CINTA DAN TAAT KEPADA ALLAH MELALUI BERQURBAN

Allah telah memberikan 2 hari raya bagi umat islam. Salah satunya adalah hari raya idul Adha. Beberapa saat lagi kita akanmenjumpainya kembali. Sebuah kenikmatan yang luar biasa Allah berikan kepada umat islam di seluruh penjuru dunia. Semua umat islam menyambut hari idul adha dengan menjalankan berbagai perintah Allah. Bagi sebagian orang pada saat ini sedang menjalankan ibadah haji di baitullah Makkah, sebagian yang lain dengan menjalankan ibadah penyembelihan hewan kurban. Semua bentuk aktivitas itu merupakan tuntunan untuk mentaati Allah azza wajalla.
Namun, dibalik semua bentuk ibadah-ibadah yang berkaitan dengan idul Adha, sungguh dapat diambil makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya sebuah aktivitas ritual melainkan nilai hikmah yang dapat digunakan dalam menjalani kehidupan. Sudahkah kita mengambil esensi ibadah dalam hari raya qurban ini?

Cinta dan Taat kepada Allah
Tidak bisa dipungkiri bahwa semua yang didapatkan manusia selama hidup di dunia adalah pemberian Allah Swt. Nikmat hidup, iman, dan kesempatan merupakan nikmat yang ternilai bagi kita semua. Hal ini tentu membuat kita berusaha menjadi hamba yang cinta dan taat kepada Allah Swt. Yaitu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah.
Berkaitan dengan ibadah qurban bagi umat islam adalah berangkat dari kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Salah satu pesan Allah kepada umat Muslim adalah meneladani dan memetik pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim yang sangat berkesan, Allah SWT. Berfirman:
“Sesungguhnya terdapat teladan yang baik bagi kamu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan beliau,” (QS. al-Mumtahanah: 4).
Di antara yang bisa kita ambil adalah peristiwa yang melatarbelakangi disyariatkannya ibadah kurban. Sebuah peristiwa yang mendebarkan dan menggetarkan sekaligus mengesankan, yaitu perintah Allah yang dialamatkan pada seorang ayah, kekasih-Nya, Khalilullah, Nabi Ibrahim agar menyembelih Ismail belahan jiwanya untuk dipersembahkan sebagai bukti cinta suci kepada Tuhan. Nabi Ibrahim bukan hanya mengajarkan tapi juga membuktikan bagaimana memenuhi panggilan-Nya meski disertai dengan pengorbanan yang teramat besar. Melalui mimpi, beliau diperintahkan oleh Allah menyembelih putra kandungnya sendiri, meski kelahirannya telah dinanti-nanti serta didamba-dambakan selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Allah Swt berfirman:
“Maka tatkala anak itu mencapai pada umur sanggup berusaha bersam-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “ Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku akan menyembelihmu, maka pikirlanlah bagaimana pendapatmu?” Ia menjawab, “Duhai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah akan kau dapati bahwa aku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan kami panggillah ia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik. Peristiwa ini adalah ujian yang nyata. Dan kami ganti untuk disembelih seekor binatang (kambing) yang besar. Dan kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” (QS. Ash-Shafat: 103-107).
Dari kisah perjalanan nabi Ibrahim dan nabi Ismail dapat diambil beberapa pelajaran diantaranya adalah nilai ketaatan dan kecintaan kepada Allah Swt. Tidak dipungkiri bahwa kisah Ibrahim dan Ismail menunjukkan tingkat ketaatan seorang hamba kepada Sang Khalik Allah Swt. Tanpa berfikir macam-macam Ibrahim dan Ismail menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh. Hal ini tentunya menjadi panduan setiap muslim tentang bagaimana bersikap terhadap perintah dan larangan Allah. Jika memang merupakan perintah Allah maka menjadi sikap seorang muslim adalah melaksanakan perintah tersebut, dan apabila merupakan larangan Allah maka menjadi sikap seorang muslim untuk meninggalkan tanpa melihat kepentingan atau maslahat apa yang didapatkan karena menjalankan perintah dan menjauhi larangan itu. Sebuah nilai ketaatan yang luar biasa seorang hamba kepada Tuhan-Nya tatkala mampu bersikap secara tegas tentang apa-apa yang diperintahkan Allah dan apa-apa yang dilarang Allah.
Kecintaan manusia harus dilandasi kepada kecintaan kepada Allah Swt. Peristiwa Ibrahim dan Ismail menunjukkan bukti kecintaan mereka kepada Allah Swt. Ketika menyangkut kecintaan kepada Allah maka kecintaan kepada yang selain-Nya adalah menjadi nomor dua dan kesekian kalinya bagi seorang muslim. Keberadaan harta, keluarga, jabatan, dan kenikmatan duniawi tidak menghalangi seorang hamba untuk mencintai Allah Swt. Allah sendiripun memperingatkan kepada manusia untuk mencintai segala sesuatu tidak melebihi kecintaan kepada-Nya. Allah Swt berfirman:
“Katakanlah jika bapak-bapakmu, anak-anakmu. saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah samapai Allah mendatangkan keputusanNYa. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24).
Inilah menjadi sebuah ujian bagi seorang hamba dalam membuktikan kecintaannya kepada Allah Swt. Karena sesungguhnya harta, wanita dan semua kehidupan duniawi senantiasa menarik di mata manusia. Allah Swt berfirman:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dan jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (jannah).” (QS. Ali Imran: 14).

Berkorban untuk Kejayaan Islam
Persoalan umat islam di seluruh dunia saat ini adalah belum tegaknya islam menjadi sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Persoalan ini hendaknya menjadi sebuah catatan bagi segenap kaum muslimin untuk berpikir dan bertindak dalam rangka usaha mewujudkan sistem yang mengatur kehidupan. Allah sudah mewajibkan kepada setiap muslim untuk memutuskan segala urusan sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Allah berfirman:
”Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan kamu terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah: 49).
Oleh karena itu, saat ini dibutuhkan pengorbanan seluruh umat islam dalam upaya menegakkan islam di muka bumi dengan berbagai macam cara sebagai Rasulullah contohkan. Umat islam harus bermuhasabah untuk kembali bertuhan kepada Allah dan untuk kembali berperadaban yang benar. Peradaban yang berdasar pada akidah dan hukum islam. Sesungguhnya peradaban islam terbentuk dari akidah dan system aturan yang benar yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah, bukan yang lain. Peradaban yang lahir selain dari akidah islam, Al Quran dan Sunnah bukanlah merupakan peradaban yang benar melainkan peradaban yang kufur dan sesat.
Peradaban islam lahir dari sebuah simpul akidah yang kuat yang kemudian dipancarkan oleh system aturan yang benar. Bukanlah merupakan sebuah peradaban yang benar tatkala peradaban tersebut bukan bersumber dari akidah dan hukum yang benar. Peradaban yang lahir dari akidah dan hukum yang salah pastinya akan membawa sebuah kekacauan, kesengsaraan, dan kezaliman bagi umat manusia. Sebagai contoh bentuk peradaban yang salah adalah bagaimana peradaban kapitalisme mengelola hak kepemilikan umum masyarakat. Kapitalisme menganggap bahwa kepemilikan itu pada awalnya adalah kepmilikan individu. Bagaimana individu bisa dengan bebas memiliki barang atau apapun sesuai dengan kehendaknya, termasuk di dalamnya adalah barang-barang yang merupakan kepemilikan umum dan merupakan barang untuk kepentinga umum. Keberadaan barang tambang, fasilitas umum seperti jalan raya, dan barang kebutuhan umum seperti mata air yang besar pun bisa dimiliki oleh individu. Padahal sesungguhnya itu semua merupakan hak umum yang tidak bisa miliki oleh individu. Ketika itu dimiliki oleh individu maka yang terjadi adalah penguasaan terhadap barang-barang itu yang digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi segelintir individu. Walaupun seharusnya dan selayaknya secara realita barang itu merupakan milik umum bagi masyarakat.
Tentu berbeda dengan peradaban islam yang mengatur dan mengelola kepemilikan itu berdasarkan hukum kepemilikan. Kepemilikan umum akan senantiasa ditempatkan pada kepemilikan umum tidak akan berubah sampai kapanpun. Siapapun penguasanya, siapapun kepala negaranya tatkala peradaban islam yang berkibar pada waktu itu, maka kepemilikan umum akan menjadi kepemilikan umum. Bahan tambang akan menjadi milik umum, fasilitas umum akan tetap menjadi milik masyarakat, dan barang kebutuhan umum selamanya akan mejadi kepemilikan umum. Tidak ada hak termasuk oleh Negara untuk merubah status kepemilikan barang milik umum. Dan ketika itu diterapkan tidak akan terjadi kedzaliman sebagaimana terjadi dalam peradaban kapitalisme yang membuat akses masyarakat terhadap barang milik umum menjadi dibatasi oleh keberadaan kepemilikan individu. Demikian pula dengan kekacauan dan kesengsaraan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya yang berkaitan dengan keberadaan barang milik umum menjadi sesuatu hal yang mudah untuk dipenuhi baik secara langsung maupun melalui perantara Negara dalam pemenuhannya.
Oleh karena itu, Umat islam harus mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yaitu melihat nilai ketaatan, kecintaan, kesabaran, dan pengorbanan demi Allah azza wajalla. Karena itulah merupakan kewajiban umat islam untuk melakukan semua aktivitasnya demi ridho Allah Swt. Dan jadikan semangat pengorbanan umat islam dalam upaya menegakkan dan melanjutkan kehidupan islam kembali berjaya di muka bumi ini. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: