MEWUJUDKAN KELUARGA SESUAI KITABULLAH DAN SUNNAH RASULULLAH

Setiap peradaban melahirkan sistem keluarga. Di masa Romawi kuno pada awalnya para wanita dipekerjakan di dalam rumah. Para pria berlaga di medan perang. Namun setelah itu para wanita mulai disuruh keluar rumah, mendatangi tempat-tempat dansa dan minum-minuman keras, guna menghibur para pria. Lois Browl mengatakan, di akhir masa kerajaan Romawi para pejabatnya bergelimang dengan para wanita tersebut.

Di masa Arab Jahiliyah lain lagi. Eksistensi wanita dan anak wanita tidak diakui. Perzinahan dan pelacuran muncul dengan beragam versinya. Seorang anak bisa mewarisi istri ayahnya sendiri. Atau sebaliknya. Sistem keluarga menjadi fanatisme buta. Seorang bisa membunuh orang lainnya karena suku/klan atau golongan keluarganya dihina.

Saat ini ketika peradaban Barat mendominasi hampir seluruh bumi, sistem keluarga pun diwarnai olehnya. Orang sering menyebut peradaban Barat dengan “jahiliyah modern”. Karena daya rusak peradaban sekuleristik ini sama dahsyatnya dengan peradaban jahiliyah kuno dahulu.

Berbeda dengan sistem yang lainnya, Islam sebagai suatu peradaban datang melalui wahyu dari Allah Swt kepada Rasulullah Saw. Sebagai pembaharu, Islam merubah semua tradisi jahiliyah yang tidak manusiawi dan menggantikannya dengan syariat Islam yang mulia, dengan satu tujuan kesejahteraan bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Aturan sosial yang dibawa Islam bermaksud menyelamatkan manusia di seluruh tempat. Ini bisa terjadi karena syariat Islam bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman. Rasulullah Saw bersabda: “Dan dari Anas, bahwasanya ada sebagian shahabat Nabi SAW yang berkata, “Aku tidak akan kawin”. Sebagian lagi berkata, “Aku akan shalat terus-menerus dan tidak akan tidur”. Dan sebagian lagi berkata, “Aku akan berpuasa terus-menerus”. Kemudian hal itu sampai kepada Nabi Saw, maka beliau bersabda, “Bagaimanakah keadaan kaum itu, mereka mengatakan demikian dan demikian?. Padahal aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan akupun mengawini wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].

Dalam salah satu firman Allah Swt juga dijelaskan fungsi penciptaan laki-laki dan wanita serta hakikat dari sebuah perkawinan: ”Hai sekalianmanusia, bertakwalahkepadaTuhan-mu yang telahmenciptakankamudaridiri yang satu, dandaripadanya Allah menciptakanisterinya; dandaripadakeduanya Allah memperkembangbiakkanlaki-lakidanperempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalumenjagadanmengawasikamu. [QS. An-Nisaa’ : 1]

Dengan demikian di dalam Islam seluruh manusia berkedudukan sama. Mereka diciptakan untuk saling mengenal dan melestarikan jenis keturunan manusia, salah satunya melalui sebuah perkawinan. Allah Swt berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Perbedaan ras, suku dan jenis kelamin adalah anugerah Allah Swt. Dengan adanya aqad ikatan perkawinan maka sah lah hubungan antara laki-laki dan wanita dalam sebuah keluarga. Untuk mewujudkan kembali tujuan mulia dari perkawinan dan sebuah keluarga, maka perlulah bagi kita memahami kembali dan mengoptimalkan fungsi keluarga tersebut.

 

Keluarga Muslim

Pembentukan sebuah keluarga di dalam Islam, didasari oleh pemahaman yang kokoh mengenai kehidupan manusia. Tindakan membentuk keluarga sendiri adalah sebuah langkah yang cukup bertanggung jawab, dibandingkan dengan masyarakat di Barat yang lebih senang hidup semen leven (kumpul kebo). Untuk itulah di dalam Islam calon suami atau istri memerlukan kesamaan pandangan, gerak yang terealisir dalam kesamaan agama (Islam). Islam adalah keyakinan dan pedoman hidup yang bisa membuat keharmonisan sebuah keluarga terbentuk. Keluarga muslim harus mencerminkan kehidupan yang Islami. Segenap aktivitas rumah tangganya senantiasa dalam lingkup hukum syara’. Bentuk-bentuk hubungan itu diantaranya:

 

Hubungan Suami Istri

Tujuan pernikahan antara seorang laki-laki dan seorang wanita tercantum dalam firman Allah Swt QS Ar Ruum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Berdasarkan ayat tersebut, suami istri diharapkan:

  1. Hidup rukun dan tenang

Rumah tangga bukanlah sekedar tempat untuk makan, minum dan berkumpul dengan istri dan anak, tetapi tujuannya adalah mendapatkan ketenangan, kedamaian dan ketentraman. Dengan demikian hubungan antara suami dan istri bukanlah seperti hubungan antara penguasa (yang otoriter) dengan rakyatnya. Atau hubungan antara polisi dengan narapidana. Dan juga tidak seperti hubungan antara jaksa dengan terdakwa. Hubungan antara suami dan istri haruslah setara dan seimbang. Mereka ibarat sepasang sahabat yang saling bekerja sama dalam mengarungi kehidupan ini.

  1. Mencintai dan mengasihi

Didalam hubungan suami istri yang rukun dan tenang akan diikat dengan tali yang kokoh “mawaddah wa rohmah”. Implementasi dari konsep ini adalah perasaan saling rela berkorban di jalan Allah serta menempatkan fungsi masing-masing pihak pada posisinya.

 

Hubungan Orang Tua Kepada Anak

Keluarga bahagia akan merasakan puas dan sempurna dengan kehadiran seorang anak. Tidak seperti pola hidup masyarakat Barat yang lebih senang apabila tidak memiliki anak atau hanya perlu mengadopsi anak (karena tidak ingin melahirkan anak). Hubungan antara orang tua dan anak diatur dalam Islam dalam bentuk hak dan kewajiban yang seimbang. Orang tua berkewajiban mengasuh dan mendidik anak, memberikan mereka makanan, pakaian dan memelihara kesehatannya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Abu Hurairoh r.a mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: ‘Tiap yang dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan anaknya dengan sempurna, apakah kalian mendapatkan cacat padanya?” (HR Muslim).

 

Hubungan Anak Dengan Orang Tua

            Didalam Islam ikatan orang tua dengan anak begitu dekat. Islam memberikan ajaran yang mulia, bagaimana seorang anak harus bersikap kepada orang tuanya. Allah Swt berfirman: dalam surat Al An’am ayat 151: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”

Mentaati perintah orang tua adalah wajib kecuali bila perintah itu bertentangan dengan perintah Allah Swt. Seorang anak harus menghormati kedua orang tuanya terutama pada ibunya. Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang oleh ibunya akan menjadi anak yang baik. Dan anak yang baik secara otomatis akan mendo’akan orang tuanya agar masuk ke dalam surga. Konsekuensi timbal balik ini menggambarkan betapa dekatnya hubungan anak dan orang tua dalam ajaran Islam.

Seorang anak juga berkewajiban merawat kedua orang tuanya di saat mereka telah berusia senja. Sebagaimana dahulu mereka merawat anak-anaknya di waktu kecil. Bila mereka wafat, maka anak berkewajiban merawat jenazahnya sampai selesai, menunaikan wasiatnya serta menyambung silaturahim dengan kaum kerabat yang masih ada.

Terbentuknya keluarga adalah penggabungan dua buah keluarga (keluarga suami dan keluarga istri) yang sudah ada sebelumnya. Ini menimbulkan konsekuensi hak dan kewajiban diantara mereka sesuai dengan posisi dan fungsinya masing-masing. Bila masing-masing individu menjalankan dan taat pada syariat Islam yang telah mengatur interaksi hubungan tersebut, maka keharmonisan keluarga pasti akan terbentuk. Dalam sebuah hadits yang berasal dari Abdullah bin Umar ra disebutkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”

Seorang suami akan dimintai tanggung jawab nafkah terhadap istri dan anak-anaknya, memberi tempat tinggal, mempergauli istri dengan baik. Demikian pula istri akan dimintai pertanggungjawaban atas ketaatannya kepada suami. Begitu pula anak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap ketaatannya kepada kedua orang tuanya.

Struktur sosial dalam Islam tidak hanya terbatas pada keluarga inti saja (ayah, ibu dan anak). Dalam Islam keluarga berdimensi luas (dzawil arham dan dzawil qurba). Oleh sebab itu hak dan kewajiban seorang muslim akan diatur sesuai dengan garis keluarga tersebut, termasuk kewajiban nafkah dan warisnya. Suatu hikmah yang maha agung apabila sistem keluarga dalam Islam ini kemudian berdampak terjadinya pemerataan ekonomi di masyarakat. Karena dengan sistem keluarga ini (waris dan penanggungan nafkah) akan terjadi distribusi harta Allah Swt dari pihak yang kaya kepada pihak yang membutuhkan. Jika ajaran-ajaran Islam ini dilakukan dan diamalkan secara optimal di dalam rumah tangga masing-masing, maka akan tercipta masyarakat yang sejahtera berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Insya Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: