BONGKAR PASANG KURIKULUM WUJUD KEGAGALAM SISTEM PENDIDIKAN SEKULER

Meskipun kurikulum 2013 telah diterapkan sejak awal tahun ajaran 2013/2014, namun hingga saat ini masih terjadi pro kontra di tengah-tengah masyarakat. Sebagian masyarakat menolak diberlakukannya kurikulum 2013 tersebut karena terlalu memberatkan siswa, khususnya mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Siswa dituntut lebih aktif dalam kegiatan belajar, mulai dari membaca, memahami, menalar, mempraktekkan, membahas/mendiskusikan, daripada gurunya. Untuk ukuran anak SD tentu belum bisa untuk berpikir terlalu jauh, mereka lebih banyak menerima pengetahuan daripada harus mencari sendiri. Namun pihak yang setuju dengan diterapkannya kurikulum 2013 tersebut menilai bahwa kurikulum baru saat ini akan mampu memberikan nilai plus pada anak didik. Pemerintah melalui Kemendikbud mengklaim bahwa kurikulum 2013 ini sebagai terobosan untuk membenahi SDM Indonesia. Kurikulum 2013 dengan muatan tematiknya diharapkan mampu mendorong proses pendidikan yang mampu mencetak generasi bangsa yang memiliki karakter unggul. Banyaknya kasus tawuran, pergaulan bebas, geng motor, dan kekerasan lainnya yang kerap terjadi dikalangan pelajar menjadi keprihatinan bagi bangsa ini. Kehadiran kurikulum 2013 diharapkan oleh pemerintah mampu merubah budaya negatif dikalangan pelajar dan menjadikan budaya pelajar yang baik, santun dan berwawasan kedepan.
Belum secara maksimal diterapkannya kurikulum 2013, muncul wacana baru yaitu dengan pergantian pemerintahan baru dengan komposisi menteri baru. Keberadaan kurikulum 2013 juga mulai mendapat masukan untuk dilakukan revisi. Namun demikian sampai sejauh ini, belum ada kepastian untuk dilakukan pergantian terhadap kurikulum 2013. Melihat seringnya bongkar pasang kurikulum pendidikan di negeri ini, sebenarnya bagaimanakah menyusun kurikulum mumpuni yang mampu menjawab berbagai permasalahan sosial yang ada saat ini?

Perjalanan Panjang Perubahan Kurikulum
Perubahan kurikulum pendidikan nasional bisa dibilang memiliki sejarah yang cukup panjang. Kalau dihitung sejak awal penerapan kurikulum tahun 1947 hingga tahun 2013 ini setidaknya sudah mengalami 11 kali perubahan kurikulum. Apabila kita renungkan, bangsa ini telah mengalami masa uji coba kurikulum pendidikan yang sering dan panjang, yang tentunya sangat melelahkan bagi anak didik dan orang tua yang setiap hari berhadapan dengan dunia pembelajaran. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah berpikir jernih dan mendalam untuk tidak lagi menjadikan anak didik/siswa sebagai objek percobaan yang berkepanjangan tanpa adanya kejelasan hasil. Keberhasilan dari penerapan kurikulum tidak bisa hanya dilihat dari angka-angka ujian nasional, tetapi juga harus dari kepribadian siswa selama proses pendidikan itu berlangsung, apakah anak itu menjadi baik atau sebaliknya. Penerapan kurikulum saat ini pada kenyataannya hanya melahirkan pejabat yang korup, berperilaku menyimpang dan yang tidak layak menjadi contoh bagi rakyatnya. Jadi, kalau boleh disimpulkan kurikulum pendidikan yang dibangun di atas sistem sekuler saat ini hanya melahirkan individu-individu yang bermental rendah, berkepribadian kacau.
Bila kita tengok Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan yang baik tidak akan pernah tercapai, apabila azas dan metode yang digunakan juga tidak baik. Sistem pendidikan di Indonesia saat ini bisa dibilang masih dipengaruhi sistem sekulerisme, yaitu sistem kehidupan yang dibangun di atas pemisahan antara peran agama dengan kehidupan. Agama hanya dijadikan sebatas urusan ibadah ritual belaka, seperti sholat, puasa, zakat, haji dll. Agama tidak diberi ruang untuk berperan dalam mengatur urusan kehidupan lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pemerintahan, dll. Penerapan sistem kehidupan di negeri-negeri muslim mayoritas berdasarkan sekulerisme kapitalisme. Agama dijauhkan dari urusan mengatur kenegaraan sehingga yang terjadi adalah penyesatan. Urusan pendidikan yang semestinya sebagai ujung tombak lahirnya generasi sholeh dan mumpuni, justru yang dihasilkan sebaliknya generasi rusak yang gemar melakukan kriminalitas. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis sumber daya manusia di negara ini, pemerintah tidak perlu malu untuk melirik dan menerapkan sistem kurikulum pendidikan Islam yang dibarengi dengan penerapan sistem kehidupan lainnya yang dengan basis Islam.

Kurikulum Pendidikan Berbasis Akidah dan Hukum Islam
Pendidikan di dalam Islam merupakan salah satu aspek pokok kehidupan yang sangat penting bagi setiap individu muslim. Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap individu muslim yang memiliki ilmu pengetahuan, sebagaimana Allah swt berfirman : “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS. Al Mujadilah : 11). Betapa sangat pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia hingga Islam mewajibkan untuk menuntut ilmu, Rasulullah SAW. Bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap individu muslim”(HR. Ibnu Abdil Bari). Namun ilmu tidak akan dapat diperoleh seseorang dengan mudah, manakala tidak ada aktivitas belajar mengajar, melainkan harus dibarengi dengan belajar sungguh-sungguh. Untuk mewujudkan individu muslim yang dapat mengenyam proses belajar, maka Islam memberikan tanggung jawab kepada negara sebagai intitusi penyelenggara pendidikan. Dalam penyelenggaraan pendidikan ini negara tidak boleh membatasi usia seseorang, tetapi harus memberikan ruang waktu yang luas bagi warga negara untuk terus belajar. Tidak seperti yang terjadi dalam sistem pendidikan saat ini, di mana negara membatasi belajar hanya sampai 9 tahun atau 12 tahun saja. Di samping itu, negara tidak boleh memberikan beban yang berat kepada rakyat dalam menuntut ilmu. Salah satunya negera tidak boleh menjadikan pendidikan sebagai media bisnis mencari keuntungan, atau melempar tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ini kepada swasta.
Tujuan diselenggarakannya pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islami (syakhshiyah islamiyah) setiap Muslim dan membekali dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam memuat tiga aspek utama, yang pertama adalah untuk membentuk kepribadian Islam; yang kedua adalah penguasaan tsaqofah Islam; yang ketiga, penguasaan ilmu pengetahuan umum yang berhubungan dengan skil/ketrampilan/keahlian. Adapun maksud dari membangun kepribadian Islam adalah setiap anak didik dimulai tingkat paling dasar hingga tingkat paling tinggi baik sekolah formal maupun informal, swasta maupun negeri, harus dibentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami, yaitu dengan menanamkan akidah dan hukum-hukum Islam. Pembentukan pola pikir dan pola sikap harus terus berkesinambungan, tentunya dengan porsi waktu yang cukup disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing. Porsi untuk membentuk kepribadian Islam tidak cukup hanya 2 atau 3 jam seminggu untuk kelas SD/SMP/SMA atau 2 sks untuk 4 tahun diperguruan tinggi sebagaimana kurikulum pendidikan seperti saat ini. Belum lagi muatan materi yang diajarkan dari SD hingga perguruan tinggi lebih banyak seputar ibadah mahdloh saja, sedikit tentang akidah dan muamalah dan itupun hanya sekedar pengetahuan saja atau hanya untuk memenuhi kurikulum atau SKS saja.
Penanaman materi tentang akidah dan hukum Islam sejak dini secara intensif dan kontinyu akan mempermudah anak didik memahami dan mampu mengamalkan akidah dan hukum Islam dalam kehidupan. Dengan demikian kualitas keimanan dan ketaqwaannnya tidak diragukan lagi. Dengan demikian anak didik dalam pendidikan Islam akan mampu membentengi diri mereka dari perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum secara keseluruhan, termasuk perbuatan kriminal sebagaimana dalam sistem pendidikan sekuler selama ini yang meresahkan masyarakat, seperti : tawuran, pergaulan bebas, narkoba, aksi kekerasan, dll. Hal-hal semacam ini kemungkinan kecil akan terjadi pada anak didik dalam sistem pendidikan Islam, karena di dalam Islam secara tegas bahwa setiap perbuatan mengandung dua konsekuensi yaitu pujian atau celaan, penghargaan atau sanksi/hukuman, dosa atau pahala, neraka atau surga. Jika seseorang melakukan pelanggaran terhadap aturan maka akan dikenai sanksi/hukuman tegas sesuai dengan kadar pelanggarannya. Begitu pula orang yang taat terhadap hukum dia akan dipuji dan kelak akan mendapatkan balasan surga.
Hasil pendidikan Islam juga akan menjadikan seseorang ketika menjadi pejabat negara maka akan menjadi pejabat negara yang baik dan amanah. Semua ini dapat kita tengok dalam sejarah Islam mulai jaman Rasulullah hingga runtuhnya kekhilafahan Islam. Mereka para pemegang kekuasaan memiliki kepribadian Islam yang baik, memiliki kecenderungan yang kuat untuk tetap tunduk pada akidah dan hukum Islam. Oleh karena itu, dalam membangun kepribadian generasi bangsa tidak bisa dilakukan dengan uji coba kurikulum secara terus yang tidak jelas ujung pangkalnya, dan hanya melahirkan mental pejabat yang korup dan melanggar aturan.
Aspek penguasaan tasqofah Islamiyah seperti: bahasa arab, ilmu fiqh, dll sangat penting bagi individu muslim. Ditinggalkannya tsaqofah Islam, yaitu tidak dijadikannya bahasa arab untuk memahami agama dalam mengambil ijtihad merupakan salah satu penyebab kemunduran dan runtuhnya Islam pada abad ke-7 Hijriyah. Oleh kerena itu, setiap individu muslim wajib untuk menguasai tasqofah Islam sebagai alat untuk menjaga dan melestarikan akidah dan hukum Islam, serta sebagai alat untuk memfilter dan mengkritisi tsaqofah kufur yang terus menerus dihembuskan musuh-musuh Islam.
Aspek penguasaan ilmu pengetahuan umum yang berhubungan dengan ketrampilan dan keahlian harus diberikan ketika anak didik beranjak dewasa. Hal ini sebagai bekal untuk mengarungi samudra kehidupan, sehingga ketika dewasa dan berkeluarga seseorang tidak berpangku tangan atau hanya bergantung kepada orang lain tetapi sudah siap dan mampu membekali dirinya untuk bertanggung jawab atas nafkah keluarganya. Adapun ilmu pengetahuan umum yang berhubungan dengan ketrampilan atau keahlian diantaranya: teknik, kedokteran, farmasi, pertanian, peternakan, pertambangan, dll. Oleh karena itu, negara sebagai pelayan rakyat harus membuka lebar pintu masuk perguruan tinggi kepada siapa saja yang hendak mempelajari bidang-bidang keilmuan yang menjadi pilihannya. Tidak boleh perguruan tinggi hanya untuk kalangan tertentu saja, semua orang harus bisa mengakses dan belajar di tempat dan bidang keilmuan yang diinginkannya. Negara harus menyelenggarakan pendidikan yang memadai bagi warga negara tanpa berpikir untung dan rugi, tidak seperti sistem pendidikan kapitalisme saat ini, di mana masih banyak perguruan tinggi menjadi salah satu orientasi untuk mencari keuntungan. Untuk belajar dengan fasilitas negara secara cuma-cuma begitu sulit, di samping itu ada pembatasan terkait dengan jumlah peserta didiknya, seolah negara terkesan tidak mau dirugikan. Misal, biaya masuk di PTN saat ini relatif mahal, misal biaya masuk kuliah reguler sampai lulus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dengan pola pembiayaan yang lama rata-rata menghabiskan biaya Rp 105,5 juta, yang terdiri dari SPP Rp 2,150.000 per semester, sumbangan pembangunan institusi (SPI) Rp 75 juta dan SPP lain Rp 900 ribu (www.jpnn.com). Adapun dengan menggunakan pola pembiayaan sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) di Fakultas Kedokteran UGM yang tertinggi mencapai Rp 22.500.000 per semester berdasarkan pendapatan kotor orang tua juga terasa memberatkan.
Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan saat ini faktor biaya menjadi persoalan serius bagi masyarakat ketika akan melanjutkan belajar ke jenjang ketrampilan/keahlian, hanya mereka yang mampu dan beruntung yang dapat menikmati pembelajaran keahlian/ketrampilan saat ini. Negara adalah pelayan, sudah seharusnya melayani rakyat dengan sebaik-baiknya, Rasulullah saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. (HR. Bukhari & Muslim). Apabila dalam penyelenggaraan pendidikan negara terdapat penyelewengan tanggung jawab, maka sudah semestinya negara harus dimintai pertanggungjawabannya. Apabila hal ini dapat diterapkan maka sistem pendidikan akan melahirkan generasi-generasi bangsa yang memiliki kepribadian Islam yang baik dan ahli/trampil dalam bidang-bidang kehidupan. Dengan demikian negara pun nantinya akan dipimpin pejabat-pejabat yang amanah dan berkeilmuan tinggi. Sudah saatnya pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah dan hukum Islam menjadi satu-satunya sistem pendidikan yang semestinya diterapkan dalam kehidupan ini dengan meninggalkan sistem kurikulum pendidikan yang lain. Wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: