MENJADI UMAT ISLAM YANG MABRUR

Mulai tanggal 9 Oktober 2014 jamaah haji Indonesia berangsur-angsur kembali ke tanah air melalui Terminal Haji Bandara International King Abdul Aziz di Jeddah negara Arab Saudi. Jamaah haji yang pertama kembali ke tanah air adalah jamaah haji dari Embarkasi Padang kloter 1 Gelombang 1 yang berangkat pada jam 08.00 waktu setempat. Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, sebagai amirul haj jamaah haji Indonesia pada tahun 2014, yang pulang melalui Terminal Bandara International King Abdul Aziz memberikan sambutan pelepasan kepulangan jamaah haji kepada mereka. Selanjutnya, 10 kloter lainnya dari berbagai embarkasi juga akan diberangkatkan pada hari itu. Demikian seterusnya setiap hari hingga seluruh jamaah haji kembali ke tanah air. Jika tidak ada keterlambatan, diperkirakan akhir kembalinya jamaah haji adalah pada tanggal 5 November 2014. Tiba di berbagai Embarkasi Haji Indonesia pada tanggal 6 November 2014.
Sekembalinya para haji tersebut, banyak juga di antara umat Islam yang mempunyai kebiasaan mengunjungi mereka. Pada acara tersebut yang baru pulang dari ibadah haji menceritakan berbagai pengalaman selama melaksanakan ibadah haji, menghidangkan air zam-zam dan mendoakan semuanya supaya dapat melaksanakan ibadah haji di Masjidil Haram. Adapun umat Islam yang mengunjungi, mendoakan orang yang baru pulang dari ibadah haji supaya menjadi haji yang mabrur.
Kembalinya jamaah haji ini, sebagaimana diketahui adalah karena beberapa waktu sebelumnya mereka melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. Tidak hanya dari Indonesia, Umat Islam dari segala penjuru dunia juga berduyun-duyun datang ke tanah haram untuk menunaikan kewajiban ibadah haji ini. Jumlah umat Islam yang menunaikan ibadah haji diperkirakan mencapai 2,8 juta orang, sedangkan jumlah jamaah haji Indonesia pada tahun 2014 ini diperkirakan mencapai 170 ribu orang.
Oleh karena itu, wajar saja kalau umat Islam di seluruh dunia terpaku pada pelaksanaan ibadah haji di tanah Makkah hingga kepulangannya. Tidak lupa tentunya, media juga memberikan sorotan lebih terhadap tradisi tahunan yang dilakukan oleh umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia. Berbagai kisah inspiratif sering menghiasi liputan di media berkenaan dengan perjuangan beberapa jamaah haji yang dengan kegigihan dan semangat akhirnya dapat menunaikan ibadah haji, meskipun dalam keadaan yang kekurangan. Akan tetapi di sisi lain, tidak sedikit juga umat Islam yang sudah melaksanakan ibadah haji berkali-kali baik melalui jalur regular maupun non regular (ONH Plus). Semangat yang luar biasa dari umat Islam dalam menjalankan ibadah haji ini terlihat dengan semakin panjangnya daftar antrian kuota haji yang bahkan sampai harus menunggu pada tahun 2030-an. Hal ini tentu di satu sisi sangat menggembirakan, bahwa umat Islam tumbuh kesadaran dalam menjalankan kewajiban haji bagi diri mereka.
Tentunya ketika nanti setelah menyelesaikan haji maka semua mengharapkan.menjadi haji yang mabrur. Walaupun kadang ada juga yang hanya sekedar untuk mendapatkan gelar haji saja. Di sebagian masyarakat kita, gelar haji adalah bagian dari status sosial, karena seseorang yang dapat melaksanakan ibadah haji memiliki prestise tersendiri, tidak setiap orang dapat melaksanakan ibadah tahunan tersebut. Orang yang dapat melaksanakan ibadah haji dianggap sebagai kalangan atas yang memiliki kemampuan ekonomi di atas rata-rata. Karena begitu mahalnya ongkos naik haji yang mencapai kisaran puluhan juta rupiah, sehingga jika seseorang hanya mengejar prestise dan status sosial saja maka tidak heran jika ibadahnya tidak memberikan dampak kebaikan apapun terhadap dirinya dan lingkungannya. Melihat fakta ini, maka yang harus menjadi koreksi bagi kita semua adalah apakah makna kemabruran bagi umat Islam sesungguhnya?

Definisi & Hukum Haji
Haji dari segi bahasa bermaksud mengunjungi. Sedangkan dari segi istilah adalah menyengaja mengunjungi Baitullah Al-Haram di Mekah untuk menunaikan segala perbuatan-perbuatan haji yang telah diperintahkan oleh Allah Swt demi mengharapkan keridhaanNya pada waktu tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula. Haji merupakan salah satu dari hukum Islam yang lima yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim, lelaki dan perempuan apabila cukup syarat-syaratnya. Menurut jumhur ulama’, fardhu haji mulai diwajibkan pada tahun ke-6 Hijrah karena pada tahun itulah turunnya wahyu Allah Swt yang artinya:“dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”. (QS. Al- Baqarah: 196). Demikian juga arti dari firmanNya“…dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah Haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari kewajiban Haji, maka ketahuilah bahwa Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Pada tahun tersebut Rasulullah bersama-sama lebih kurang 1500 orang telah berangkat ke Mekah untuk menunaikan fardhu haji tetapi tidak dapat mengerjakannya karena telah dihalangi oleh kaum Quraisy sehingga mewujudkan satu perjanjian yang dinamakan perjanjian Hudaibiah. Perjanjian itu membuka jalan bagi perkembangan Islam di mana pada tahun berikutnya (tahun ke-7 Hijrah), Rasulullah telah mengerjakan Umrah bersama-sama 2000 orang umat Islam. Pada tahun ke-9 Hijrah barulah ibadah Haji dapat dikerjakan di mana Rasulullah mengarahkan Sayidina Abu Bakar As-Siddiq memimpin 300 orang umat Islam mengerjakan haji. Nabi Muhammad Saw telah menunaikan fardhu haji sekali semasa hidupnya. Haji itu dinamakan “Hijjatul Wada’/ Hijjatul Balagh/ Hijjatul Islam atau Hijjatuttamam Wal Kamal” karena setelah haji itu tidak berapa lama kemudian baginda pun wafat. Baginda telah berangkat ke Madinatul Munawwarah pada hari Sabtu, 25 Zulqaidah tahun 10 Hijrah bersama istri dan sahabat-sahabatnya lebih dari 90.000 orang Islam.

Menjadi Umat Islam yang Mabrur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.”
Mabrur, itulah sebenarnya tujuan umat Islam menjalankan ibadah haji. Yang secara bahasa bagaimana umat Islam senantiasa berada dalam nilai-nilai kebaikan berdasarkan aqidah dan hukum Islam. Mabrur yang berakar dari kata “al-birr” berarti kebaikan. Artinya, seseorang yang menghendaki predikat tersebut harus berubah dan mampu mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang dijalankan, tak hanya di tanah suci melainkan terus berlanjut hingga perjalanan hidupnya, bahkan sampai ajal menjemput. Ibadah haji bukan sekedar ritualitas-verbal yang hampa makna, melainkan juga mengandung simbolisasi filosofis yang maknanya menglobal yakni menyentuh aktivitas kehidupan manusia sehari-hari.
Melihat lebih jauh tentang kemabruran ibadah haji, tentu tidak cukup hanya memandangnya sebagai perubahan yang bersifat pribadi dan ritual. Mabrur dalam ibadah haji tidak hanya dengan mengatakan bahwa ibadah ritual seseorang menjadi lebih baik dan meningkat. Lebih jauh dari itu, mabrur bagi umat Islam adalah dengan memahami secara benar bahwa kehidupan yang dia jalani tidak lain adalah untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Mabrur adalah sebuah hasil terhadap iman yang dimiliki oleh setiap muslim. Mabrur adalah meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini harus berjalan sesuai dengan aqidah dan hukum Allah Swt. Mabrur adalah sebagai bentuk ketundukan, kerelaan dan berserah diri atas semua keputusan dan aturan Allah Swt. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua bahwa tujuan mabrur tidak hanya sebatas untuk pribadi-pribadi akan tetapi bagaimana umat Islam juga menjadi umat yang mabrur.
Islam sebagai agama yang diturunkan Allah Swt bukanlah sebagai agama yang hanya memerintahkan untuk memperlihatkan simbol dan ritual belaka. Islam adalah agama yang sempurna yang sudah diturunkan oleh Allah Swt untuk mengatur kehidupan manusia. Islam diturunkan oleh Allah Swt untuk keteraturan manusia dalam menjalani hidup sebagaimana fitrahnya. Allah Swt berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maaidah : 3).
Kesempurnaan Islam inilah yang mewajibkan umat Islam menjadi umat dalam kebaikan. Umat Islam harus tersadar bahwa Islam diturunkan tidak hanya melaksanakan ibadah ritual saja, melainkan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Menjadi umat Islam yang mabrur berarti kita yakin dengan segala kebaikan akidah dan hukum Islam baik secara pemikiran maupun pemahaman. Islam adalah sebuah agama yang memiliki pemikiran dan metode. Hal ini berarti bahwa Islam bukanlah hanya sesuatu yang bersifat dogmatis, akan tetapi Islam adalah sebuah pemikiran mendalam tentang alam semesta, manusia dan kehidupan yang dilengkapi dengan metode (thariqah) dalam menjalani ke semuanya tersebut.
Dengan menganggap bahwa kebaikan Islam adalah sebuah sistem yang menyeluruh, maka seharusnya umat Islam yang mabrur tidak akan mau mengambil akidah dan hukum selain dari Allah Swt sebagaimana keimanannya yang tertanam dalam hati. Karena tentunya umat Islam paham dan yakin atas apa yang disampaikan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS al-Maaidah: 44).
“Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.” (QS al-Maaidah: 45).
“Dan arangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS al-Maaidah: 47).
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah: 50).
Keyakinan terhadap wahyu Allah Swt ini tentu harus ditempatkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak hanya menganggap bahwa berhukum kepada Allah hanya dalam persoalan ibadah belaka. Akan tetapi mengambil hukum Allah Swt adalah wajib dalam seluruh aspek kehidupan. Tentu kita juga memahami bahwa Allah Swt melarang kita mengambil sebagian hukum Allah Swt dan meninggalkan sebagiannya. Sebagaimana firman Allah Swt: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa`: 150-151).
Pemahaman menyeluruh ini akan membawa sebuah terobosan pemikiran bagi umat Islam, bagaimana mewujudkan umat Islam menjadi umat yang mabrur secara nyata. Umat Islam yang senantiasa dalam kebaikan di sekelilingnya. Umat Islam yang yakin akan akidah dan hukum Islam.

Ikhtitam
Menunaikan ibadah haji bukanlah perkara mudah, diperlukan niat yang suci dan hati yang bersih sebelum melaksanakannya. Haruslah diniatkan bahwa ibadah haji semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Illahi dengan rangkaian ibadah yang dilaksanakan. Berawal dari niat yang benar inilah seseorang bisa menggapai predikat haji mabrur yang balasannya adalah surganya Allah Swt.
Dengan berhaji diharapkan umat Islam di seluruh penjuru dunia bisa membawa perubahan terhadap dirinya sendiri dan umat Islam secara menyeluruh. Dampak/perubahan tersebut bisa dilihat dari semakin dekat dengan Allah Swt, menjaga dan mendakwahkan hukum syara’ sehingga tercipta kehidupan yang Islami. Kita memohon kepada Allah Swt agar kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji dengan niat yang tulus bisa diterima ibadahnya dan mendapat predikat haji yang mabrur. Dan semoga umat Islam menjadi umat yang mabrur. Amiin yaa rabbal alamiin. Wallahu a’lam bishowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: