WASPADA, BUNUH DIRI LAGI NGETREN!

Bunuh diri kembali marak. Tragis memang, tapi begitulah realitasnya. Kali ini sekeluarga melakukan bunuh diri karena terlilit hutang. Linawati, warga Perumahan Duta Bahagia, Kelurahan Kraton Lor, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan ditemukan meregang nyawa di kamar tidurnya setelah menenggak serbuk pembersih lantai yang dilarutkan dalam segelas air putih. Anak semata wayangnya, Danny Ricardo, 11 tahun, juga tewas meski sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kraton, Kota Pekalongan. Beberapa jam setelah kematian Linawati dan Danny, Anita Erfanti, 58 tahun, dan Roy Rudito, 30 tahun, juga bunuh diri di kamar Hotel Langensari, Kota Cirebon, Jawa Barat. Anita adalah ibu Linawati, sedangkan Roy adalah adik Linawati. (Tempo.com,7 maret 2014).
Sebelum peristiwa itu, terjadi juga aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Universitas Nasional (Unas), Muhamad Ferdy Pradipta. Ferdy nekat terjun bebas dari lantai lima gedung ITC Depok. Menanggapi peristiwa ini pengamat Sosial dan Budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menyatakan, Ferdy yang lahir antara tahun 1980-1997 merupakan generasi yang dimanjakan oleh orangtuanya. Akibatnya orangtua menjadi over protektif dan orangtua pun menjadi tak rasional. “Dahulunya orangtua anak-anak itu mengalami masa yang sulit. Mereka pun tak ingin anaknya merasakan. Dampaknya mereka pun over protektif terhadap anaknya. Hal itu membuat anaknya sulit mandiri,” jelasnya. Menurut Devie, di negara maju bunuh diri sudah menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan kehidupan. Umumnya mereka yang bunuh diri lahir pada tahun 1980- 1997. Katanya: “Saat ini di Amerika Serikat sudah menjadi bencana. Di Indonesia bencana itu akan terjadi lima sampai 10 tahun ke depan.” (Okezone.com, 5 Maret 2014).
Memperhatikan kenyataan sekarang dan masa-masa sebelumnya, aksi bunuh diri di negeri ini memang sudah sangat memprihatinkan. Dilihat dari sisi pelakunya, ada pria, ada wanita, usianya juga beragam. Begitu pula latar belakang yang menyebabkan aksi pelaku bunuh diri juga bermacam-macam. Ada yang karena terlibat hutang seperti keluarga Linawati itu, ada yang karena putus cinta, karena tekanan yang berat terkait profesi/pekerjaan, dll, yang menyebabkan pelaku mengalami depresi sehingga melakukan aksi bunuh diri. Parahnya, aksi bunuh diri itu dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan. Tahun lalu saja Indonesia Police Watch (IPW) juga sudah menyatakan bahwa jumlah anggota kepolisian yang melakukan aksi bunuh diri menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2013 jumlah anggota kepolisian yang bunuh diri naik 300 persen lebih dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 hanya ada satu polisi yang bunuh diri, tahun 2012 dua orang, dan tahun 2013 jumlahnya naik menjadi tujuh kasus. (Okezone.com, 27 Desember 2013).
Beberapa fakta lain menunjukkan hal yang sama, yaitu: adanya peningkatan kasus bunuh diri dari tahun ke tahun. Seperti yang dinyatakan Kepala Kepolisian Resor Banyumas Ajun Komisaris Besar Dwiyono bahwa sepanjang tahun 2013 ada 20 kasus bunuh diri di Banyumas dan jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2012, yang tercatat 17 kasus. Berbagai latar belakang menjadi penyebab orang bunuh diri di Banyumas antara lain karena persoalan ekonomi, putus cinta, kesulitan dalam hal pendidikan di sekolah, dan juga karena penyakit yang tidak kunjung sembuh. Pelakunya pun berasal dari berbagai usia. (Tempo.com, 27 Desember 2013). Begitu pula yang dinyatakan oleh Ida Rochmawati, dokter RSUD Jiwa Wonosari, Kab. Gunung Kidul. Data yang dimilikinya menunjukkan angka bunuh diri selama tahun 2012 mencapai 40 orang, yang berarti melonjak drastis sebab tahun 2011 hanya mencapai 25 orang. Menurut Ida, pemerintah daerah, masyarakat serta stakeholder lain harus mengambil langkah cepat untuk mencari jalan keluar supaya kasus bunuh diri tidak mengalami peningkatan. (Tribunnews.com, 23 April 2013). Bagaimana mengatasinya?

Mengurangi Beban
Mengurangi beban adalah cara yang tepat untuk menghindari kejadian bunuh diri di tengah masyarakat. Logikanya, kalau seseorang bebannya terkurangi, tentunya perasaan depresinya berkurang. Jika perasaan depresi berkurang, tentunya keinginan bunuh diri juga berkurang. Oleh karena itu mengurangi beban dapat menghindarkan seseorang dari kemungkinan melakukan bunuh diri.
Mengurangi beban bukan hanya tanggung jawab individu, namun juga tanggung jawab seluruh masyarakat dan negara. Memang beban dan depresi itu ada pada individu. Namun, mengurangi beban individu dapat dilakukan oleh individu, negara dan masyarakat. Oleh karena itu, mengurangi beban menjadi tanggung jawab individu, masyarakat dan negara.

Memiliki Kepribadian Handal
Setiap individu harus memiliki kepribadiaan yang handal. Hidupnya dikendalikan oleh aqliyah/pola pikir dan nafsiyah/pola perasaan yang Islami. Kepribadiaan handal ini sangat penting, salah satunya adalah menjadi modal dalam menghadapi depresi.
Pola pikir yang terdapat dalam kepribadian Islam adalah pola pikir positif. Sebagai contoh, pada pola pikirnya terdapat keyakinan bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah SWT berfirman bahwa Dialah Yang Memberi ujian untuk mengetahui siapa di antara manusia yang amalnya terbaik, namun Allah SWT juga berfirman bahwa barang siapa bertakwa, Allah SWT akan akan menjadikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang dihadapi. Terdapat juga firmanNYA yang memerintahkan setiap individu untuk berdoa supaya diberi keringanan beban hidup hingga kehidupan dunia yang baik.
Sejarah dan kisah sukses umat Islam pada masa lalu juga membentuk pola pikir positif. Ujian, seberapa pun beratnya, selalu bertemu dengan jalan keluar yang baik. Sebagai contoh adalah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Disakiti oleh penduduk Mekkah, tidak menghalangi Beliau untuk terus berdakwah fii sabilillah. Hingga Allah SWT berkenan memberikan nusroh berupa kemenangan di Madinah. Diperangi oleh berbagai suku, tidak menghalangi Beliau untuk terus berdakwah fii sabilillah, hingga Allah SWT menyatukan seluruh jazirah Arab di bawah kesatuan Islam, yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beliau dan umat Islam pada waktu itu hingga ke berbagai penjuru dunia. Selanjutnya, pola pikir keyakinan Islam tersebut memberi dorongan munculnya pola pikir aktivitas yang Islami. Kesuksesan tidak akan diraih kecuali dengan usaha pantas, keras, cerdas dan tuntas. Cara berfikir jalan pintas pun, segera hilang dari benak. Termasuk pemikiran melakukan jalan pintas bunuh diri segera hilang dari benak sebab bertentangan dengan pola pikir aktivitas dan pola keyakinan Islami. Lagi pula, ajaran Islam jelas-jelas melarang perbuatan bunuh diri. Rasulullah SAW telah mengancam bagi siapa yang membunuh dirinya Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rsulullah bersabda: “Siapa saja yang membunuh dirinya dengan sepotong besi yang tergenggam ditangannya itulah dia akan menikam perutnya dalam neraka jahannam secara terus-menerus dan dia akan dikekalkan didalam neraka tersebut selama-lamanya. Barang siapa yang membunuh dirinya dengan meminum racun maka dia akan merasai racun itu dalam neraka jahannam secara terus-menerus dan dia akan dikekalkan di dalam neraka tersebut selama-lamanya. Begitu juga, siapapun yang membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka dia akan terjun di neraka jahannam secara terus-menerus untuk membunuh dirinya dan dia akan dikekalkan dalam neraka tersebut untuk selama-lamanya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pola perasaan Islami akan mendukung pola keyakinan Islami dan pola pikir Islami. Manusia diminta untuk memiliki berbagai perasaan yang baik. Perasaan takut misalnya, harus didasari perasaan takut kepada murka Allah SWT yang Maha Melihat terhadap semua perbuatan manusia dan apa yang disembunyikan dalam hati. Betapa mengerikannya kalau sampai masuk ke neraka.
Kesabaran pun akan selalu dipupuk. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah ayat 153). Belum tercapainya sukses, bukan berarti gagal. Demikian juga, belum tercapainya sukses, bukan berarti ‘lampu hijau’ untuk menghalalkan segala cara. Belum tercapainya kesuksesan justru memunculkan kesabaran dan semangat untuk muhasabah pada semua aspek dalam kehidupan, lalu diketahui hal-hal yang keliru untuk diganti dengan hal-hal yang baik, sehingga kesukesesan terbayang di depan mata.
Pola pikir dan pola perasaan Islami menyebabkan individu memiliki beban yang tidak berlebihan. Bahkan, pola pikir dan pola perasaan Islami menyebabkan individu diliputi harapan kesuksesan dan optimisme. Di dalam benaknya terdapat keyakinan bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberikan jalan keluar, aktivitasnya bersumber pada pentingnya beramal yang pantas, keras, cerdas dan tuntas, dan perasaannya diliputi kesabaran menggapai sukses dunia dan akhirat. Jalan lurus kesuksesan dunia dan akhirat terbentang luas di depan.

Dukungan Masyarakat dan Negara
Harus diakui bahwa sistem kapitalis yang dianut sebagian besar penduduk dunia saat ini dan sistem sosialis, telah membawa dampak buruk yang begitu dahsyat. Semua manusia merasakan akibatnya. Beban hidup begitu berat, bahkan banyak orang yang tidak sanggup memikulnya. Permasalahan seperti: kesulitan ekonomi, kesehatan yang buruk, nilai sekolah tidak sesuai harapan, tidak mempunyai keturunan, dll, ternyata berujung depresi berat lantas bunuh diri dijadikan solusi.
Sistem kapitalisme dan sosialisme harus dienyahkan dari muka bumi. Masyarakat tidak boleh berpola pikir dan pola perasaan kapitalisme maupun sosialisme. Sedangkan negara tidak boleh menyokong dan melindungi berpola pikir dan pola perasaan kapitalisme maupun sosialisme. Individu-individu ditengah masyarakat harus saling tolong menolong dan berbuat kebaikan pada keluarga, kerabat, tetangga maupun orang-orang lemah yang membutuhkan pertolongan. Hal ini akan dapat mengurangi beban hidup yang menjadi tanggungan mereka. Allah Swt berfirman dalam QS. An Nisaa’ ayat 36:”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
Begitu pula yang hendaknya dilakukan oleh negara. Sudah menjadi kewajiban negara untuk melayani seluruh rakyat dengan sebaik-baiknya. Memenuhi kebutuhan pokok rakyat, meliputi: pangan, sandang, papan, termasuk pula kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan untuk seluruh rakyat tanpa kecuali. Negara juga harus menjaga agar tidak menambah berat beban hidup rakyat apalagi menyusahkannya.

Penutup
Setiap individu manusia harus memiliki kepribadian yang handal. Dengan kepribadian berkualitas handal hidupnya dikendalikan oleh aqliyah/pola pikir dan nafsiyah/pola perasaan yang Islami, yaitu pola pikir dan pola perasaan yang positif. Hal ini menyebabkan individu memiliki beban yang tidak berlebihan. Bahkan, menyebabkan individu diliputi harapan kesuksesan dan optimisme. Di dalam benaknya terdapat keyakinan bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberikan jalan keluar, aktivitasnya bersumber pada pentingnya beramal yang pantas, keras, cerdas dan tuntas, dan perasaannya diliputi kesabaran menggapai sukses dunia dan akhirat.
Semua pihak termasuk masyarakat dan negara harus mendorong terwujudnya pola pikir dan pola perasaan yang positif ini. Masyarakat tidak boleh berpola pikir dan pola perasaan kapitalisme maupun sosialisme. Negara juga tidak boleh menyokong dan melindungi berpola pikir dan pola perasaan kapitalisme maupun sosialisme. Dengan itu beban hidup tidak berlebihan dan masing- masing individu dapat hidup nyaman.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: