IDUL FITRI MOMEN REFLEKSI

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Bulan dimana segala amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya serta bulan penuh rahmat, maghfirah Allah SWT. Tidak mengherankan hiruk pikuk umat bisa dirasakan di masjid-masjid, pengajian, majelis ilmu penuh dan ramai. Sayangnya kondisi demikian hanya berlangsung di awal-awal bulan. Memasuki akhir-akhir bulan Ramadhan seperti sekarang, kebanyakan masyarakat tersibukkan kegiatan-kegiatan di luar ibadah itu sendiri seperti kesibukan berbelanja memenuhi kebutuhan persiapan Hari raya, persiapan pulang kampung dan lain sebagainya. Padahal Rasulullah SAW pada momen 10 hari akhir Ramadhan justru lebih giat lagi beribadah “Adalah Rasulullah SAW jika telah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari-Muslim). Masyarakat perlu disadarkan perihal aktivitas menjelang memasuki Hari Raya Idul Fitri mengarah pada ketaqwaan sebagaimana tujuan dari ibadah puasa.

Kewajiban Zakat Fitrah
Kewajiban setiap muslim menjelang Hari Raya Idul Fitri lainnya adalah membayar zakat. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, hasan).
Zakat Fitrah ini wajib ditunaikan oleh: (1) setiap muslim, (2) yang mampu mengeluarkan Zakat Fitrah. Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang seperti ini berarti dia dikatakan mampu dan wajib mengeluarkan Zakat Fitrah. Bentuk Zakat Fitrah adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya. Para ulama sepakat bahwa kadar wajib Zakat Fitrah adalah satu sho’ dari semua bentuk Zakat Fitrah. Dalil dari hal ini adalah hadits Ibnu ‘Umar yang telah disebutkan bahwa Zakat Fitrah itu seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Satu sho’ adalah ukuran takaran yang ada di masa Rasulullah (1 Sho’ = seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang. 1 Sho’= 2,157 kg atau di bulatkan 2,2 kg).

Makna Idul Fitri
Saat ini kebanyakan masyarakat memahami makna “Iedul Fitri” adalah kembali kepada fitroh (suci). karena dosa-dosa kita telah terhapus. Hal ini kurang tepat, baik dari tinjauan bahasa maupun syar’i. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya “Iedul Fithroh” (bukan ‘Iedul Fitri). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).
Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:
Mandi sebelum ‘Ied: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik).
Makan di Hari Raya: Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan sholat Ied. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Memperindah (berhias) diri pada Hari Raya.
Berbeda jalan antara pergi ke tanah lapang dan pulang darinya: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori).
Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).
Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Allah membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat).
Memahami Idul fitri ini sangat penting, sehingga umat tidak salah kaprah memahami Idul Fitri, dan makna dari Idul Fitri pun bisa tersampaikan dan diamalkan. Jauh kesan dari pamer baju baru, perhiasan dan membangga-banggakan keduniawian yang malah menyeret pada perbuatan riya’ dan menyombongkan diri serta nilai-nilai yang diharamkan Islam. Tetapi difahami sebagai momen berbagi kebahagiaan ke sesama muslim khususnya fakir miskin. Oleh karena itu Idul Fitri adalah momen yang tepat untuk instropeksi diri apakah selama bulan Ramadhan sudah mampu menjalankan dan menunaikan kewajiban puasa, sholat, zakat serta amalan-amalan sunah dengan benar atau belum? Hal ini penting karena dengan instropeksi umat dapat mengukur sejauh mana dirinya menggunakan waktu. Apakah termasuk orang yang beruntung, merugi atau celaka sebagaimana firman Allah SWT: “Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan berbuat kebaikan dan saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. ‘Asr ayat 1-3). Begitu kita menyadari keadaan rugi tersebut segera meningkatkan ghiroh setiap amal ibadah kita. Bukankah Idul Fitri pertanda memasuki bulan Syawal.
Syawal yaitu bulan peningkatan amal ibadah kita agar lebih baik dari bulan Ramadhan. Meninggalkan hal-hal yang tidak berguna sebagaimana sabda Nabi SAW: Dari Abu Hurairah, Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:”Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya (HR Tirmidzi). Allah SWT menginginkan agar hambanya senantiasa kontinyu dalam ibadah dan amal sholih sekalipun di luar bulan Ramadhan termasuk di bulan Syawal. Pada bulan Syawal Rasulullah SAW memberi teladan kita dengan puasa 6 hari. Dari Abu Ayub Al Anshori Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).
Masyarakat juga memahami momen Idul Fitri adalah momen silaturrahmi, menyambung tali persaudaraan sehingga segala daya upaya baik materi dan tenaga di curahkan untuk pulang kampung halaman. Islam memandang silaturrahmi adalah hal baik dan menganjurkan umat Islam agar menjaga tali silaturrahmi sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutusku Allah akan memutus hubungan dengannya.(Muttafaqun ‘Alaihi). Dari Jubair bin Mut’iim bahwasanya Nabi SAW telah bersabda : “tidak masuk surga orang yang suka memutus silaturrahim (Muttafaqun ‘Alaihi). Dari kedua hadis ini jelas begitu penting menjaga tali silaturrahim. Akan tetapi siaturrahim tidak wajib hanya pada Idul Fitri saja. Tapi bisa dilaksanakan setiap saat. Sehingga kaum muslimin tidak perlu memaksakan diri mudik karena mengunjungi keluarga atau sanak keluarga sebab bisa dilakukan di hari-hari biasa.
Kondisi pelayanan negara pun cenderung ikut mengeksploitasi momen Idul Fitri yang tentu hal demikian jelas menyusahkan kaum muslimin yang memiliki niat bersilaturrahim ke kampung halaman. Harusnya negara membantu memberi kemudahan bagi kaum muslimin yang mudik. Karena hal itu sebagai bentuk pelayanan negara bukan malah negara melegalkan eksploitasi pengusaha/badan usaha transportasi untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Indikasi itu terlihat jelas dengan memberlakukan tarif batas atas-batas bawah. Dalam hal pelayanan ini negara tidak bisa memakai hukum ekonomi permintaan dan penawaran. Wajar masyarakat susah mendapatkan akses memperoleh moda transportasi, jika membolehkan badan usaha/pengusaha menaikan tarif hanya karena banyak permintaan. Seperti untuk anda yang memiliki rencana akan mudik menggunakan moda transportasi umum, anda perlu mencermati Harga Tiket Kereta Api Mudik 2015 . Jika tidak ada kenaikan atau penurunan harga tiket kereta api, Harga Tiket Kereta Api Mudik 2015 menggunakan harga terbaru yang ditetapkan PT KAI pada 1 April 2015. Rincian kenaikan tarif KA antar kota (Jarak Jauh) naik 50% sd 136% seperti harga tiket Mantab (Pasar Senen-Madiun) dari Rp 55.000 menjadi Rp 130.000 atau naik 136%.
VP Communication PT KAI (Persero), Makmur Syaheran mengatakan, dari segi pendapatan, tahun 2014 pada angkutan Lebaran atau pada 18 Juli sampai dengan 10 Agustus 2014, PT KAI berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp361,9 miliar atau meningkat 16 persen dari pendapatan di lebaran 2013.”Tahun lalu sebesar Rp311,5 miliar, kapasitas angkut PT KAI ini lebih besar 12 persen dari tahun lalu,” kata Makmur kepada wartawan di Bumbu Desa, Jakarta, Kamis (21/8/2014). Kondisi serupa terjadi di industri penerbangan. Jika merunut data Kemenhub tahun 2014 ada 2.030.251 orang yang mudik dengan pesawat terbang bisa dibayangkan berapa trilyun rupiah dana yang terserap dan dinikmati para penguasa/kapital.
Harusnya negara dalam hal ini pemerintah memfasilitasi dengan menyediakan alat transportasi yang cukup dan dengan tarif yang terjangkau semua golongan lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat yang memiliki niat silaturrahmi mendapat kemudahan dan tenang dalam merayakan hari raya. Jangan malah sebaliknya negara melegalkan operator transportasi menaikan tarif dengan batas atas yang tentu akan memberatkan masyarakat. Padahal pada hari biasa saja operator transportasi dengan harga biasa sudah untung bahkan mereka berani memberikan harga tiket promo, kenapa pada waktu lebaran dengan jumlah penumpang semakin banyak tetapi harga tiket malah dinaikan. Ini namanya memanipulasi, karena semakin banyak permintaan semakin mahal harga tiket. Ini merupakan cara pandang kapitalis bukan cara pandang yang benar dalam pelayanan terhadap warga negaranya. Membenarkan legitimasi ini sama saja logika jalan pikiran kita tidak nyambung.

Khatimah
Melihat Idul fitri bukan berarti tujuan Ramadhan sudah selesai, umat Islam harus mengevaluasi apa –apa yang dilakukan di bulan Ramadhan dan meningkatkan amal dengan skala prioritas. Prioritas persoalan umat saat ini adalah tidak menjadikan agama Islam sebagai aqidah dan hukum secara satu kesatuan. Kondisi ini tentu dapat dibenahi Yaitu membenahi pola pikir masyarakat kembali ke dalam pola pikir aqidah dan hukum Islam. Umat harus senantiasa di ingatkan dan disadarkan bahwa banyak persoalan ketidakadilan yang menimpa kaum muslimin seperti Rohingya, Eighur, Suriah, Irak, dll, akibat jauhnya agama Islam sebagai aqidah dan hukum. Momen silaturrahmi dapat juga digunakan sebagai sarana mengajak dan menyadarkan umat kembali ke dalam aqidah dan hukum Islam. Hanya kembali menstandarkan pada aqidah dan hukum Islam tujuan puasa meraih ketaqwaan tercapai. Karena hanya dengan itu bukti ketaqwaan yang Allah SWT harapkan tercapai. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (QS. Ali Imran: 102). Semoga kita senantiasa tetap istiqomah menjaga amalan dan kewajiban kepada Allah Swt. Amiin. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: