MEMBERANTAS KEPALSUAN

Kapitalisme mendorong orang untuk berpikir pragmatis. Mereka menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi. Pelaku kapitalisme cenderung merugikan bahkan membahayakan orang lain. Apapun peran mereka dalam kehidupan, apakah sebagai produsen, pedagang, guru, tukang hingga pemerintahan dan politikus. Contoh kelakuan buruk kapitalis sebagai produsen ialah kasus beras plastik. Beras palsu ini terbuat dari campuran kentang, ubi jalar dan limbah plastik yang direkayasa sedemikian rupa sehingga berbentuk menyerupai beras. Tidak hanya itu, produsen beras palsu ini juga menambahkan resin sintetis industri. Resin sintetis ini dikatakan sangat berbahaya jika dikonsumsi karena bisa memicu kanker. Kasus beras plastik pertama ditemukan di daerah Bekasi Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian peredaran beras plastik telah mencapai beberapa wilayah di Jawa dan Sumatera. Sejumlah masyarakat mengaku sempat mengonsumsinya. Tentu saja mereka kaget dan marah karena beras sebagai kebutuhan pokok rakyat telah dipalsukan. Meskipun belum diketahui motif dari pemalsuan beras ini namun yang jelas pelaku sengaja berbuat untuk kepentingan pribadi.
Kebutuhan pokok berupa bumbu seperti merica juga telah dipalsukan pula. Merica palsu ini beredar di beberapa pasar tradisional di Jawa Tengah. Merica palsu ada yang berupa sejenis biji yang menyerupai merica, ada yang terbuat dari butiran sagu mutiara yang disangrai, bahkan dari semen putih. Masyarakat Jawa Tengah tentu gempar dibuatnya. Tega-teganya produsen menjual merica palsu kepada pedagang, yang bila dikonsumsi konsumen tentu membahayakan kesehatan.
Yang lebih mengerikan lagi ialah beredarnya obat palsu. Menurut BPOM obat palsu termasuk dalam kategori sangat membahayakan bagi kesehatan. Ada dua kemungkinan zat yang terkandung dalam obat palsu, yaitu jika bukan tanpa zat bermanfaat atau pun berada di luar ambang batas yang ditetapkan. Obat yang seharusnya membantu kesembuhan telah menjadi bahan yang membantu memperburuk kesehatan bahkan sangat mungkin mengancam nyawa.
Tidak hanya kebutuhan pokok yang dipalsukan, namun ijazah sebagai bukti intelektualitas dan moralitas juga telah dipalsukan. Seperti ramai diberitakan oleh berbagai media ada belasan anggota DPRD, tujuh PNS serta pejabat politik eksekutif sebuah kabupaten di Jawa Timur terindikasi ijazahnya palsu. Pejabat yang diharapkan mewakili aspirasi rakyat malah membohongi rakyat demi meraih keuntungan berupa jabatan.
Berbagai macam dokumen lain yang dipalsukan di berbagai daerah antara lain STNK, KTP, buku nikah, buku cerai dan KK. Konon harga dokumen palsu untuk ijazah S1 lebih dari lima ratus ribu rupiah dan ijazah S2 mencapai sepuluh juta rupiah.
Melihat banyak kepalsuan tersebut, tentu rakyat jadi bertanya, “Apakah para pelaku pemalsuan tidak takut dosa?” “Bagaimana cara menghentikan segala kepalsuan yang merugikan rakyat tersebut?”

Tak Jera
Semua pihak tentu prihatin terhadap segala kepalsuan di atas. Rakyat menuntut para pejabat berwenang untuk mengusut tuntas dan memberantas kasus tersebut. Untuk itu para pejabat terkait telah bekerja sama dan bekerja keras untuk mengungkap motif, mencari pelaku, mengumpulkan bukti dan mengajukan pelaku ke pengadilan.
Dinas perdagangan melakukan operasi pasar untuk menginvestigasi keberadaan beras plastik dan menghentikan peredarannya. Polisi juga gigih menyelidiki siapa pengedar, produsen, dan apa motifnya. Polisi juga berusaha mengusut kasus merica palsu, obat palsu dan dokumen palsu negara.
Meskipun para pejabat berwenang dan polisi telah menguras pikiran dan tenaga untuk menghentikan berbagai kejahatan pemalsuan bahan makanan, obat dan dokumen negara namun penjahat tiada jera melakukan perbuatannya. Dari tahun ke tahun kasus itu selalu saja muncul, bahkan mengalami peningkatan.
Menurut laporan yang disampaikan Arus Setiono, Dirut Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA Badan Pengawasan Obat dan Makanan dalam seminar memperingati hari anti obat palsu dunia menyampaikan kasus obat palsu di Indonesia lima tahun terakhir kembali menunjukkan kenaikan. Dalam laporan temuan BPOM tersebut, jenis obat palsu pada tahun 2012 adalah yang terendah dalam lima tahun terakhir dengan temuan enam jenis obat palsu. Kemudian naik drastis hingga 13 jenispada tahuni 2013 dan tahun 2014 lalu BPOM menemukan 14 jenis obat palsu beredar di masyarakat. (cnnindonesia.com, Rabu, 3 Juni 2015).
Tren berulangnya bahkan peningkatan kasus pemalsuan bahan makanan, obat, dan dokumen negara tentu menyedihkan, memprihatinkan, dan membuat geram. Kasus itu mendesak untuk segera diberantas tuntas.

Pemberantasan Holistik
Usaha pemberantasan kejahatan pemalsuan harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan menyeluruh. Setidaknya ada dua aspek yang harus diluruskan dalam usaha ini. Yaitu individu dan sistem pemberantasan pemalsuan.
Negara memiliki kepentingan besar terhadap pemikiran dan perilaku soleh dari rakyatnya. Karena rakyat yang soleh tidak akan berbuat kriminalitas apapun. Oleh karena itu hendaknya negara harus menjadi negara amar ma’ruf dan nahi mungkar, menggencarkan dan mendukung usaha pendidikan keimanan dan pembentukan kepribadian Islami rakyatnya, dan menghukumi senua pihak (negara dan rakyat) yang berusaha menerapkan aturan selain aturan Islam.
Negara hendaknya mendukung individu dan berbagai lembaga dakwah yang berusaha mengingatkan masyarakat bahwa Al Quran bukan sekedar buku dongeng peninggalan sejarah masa lalu. Sesungguhnya Al Quran merupakan tuntunan hidup yang harus diimani, ditaati dan diamalkan sepanjang waktu hingga hari kiamat tiba. Bahkan negara juga harus selalu dan terdepan dalam mengingatkan masyarakat dalam mengimplementasikan Al Quran. Itu semua sesuai dengan firmanNya dalam surat Ali Imron ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.
Kenyataannya Al Quran mengajarkan kebenaran. Sebagai contoh kisah dalam Al Quran yang hendak mengajarkan manusia tentang perdagangan yang haq dan melarang manusia dari perdagangan yang batil harus diambil pelajaran untuk diamalkan bukan sekedar wawasan, meskipun kisah tersebut sudah terjadi beribu-ribu tahun yang lalu. Sebagaimana Nabi Syua’ib yang mendakwahkan agama tauhid melarang kaumnya untuk berbuat curang dalam berniaga. “Dan Syua’ib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Q.S. Huud ayat 85).
Larangan tersebut dilestarikan sampai pada zaman Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an yang artinya:“Kecelakaan besarlah bagi orang yang curang.”(Q.S. Al Muthaffifiin ayat 1). Larangan tersebut berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman. Jika ada yang melanggar maka akan berakibat masuk neraka sijjin.
Contoh lain bahwa Al Quran mengajarkan kebenaran sehingga sepantasnyalah selalu ditegakan dan diimplementasikan oleh negara dan masyarakat adalah ajaran supaya harta itu tidak hanya beredar di orang kaya dan kalangan tertentu saja. Hal itu sebagaimana firmanNya dalam surat Al Hasyr 7: “…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”. Masih banyak contoh-contoh lain dalam Al Quran yang semuanya mengarahkan semua pihak, negara dan rakyat, supaya menjadi pihak yang soleh tanpa kepalsuan.
Maka karena pemimpin negara akan dimintai pertanggungjawaban atas umat yang dipimpinnya, hendaknya mereka tidak berlepas tangan dalam usaha mendidik dan meningkatkan keIslaman rakyatnya agar memiliki pemikiran dan perilaku yang soleh tidak melakukan kecurangan dalam berdagang seperti pemalsuan dan kejahatan lainnya.
Bersamaan dengan usaha mendidik dan mendukung pendidikan Islam rakyat, negara juga harus menggencarkan usaha hisbah di pasar-pasar agar tidak terjadi kecurangan dalam perniagaan, apapun bentuknya. Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW ketika melakukan hisbah di pasar kemudian menemukan pedagang yang menutupi barang jualan yang buruk dengan barang yang baik agar dagangannya laku. Usaha hisbah Rasulullah SAW kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaurrosyidin sesudahnya dengan membentuk pegawai hisbah. Hisbah yang terus menerus dan sungguh-sungguh lillahi ta’alaa akan mampu membatasi gerak pedagang pemalsu.

Kesimpulan
Demikian juga rakyat mendukung negara melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kejahatan pemalsuan bahan makanan, obat, maupun dokumen negara adalah perbuatan para kapitalis yang merugikan rakyat banyak. Tidak hanya membahayakan kesehatan dan kepentingan aspirasi, namun juga bisa mengancam nyawa. Usaha pihak berwenang untuk memberantas kejahatan tersebut tetap saja tidak membuat pelaku jera, mereka malah merajalela dan meningkatkan kejahatannya dari tahun ke tahun. Untuk itu harus ada usaha terpadu dari negara maupun rakyat untuk bersama-sama menegakan agama Islam seperti negara melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk aparat peradilannya menggencarkan hisbah.
Boleh saja anggota masyarakat atau kelompok-kelompok melakukan pendidikan Islam sehingga individu rakyat benar-benar memiliki kepribadian Islami yang menjunjung Islam di setiap waktu dan tempat hingga datangnya hari kiamat. Terhadap individu dan kelompok seperti ini seharusnya negara tidak ragu-ragu memberikan support dan dukungan. Adapun terhadap individu dan kelompok kepalsuan, yang tentunya sama seperti kepalsuan bahan pokok, obat dan dokumen, dll seharusnya negara tidak mendukungnya, bahkan menggencarkan hisbah terhadapnya sehingga rakyat sadar sepenuhnya untuk meninggalkan jati diri kepalsuan tersebut yang akan menghinakan mereka sendiri di dunia dan akhirat, lalu menggantikannya dengan jati diri agama Islam yang rahmatan lil alamin bahagia dunia dan akhirat. Wallahua’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: