: berakhlak mulia, meningkatkan amal ibadahnya, menghindari perbuatan maksiyat, dll.

Tentu saja hal ini sangat bagus bagi muslimah itu sendiri maupun bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Kerudung menjadi simbol bagi muslimah dan lingkungannya untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.  Bagi siswi sekolah, kerudung bukan hanya kain penutup aurat, namun sekaligus simbol untuk tidak malas belajar, menghindari pacaran, dan akan selalu baik kepada temannya.  Orang tua, guru dan teman pun menjadi senang dan mendapat manfaat dari siswi berkerudung.  Bagi karyawati dan tenaga kerja di kantor, perusahaan dan instansi, kerudung pun menjadi simbol karyawati yang profesional dan amanah.  Termasuk juga bagi polwan, di mana kerudung dapat menjadi simbol polisi yang anti suap menyuap, aparat yang tegas dan penegak hukum yang adil sesuai dengan tugasnya.  Jadi  menggunakan kerudung bermanfaat buat dirinya dan lingkungannya.               

             Seiring dengan perkembangan liberalisme, fenomena berkerudung pun mulai bergeser. Jika sebelumnya kerudung dikaitkan dengan bentuk ketaatan untuk melaksanakan ajaran Islam, ternyata kerudung kemudian berubah jadi sekedar tren fashion yang dikenakan sesuai kepentingan masing-masing individu.  Patut disayangkan,  sebab adakalanya tren itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.  Di tambah lagi munculnya public figure dan artis-artis terkenal yang memakai kerudung di depan publik dengan berbagai model dan gaya kerudungnya.  Hal ini menginspirasi wanita muslimah lainnya dari berbagai kalangan untuk memakai kerudung gaya. Dampaknya, standar berkerudung yang Islami menjadi samar.  Dilihat dari besar kecilnya kerudung misalnya, ada kerudung besar yang mampu menutupi hampir seluruh tubuh, namun ada juga kerudung sedang dan kecil sebagaimana ada kerudung mini.  Dilihat dari cara memakainya juga terlihat bahwa kerudung saat ini tidak memiliki suatu standar tertentu.   

            Begitu pula pergeseran terjadi dalam masalah tingkah laku sehari-hari. Jika sebelumnya kalangan wanita yang memilih untuk berkerudung berupaya untuk bertingkah laku sesuai ajaran Islam, namun karena pengaruh ide-ide liberalisme, wanita-wanita yang kini telah berkerudung pun tidak lagi bisa digambarkan sebagai wanita yang bertingkah laku sesuai ajaran Islam. Sebab tidak sedikit dari kalangan wanita berkerudung pada masa kini yang buruk akhlaknya, tidak menjaga kehormatan dirinya dan  melakukan perbuatan-perbuatan buruk lainnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan tidak sedikit wanita yang memang sengaja memakai kerudung untuk menutupi perbuatan-perbuatan buruknya.

Munculnya berbagai pendapat yang mendukung ide liberalisme di kalangan umat Islam sendiri juga menjadi pemicu bergulirnya polemik tentang kerudung. Sebagai contoh, pendapat yang menganggap bahwa memakai  kerudung termasuk dalam urusan hak asasi manusia. Konsekuensi dari pendapat ini adalah jika ada wanita yang ingin memakai kerudung dipersilahkan dan jika mereka tidak ingin memakainya harus dihormati. Karena itu menurut pendapat ini fihak-fihak  yang melarang pemakaian kerudung maupun mewajibkan kerudung atau menyeragamkan kerudung dinilai sebagai tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Begitu pula pendapat yang menganggap bahwa kerudung itu pakaian adatnya orang Arab  sehingga tidak cocok untuk diikuti wanita-wanita muslimah di sini. Pendapat-pendapat seperti ini tentu ditentang oleh kalangan umat Islam yang memahami bahwa kerudung itu merupakan salah satu ajaran Islam yang wajib dilkenakan para wanita muslimah bukan membebaskan wanita muslimah untuk memilih memakainya atau tidak.

 

Kewajiban Berkerudung dan Islam Kaffah

Berkerudung adalah kewajiban bagi muslimah. Standarnya jelas sekali yaitu menutupi kepala, leher dan dada.  Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat An Nuur ayat 31: “Dan Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (hingga) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau di kalangan wanita (muslimah), atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.  

Selain kewajiban berkerudung, ada juga kewajiban berjilbab.  Selama ini masyarakat menyamakan antara kerudung dan jilbab.  Padahal, kerudung adalah kain penutup kepala hingga leher dan dada, sedangkan jilbab adalah baju panjang dan longgar hingga ke kaki, baik baju itu satu potongan atau dua potongan, yang penting baju itu adalah baju jilbab.   Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzaab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Wanita muslimah juga harus menjalankan seluruh perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA.  Semua yang wajib bagi wanita harus dikerjakan, dan semua yang haram bagi wanita harus ditinggalkan.  Dengan kata lain, muslimah harus beragama Islam secara kaffah.  Allah SWT berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 7: “Apa saja harta rampasan perang berupa fa’i yang diberikan Allah kepada RasulNYA yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. Demikian pula firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 208: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: