PERNIKAHAN DINI, PROBLEMA ATAU SOLUSI?

Di berbagai kalangan masyarakat sekarang telah terjadi keresahan dan kegelisahan terkait maraknya pernikahan di usia remaja. Bagaimana tidak resah dan gelisah, jika seringkali melihat kenyataan bahwa pasangan yang menikah masih usia remaja yang belum mampu untuk menanggung beban kehidupan rumah tangga. Remaja seumuran itu umumnya masih dalam masa pendidikan dan tanggung jawab nafkah orang tuanya. Namun begitulah realitas yang harus dihadapi masyarakat sekarang.
Padahal menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terdapat 2,3 juta pasangan menikah dalam setahun dan 4,5 juta kehamilan dalam setahun, di mana pasangan yang menikah pada usia 15-19 tahun sebesar 46% dan yang menikah di bawah usia 15 tahun sekitar 5%. (Tribunnews.com, 29 April 2014). Data ini menunjukan bahwa angka kejadian pernikahan di usia remaja atau istilah populernya pernikahan dini cukup besar yaitu sekitar 1,1 juta pernikahan dalam setahun.
Masyarakat semakin resah dan gelisah sebab ternyata pernikahan dini tidak hanya terjadi di pedesaan seperti masa dulu yang sudah sering terjadi dan dianggap lumrah oleh masyarakat pedesaan. Justru kejadian pernikahan dini pada remaja di perkotaan menunjukan tren peningkatan. Berdasar data BKKBN, rasio pernikahan dini di perkotaan pada tahun 2012 adalah 26 dari 1000 perkawinan. Pada tahun 2013 rasionya naik menjadi 32 dari 1000 pernikahan. Sementara di pedesaan rasio pernikahan dini mengalami penurunan dari 72 per 1000 pernikahan pada tahun 2012 menjadi 67 per 1000 pernikahan pada tahun 2013. Sebelumnya, hasil analisis survey penduduk antar sensus (SUPAS) 2005 dari BKKBN diperoleh angka pernikahan di perkotaan lebih rendah dibandingkan di pedesaan, terutama untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan dan 11,88% di pedesaan.
Juga terdapat fakta yang menunjukan bahwa penyebab dilakukannya pernikahan dini adalah telah terjadi kehamilan pada para remaja putri sehingga pihak keluarga sepakat untuk segera menikahkan putrinya. Alasan yang digunakan oleh pihak keluarga mengapa melakukan hal tersebut, supaya pasangan remaja dapat diterima di tengah-tengah masyarakat dan tidak terjadi lagi kehamilan di luar nikah. Hal ini menunjukan bahwa pernikahan dini digunakan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah kehamilan di luar nikah pada pasangan remaja.
Namun kenyataannya, ibarat makan buah simalakama. Banyak fakta yang menunjukan bahwa pernikahan dini berisiko tinggi terhadap munculnya berbagai problema baru, seperti: kemiskinan, terjadinya perceraian maupun gangguan kesehatan terutama bagi remaja putri yang mengalami kehamilan. Ada yang menyatakan bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun dapat meningkatkan risiko komplikasi medis pada ibu dan anak serta berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan pula bahwa remaja berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun dan meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Menurut data dari UNPFA tahun 2003 bahwa 15%-30% diantara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik obstetric fistula. Yaitu, kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina. Obstetric fistula ini juga dapat terjadi akibat hubungan seksual di usia dini. (majalahbidan.com, 8 April 2014).
Dampaknya, masyarakat menjadi semakin resah, gelisah dan bingung. Karena pernikahan dini yang mereka anggap bisa menyelesaikan masalah kehamilan di luar nikah ternyata banyak menimbulkan problema. Alih-alih menjadi solusi, pernikahan dini ternyata menjadi awal munculnya problema-problema baru. Bagaimana pandangan agama Islam dalam masalah ini?

Pernikahan dan Kehadiran Generasi Penerus
Islam memposisikan pernikahan sebagai solusi untuk mendapatkan generasi penerus. Pernikahan menyebabkan terbentuknya rumah tangga. Di dalam rumah tangga dipersiapkan generasi baru yang meneruskan perjuangan Islam orang tuanya dan umat Islam.
Oleh karena itu, Islam mendorong rumah tangga sehingga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Rumah tangga penuh ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan sehingga anak-anak dapat mempersiapkan diri menjadi generasi penerus umat Islam. Allah SWT berfirman dalam surat Ar Ruum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Tidak mudah mempersiapkan rumah tangga ideal seperti itu. Hanya sekadar akad pernikahan mudah dilakukan. Tinggal mengucapkan ijab-qabul antara orang tua pihak wanita atau yang mewakili, dengan calon suami sesuai dengan persyaratan yang ada, pernikahan sudah terjadi. Namun, yang berat adalah menghadirkan suasana sakinah, mawadah wa rahmah dalam keluarga dan mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus.
Kesiapan calon suami dan calon istri tentunya menjadi perhatian. Kedua belah pihak harus memiliki baik itu kesiapan fisik, kesiapan konsep/pemikiran dan kesiapan nafsiyah berumah tangga. Hal itu disebabkan setelah pernikahan mereka akan bergaul dalam rumah tangga untuk waktu yang lama, bahkan bisa jadi sampai ajal menjemput mereka untuk mempersiapkan generasi penerus. Tidak adanya atau kurangnya berbagai persiapan tentunya mempersulit kehidupan rumah tangga dalam menciptakan suasana sakinah, mawadah wa rahmah dan mempersulit dalam mempersiapkan generasi penerus. Bahkan ketidaksiapan tersebut dapat berujung pada kegagalan mempersiapkan generasi muda, kegagalan rumah tangga dan perceraian.
Berbagai pihak seharusnya mendukung terjadinya kesiapan-kesiapan ini. Baik pihak calon suami/istri, keluarga, masyarakat dan negara. Jaminan ekonomi dan kehidupan aman, wasis, waras, dan wareg misalnya, seharusnya berlangsung riel di tengah masyarakat, bukan janji palsu. Dampaknya, pemuda atau pemudi yang sudah memiliki kesiapan fisik, kesiapan akal dan nafsiyah rumah tangga tidak takut membangun rumah tangga karena alasan kekhawatiran kemiskinan, dan dapat melaksanakan Sabda Nabi SAW: “Wahai kaum pemuda barang siapa di antara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah menikah, karena sesungguhnya menikah itu dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan.”(HR. Imam Bukhari).
Dalam keadaan seperti itu, pernikahan usia dini bukan suatu yang mengkhawatirkan. Usia dini ada pada pihak calon istri, pihak calon suami atau kedua-duanya tidak perlu dikhawatirkan. Demikian juga pernikahan usia (relatif) tua juga tidak perlu dikhawatirkan. Baik yang usianya tua adalah pihak calon suami, calon istri atau kedua-duanya. Usia hanya salah satu faktor fisik. Masih banyak faktor fisik yang lain, seperti kesehatan badan yang dapat menunjang kesuksesan pernikahan. Boleh dikatakan, kalau dari sisi usia masih relatif muda, namun dari sisi lain seperti kesehatan fisik, ekonomi, konsep dan nafsiyah berumah tangga sudah menunjukan kesiapan berumah tangga, seharusnya baik laki-laki maupun wanita diberi kesempatan dan didukung membina rumah tangga sakinah, mawadah wa rahmah dan mempersiapkan generasi penerus. Apalagi kalau dari semua sisi, termasuk sisi usia, sudah siap, alangkah baiknya kalau segera melangsungkan pernikahan.
Toh pernikahan seperti itu yang membangun rumah tangga sakinah, mawadah wa rahmah dan mempersiapkan generasi penerus, tidak merugikan siapapun. Bahkan menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah banyaknya rumah tangga ideal dan adanya generasi penerus yang baik. Jadi semua pernikahan yang Islami, baik pasangannya berusia dini atau lanjut, bukan masalah serius.
Namun, pernikahan usia dini maupun usia senja menjadi masalah besar bagi pasangan pernikahan tersebut, bagi keluarga mereka, bagi lingkungan dan masyarakat, bagi negara dan bagi anak-anak mereka, kalau tidak ada kesiapan yang matang dalam berbagai hal. Inilah yang mungkin nampak jelas pada saat ini. Pernikahan yang seharusnya mulia, mengikuti sunnah nabi, menghadirkan sakinah, mawadah wa rahmah dan mempersiapkan generasi penerus perjuangan Islam, kenyataannya tidak seperti itu.

Mencegah Pergaulan Bebas
Sudah umum dipahami bahwa salah satu biang kerusakan di kalangan muda adalah pergaulan bebas. Seolah tidak ada batasan dalam pergaulan, wanita dan pria bisa bebas dan dengan mudah bergaul dengan siapa saja yang dikehendaki. Tidak hanya terjadi pada remaja, pergaulan bebas juga banyak dijumpai pada orang-orang dewasa.
Fasilitas internet yang mudah untuk akses pergaulan bebas dianggap menjadi salah satu faktor yang turut berperan. Memang tidak hanya fasilitas internet, banyak juga fasilitas lain yang menyebabkan pergaulan bebas mudah terakses. Intinya, setelah melihat model pergaulan bebas tersebut, mereka menirunya. Akibatnya mereka menjadi korban pergaulan bebas.
Tidak mengherankan jika kemudian muncul banyak kasus-kasus pelecehan seksual, perselingkuhan maupun perzinahan. Ujung-ujungnya terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki, seperti: kehamilan di luar pernikahan yang mendorong terjadinya aborsi, pembuangan bayi, pernikahan dini, keretakan rumah tangga, perceraian, dll. Begitulah adanya. Sistem pergaulan bebas cenderung mengarahkan pada hal-hal buruk dan merusak kehidupan manusia. Seharusnya semua pihak menyadari dan segera meninggalkan sistem pergaulan seperti itu.
Perlu pencegahan serius terhadap permasalahan pergaulan bebas. Penyesalan dan ‘testimoni’ dari pihak yang pernah mengalami pergaulan bebas mungkin salah satu pencegahan. Demikian juga pengopinian dampak negatif pergaulan bebas menjadi alternatif pencegahan. Yang paling penting adalah pengopinian bahwa Allah SWT melarang pergaulan bebas. Allah SWT murka terhadap siapapun, muda atau tua, yang melakukan pergaulan bebas. Allah SWT memerintahkan semua orang menghindari pergaulan bebas. Negara pun juga bertanggung jawab dengan cara: (1) Mengarahkan pendidikan untuk membentuk kepribadian Islam, (2) Mensosialisasikan larangan pergaulan bebas, (3) Memenuhi jaminan kehidupan untuk seluruh warga, (4) Mendukung warga yang menikah secara Islami, dan (5) Menegakan sistem penegakan hukum terhadap pergaulan bebas dan perzinahan. Siapa yang terbukti di hadapan hakim melakukan pergaulan bebas hingga perzinahan akan divonis setimpal dengan perbuatannya itu sesuai hukum Islam.

Penutup
Pernikahan untuk membentuk keluarga sakinah, mawadah wa rahmah dan generasi penerus perjuangan Islam adalah suatu hal yang baik dan diperintahkan Allah SWT dan RasulNya. Pernikahan seperti itu memerlukan berbagai kesiapan: Kesiapan fisik (termasuk usia), kesiapan ekonomi, kesiapan konsep, dan kesiapan nafsiyah. Seluruh masyarakat, dari calon istri/suami, keluarga hingga negara harus mendukung terjadinya kesiapan-kesiapan tersebut.
Berbagai pencegahan terhadap munculnya pernikahan ‘abal-abal’ harus selalu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk negara. Pencegahan pergaulan bebas termasuk dalam priroritas pencegahan pernikahan ‘abal-abal’. Negara tidak boleh ragu-ragu untuk (1) Mengarahkan pendidikan untuk membentuk kepribadian Islam, (2) Mensosialisasikan larangan pergaulan bebas, (3) Memenuhi jaminan kehidupan untuk seluruh warga, (4) Mendukung warga yang menikah secara Islami, dan (5) Menegakan sistem hukum yang benar terhadap kejahatan pergaulan bebas dan perzinahan. Wallahu’alamubishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: