STANDAR KEBAHAGIAAN HIDUP

Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks kebahagiaan orang Indonesia berada di level 68,28. Sebelumnya BPS telah melakukan survei pengukuran tingkat kebahagiaan penduduk terhadap kepala rumah tangga yang menjadi sampel. Indeks kebahagiaan disusun berdasarkan tingkat kepuasan terhadap sepuluh aspek kehidupan yang dianggap penting, yaitu: kepuasan terhadap kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, serta kondisi keamanan. Semakin mendekati 100, semakin bahagia pula rakyatnya. Sebanyak lima dari sepuluh aspek memiliki indeks di atas tujuh puluh. Kelima aspek tersebut adalah ketersediaan waktu luang 71,74, hubungan sosial 74,29, keharmonisan keluarga 78,89, kondisi keamanan 76,63, serta keadaan lingkungan 74,86. Adapun indeks kebahagiaan dari aspek pendidikan hanya di level 58,28, aspek kesehatan 69,72, pendapatan rumah tangga 63,09, aspek kondisi rumah tangga dan aset 65,01, dan aspek pekerjaan di level 67,08. Menurut Kepala BPS hasil ini menunjukan masyarakat Indonesia memiliki hubungan sosial yang tinggi dan bahagia jika kondisi aman, sedangkan pendidikan, kesehatan dan pendapatan belum berkontribusi terhadap kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan komposisi masyarakat Indonesia yang masih berpendidikan rendah, dan masih banyak yang miskin. (TribunJateng.com, 6 Februari 2015).
Senada dengan apa yang dilakukan BPS pusat, BPS masing-masing propinsi juga merilis indeks kebahagiaan penduduknya, walaupun indikator yang digunakan tidak sama persis dengan yang digunakan oleh BPS pusat. Sebagai contoh, Badan Pusat Statistik propinsi DKI Jakarta merilis indeks kebahagiaan penduduk 2014 dan menggambarkan bahwa penduduk Ibu Kota masih bahagia. Dari survei yang dilakukan terhadap 1.129 rumah tangga, diketahui indeks kebahagian penduduk Jakarta berada di level 69,21. Sedangkan berdasarkan status perkawinannya kelompok masyarakat yang belum menikah cenderung kurang bahagia dengan indeks kebahagiaan di level 67,76. Adapun kelompok masyarakat dengan status menikah kadar kebahagiaannya lebih tinggi yaitu dengan indeks kebahagiaan 69,32. Setelahnya, kelompok masyarakat berstatus cerai mati berada di level 69,29, dan yang mengalami perceraian bukan karena kematian berada di level 67,90. (Solopos.com, 5 Februari 2015).
Demikian juga Badan Pusat Statistik Jawa Barat juga telah mencatat indeks kebahagiaan masyarakatnya pada tahun 2014 di level 67,66. Angka ini diperoleh dari 5.990 rumah tangga yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Adapun indeks kebahagiaan dari sisi demografi dan ekonomi, di perkotaan pada level 68,54 atau relatif lebih tinggi dibandingkan di pedesaan yaitu 66,04. Selain itu, strata pendidikan juga mempengaruhi indeks kebahagiaan masyarakat Jawa Barat dimana peringkat teratas ditempati warga berpendidikan tinggi. Penduduk yang tidak atau belum pernah sekolah mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah 60,36 sementara indeks kebahagiaan tertinggi pada penduduk dengan tingkat pendidikan S2 atau S3 yaitu 77,94. Indeks kebahagiaan terbesar disumbang dari keharmonisan keluarga yaitu sebesar 78,31 dan terendah aspek pendidikan yaitu 57,68. Berdasar status pernikahan penduduk berstatus belum menikah dan menikah cenderung relatif sama indeks kebahagiaanya, yakni 68. Namun mereka yang berstatus cerai lebih rendah indeks kebahagiaannya, yaitu cerai hidup 65,11 dan cerai mati 64,44. (Beritasatu.com, 6 Februari 2015).
Pengukuran indeks kebahagiaan tersebut berawal dari himbauan PBB kepada negara-negara anggotanya untuk mengukur dan menerapkan Gross National Happiness sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional. Gross National Happiness dianggap penting agar pembangunan negara tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi namun juga memperhatikan kebahagiaan rakyat.
Memang begitulah kenyataannya. Pertumbuhan ekonomi, yaitu banyaknya ‘barang’ baik pada seseorang atau pada suatu negara tidak mencerminkan kemakmuran, apalagi kebahagiaan. Saksikan saja Amerika atau Eropa. Konon Eropa secara umum adalah wilayah yang makmur dan sejahtera. Namun apa mereka bahagia dengan adanya kebiasaan menghina orang lain, termasuk kepada Nabi Muhammad SAW dan kebiasaan brutal watak penjajahan? Konon Amerika secara umum adalah wilayah yang makmur dan sejahtera. Namun apa mereka bahagia dengan kebiasaan menonjolkan kepentingan dan tidak menggubris yang haq dan yang batil? .Demikian juga negara-negara lain, yang hanya mengadopsi kapitalisme dan sekulerisme Eropa atau Amerika, atau negara sosialisme dan komunisme, lalu hitung-hitungan di atas kertas pertumbuhan ekonomi mereka meningkat. Apa mereka bahagia?
Bukan berarti indeks kebahagiaan adalah segala-galanya. Tahukah anda tentang Puerto Rico yang pada tahun 2010 dinobatkan sebagai negara paling bahagia sedunia? New York Times tanggal 8 Februari 2014, melalui reporternya Lizzete Alvarez, mengemukakan bahwa penduduk Puerto Rico banyak yang (ingin) hengkang karena kebangkrutan ekonomi dan kriminalitas yang tinggi. Untungnya Puerto Rico adalah teritori-nya AS sehingga yang dihitung indeks kebahagiaannya adalah AS. Seandainya dihitung, saat ini mungkin penduduk Poerto Rico termasuk yang paling tidak bahagia. Bagaimana dengan Australia yang tahun 2014 dinobatkan sebagai negara paling bahagia nomor 1? Yang jelas dua warga negaranya termasuk geng Bali Nine yang mengedarkan narkoba di Indonesia dan akan dihukum mati. Sedangkan menteri luar negeri Australia Julie Bishop secara tidak langsung mengancam pelaksanaan hukuman mati tersebut dengan mengatakan bahwa akan banyak warga Australia yang tidak mau berlibur di Bali kalau hukuman mati dilaksanakan. Seperti itukah negeri paling bahagia di dunia?
Dengan demikian, indeks kebahagiaan masih perlu diperbaiki dan dikembangkan sehingga benar-benar menunjukan kebahagiaan. Boleh disimpulkan bahwa hitung-hitungan di atas kertas berupa indeks kebahagiaan atau yang lainnya, bukan permasalahan sesungguhnya kebahagiaan. Apalagi kalau hitung-hitungan tersebut hanya untuk menutupi kejahatan dan mengaburkan serta menyamarkan realitas ketidakbahagiaan. Kebahagiaan harus benar-benar merupakan keadaan yang menunjukkan kesenangan dan ketenteraman hidup. Allah SWT berfirman dalam surat Al Qashshash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (berupa kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kebahagiaan) dunia dan berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Bagaimana pandangan Islam tentang kebahagiaan?

1. Proses Meraih Kebahagiaan
Ayat ke 77 surat Al Qashashsh tersebut menunjukan bahwa Islam bukan hanya agama yang berisi ajaran ibadah semata, namun juga berisi ajaran tentang kehidupan. Ajaran Islam tentang ibadah memberikan kebahagiaan ibadah. Demikian juga ajaran Islam tentang kehidupan memberikan kebahagiaan kehidupan. Adanya pihak-pihak yang menganggap bahwa agama Islam hanya berisi ajaran ibadah telah diingatkan oleh Allah SWT dengan pernyataan supaya tidak melupakan bahwa agama Islam juga mengajak manusia untuk meraih kebahagiaan kehidupan, walaupun orang musyrik, kafir dan munafik tidak menyukainya. Jadi kebahagiaan Islam adalah ketika seseorang menjalankan Islam secara kaaffah, yaitu menjalankan ibadah Islam dan menjalankan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Ayat tersebut juga menjelaskan supaya orang-orang mau melakukan berbagai kebaikan. Melakukan kebaikan bermanfaat karena dapat memperbaiki hal-hal yang kurang baik. Sebagai contoh orang yang memiliki budak lalu memerdekakan budaknya. Tentu ini membahagiakan, khususnya si budak. Contoh lain, orang memiliki piutang lalu membebaskan hutang dari orang yang berhutang kepadanya. Tentunya ini membahagiakan, khususnya orang yang dililit hutang. Memberi nasihat dan dakwah Islamiyah juga termasuk contoh kebaikan. Orang yang diberi nasihat seharusnya juga bahagia karena dia mendapatkan masukan dan saran yang dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan perbuatan. Masih banyak contoh-contoh lain dari melakukan kebaikan yang kalau dilakukan pasti akan membahagiakan, baik bagi dirinya maupun orang lain.
Pada bagian akhir ayat ini, Allah SWT berfirman melarang manusia membuat kerusakan. Kita semua dapat menduga bahwa membuat kerusakan berakibat kurangnya atau hilangnya kebahagiaan. Bayangkan kalau suatu ‘geng jahat’ berkuasa di suatu daerah. Pastilah berbagai kebaikan berkurang dan hilang. ‘Geng jahat’ dapat memutarbalikan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Logika jadi tumpang tindih tidak karuan, hati nurani jadi hati setan. Tentunya kebahagiaan tidak akan ditemui. Apalagi ‘geng jahat’ tanpa malu-malu melakukan pemalakkan sistematis kepada rakyat. Kekayaan masyarakat berkurang dan kebahagiaan telah terampas dari kehidupan. Belum lagi ditambah kebrutalan ‘geng jahat’ yang menimbulkan terror dan ketakutan. Benar-benar kebahagiaan sudah tidak ada. Maha benar Allah SWT yang melarang manusia melakukan kerusakan.

2. Kebahagiaan Sebagai Rasa Syukur atas Nikmat Allah SWT
Semakin sering manusia bersyukur kepada Allah SWT menunjukkan bahwa manusia itu semakin bahagia. Sebaliknya, semakin tidak bersyukur kepada Allah SWT, menunjukkan bahwa manusia itu tidak bahagia. Tentu saja bersyukur di sini tidak hanya lisan, namun hati, lisan dan perbuatan yang penuh syukur kepadaNya.
Bersyukur kepadaNya hanya dapat terjadi kalau kita menyadari dan merasakan bahwa semua adalah berasal dariNya dan pemberianNya yang menyebabkan kita senang dan tentram dalam kehidupan. Dialah Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki, Kesenangan dan Ketentraman.
Seseorang yang berada di atas kapal di tengah lautan luas bersyukur kepadaNya bahagia karena Allah SWT telah memberikan kapal dan lautan yang menyebabkan dia dapat berlayar ke suatu tempat dituju. Orang itupun bersyukur kepadaNya bahagia karena Allah SWT telah memberikan keselamatan dari badai yang menerjang. Jadi, terlihat sekali bahwa kebahagiaan adalah bersyukur atas nikmatNya.
Sebaliknya, seorang pencuri tidak dapat bersyukur kepadaNya. Memang dia mendapat harta benda, namun harta benda tersebut diperoleh melalui mencuri yang dilarang oleh Allah SWT. Pencuri tidak akan bahagia dengan barang curiannya. Dia baru akan berbahagia kalau bertobat nasuha dan mengembalikan barang curiannya. Demikian juga pelaku riba, pemalak, koruptor, penyuap dan penerima suap serta perampok tidak akan merasakan kebahagian, kecuali kalau dia meninggalkan perbuatan haram yang dilakukannya.

Ikhtitam
Hitung-hitungan di atas kertas tentang indeks kebahagiaan diharapkan menggantikan hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi. Boleh-boleh saja menghitung kemakmuran dan kesejahteraan dengan berbagai cara dan teknik. Apakah menggunakan indeks kebahagiaan, pertumbuhan ekonomi, atau yang lain-lain. Membandingkan antar negara atau antar daerah juga boleh-boleh saja.
Harus diingat bahwa kebahagiaan bukan sekadar hitung-hitungan di atas kertas. Namun kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup hakiki yang diperoleh seseorang dan suatu masyarakat. Islam telah mengajarkan tentang kebahagiaan yang hakiki. Dua hal harus diperhatikan. Pertama, proses mencapai kesenangan dan ketentraman hidup harus sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, kesenangan dan ketentraman hidup bersama prosesnya harus menyebabkan manusia bersyukur kepada Allah SWT sebanyak-banyaknya secara hati, lisan dan perbuatan. Hanya ajaran Islam yang memberikan pelajaran yang benar tentang kebahagiaan. Wallahu’alam bishshowwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: