PEMENUHAN KEBUTUHAN GIZI DALAM ISLAM

Konon jumlah penduduk di Indonesia yang mengalami kekurangan gizi cukup banyak.  Pada tahun 2012 jumlahnya mencapai minimal 47,64 juta orang atau sekitar 19,46% dari total penduduk Indonesia.  Celakanya, jumlah kekurangan gizi tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat.  Pada tahun 2008 jumlahnya mencapai minimal 25,11 juta orang atau sekitar 11,07%, sedangkan pada tahun 2010 jumlahnya mencapai minimal 35,71 juta orang atau sekitar 15,34%.  Kalau keadaan seperti itu, bisa jadi pada tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami kekurangan gizi dapat mencapai di atas 50% dari jumlah penduduk Indonesia.

Padahal gizi sangat diperlukan oleh manusia.  Dalam buku Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011 – 2015, disebutkan bahwa pangan dan gizi untuk pertumbuhan dan kecerdasan,  untuk kesehatan dan produktivitas, dan sebagai penentu daya saing bangsa.  Salah satu ilustrasi yang menunjukkan bahwa gizi diperlukan adalah data dari riset  kesehatan  dasar  yang menunjukkan  bahwa kekurangan gizi menyebabkan tinggi rata-rata balita di Indonesia lebih pendek 7,3  cm  dari standar WHO 2005, dan tinggi rata-rata anak/remaja lebih pendek 13,6 cm di bawah standar WHO.

Sedangkan dalam majalah Dialog yang diterbitkan Pustaka Istac tentang Akhlak Islam vs Akhlak Kapitalisme disebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk pangan, adalah sebagai sarana dasar perbaikan akhlak Islam.  Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok makanan menyebabkan orang tidak memiliki alasan untuk melanggar hukum seperti mencuri, menjambret, dan berbagai  kriminalitas lainnya.  Dengan kata lain, jaminan pemenuhan pangan akan mendorong akhlak amanah terhadap pemilikan harta.

Mengapa Harus Ikut-ikutan?    

Tentunya timbul pertanyaan dalam diri kita semua. Mengapa di negeri yang katanya gemah rimah loh jinawi  -dibahasakan secara ‘asal-asalan’ oleh seorang penyanyi, tanahnya tanah ‘surga’, kayu dan batu jadi tanaman- ternyata banyak yang mengalami kekurangan gizi?  Jawabannya adalah karena selama ini hanya ikut-ikutan dalam pemenuhan kebutuhan gizi.  Celakanya, yang diikuti adalah Amerika Serikat (AS), pimpinan kapitalisme dengan segala kelicikan dan keserakahannya.  Dapat dibayangkan pemenuhan gizi yang seperti itu ibarat ‘makanan empuk nan lezat’ bagi keserakahan kapitalisme untuk menguasai sektor pemenuhan gizi, namun menyulitkan rakyat dalam akses pemenuhan gizi.

Wikipedia menyatakan bahwa ketika di AS diterapkan politik pola makan yang sehat basic four, karena orang AS berpola makan yang tidak sehat, yaitu pola makan banyak lemak, tinggi gula dan sedikit serat, sehingga rentan terhadap masalah kesehatan, berbagai negara pun termasuk Indonesia ikut-ikutan.  Politik gizi di Indonesia pun adalah politik “pola makan 4 sehat 5 sempurna”.

Kenyataannya, basic four tidak ada pengaruhnya.  Politikus gizi di AS pun merubah ‘basic four’ menjadi “Nutrition guide for balance diet”. Walaupun sampai sekarang belum terbukti hasilnya, di mana permasalahan kegemukan masih melanda AS, ternyata politik gizi itu tetap diikuti banyak negara, termasuk Indonesia.  Di Indonesia politik “pola makan 4 sehat 5 sempurna” diganti dengan politik “pola makan gizi seimbang”. Bedanya hanya sedikit. Kalau di Amerika “pola makan gizi seimbang” digambarkan menggunakan piramid, sedangkan di Indonesia digambarkan menggunakan tumpeng, istilahnya “Tumpeng Gizi Seimbang”.

Untungnya,  konsep gizi tidak terpancar dari akidah kufur. Boleh dikatakan konsep gizi adalah suatu hal yang umum.  Dengan demikian, walaupun berasal dari negara kufur, tetapi umat Islam dapat mengadopsinya.  Hal ini berbeda dengan sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, komunisme, dialektika materialisme, nasionalisme, dan lain-lain yang terpancar dari akidah kufur sehingga umat Islam tidak boleh mengambil, menyakininya dan mendakwahkannya.

Konsep Nutrition guide for balance diet misalnya, dapat diadopsi karena memang konsep umum.  Konsep tersebut menyarankan supaya susunan makanan sehari–hari mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal.

Wikipedia menyebutkan bahwa porsi makanan yang harus dikonsumsi setiap orang per hari diharapkan menyertakan air putih sebagai bagian terbesar dan zat gizi esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif. Dalam sehari, kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter(8 gelas). Adapun pada setiap porsi makanan, terdapat potongan besar yang merupakan golongan makanan pokok (sumber karbohidrat). Golongan ini dianjurkan dikonsumsi 3—8 porsi. Kemudian, terdapat golongan sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Golongan sayur lebih banyak dari buah. Perkiraannya, jumlah sayur yang harus dimakan 3-5 porsi, sedangkan buah 2—3 porsi. Selanjutnya, ada golongan protein hewani dan nabati. Adapun konsumsi minyak, gula, dan garam dianjurkan seperlunya saja.   Dianjurkan juga untuk memiliki pola hidup sehat misalnya dengan menjaga kebersihan dan memantau berat badan.  Jadi konsep gizi seimbang adalah konsep umum.  Di Indonesia, konsep ini telah dimasukan dalam undang-undang Kesehatan No 36 tahun 2009 dan Undang-undang Pangan Nomor 18 tahun 2012 dan disebut Pedoman Gizi Seimbang.

Yang harus diwaspadai adalah kapitalisme yang ‘membonceng’ pada pola makan gizi seimbang.   Kenyataan bahwa pola ini menjiplak dari Amerika Serikat membuka peluang masuknya kapitalisme.  Indikasi-indikasinya dapat diketahui dari melemahnya peran pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan sebaliknya, menguatnya peran kapitalisme. Dampaknya pun sudah sering dirasakan masyarakat seperti hilangnya peredaran bahan pangan di pasar, meningkatnya impor bahan pangan, atau melejitnya harga bahan pangan. Semua itu akibat ulah kapitalisme yang mempermainkan pasar dan masyarakat.

Tentunya, masyarakat belum lupa bahwa beberapa bahan pangan ternyata hilang dari peredaran. Kedelai lokal misalnya, susah diperoleh pembelinya. Pada saat hampir bersamaan kedelai impor tersedia dan harga kedelai pun melonjak.  Pernah juga jeruk lokal tidak tersedia, yang ada hanya jeruk impor.  Setali tiga uang pada daging sapi, cabai atau bawang.  Bahkan untuk beras, terdapat impor dari Vietnam, India atau Bangladesh, walaupun tidak banyak dan tidak setiap tahun.

Kalau sudah begini, masyarakat tentu yang menjadi korban.  Mereka mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.  Istilahnya mereka mengalami kerawanan pangan berupa tidak cukup tersedianya pangan dan gizi bagi individu di tengah masyarakat.  Di antara penyebabnya adalah permainan pasar oleh kapitalisme yang mengakibatkan tertutupnya akses mendapatkan pangan dan gizi dan melonjaknya harga pangan yang dirasakan sebagai melemahnya daya beli masyarakat.

Tanggung Jawab Negara

Agama Islam telah memberikan petunjuk tentang metode menjamin pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi.  Pemerintah harus bertanggung jawab penuh dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi.  Tanggung jawab tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, sebagai berikut:

1.      Menghukum pihak-pihak yang mempermainkan pasar seperti para penimbun dan pelaku manipulasi harga

 

Dalam sistem Islam menimbun adalah perbuatan kejahatan ekonomi yang hukumnya disesuaikan dengan kebijakan khalifah dengan mempertimbangkan dampak dari kejahatan yang dilakukannya. Para penimbun adalah orang-orang yang membeli barang dalam rangka menyimpannya sehingga barang tersebut tidak ada di pasar dan dia bisa memaksakan harga yang tinggi atas barang tersebut karena kelangkaannya.

Demikian pula dengan adanya manipulasi harga (al ghabnu) maka harus ditindak sesuai dengan syariat yang ada. Tidak dibenarkan adanya manipulasi harga dalam jual beli menurut syariat Islam. Jika terjadi demikian, maka pihak-pihak yang melakukan itu harus di ajukan ke pengadilan. Siapa pun pihak yang melakukan manipulasi harga termasuk pedagang kecil, grosir, bahkan importir besar pun harus diajukan ke pengadilan. Metodenya adalah dengan keberadaan qadhi hisbah yang senantiasa melakukan pengawasan terhadap penyelewengan harga bahan pangan yang ada di masyarakat secara terus menerus.

2.      Operasi Pasar

 

Negara akan melakukan operasi pasar baik dengan mengadakan barang dari daerah lain dalam wilayah daulah khilafah ataupun mengimpor dari luar negeri. Impor bisa dilakukan oleh negara atau masyarakat dan tidak akan dihadapkan pada administrasi berbelit bila barang tersebut memang bermanfaat bagi masyarakat dan juga bila pengusaha kita bisa membelinya dari asing tanpa syarat yang menjerat. Jangan dibayangkan bahwa kebijakan ini akan membuat pasar dalam negeri kebanjiran produk asing dan akan membunuh hasil produksi petani lokal. Karena prinsip kebebasan kepemilikan tidak akan menjadi mentalitas pengusaha-pengusaha Islam. Khalifah Utsman bin Affan selalu berusaha untuk tetap mendapatkan informasi tentang situasi harga bahkan harga barang yang sulit dijangkau. Jika beliau mengetahui ada pedagang-pedagang yang ingin menimbun makanan atau menjualnya dengan harga yang mahal, maka beliau akan mengirimkan kafilah-kafilah untuk mengambil bahan makanan tersebut dengan tujuan untuk merusak praktek penimbunan dan permainan harga yang akan dilakukan oleh para pedagang tersebut. Hal-hal yang dilakukan oleh khalifah merupakan suatu upaya preventif yang dilakukan untuk mengontrol harga agar tidak menjadi beban bagi masyarakat dan menghindari adanya distorsi harga.

Adapun bagi orang-orang yang tidak mampu membeli, bahan pangan ini akan diberikan secara gratis. Bahkan konon kabarnya, khalifah Umar bin Al Khaththab pernah menyempatkan diri untuk mencari tahu, biasanya waktu malam hari, kalau-kalau ada dari warganya yang mengalami kekurangan pangan.  Manakala ditemukan adanya warga negara yang mengalami kekurangan pangan, tidak segan-segan beliau sendiri yang mengantarkan gandum kepada warga negara yang mengalami kekurangan pangan.

Penutup

Setiap individu berhak mendapatkan pemenuhan pangan dan gizi, sebab pangan dan gizi merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan pangan sangat bermanfaat, misalnya sebagai sarana perbaikan akhlak Islam berupa amanah terhadap pemilikan harta individu. Oleh karena itu harus ada usaha serius untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan pokok pangan dan gizi di tengah masyarakat.  Dalam hal ini hendaknya tidak sekadar ikut-ikutan negara kufur.

Perilaku kapitalisme yang mempermainkan pasar bahan pangan haruslah dicampakkan.  Menimbun bahan pangan dan memanipulasi harga bahan pangan menyebabkan masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.  Negara harus bertindak tegas mengatasi masalah tersebut.  Pelaku penimbunan bahan pangan dan pelaku manipulasi harga harus ditindak tegas melalui qadli hisbah.

Negara juga dapat melakukan operasi pasar untuk ‘mengalahkan’ para penimbun dan pelaku manipulasi harga.  Hal ini seperti yang dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan.  Sehingga masyarakat dapat membeli bahan pangan dengan harga yang wajar dan kebutuhan pokoknya, berupa makanan terpenuhi. Adapun bagi pihak yang tidak mampu, dapat memperoleh makanan bergizi secara gratis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: