MEMBERANTAS PROSTITUSI DI TENGAH UMAT

Penutupan lokalisasi Gang Dolly sebagai kawasan lokalisasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara dilakukan pada tanggal 19 Juni 2014. Namun, setelah penutupan lokalisasi yang menjadi ikon prostitusi ini, ternyata tidak membuat praktik prostitusi habis. Praktik-praktik prostitusi masih berjalan secara diam-diam dilakukan oleh para PSK dan mucikari. Bahkan terakhir, semakin merebak praktik prostitusi online yang semakin gencar. Hal ini sebagaimana terbongkarnya jaringan protitusi online di Surabaya. Bisa dikatakan bahwa usia prostitusi, konon, setua peradaban manusia. Artinya, daya hidupnya sudah sangat teruji. Karena itu, ketika ruang prostitusi konvensional terus dipersempit, prostitusi online malah tumbuh subur. Bahkan, bentuknya terus bersalin rupa. Salah satunya berbentuk ekspo prostitusi yang dapat dibongkar unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Jaringan prostitusi online model ekspo tersebut melayani konsumen dari kalangan pengusaha sampai pejabat. Jaringan itu tidak hanya beroperasi di Surabaya, tetapi juga Jogjakarta dan Solo. Berdasar pengungkapan tersebut, polisi menangkap salah seorang mucikari bernama Galih Pratama alias Papi Piesank. Pria 23 tahun asal Panceng, Gresik, itu dibekuk polisi Jumat 15 Agustus 2014 di salah satu hotel di Kedungsari, Surabaya. Lantas bagimanakah solusi yang baik dan benar dalam pandangan Islam terkait masalah prostitusi tersebut?

Cinta Bukanlah Barang/Jasa
Merebaknya prostitusi salah satunya adalah adanya pandangan bahwa cinta sebagai sebuah barang/jasa yang bisa diperjualbelikan. Banyak hubungan cinta yang dibangun atas dasar motif ekonomi. Persepsi masyarakat liberalisme-kapitalisme saat ini, orang yang melakukan perzinaan dianggap sebagai urusan pribadi, apakah sekedar untuk memuaskan hawa nafsunya atau sebagai pekerjaan. Misal, istilah pelacur kini jarang digunakan karena dianggap kurang baik, agar istilah itu tidak terkesan buruk di mata masyarakat, maka secara halus diganti dengan istilah “Pekerja Seks Komersial (PSK)”. Istilah PSK nampaknya dipandang lebih sopan untuk melabelisasi para penjaja cinta terlarang. Adapun jumlah PSK di Indonesia setidaknya ada 40 ribu orang yang tersebar diberbagai lokalisasi (www.tempointeraktif.com).
Dari hubungan terlarang ini timbullah banyak jenis penyakit berbahaya. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention di Atlanta menyebutkan, ada 10 penyakit menular lewat seks, yaitu Herpes Genital (hampir 31 juta orang Amerika pernah menderita penyakit ini); Sifilis/Penyakit Raja Singa (kira-kira 120.000 orang di AS tertular sifilis tiap tahun); Gonore/Kencing Nanah (menyerang sekitar 1,5 juta orang Amerika); Klamidia (menginfeksi 4 juta orang Amerika setiap tahun); Genital wart/Jengger Ayam/Kutil di kelamin (menginfeksi 1 juta orang Amerika setiap tahun); Hepatitis B (Setiap tahun kasus yang dilaporkan mencapai 200.000); Kanker prostat; Kanker Serviks/leher rahim; Trichomoniasis; HIV/AIDS (penyakit penyebab kematian ke-6 di dunia) (www.thecrowdvoice.com). Jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia menurut Ditjen PP & PL, Kemenkes, hingga 31 Maret 2013 mencapai 147.106 kasus (www.aidsindonesia.com). Sementara itu, menurut program HIV/Aids PBB, UNAIDS bahwa saat ini jumlah pengidap virus HIV/AIDS mencapai 34 juta jiwa lebih dengan angka kematian pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1,7 juta kematian. Angka ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2005 yang mencapai puncak tertinggi dengan 2,3 juta kematian ataupun pada tahun 2010 lalu yang tercatat sebanyak 1,8 juta(www.radioaustralia.net.au).
Ini merupakan fakta yang sangat mengerikan bahwa hubungan cinta yang berdasarkan aturan manusia hanya akan melahirkan permasalahan baru atau kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, praktek-praktek perzinaan harus dihentikan, walaupun penutupan lokalisasi-lokalisasi tidak dapat menjamin perzinaan berhenti, namun langkah itu sudah cukup baik, setidaknya dapat mengurangi kemungkaran dan keresahan masyarakat sekitarnya.
Melihat dampak negatif yang begitu besar, sudah seharusnya masyarakat khususnya kaum muslimin mendukung langkah pihak-pihak tertentu untuk penutup praktek haram lokalisasi. Lokalisasi sebagai tempat maksiat secara terang-terangan telah berani melegalisasi “praktek perzinaan” sebagai sesuatu perbuatan yang biasa (lumrah) untuk dikerjakan. Padahal perbuatan zina telah dilarang secara tegas dan merupakan salah satu dosa besar, sebagaimana firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk“ (TQS. Al-Israa’: 32).
Oleh karena itu, dalam rangka pemberantasan kemaksiatan (perzinaan) seperti yang terjadi di lokalisasi Dolly, maka pemerintah, baik gubernur maupun walikota harus bertindak tegas. Merekalah yang memiliki kewenangan riil berupa kekuasaan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan bagi masyarakat harus mendukungnya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan), lalu jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (kesaksian), lalu jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya (mengingkari kemungkaran itu), dan itu adalah selemah-lemah keimanan” (HR. Muslim). Hukum harus ditegakkan secara adil kepada siapa saja yang melanggar. Oleh karena itu, pemberantasan praktek perzinaan di lokalisasi tidak boleh hanya ditutup begitu saja, tetapi harus ada upaya dari pemerintah untuk menghukum semua orang yang terlibat dalam praktek perzinaan di tempat tersebut, termasuk kelompok-kelompok atau oknum-oknum yang di belakang mereka. Pemerintah juga tidak boleh diskriminasi dalam penegakan hukum atas individu yang melanggar hukum. Oleh karena itu, pemberantasan praktek perzinaan tidak boleh hanya dilakukan di lokalisasi-lokalisasi saja, atau yang di jalanan, taman-taman, tetapi yang di kafe-kafe dan diskotik serta yang di hotel-hotel berbintang harus diberantas juga. Hukum jangan seperti pisau dapur, hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Giliran pelaku zina kalangan bawah dihukum, sementara kalangan pejabat atau pengusaha tidak disentuh sama sekali. Oleh karena itu, pemerintah harus serius dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat tanpa bertindak diskriminatif.

Praktek Prostitusi Adalah Kemaksiatan
Praktek perzinaan, apakah PSK itu di lokalisasi atau tidak (liar) tetap saja itu sebuah kemungkaran yang harus dihentikan. Sebenarnya masih banyak praktek perzinaan yang tidak/belum terungkap yang melibatkan (oknum) baik artis, pengusaha, bahkan pejabat negara. Mereka biasa bermain via internet, SMS dari hotel satu ke hotel yang lain dengan tarif puluhan juta hingga ratusan juta. Banyak wanita yang dijadikan sebagai lobi/deal proyek atau gratifikasi seks untuk urusan tertentu. Bahkan sekarang lagi ngetren di anak-anak bawah umur istilah “Cabe-cabean”. Cabe-cabean adalah sebutan bagi remaja putri yang senang keluyuran malam dan nongkrong di balapan liar, bahkan mereka rela untuk dijadikan sebagai barang taruhan. Fakta ini sungguh sangat memprihatinkan sekali, cinta telah diperdagangkan untuk memuaskan hawa nafsu dan kepentingan semu.
Jika masyarakat menginginkan perzinaan tersebut benar-benar tidak ada, maka perlu ada jaminan dari negara. Negara memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menegakkan hukum untuk mencegah segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan. Negara harus tegas dan berani terhadap para pelaku zina baik itu remaja/pemuda/dewasa, PSK, pengusaha, pejabat/aparat negara beserta orang-orang yang terlibat dalam praktek perzinan untuk diseret ke pengadilan. Para pelaku kemungkaran harus dihukum berat. Allah Swt. berfirman : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman…”(TQS. An-Nuur: 2-3). Dari Ubadah bin Shamit berkata Rasulullah Saw. bersabda : “Ambilah dariku, ambilah dariku, sungguh Allah akan menjadikan jalan bagi mereka. Jejaka dan perawan jilidlah 100 kali dan asingkanlah selama satu tahun. Untuk janda dan duda jilidlah 100 kali dan rajam”.Beliau juga bersabda : “Orang lelaki mendatangi Rasul lalu berkata, “ya Rasul saya telah berzina“, tapi Rasul tidak menghiraukan dan memalingkan muka, sehingga lelaki itu mengulang sampai empat kali, dan pergi mencari 4 saksi, setelah menghadap Rasul, dengan saksi-saksinya, baru Rasul bertanya, “apa kamu tidak gila?’. Di jawab “ tidak“. Kemudian Rasul bertanya lagi, “apa kamu sudah pernah nikah?“Dijawab “ya”, Kalau begitu, bawalah orang ini dan rajamlah“(HR. Bukhari). Para pelaku zina, jika yang bersangkutan belum pernah menikah dapat jatuhi hukuman jilid 100 kali dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan bagi yang sudah pernah nikah (janda/duda) atau sedang beristri/bersuami, maka harus dihukumi mati dengan dirajam. Sementara itu, bagi germo, agen-agen dan semua yang terlibat praktek perzinaan harus dihukum ta’zir, bisa dipenjara atau dihukumi mati.
Jadi apa yang dilakukan para PSK beserta orang-orang yang berusaha melestarikan prostitusi merupakan tindakan pidana melawan hukum. Oleh karena itu, setiap yang melakukan pelanggaran harus dihukum, karena melakukan praktek zina baik dengan bungkus lokalisasi, liar, diskotik maupun di hotel, bukanlah pekerjaan. Naluri seksual merupakan bagian dari cinta yang secara fitrah dimiliki setiap manusia, ia bukanlah barang dan jasa yang dapat diperdagangkan begitu saja. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: