JANGAN MELALAIKAN PENGASUHAN ANAK

Terdapat berbagai fakta yang menunjukan perilaku orang tua dalam pengasuhan anak. Ada orang tua yang begitu sabar mengasuh anaknya. Contoh: orang tua yang sibuk bekerja ‘membanting tulang, ‘siang-malam’ hingga anaknya dapat sekolah sampai meraih gelar sarjana. Contoh lain, ada seorang ibu yang rela menyuapi anaknya ketika anaknya tidak sempat makan karena sedang sibuk belajar. Contoh lain lagi: seorang ayah yang segera melakukan tindakan penyelamatan setelah tahu anaknya yang masih kecil berlari ke luar rumah dan akan tertabrak kendaraan. Begitu banyak kisah menarik dan mengharukan tentang ‘perjuangan’ orang tua dalam mengasuh anak-anaknya.
Namun banyak juga orang tua yang tega menterlantarkan anaknya. Ada ayah yang yang bunuh diri dan ‘mengikutkan’ anaknya dalam bunuh diri tersebut. Sepertinya, orang tua sayang akan masa depan anak, tetapi sesungguhnya itu tindakan ‘sangat-sangat menterlantarkan’ anak sebab membunuh si anak bersama dirinya.
Ada juga orang tua yang tidak memperhatikan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan anaknya. Misalnya anak tidak diperhatikan kebutuhan gizinya atau anak tidak diperhatikan kebutuhan pendidikannya di bidang agama. Jadilah anak tidak mendapatkan jaminan kebutuhan pokok dari orang tuanya.
Bahkan konon kabarnya, terdapat orang tua yang menjual anaknya atau memanfaatkan anaknya untuk mengemis demi mendapatkan uang. Bukannya orang tua yang menjamin kebutuhan anak, namun justru anak yang masih kecil dimanfaatkan untuk menjamin kebutuhan orang tua.
Di sisi lain, ada orang tua yang menerapkan disiplin kekerasan pada anaknya. Salah sedikit saja, si anak dihukum seperti ‘pesakitan’ yang dihukum oleh negara dan pengadilan. Ini bukan termasuk bagian pendidikan disiplin bagi anak, namun sebaliknya, termasuk bagian penelantaran anak.
Perbuatan orang tua yang seperti itu tidak dapat dibenarkan. Orang tua pasti juga akan menyesali perbuatannya tersebut yang tega-teganya menterlantarkan anaknya dan tidak menyayangi mereka. Terkadang kelalaian sedikit saja, tetapi berdampak buruk pada anak akan menyebabkan orang tua menyesal. Apalagi kalau sengaja menterlantarkan anak-anak, tentu penyesalan mendalam menghantui orang tua hingga masa yang lama.
Buktinya, ada kejadian balita yang terkena luka bakar karena orang tuanya lalai meninggalkan puntung rokok di atas kasurnya, adanya balita yang keracunan cairan pembersih lantai karena diletakan di tempat yang mudah dijangkau anak dan botolnya tidak tertutup rapat, dll. Orang tuanya tentu menyesali keteledorannya ini.
Baru-baru ini juga diberitakan, ada tiga anak balita yang ditemukan tewas di dalam mobil yang diparkir di Lapangan Pergudangan Muara Karang Timur, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. Mobil tersebut telah berada di lapangan sejak dua minggu sebelumnya dalam kondisi rusak, tidak ada mesinnya dan pintu tidak bisa dibuka dari dalam tetapi bisa dibuka dari luar. Salah satu ibu korban menemukan ketiga balita itu pada pukul 13.00 WIB setelah mencari-cari anaknya yang pergi bermain dengan teman-temannya sejak pukul 10.30 WIB. Saat ditemukan kondisi kulit korban melepuh seperti terbakar. (Solopos, 28 Maret 2015).
Contoh yang lain, pernah terjadi di desa Kedungwinangun, Klirong, Kebumen. Seorang balita usia 2,3 tahun yang meninggal setelah tersengat aliran listrik ketika bermain di lantai setelah turun dari tempat tidurnya. Tanpa sepengetahuan orang tuanya balita tersebut meraih kabel beraliran listrik yang ternyata ada bagian kabel yang terkelupas. (KRjogja.com, 13 Maret 2013).
Ada pula peristiwa yang terjadi pada balita usia 3 tahun yang meninggal setelah tenggelam di bak penampungan air tak jauh dari belakang rumah orang tuanya, jalan Pisang RT 07 RW 01, Kelurahan Kubu Gulai Bancah, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi. Awalnya korban bermain kapal-kapalan dari potongan kayu bekas gergaji di pinggir bak air. Ketika mainannya hanyut ke tengah, korban tiba-tiba melompat ke dalam bak penuh air setinggi 2,5 meter. Begitu masuk ke dalam bak, korban tak bisa menyelamatkan diri, sementara teman-teman korban langsung memberitahu ke orangtuanya yang berada di dalam rumah. Begitu dievakuasi korban sudah tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke klinik yang tak jauh dari tempat kejadian. Diduga terlalu banyak menghirup air, nyawa korban tak tertolong. Korban mengembuskan napas terakhir di klinik dua jam seusai tenggelam. (Sindonews.com, 17 Des 2014).
Tidak bisa dipungkiri bahwa aktivitas pengasuhan anak adalah aktivitas yang sangat penting. Dalam hal ini harus dipahami aktivitas pengasuhan anak tidak hanya pemeliharaan anak dan tidak menterlantarkannya. Namun, termasuk juga seluruh aktivitas yang dapat menjaga anak dari sesuatu yang dapat membahayakan dan membinasakan. Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa agenda terus-menerus orang tua dalam kesungguh-sungguhan pengasuhan anak meliputi (1) memelihara anak, (2) tidak menterlantarkan anak dan (3) waspada terhadap segala sesuatu yang membahayakan dan mengakibatkan kebinasaan anak.
Sebenarnya, sejak tahun 2002 sudah disyahkan peraturan tentang perlindungan anak. Peraturan tersebut tercantum dalam UU No 23 tahun 2002. Patut disayangkan peraturan tersebut tidak teraplikasi di masyarakat dengan baik. Bahkan ketika UU tersebut sudah disempurnakan dengan UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak juga belum berdampak sesuai yang diharapkan. Begitu pula dicanangkannya program kota layak anak di berbagai wilayah sejak tahun 2006, ternyata belum menjamin anak-anak mendapat pengasuhan dan selamat jiwanya.
Aturan-aturan tersebut kenyataannya hanya menjadi bahan sosialisasi seolah-olah yang berwenang sudah melaksanakan pelayanan pengasuhan anak dengan sempurna dan penuh tanggung jawab. Celakanya lagi, aturan itu menjadi ‘jalan tol’ kalangan ‘stakeholder’ untuk meraup anggaran pemerintah dan bantuan luar negeri. Menggunakan istilah pendampingan di tengah masyarakat, berbagai event atau berbagai proyek penyediaan barang terkait dengan perlindungan anak, namun aplikasinya masih minim. Terbukti dengan adanya berbagai peristiwa menyedihkan di atas.
Memang juga ada faktor kelalaian dari para orang tua maupun pengasuh anak dalam melakukan pengasuhan terhadap anak-anaknya. Demikian juga terdapat kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal anak yang kurang mendukung keselamatan anak. Namun, adakalanya orang tua atau pengasuh sengaja membiarkan anak-anak beraktivitas bersama teman-teman sebaya tanpa pengawasan karena kesibukan pekerjaannya atau dengan alasan melatih sosialiasi atau kemandirian anak. Padahal, apapun alasannya, tidak diperbolehkan meremehkan dan meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan walaupun tidak bermaksud menterlantarkannya, apalagi kondisi lingkungan kurang mendukung keselamatan anak dan memungkinkan mereka tertimpa bahaya bahkan bisa menghilangkan nyawanya. Maka sudah seharusnya semua pihak bertanggung jawab penuh dan tidak melalaikan masalah pengasuhan anak.
Agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang mengatur urusan manusia dalam seluruh aspek kehidupan telah menetapkan aturan terkait dengan pengasuhan atau pemeliharaan anak. Berikut penjelasannya.

1. Pengasuhan Anak
Agama Islam telah mewajibkan pengasuhan anak. Berbagai dalil dalam ajaran agama Islam telah mengupasnya dengan tuntas. Begitu sempurna ajaran agama Islam dalam masalah pengasuhan anak, sehingga ada pengamat yang bisa memerincinya menjadi berbagai perincian yang sifatnya teknis. Ada juga pengamat yang bisa membandingkan dengan perlindungan anak menurut HAM, demokrasi dan kapitalisme. Intinya, sebagaimana hadits bahwa Islam paling tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, pengasuhan anak dalam Islam lebih sempurna dan komperhensif dibandingkan ajaran-ajaran buatan manusia mannapun. Ada juga yang dapat menangkis tuduhan orang kafir, musyrik dan munafik yang menuduh bahwa Islam tidak sungguh-sungguh memerintahkan mengasuh anak. Demikian juga ada yang dapat menunjukan kesalahan ide-ide buatan manusia dalam masalah pengasuhan anak. Pendek kata, ajaran agama Islam tentang pengasuhan anak sangat ‘mujarab’.

2. Larangan Menterlantarkan Anak
Sebenarnya, larangan menterlantarkan anak sudah terdapat pada dalil-dalil pengasuhan anak. Jika ajaran Islam tentang pengasuhan anak dilaksanakan, otomatis tidak ada penterlantaran anak. Sebagai contoh, jika seorang anak dipenuhi kebutuhan pokoknya berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan, tentu tidak akan terlantar. Jadi, agama Islam sudah menerapkan larangan menterlantarkan anak.
Apalagi ditambah dengan pengertian umum ayat ke-151 dari surat Al An’am: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi”. Demikian pula ayat ke- 9 dari surat AnNisaa’: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Berbagai dalil lain yang bersumber dari Al Quran dan hadits Rasulullah SAW pasti dapat disimpulkan bahwa anak pasti terpelihara dan tidak terlantar.
Bahkan seandainya anak tidak memiliki orang tua, salah satu dari keduanya atau kedua orang tuanya, baik karena orang tuanya bercerai, bepergian jauh tidak pulang-pulang atau telah meninggal dunia. Agama Islam telah mempunyai solusi nomor wahid yang karenanya umat Islam tidak perlu meniru-niru bangsa dan umat lain, bahkan bangsa dan umat lain sebaiknya mengikuti ajaran agama Islam. Dalam hal ini ketika anak terlantar, keluarga orang tua yang mampu dan berkecukupan serta didukung oleh pelayanan negara akan menjamin sehingga si anak tidak terlantar secara de facto dan de yure. Maha benar Allah SWT dengan firmanNya: “Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”.

3. Selalu Melindungi Anak
Ajaran agama Islam juga sudah menunjukan keharusan selalu melindungi anak. Sebagai contoh ajaran agama Islam tentang penundaan hukum rajam bagi wanita yang terbukti/mengakui berzina tetapi sudah mengandung anak. Sebagaimana pada kasus (wanita) Ghamidiyah. Hukuman ditunda hingga si anak sudah selesai disapih dari ibunya. Sehingga si anak tetap terlindungi dan selamat. Contoh yang lainnya, ajaran agama Islam menghilangkan diskriminasi anak perempuan dari anak laki-laki yang menjadi tradisi bangsa Arab jahiliyah dulu. Ajaran ini menyebabkan nyawa anak perempuan terlindungi.
Tidak hanya masalah melindungi nyawa, namun ajaran agama Islam telah mengatur supaya semua hal utama pada si anak akan terlindungi, seperti akidahnya, hartanya, akalnya, dan lain-lain hal penting dalam kehidupannya. Oleh karena itu, terdapat ajaran agama Islam yang melarang dengan tegas pengasuhan anak oleh anak kecil, atau oleh orang yang tidak mampu mengurusnya karena cacat mental atau terlalu sibuk dengan pekerjaannya . Demikian juga terdapat ajaran agama Islam yang melarang dengan tegas pengasuhan anak oleh orang yang fasik atau orang kafir. Semua itu tidak lain agar anak terlindungi dari berbagai hal yang membahayakan dan membinasakannya.

Penutup
Pengasuhan anak menurut ajaran agama Islam adalah ajaran yang paling baik dibandingkan dengan ajaran lain buatan manusia. Ajaran agama Islam telah mengatur sebaik-baiknya supaya kebutuhan pokok anak terpenuhi, anak tidak terlantar serta terlindungi dari hal-hal yang membahayakan dan membinasakan. Oleh karena itu, seharusnya umat Islam mengambil konsep pengasuhan dari ajaran agama Islam dan tidak mengekor konsep dari bangsa dan umat lain. Bahkan seharusnya, bangsa dan umat lain mengikuti ajaran agama Islam. Maha Benar Allah SWT dengan segala firmanNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: