KEMBALI “BERBUKA” DENGAN SEMANGAT RAMADHAN

Ramadhan sebentar lagi beranjak meninggalkan umat islam. Bagi umat islam tentu akan merasa kehilangan dengan beranjak usainya Ramadhan. Akan tetapi bagi sebagian besar masyarakat di negeri ini, beranjaknya Ramadhan berarti akan digantikan dengan kemeriahan menyambut Idul Fitri. Semakin padatnya pusat-pusat perbelanjaan adalah menjadi ciri khas akhir Ramadhan. Sementara pada saat yang sama di Palestina kaum muslimin mengalami penindasan. Bombardir Israel ke Jalur Gaza menjadi bukti penindasan kepada umat islam. Umat Islam sebagian dari sebagian yang lain adalah ibarat satu tubuh, namun sebagian dari anak-anak kaum muslimin telah mati rasa, mati persaudaraan mereka oleh hiruk pikuk demokrasi-kapitalisme.
Meskipun semua orang tahu, bahwa tujuan melaksanakan puasa romadhon adalah untuk membangun pribadi yang bertaqwa, dan dengan itu berarti bertambah kuat ukhuwah islamiyahnya. Ukhuwah Islamiyah dan ketaqwaan jangan digantikan dengan hedonisme, fenomena dan tradisi ini jangan terus dibiarkan berlangsung dari tahun ke tahun. Pertanyaan bersamanya adalah apakah umat islam telah menjadi saksi atas kemuliaan bulan suci ramadhan tahun ini atau justru bulan ramadhan yang menyaksikan umat islam dan lewat begitu saja?. Apakah momen Ramadhan tahun ini menjadi momen perubahan bagi umat islam menuju islam yang sempurna?

Bagaimana Merayakan Idul Fitri?
Pada prinsipnya hari raya idul fitri bermakna berbuka kembali setelah satu bulan melakukan puasa Ramadhan. Sehingga kaum muslimin kembali pada saat seperti biasa dapat makan dan minum kapanpun. Dengan melihat makna ini maka dalam merayakan hari raya idul fitri seorang muslim hendaknya mendasarkan pada Rasulullah ketika merayakan hari raya Idul Fitri. Pada hari raya idul Fitri ada beberapa syariat yang telah Allah perintahkan kepada kaum muslimin. Hari raya Idul Fitri diawali dengan menunaikan zakat fitrah sebelum menjalankan shalat Ied. Ini sebagaimana dilakukan kaum muslimin di masa Nabi dan Sahabat yang menunaikan zakat fitrah sebelum mereka keluar untuk menunaikan shalat Ied dan ada sebagian juga yang menunaikannya di malam Ied. Akan tetapi zakat fitrah bisa saja ditunaikan selama bulan puasa Ramadhan sampai sebelum melaksanakan shalat Ied karena diwaktu selain itu maka hanya akan bernilai shodaqah, sebagaimana sabda Nabi saw dari Ibnu Abbas yang mengatakan:
“Barangsiapa yang menyerahkannya sebelum shalat (‘Ied), berarti ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menyerahkan setelah shalat (‘Ied), maka ia hanyalah sedekah biasa”.
Adapun mengenai nilai zakat fithrah jika dikonversi ke uang, maka harus diperhatikan acuan ukuran dan acuan dalil hukum sebagai berikut: Pertama, mengenai ukuran takaran zakat fithrah, 4 mud = 0,544 gr / mud X 4 mud = 2,176 kg. Yang ke- 2 mengenai apa yang seharusnya dikonversikan kepada nilai uang. Berdasarkan dalil hadits yang shohih, maka ada empat macam yaitu berupa hinthoh/gandum, sya’ir/jenis gandum, anggur dan kurma. Kalau kita mengkonversikan kepada nilai uang dari empat macam tersebut, akan kita temukan nilai yang memang beragam sesuai dengan pilihan dan kemampuan dalam menunaikan zakat. Sedangkan jika yang dikonversikan kepada nilai uang adalah didasarkan atas dalil hasil ijtihad ulama’ dengan ‘illat’ (yang melatar belakangi di syari’atkannya suatu hukum) yang berarti bahan makanan pokok seperti beras, maka nilainya adalah harga beras keumuman yang ada di masyarakat pada saat ini.
Adapun pemilikan aslinya zakat fithrah dengan dalil yang lebih kuat adalah dikhususkan fakir miskin agar tidak meminta-minta di hari raya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih. Sehingga tidak selayaknya zakat fithrah diberikan kepada selain dua kelompok tersebut. Namun demikian jika ada yang berpendapat pemilikan zakat fithrah adalah 8 asnaf sebagaimana pemilikan zakat mal pada umumnya, kemudian dibagikan kepada 8 delapan asnaf tersebut atau sebagian dari 8 asnaf tersebut, maka pendapat tersebut masih dianggap pendapat yang islami, karena masih merujuk kepada dalil. Rasul saw bersabda:
“Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam biasa memerintahkan zakat fitrah dan membagikannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Cukupi kebutuhan mereka (fakir miskin) agar tidak meminta-minta pada hari ini” (HR. Bukhori)
Kemudian syariat berikutnya yang diperintahkan kepada kaum muslim adalah Shalat Idul Fitri. Bagi kaum muslimin yang hendak shalat Idul Fitri disunahkan baginya untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat menunaikan shalat Ied, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Malik: Sesungguhnya Hisyam bin Urwah bersama Bapaknya, makan di hari raya Idul Fitri sebelum mereka melakukan shalat. Selain itu ketika keluar hendak shalat, umat islam juga diperintahkan untuk mengumandangkan takbir sampai permulaan khotbah, walaupun pada saat ini takbir sudah dimulai sejak malam Idul fitri. Disamping itu di dalam hari raya Idul Fitri para sahabat ra juga berbahagia dengan saling berpelukan dan saling mengucapkan kata-kata kepada sesama mereka: “Taqabbalallahu minna waminka” (Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu).
Setelah hari raya Idul Fitri maka pada bulan syawal kaum muslimin disunahkan untuk melakukan puasa syawal sebanyak enam hari. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang disampaikan oleh Abi Ayub al Anshori ra, Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang berpuasa enam hari di bulan syawal maka baginya sama dengan puasa selama satu tahun. (HR. Muslim).
Itulah standard merayakan hari raya Idul Fitri yaitu dimulai dengan menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Ied, kemudian takbir mengagungkan nama Allah ketika keluar hendak shalat Ied, kemudian Shalat Ied dan kemudian ditutup dengan puasa 6 hari di bulan syawal.
Disamping syariat merayakan Idul fitri ternyata di kalangan umat islam dikenal adanya tradisi-tradisi yang diidentikkan dengan perayaan idul fitri diantaranya adalah tradisi mudik, tradisi berkunjung ke sanak keluarga dalam rangka silaturahmi, tradisi maaf-maafan dan tradisi-tradisi lainnya yang seolah menjadi sebuah “kewajiban” yang harus dilakukan. Hal ini membuat tradisi seperti ini tidak akan hilang walaupun sebetulnya tradisi seperti pulang kampung dan berkunjung ke sanak keluarga tidak ada kaitannya secara langsung dengan momen Idul Fitri. Akan tetapi sistem yang ada mengkondisikan bahwa hal itu suatu hal yang harus dilakukan. Sebenarnya melakukan kunjungan keluarga untuk mempererat tali silaturahmi itu suatu hal yang baik-baik saja. Karena memang kewajiban kaum muslimin adalah mempererat tali silaturrahmi dengan keluarga. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan keluarga. (HR. Muslim). Akan tetapi yang perlu digaris bawahi silaturrahmi tidak harus dilakukan pada hari raya, akan tetapi bisa dilakukan kapan saja. Kalaupun pada hari raya melakukan kunjungan keluarga untuk silaturrahmi maka itu sah-sah saja, akan tetapi melakukan kunjungan keluarga untuk silaturahmi sebaiknya tidak hanya pada saat hari raya Idul Fitri.
Demikian juga dengan tradisi maaf-memaafkan yang seolah-olah menjadi tradisi “wajib” bagi umat islam untuk saling memaafkan dengan alasan Idul Fitri adalah momen untuk kembali suci dari kesalahan-kesalahan. Padahal meminta maaf harus segera dikerjakan setelah membuat kesalahan kepada orang lain bukannya menunggu saat lebaran tiba, dan juga meminta maaf harus spesifik atas kesalahan tertentu yang pernah diperbuat, dan kemudian harus diikuti dengan penyelesaian persoalan yang diakibatkan oleh kesalahan tersebut. Permaafan adalah penyelesaian sebagian dari kesalahan, bukan penyelesaian semua aspek persoalan. Persoalan-persoalan mu’amalah (perdata), persoalan uqubat (pidana) masih harus diselesaikan sebagaimana mestinya, walaupun kesalahan seseorang telah dimaafkan. Apabila ada tanggungan tidak berarti hutang piutang tersebut menjadi lunas begitu saja, atau kalau ada aspek pidananya kemudian sanksi pidana menjadi hilang begitu saja, tetapi persoalan yang muncul akibat dari kesalahan tersebut harus dipecahkan dengan baik dan dilaksanakan dengan cara yang benar. Alloh swt berfirman,

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ (البقرة: 178)
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). (QS. Al Baqarah: 178)
Pemahaman yang sekarang ini melanda masyarakat adalah bahwa seolah-olah dengan saling memaafkan, berjabat tangan pada hari raya maka semua kesalahan tanpa terkecuali sudah selesai antara kedua belah pihak. Padahal dalam beberapa hal, walaupun sudah ada mushofahah saling memaafkan maka ada konsekwensi lanjutan yang masih harus diselesaikan. Sebagai contoh pemaafan bagi orang yang menyalahi janji dalam membayar hutang, walaupun sudah dimaafkan karena menyalahi janji dalam membayar hutang maka kewajiban membayar hutang tetap melekat pada pihak yang berhutang. Atau juga semisal ada permaafan bagi orang yang secara tidak sengaja membunuh seseorang, walaupun keluarga yang terbunuh sudah memaafkan atas pembunuhan itu, maka ada konsekwensi lanjutan yang harus dipenuhi yaitu dengan membayar diyat (denda) dengan seratus ekor unta, atau hitungan kasar sekitar (100 ekor unta X @ Rp 10 juta rupiyah = 1 milyar rupiah). Demikian juga dengan dosa memfitnah, jika dimaafkan, maka harus diikuti dengan penyeleseian berbagai akibat dari fitnah tersebut, dan harus direhabilitasi dengan biaya yang dibebankan kepada pihak yang melakukan fitnah, dan ta’zir pidananya tidak gugur begitu saja, tetapi tetap berlaku sesuai dengan ketentuan hukum syara’ yang terkait dengan perbuatan pidana yang dimaafkan.
Hal ini seharusnya juga menjadi catatan bagi para pengemban dakwah untuk menjelaskan duduk persoalan berbagai tradisi yang terkadang tidak sesuai atau melenceng dengan syariat yang sudah ditetapkan oleh al khaliq. Pengemban dakwah harus menyampaikan kebenaran secara jelas kepada umat tentang berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya dengan mengikuti selera tradisi masyarakat yang kadang-kadang atau boleh jadi telah melenceng dari syariat-Nya.

Menjalani Idul Fitri dengan Semangat Ramadhan
Hari raya Idul Fitri memang diberikan oleh Allah kepada kaum muslim untuk merayakannya. Namun demikian, jangan sampai kaum muslimin terjebak dengan berbagai macam kebiasaan yang dapat memberikan nilai kecil terhadap Ramadhan yang sudah dijalani. Hendaknya umat islam merayakan Idul Fitri dengan semangat Ramadhan yang sudah dijalani. Jangan sampai ketaatan kepada Allah selama bulan Ramadhan tidak terpelihara di bulan-bulan berikutnya. Kaum muslimin harus ingat bahwa ketaatan kepada Allah tidak mengenal kapan dan di mana kita berada. Karena dimanapun dan kapanpun kita berada, ketaatan atas syariat Allah menjadi hal yang mutlak harus dijalankan oleh umat manusia.
Kaum muslimin hendaknya tetap bersemangat dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, termasuk usaha keras dalam menyelesaikan problematika umat islam saat ini yaitu menyebarkan islam sebagai qiyadah fikriyah bagi umat manusia untuk tegaknya islam kembali di muka bumi fi’lan wa hukman. Tentunya kita sangat mengapresiasi semua usaha umat islam untuk menegakkan islam kembali. Akan tetapi yang harus diingat adalah tegaknya islam dalam sebuah system tidak hanya sekedar sebuah klaim tanpa ada fakta. Sesungguhnya umat islam akan bisa menerapkan islam secara menyeluruh sesuai dengan aqidah dan hokum islam jika umat islam semua menyadari kebutuhan akan hal itu. Oleh karena itu, hendaknya umat islam menggunakan Idul Fitri untuk berdakwah dengan membangun kontak-kontak dakwah, kunjungan-kunjungan kepada keluarga untuk memperkuat tali silaturahmipun juga untuk dakwah, atau kunjungan kepada orang lain untuk membangun ukhuwah islamiyah di antara umat islam, itu semua dalam rangka menyelesaikan problem dakwah umat islam saat ini. Sehingga idul Fitri menjadi momen melanjutkan dakwah untuk kembali tegaknya islam di muka bumi ini.
Dengan demikian hendaklah kita umat islam di negeri ini menggunakan momen Idul Fitri untuk memperbaiki diri. Dan hendaknya bulan Syawal kita gunakan sebagai momen peningkatan amal perbuatan kita kepada Allah dan momen untuk dakwah dalam islam. Janganlah semangat menjalankan amalan soleh hanya datang pada bulan Ramadhan akan tetapi hendaknya menjalankan amalan-amalan itu secara kontinu. Dan jangan sampai momen Idul Fitri di bulan syawal hanya menjadi momen untuk bersenang-senang sebagaimana kaum hedonisme yang tidak sesuai dengan hukum Syara’. Akhirnya semoga Allah menerima amalan-amalan kita semua selama bulan Ramadhan. Taqabbalallahu siyamana wa siyamakum,… amien. Wallahu a’lamu bi showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: