PENDIDIKAN ISLAM MEMBENTUK PRIBADI YANG RASIONAL & BENAR

Tahun ajaran baru kembali datang, semuanya sibuk dengan persiapan sekolah baru, pendaftaran siswa baru sampai dengan mahasiswa baru. Semuanya seperti satu langkah ingin mencerdaskan anak-anaknya. Di samping itu, akhir-akhir ini pendidikan karakter semakin hangat dibicarakan sebagai solusi atas carut-marutnya kondisi pendidikan di Indonesia. Mulai dari merosotnya kualitas pendidikan, maraknya tawuran antar pelajar, dan masih banyak lagi kondisi yang memprihatinkan. Kita tentu masih terbelalak dengan kasus pedofili para predator seksual yang menimpa beberapa murid di sebuah TK internasional. Sebelumnya, masyarakat juga dikejutkan dengan fenomena seks bebas di kalangan pelajar, serta pembunuhan bermotif asmara yang melibatkan mahasiswa. Dari sisi akademis, kurikulum yang senantiasa berganti dan kontroversi pelaksanaan ujian nasional masih menjadi momok tahunan. Dan baru-baru ini, kita kembali menyaksikan cerita pilu tewasnya seorang mahasiswa akibat ospek di kampusnya.Oleh karenanya Sistem pendidikan yang ada selama ini telah dianggap gagal dan banyak lulusan sekolah  piawai hanya dalam menjawab soal ujian, namun mental dan moralnya lemah.  Banyak ilmu yang dimiliki, namun dipakai untuk mengambil keuntungan untuk diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain yang ada disekitarnya.

Kita tidak bisa membayangkan jika kondisi ini terus berlanjut, mau jadi apa bangsa dan negara ini? Padahal kalau kita lihat lulusan sistem pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw, bisa melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, bahkan beberapa dari mereka termasuk sekelompok orang yang dijamin masuk surga oleh Allah swt. Kita bisa bayangkan betapa luar biasanya kualitas pribadi lulusan pendidikan Islam. Bagaimana dengan sekarang? Alih-alih mewujudkan generasi yang tangguh dan bertanggung jawab, yang ada malah the lost generation. Sistem pendidikan saat ini telah gagal mencapai tujuannya!

 

Tujuan Pendidikan Islam Adalah Membangun Pribadi Yang Islami

Ada 2 hal utama yang menyebabkan kegagalan sistem pendidikan yang berlangsung saat ini yaitu; pertama, paradigma yang salah dari sistem pendidikan yang ada saat ini. Sistem pendidikan saat ini lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, sehingga yang mereka siapkan adalah SDM yang siap bersaing, tanpa melihat apakah SDM itu memiliki pribadi yang baik atau tidak. Jadi dalam pandangan mereka manusia hanyalah alat produksi, bukan seseorang yang semestinya dipersiapkan untuk menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik. Oleh karenanya dengan paradigma yang salah tersebut, wajar sekali jika kita lihat di sekolah-sekolah saat ini minim sekali pendidikan agama. Pada akhirnya banyak lulusan dengan nilai mata pelajaran yang bagus tapi minim pribadi yang baik. Sehingga untuk menutupi kekurangan tersebut munculnya ide untuk memberikan tambahan berupa pendidikan karakter ini.

Berbeda dengan Islam, sejak pertama memang tujuan dari sistem pendidikan Islam adalah untuk membangun pribadi yang Islami, yaitu pribadi yang selalu terikat dengan aqidah dan hukum Islam. Dalam pandangan Islam, kepribadian (syakhshiyyah) seseorang itu terdiri dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola tingkah laku). Aqliyah (pola pikir) seseorang akan sangat mempengaruhi Nafsiyah (pola tingkah laku) seseorang. Oleh karena itu untuk memperbaiki kepribadian seseorang dari kepribadian buruk menjadi kepribadian mulia maka pertama kali yang dilakukan adalah memperbaiki Aqliyah (pola pikir) seseorang tersebut. Oleh karena itu dalam Islam, sejak dini sampai tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) telah ditanamkan aqidah Islam secara mendalam dan benar. Sehingga kita bisa lihat di sejarah bagaimana para sahabat, meskipun baru berusia belia, mereka sudah gigih memperjuangkan Islam. Dengan bekal aqidah dan hukum Islam mereka tumbuh menjadi pribadi yang rasional dan benar. Rasional karena mereka tahu batasan mana yang baik dan buruk, benar karena mereka selalu mengkaitkan perbuatannya dengan Islam. Bandingkan dengan saat ini, TK saja sudah dijejalkan pelajaran-pelajaran yang kurang mendukung untuk perbaikan pola pikirnya. Aqliyah (pola pikir) saja tidak cukup, perlu ada perbaikan Nafsiyah (pola tingkah laku) yaitu dengan lingkungan yang mendukung. Jadi 2 hal tersebut itulah yang dalam Islam menjadi prioritas dalam memperbaiki kepribadian untuk tercapainya pendidikan yang berkualitas dan benar.

Yang kedua penyebab kegagalan sistem pendidikan saat ini adalah Sikap Negara yang tidak sepenuhnya menjalankan kewajibannya untuk memberikan pendidikan yang baik kepada rakyatnya. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang wajib dipenuhi oleh Negara. Jadi mestinya tidak ada alasan bagi negara untuk tidak bisa menyelenggarakan pendidikan secara baik dengan alasan keterbatasan dana. Sumber dana untuk pendidikan bisa diambil dari hasil-hasil kekayaan alam milik rakyat. Dalam pandangan syariah Islam, air (kekayaan sungai, laut), padang rumput (hutan), migas, dan barang tambang yang jumlahnya sangat banyak adalah milik umum/rakyat. Rasulullah saw. bersabda:

Kaum Muslim bersekutu dalam tiga hal: air, hutan dan energi.(HR Ibn Majah).

Sebagai gambaran betapa melimpahnya kekayaan negara ini yaitu cadangan emas PT Freeport Indonesia saat ini mencapai Rp 1.329 triliun, atau hampir setara dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yang mencapai Rp 1.435 triliun. Hal ini didapat dari hitungan, bahwa Freeport memperkirakan cadangan bijih yang siap ditambang saat ini mencapai 2,6 miliar ton. Sehingga, dari cadangan sebanyak 2,6 miliar ton itu jika dihitung secara kasar, bisa menghasilkan 2.418 ton emas. Jika harga emas dipatok sebesar Rp 550.000 per gram, maka nilai cadangannya senilai Rp 1.329 triliun.Angka tersebut hampir menyamai APBN Indonesia tahun 2012 senilai Rp 1.435 triliun. Akan tetapi kekayaan yang melimpah tersebut hanya hanya sebagian kecil yang dirasakan oleh negara ini! Apa yang salah. Menurut data, Freeport sudah menyetor duit sebesar US$ 2,383 miliar atau setara Rp 21,447 triliun ke pemerintah sepanjang tahun 2011. Angkanya naik dari setoran tahun lalu US$ 1,922 miliar atau Rp 17,298 triliun. Secara total, sejak tahun 1992 hingga 2011 kemarin, anak usaha Freeport McMoRan Copper & Gold asal Amerika Serikat (AS) itu sudah menyetor US$ 13,8 miliar atau setara Rp 124,2 triliun (detikfinance, 12/3/2012).

Data di atas masih merupakan daftar kekayaan negara ini dari satu bidang saja yaitu emas, belum yang lainnya. Coba bandingkan dengan anggaran pendidikan tahun 2014 menurut data kementrian pendidikan, bahwa anggaran fungsi pendidikan pada tahun 2014 sebanyak Rp 371,2 triliun. Alokasi anggaran ini naik 7,5 persen jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan tahun lalu sebanyak Rp 345,3 triliun. Hal tersebut disampaikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2014 dan Nota Keuangannya di Gedung DPR/MPR/DPD RI. Jadi sebenarnya bagi negara ini tidak ada alasan lagi tidak bisa menjalankan pendidikan yang baik dan menyeluruh untuk semua warganya. Selain permasalahan pengelolaan dana oleh negara, ada lagi kewajiban negara yang terabaikan yaitu tidak adanya kurikulum yang berbasis agama untuk pendidikan usia dini sd SMA (Sekolah Menengah Atas). Karena itulah wajar kita dengar berita bahwa siswa SD (Sekolah Dasar) saja sudah bisa bisa membunuh temannya, maka dengan hal ini mestinya Menteri Pendidikannya bisa diseret ke pengadilan atas kelalaiannya.

 

Pendidikan Islam Lebih Baik

Berbeda dengan Islam, yang justru menetapkan negara sebagai pihak yang paling bertanggungjawab penuh atas pemeliharaan urusan-urusan masyarakat. Rasulullah saw. menegaskan:

Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertangunggjawaban atas pengurusan rakyatnya(HR al-Bukhari dan Muslim).

Pemimpin (kepala Negara) adalah pihak yang berkewajiban memelihara urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya(HR Muslim).

Di antara pengurusan rakyat adalah pendidikan. Jadi, dalam Islam negara berkewajiban memelihara urusan pendidikan rakyatnya. Negara tidak boleh lepas tangan dan menyerahkan pendidikan kepada swasta. Negara justru harus bertanggung jawab penuh atas masalah pendidikan rakyatnya. Lebih dari itu, Islam menetapkan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan utama masyarakat secara umum yang pemenuhannya menjadi kewajiban negara. Negara wajib menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis. Inilah prinsip dasar dalam sistem Islam. Prinsip dasar ini jelas bertolak belakang dengan prinsip dasar dalam sistem Kapitalisme yang sedang diterapkan di dunia, termasuk di negeri ini.

Berdasarkan pinsip ini, jika negara lalai atau abai terhadap masalah pendidikan rakyat maka kelalaian itu dinilai sebagai pelanggaran terhadap ketentuan Allah, dan tentu saja penguasa berdosa karenanya. Dan para pemimpinnya (Kepala Daerah) bisa diseret ke pengadilan untuk dimintai pertanggung jawaban atas kelalainnya. Prinsip inilah yang menjadikan para pemimpin dalam Islam selalu fokus terhadap pendidikan. Rasulullah saw. telah mencontohkan hal ini. Rasul Saw langsung mendidik masyarakat. Beliau juga mengangkat orang-orang yang bertugas memberikan pengajaran kepada masyarakat. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam Sîrah Ibn Hisyâm, Rasul juga pernah menjadikan tebusan bagi tawanan Perang Badar dalam bentuk mengajari anak-anak kaum Anshar membaca dan menulis. Untuk semua itu masyarakat tidak dipungut biaya sepeser pun. Prinsip itu pula yang mendorong para khalifah setelah beliau membangun berbagai fasilitas pendidikan secara cuma-cuma untuk rakyat. Penyelenggaraan pendidikan berkualitas disediakan untuk rakyat yang menginginkannya tanpa dipungut biaya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’tashim billah, Khalifah al-Mustanshir, Sultan Nuruddin dan para penguasa Islam lainnya sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Wajar jika sepanjang kekuasaan Kekhilafahn Islam, lahir banyak ulama, cendekiawan dan ahli di berbagai bidang. Mereka melahirkan temuan-temuan spektakuler yang mendahului ilmuwan-ilmuwan Barat puluhan bahkan ratusan tahun lebih dulu.

Sistem Islam memungkinkan mengulang semua itu. Pasalnya, Islam bukan hanya menetapkan negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis bagi rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim. Islam juga menetapkan sistem kepemilikan yang menetapkan barang-barang tambang dan kekayaan alam lainnya menjadi milik bersama seluruh rakyat yang pengelolaannya diwakilkan kepada negara, yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Dengan ketentuan itu, negara akan selalu memiliki dana yang cukup untuk membiayai pelayanan pendidikan gratis untuk rakyat secara mamadai.

Selain itu, Islam juga mengarahkan bidang fokus pendidikannya setelah semua masyarakat mengenyam pendidikan agama secara baik dan benar yaitu bidang industri berat. Diharapkan dengan fokus bidang industri berat seperti industri pesawat, nuklir, tank, dll, muslimin bisa mempersiapkan diri jika suatu saat ada serangan dari kaum kafir. Tidak seperti saat ini, kaum muslimin sudah merasa bangga dengan cuma belajar bahasa asing, sejarah, dan hal-hal lain yang tidak terlalu penting. Kaum muslimin tidak sadar bahwa mereka sengaja digiring oleh musuh-musuh Islam untuk tidak bisa bangkit melawan mereka dan selamanya akan menjadi budak mereka.

 

Wahai Kaum Muslimin!

Carut marutnya sistem pendidikan saat ini adalah akibat nyata dari ditinggalkannya sistem kehidupan yang benar yaitu Islam, yang tidak hanya mengatur ibadah saja tapi sistem pendidikan dan lainnya. Karenanya, untuk mengakhiri hal ini sudah saatnya kaum muslimin bangkit dari mimpi buruknya yaitu sistem kufur ke sistem yang mulia yaitu Islam. Hanya dengan itulah kita akan mendapatkan kehidupan yang di dalamnya Allah menurunkan berkah dari langit dan bumi. Allah swt berfirman:

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf [7]: 96). Wallahu a’lamu bishawab.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: