MARHABAN YAA RAMADHAN 1435 H

Bulan Ramadhan datang lagi memberi kesempatan luas kepada kita semua untuk meningkatkan iman dan taqwa kepadaNya, menambah pahala dan mengurangi dosa. Sudah selayaknya, bulan Ramadhan kita sambut dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Perlu diperhatikan, pada bulan selain Ramadhan umat Islam juga harus selalu meningkatkan iman dan taqwa kepadaNya, menambah pahala dan mengurangi dosa. Berjamaah misalnya, baik berupa jamaah yang sifat kepemimpinannya umum di pusat negara dan di daerah, atau jamaah yang sifat kepemimpinannya khusus, seperti sholat berjamaah, perjalanan yang dilakukan bersama-sama oleh tiga orang atau lebih, keluarga, organisasi, atau perusahaan/kantor hendaknya selalu mengikuti ajaran Islam baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Pendek kata, di seluruh bulan dan seluruh tahun, kehidupan harus digunakan untuk khudlu’, ridlo wa taslim kepada Allah SWT dan RasulNya.

Perlu diperhatikan juga, bulan Ramadhan memang identik dengan amalan-amalan soleh baik amalan wajib ataupun amalan sunnah. Namun demikian hendaknya umat Islam tidak terjebak dalam pemahaman yang menganggap bahwa amalan-amalan sholeh di bulan Ramadhan itu hanya amalan-amalan yang bersifat ritual saja seperti sering membaca Al Quran, beri’tikaf, sedekah, dan sebagainya. Hendaknya umat Islam memposisikan amalan-amalan itu sesuai dengan sifatnya apakah itu wajib atau sunnah. Dan manakah yang menjadi prioritas yang harus dilakukan. Sehingga seseorang memiliki prioritas amalan mana yang harus didahulukan. Karena banyak dilihat bahwa umat Islam saat ini lebih banyak dan suka melakukan amalan-amalan sunnah, akan tetapi melupakan amalan-amalan wajib yang seharusnya dilakukan baik itu di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Karena posisi kewajiban adalah jika dilakukan akan mendapatkan pujian dari Allah dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa/celaan dari Allah. Lalu, bagaimanakah kita meraih kesempatan meningkatkan iman dan taqwa kepadaNya, menambah pahala dan mengurangi dosa di bulan Ramadhan 1435 Hijrah ini? Berikut ini penjelasannya.

  1. Amaliyah Mengawali Bulan Ramadhan

Umat Islam diwajibkan memulai puasa Ramadhan setelah menyaksikan bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan atas firman Allah Swt: “Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam menentukan masuknya bulan baru maka metode hisab adalah metode yang secara fakta dan dalil merupakan metode yang sangat baik. Dari segi fakta bahwa dinamakan masuk bulan baru ketika bulan sudah dalam posisi lebih dari 0 derajat dari titik konjungsi, berapapun derajat posisi bulan misalkan ½ derajat maka bisa diartikan sudah masuk bulan baru. Meskipun dengan posisi tersebut bulan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Hal ini disebabkan bulan hanya dapat dilihat secara kasat mata dalam posisi lebih dari 3 derajat.

Sedangkan ditinjau dari dalil bahwa penentuan masuknya bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah surat Al Baqarah ayat 185. Dalil yang berlandaskan Al Quran yang merupakan dalil yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah. Dengan landasan dalil dan fakta tersebut maka hisab merupakan metode yang sangat baik dan tepat untuk digunakan menentukan awal dan akhir Ramadhan. Meskipun demikian, jikalau ada metode lain yang memiliki landasan dalil syar’i yang kuat maka hendaknya umat Islam memahaminya sebagai sebuah perbedaan (khilafiyah) yang bersifat furu’ bukan perbedaan yang bertentangan dengan aqidah dan hukum Islam. Sehingga hendaknya umat Islam saling menghormati berkaitan dengan perbedaan furu’ tersebut. Perbedaan khilafiyah ini akan hilang tatkala umat Islam berada dalam satu kepemimpinan negara yang menerapkan sistem Islam.

 

  1. Amaliyah Selama Bulan Ramadhan

Tentunya kita telah memahami betul tentang hakikat keberadaan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan khusus yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Di dalamnya terdapat perintah ibadah puasa. Ibadah puasa Ramadhan ini wajib atas setiap kaum muslimin untuk menunaikannya. Hal ini di dasarkan pada firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Berdasarkan nash inilah kaum muslimin berpuasa Ramadhan karena merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.

Kewajiban puasa Ramadhan ini adalah wajib bagi setiap muslim yang baligh dan berakal. Sehingga anak kecil dan orang gila tidak wajib untuk menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasul saw: “Diangkat pena atas tiga orang yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga baligh dan orang gila hingga ia sadar/berakal” (HR. Abu Dawud). Adapun bagi orang yang haid dan nifas maka tidak wajib atasnya berpuasa dan tidak sah jika ia melakukan puasa. Akan tetapi ketika sudah suci maka wajib untuk menggantinya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah: “Di dalam haid ada perintah untuk mengganti puasa akan tetapi tidak ada perintah untuk mengganti shalat”. Adapun bagi orang yang sudah tua renta dan bagi orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, maka tidak wajib baginya untuk berpuasa dan wajib menggantinya dengan membayar fidyah. Hal ini didasarkan atas hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: “orang yang tua renta dan tidak mampu untuk berpuasa Ramadhan maka diwajibkan atasnya membayar satu hari satu mud dari gandum”. Sedangkan bagi orang yang sakit ketika dalam menjalankan puasa atau khawatir sakitnya akan semakin parah jika berpuasa maka boleh tidak berpuasa hal ini didasarkan atas firman Allah Swt: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184). Nash di atas juga berlaku bagi orang yang sedang melakukan perjalanan (safar), maka dia boleh tidak berpuasa. Akan tetapi jika dia mampu berpuasa walaupun dalam keadaan safar maka itu lebih baik. Kebolehan itu dengan syarat jarak minimal perjalanannya adalah dua marhalah atau sekitar 88,7 km.

Adapun ibadah lain yang hanya ada di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Shalat tarawih adalah ibadah shalat sunat yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan. Selain itu ibadah-ibadah lain juga dapat dilaksanakan, seperti membaca Al Quran, berinfak, memberikan buka pada orang yang berpuasa, dll.

Di sini perlu ditekankan bahwa pelaksanaan berbagai ibadah tersebut, bukan berarti boleh meninggalkan perintah yang lain atau mengerjakan larangan yang lain.   Semua perintah Islam tetap harus dikerjakan dan semua larangan Islam harus ditinggalkan. Justru keberadaan bulan puasa menyebabkan kita antusias menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi laranganNya sebab di bulan puasa amalan-amalan sunah yang dilakukan oleh umat islam akan bernilaikan sama dengan melakukan sebuah kewajiban. Sedangkan jika melakukan amalan wajib maka Allah akan melipat gandakan pahala wajib itu hingga berkali-kali.

Sebagai catatan, hendaknya umat Islam menggunakan bulan Ramadhan ini sebagai bulan untuk menggiatkan dakwah. Mengapa? Sebab salah satu kewajiban yang sering dilupakan oleh umat Islam adalah kewajiban untuk berdakwah/menyeru pada al Islam. Hal ini sering terjadi baik di bulan Ramadhan dan lebih sering lagi ditinggalkan di luar bulan Ramadhan. Banyak dari umat Islam belum memposisikan aktivitas dakwah sebagai salah satu prioritas kewajiban yang harus mereka kerjakan. Padahal Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104). Juga firman Allah yang lain: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl: 125).

Dakwah umat Islam saat ini adalah mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia sebagai kepemimpinan berpikir bagi umat Islam. Hanya dengan mengemban dakwah Islam sebagai kepemimpinan berpikir inilah, maka kehidupan Islam bisa berwujud. Selain itu juga perlu menyadarkan keterpurukan umat Islam saat ini, dimana umat Islam sudah melupakan akan aqidah dan hukumnya yang sebenarnya adalah menjadi penyebab utama keterpurukan umat Islam itu sendiri, dan yang telah menjadikan umat Islam terpecah-pecah. Dengan kesungguhan dakwah Islam maka diharapkan umat Islam akan bisa bersatu dan hidup sejahtera dalam naungan Islam.

  1. Amaliyah di Akhir Ramadhan

Di akhir Ramadhan Umat Islam hendaklah mempersiapkan menunaikan zakat fitrah. Hal ini karena di masa Nabi saw, umat Islam menunaikan zakat fitrah sebelum mereka keluar melaksanakan sholat idul fitri dan ada sebagian yang menunaikannya di malam ied. Akan tetapi zakat fitrah bisa saja ditunaikan selama bulan puasa Ramadhan sampai sebelum melaksanakan shalat Ied karena di waktu selain itu maka hanya akan bernilai shodaqoh, sebagaimana sabda Nabi saw dari Ibnu Abbas yang mengatakan: “Barangsiapa yang menyerahkannya sebelum shalat (‘Ied), berarti ia adalah zakat yang diterima.  Dan barangsiapa yang menyerahkan setelah shalat (‘Ied), maka ia hanyalah sedekah biasa”.

Penunaian zakat fitrah diharapkan dilakukan dengan memperhatikan kesahihan dalam takaran dan konversi ke uang. Adapun pemilikan aslinya zakat fithrah dengan dalil yang lebih kuat adalah dikhususkan fakir miskin agar tidak meminta-minta di hari raya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih. Sehingga tidak selayaknya zakat fithrah diberikan kepada selain dua kelompok tersebut. Namun demikian jika ada yang berpendapat pemilikan zakat fithrah adalah 8 asnaf sebagaimana pemilikan zakat mal pada umumnya, kemudian dibagikan kepada 8 delapan asnaf tersebut atau sebagian dari 8 asnaf tersebut, maka pendapat tersebut masih dianggap pendapat yang Islami, karena masih merujuk kepada dalil. Rasul saw bersabda:“Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam biasa memerintahkan zakat fitrah dan membagikannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Cukupi kebutuhan mereka (fakir miskin) agar tidak meminta-minta pada hari ini” (HR. Bukhori)

 

Penutup

Sebagai seorang muslim tentu kita akan memahami Ramadhan sebagai momen penting bagi kita. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah diantara kita semua menganggap Ramadhan sebagai momen yang penting? Atau hanya sebuah momen ritual saja yang terus berlalu menghampiri kita setiap tahunnya? Tentunya diri kita sendiri yang akan dapat menjawabnya dengan amalan yang akan kita lakukan di bulan Ramadhan nanti.

Bulan Ramadhan hendaknya dimaknai oleh umat Islam saat ini sebagai bulan untuk meningkatkan amalan-amalan sholeh. Baik amalan wajib ataupun sunnah. Janganlah bulan Ramadhan ini terbuang sia-sia untuk kegiatan-kegiatan lain yang melenakan umat Islam akan eksistensinya sebagai bagian dari umat Islam.

Momentum Ramadhan harus dijadikan momen untuk membangun ketaqwaan kepada Allah swt di seluruh aspek kehidupan, baik ketaqwaan individu, masyarakat maupun Negara. Ketaqwaan yang memancarkan solusi-solusi yang Islami bukan solusi-solusi yang justru bertentangan dengan aqidah dan hukum Islam. Sekarang menjadi tugas umat Islam apakah kita akan menjadi saksi atas kemuliaan bulan ramadhan tahun ini atau justru bulan ramadhan yang menyaksikan kita. Wallahu a’lam bi showab.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: