MEMBERANTAS ATAU MENYUBURKAN PROSTITUSI?

Ketika pada tahun 2014 di kawasan Surabaya dilakukan penutupan lokalisasi Gang Dolly sebagai kawasan lokalisasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara, namun saat ini di Jakarta justru santer terdengar wacana untuk membangun kawasan prostitusi. Wacana ini muncul akibat terkuaknya bisnis prostitusi online yang terjadi di Jakarta yang menggunakan fasilitas kamar kos dan apartemen sebagai tempat untuk melakukan dan mengembangkan bisnis esek-esek ini. Praktik-praktik prostitusi semacam ini sebenarnya bukan menjadi rahasia di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum dan berjalan di tengah-tengah masyarakat yang dilakukan oleh para PSK dan mucikari.
Bahkan terakhir, kita mendengar adanya praktek prostitusi di salah satu apartemen di Jakarta dengan menggunakan fasilitas online. Tentunya praktek-praktek semacam ini tidak hanya terjadi di Jakarta bahkan di beberapa daerah lain di seluruh negeri ini semakin merebak praktik prostitusi online dan semakin gencar. Lantas bagimanakah solusi yang baik dan benar dalam pandangan Islam terkait masalah prostitusi tersebut?

Liberalisasi Cinta
Merebaknya prostitusi salah satunya adalah adanya pandangan bahwa cinta sebagai sebuah barang/jasa yang bisa diperjualbelikan. Banyak hubungan cinta yang dibangun atas dasar motif ekonomi. Persepsi masyarakat liberalisme-kapitalisme saat ini, orang yang melakukan perzinaan dianggap sebagai urusan pribadi, apakah sekedar untuk memuaskan hawa nafsunya atau sebagai pekerjaan. Misal, istilah pelacur kini jarang digunakan karena dianggap kurang baik, agar istilah itu tidak terkesan buruk di mata masyarakat, maka secara halus diganti dengan istilah “Pekerja Seks Komersial (PSK)”. Istilah PSK nampaknya dipandang lebih sopan untuk melabelisasi para penjaja cinta terlarang. Adapun jumlah PSK di Indonesia setidaknya ada 40 ribu orang yang tersebar di berbagai lokalisasi. (www.tempointeraktif.com).
Dari hubungan terlarang ini timbullah banyak jenis penyakit berbahaya salah satunya HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia menurut Ditjen PP & PL, Kemenkes, hingga 31 Maret 2013 mencapai 147.106 kasus. (www.aidsindonesia.com). Sementara itu, menurut program HIV/AIDS PBB UNAIDS bahwa saat ini jumlah pengidap virus HIV/AIDS mencapai 34 juta jiwa lebih dengan angka kematian pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1,7 juta kematian. Angka ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2005 yang mencapai puncak tertinggi dengan 2,3 juta kematian atau pada tahun 2010 lalu yang tercatat sebanyak 1,8 juta. (www.radioaustralia.net.au).
Ini merupakan fakta yang sangat mengerikan bahwa hubungan cinta yang berdasarkan aturan manusia hanya akan melahirkan permasalahan baru atau kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, praktek-praktek perzinaan harus dihentikan, walaupun penutupan lokalisasi-lokalisasi tidak dapat menjamin perzinaan berhenti, namun langkah itu sudah cukup baik, setidaknya dapat mengurangi kemungkaran dan keresahan masyarakat sekitarnya.
Melihat dampak negatif yang begitu besar, sudah seharusnya masyarakat khususnya kaum muslimin mendukung langkah pihak-pihak untuk penutup praktek haram lokalisasi. Lokalisasi sebagai tempat maksiat secara terang-terangan telah berani melegalisasi “praktek perzinaan” sebagai sesuatu perbuatan yang biasa (lumrah) untuk dikerjakan. Padahal perbuatan zina telah dilarang secara tegas dan merupakan salah satu dosa besar, sebagaimana firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk“ (TQS. Al-Israa’: 32).
Oleh karena itu, dalam rangka pemberantasan kemaksiatan (perzinaan) maka pemerintah, baik gubernur maupun walikota harus bertindak tegas. Merekalah yang memiliki kewenangan riil berupa kekuasaan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan bagi masyarakat harus mendukungnya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan), lalu jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (kesaksian), lalu jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya (mengingkari kemungkaran itu), dan itu adalah selemah-lemah keimanan” (HR Muslim). Hukum harus ditegakkan secara adil kepada siapa saja yang melanggar. Oleh karena itu, pemberantasan praktek perzinaan di lokalisasi tidak boleh hanya ditutup begitu saja, tetapi harus ada upaya dari pemerintah untuk menghukum semua orang yang terlibat dalam praktek perzinaan di tempat tersebut, termasuk kelompok-kelompok atau oknum-oknum yang di belakang mereka. Pemerintah juga tidak boleh diskriminasi dalam penegakan hukum atas individu yang melanggar hukum. Oleh karena itu, pemberantasan praktek perzinaan tidak boleh hanya dilakukan di lokalisasi-lokalisasi saja, atau yang di jalanan, taman-taman, tetapi mereka yang di kafe-kafe dan diskotik serta yang di hotel-hotel berbintang harus diberantas juga. Hukum jangan seperti pisau dapur, hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Giliran pelaku zina kalangan bawah dihukum, sementara kalangan pejabat atau pengusaha tidak disentuh sama sekali. Oleh karena itu, pemerintah harus serius dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat tanpa bertindak diskriminatif. Negara harus berani memberantas prostitusi dengan dasar bahwa aktivitas itu melanggar syariat Allah SWT. Negara tidak boleh takut menggunakan alasan aqidah dan hukum untuk memberantas prostitusi ini. Jangan takut dicap sebagai golongan-golongan fundamental, sektarian, SARA karena menggunakan alasan Islam untuk memberantas kemaksiatan. Karena munculnya cap-cap demikian itu tidak lain hanya merupakan pisuhan dari orang-orang yang tidak suka dan enggan dengan aqidah dan hukum Islam.

Praktek Prostitusi Adalah Kemaksiatan
Praktek perzinaan, apakah PSK itu di lokalisasi atau tidak (liar) tetap saja itu sebuah kemungkaran yang harus dihentikan. Sebenarnya masih banyak praktek perzinaan yang tidak/belum terungkap yang melibatkan (oknum) baik artis, pengusaha, bahkan pejabat negara. Mereka biasa bermain via internet, SMS dari hotel satu ke hotel yang lain dengan tarif puluhan juta hingga ratusan juta. Banyak wanita yang dijadikan sebagai lobi/deal proyek atau gratifikasi seks untuk urusan tertentu. Fakta ini sungguh sangat memprihatinkan sekali, cinta telah diperdagangkan untuk memuaskan hawa nafsu dan kepentingan semu. Hal ini karena munculnya pemahaman bahwa cinta adalah barang/jasa yang bisa diperjualbelikan. Padahal sebenarnya barang/jasa adalah merupakan sesuatu yang bisa dinilaikan materi/diuangkan. Sedangkan cinta tentu bukan sesuatu yang bisa dinilaikan dengan uang. Sebagaimana keadilan dan janji misalnya, juga bukan merupakan barang/jasa yang bisa diperjualbelikan karena secara kebenaran fakta yang seperti itu tidak bisa diperjualbelikan.
Efek domino akibat dari adanya prostitusi ini, seperti perjudian, miras, narkoba, pencurian dan prostitusi itu sendiri. Sehingga istilah “mo limo” memang merupakan serangkaian kemaksiatan yang berhubungan satu sama lain yang harus dihilangkan di tengah-tengah masyarakat. Ide pembentukan lokalisasi yang seolah menjadi solusi baik dalam melokalisasi dampak-dampak negatif dari prostitusi tidak lain hanya sebuah kedok untuk menyembunyikan kepentingan yang ada di balik isu pelegalan lokalisasi. Karena sebagaimana diketahui bahwa bisnis prostitusi menghasilkan nilai yang tidak kecil, sebagaimana yang pernah didiskusikan di salah satu stasiun TV setidaknya omzet dari lokalisasi di Jakarta mencapai Rp 1,2 triliun per tahun. Sehingga tidak heran kalau ada pihak-pihak yang ngebet untuk dibangunnya lokalisasi.
Namun tentu bukan hanya nilai ekonomi yang menjadi motif dalam membangun dan menyuburkan prostitusi. Ada motif lain yang jauh lebih besar dan berbahaya bagi umat Islam saat ini. Wacana yang muncul ini pun menjadi tanda bahwa saat ini umat Islam dengan dakwah Islamnya dihadapkan pada tantangan yang berat yaitu dari para elit penguasa di negeri ini yang dengan sengaja ingin menumbuhsuburkan prostitusi di tengah-tengah umat Islam. Karena keberadaan lokalisasi prostitusi tentu memiliki efek dalam merusak aqidah umat Islam. Dan bahkan lebih jauh dari itu ketika aqidah umat Islam runtuh dan tidak berpegang lagi pada Al Quran dan Sunnah, maka pihak-pihak lain akan dengan sangat mudah menguasai negeri ini. Umat Islam harus waspada dan terus berusaha untuk tetap istiqamah dengan aqidah dan hukum Islam dalam setiap aktivitasnya. Umat Islam harus waspada dengan kemungkinan desain imperialisme kapitalisme terhadap aqidah umat Islam beserta generasi penerusnya dengan menumbuhsuburkan kantong-kantong kemaksiatan yang dibuat secara legal.
Sesungguhnya upaya untuk memberantas prostitusi adalah menjadi domain Negara untuk mengatasinya. Perlu ada jaminan dari Negara untuk masyarakat terbebas dari kantong kemaksiatan. Negara memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menegakkan hukum untuk mencegah segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan. Negara harus tegas dan berani terhadap para pelaku zina baik itu remaja/pemuda/dewasa, PSK, pengusaha, pejabat/aparat negara beserta orang-orang yang terlibat dalam praktek perzinan untuk diseret ke pengadilan. Para pelaku kemungkaran harus dihukum berat. Allah SWT berfirman : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman…” (TQS. (An-Nuur: 2-3). Dari Ubadah bin Shamit berkata Rasulullah Saw. bersabda : “Ambilah dariku, ambilah dariku, sungguh Allah akan menjadikan jalan bagi mereka. Jejaka dan perawan jilidlah 100 kali dan asingkanlah selama satu tahun. Untuk janda dan duda jilidlah 100 kali dan rajam”.Beliau juga bersabda : “Orang lelaki mendatangi Rasul lalu berkata, “ya Rasul saya telah berzina“, tapi Rasul tidak menghiraukan dan memalingkan muka, sehingga lelaki itu mengulang sampai empat kali, dan pergi mencari 4 saksi, setelah menghadap Rasul, dengan saksi-saksinya, baru Rasul bertanya, “apa kamu tidak gila?’. Di jawab “ tidak“. Kemudian Rasul bertanya lagi, “apa kamu sudah pernah nikah?“Dijawab “ya”, Kalau begitu, bawalah orang ini dan rajamlah“ (HR. Bukhari). Para pelaku zina, jika yang bersangkutan belum pernah menikah dapat dijatuhi hukuman jilid 100 kali dan diasingkan selama saru tahun, sedangkan bagi yang sudah pernah nikah (janda/duda) atau sedang beristri/bersuami, maka harus dihukum mati dengan dirajam. Sementara itu, bagi germo, agen-agen dan semua yang terlibat praktek perzinaan harus dihukum ta’zir, bisa dipenjara atau dihukumi mati.
Jadi apa yang dilakukan para PSK beserta orang-orang yang berusaha melestarikan prostitusi merupakan tindakan pidana melawan hukum. Oleh karena itu, setiap pelaku pelanggaran harus dihukum, karena melakukan praktek zina baik dengan bungkus lokalisasi, liar, diskotik maupun di hotel, bukanlah pekerjaan. Naluri seksual merupakan bagian dari cinta yang secara fitrah dimiliki setiap manusia dan bukanlah barang/jasa yang dapat diperdagangkan begitu saja. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: