HARUSKAH MEREKA TAKUT DUDUK DI BANGKU BELAJAR YANG BARU?

Masa Orientasi Siswa (MOS) harus berubah total. Mudaratnya sangat banyak, sementara manfaatnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Kekerasan adalah salah satu mudarat yang nyata pada MOS. Kekerasan yang paling ringan adalah senior bersikap sangar, lalu menyuruh-nyuruh dan membentak-membentak siswa baru. Mentang-mentang panitia MOS, mereka bersikap seperti raja yang otoriter, atau penjajah Belanda/Inggris yang keji, dan menganggap siswa baru seperti budak atau pesakitan. Kekerasan yang tidak ringan lagi apabila mereka mulai memberlakukan hukuman seperti hukum rimba. Siswa baru disuruh jalan jongkok, salah sedikit saja push up, skuat jump atau lari. Adapun kekerasan yang berat terjadi ketika panitia meludahi, memukul/menendang atau kekerasan seksual terhadap siswa/mahasiswa baru.
Pembebanan dan penugasan yang tidak proporsional adalah mudarat yang lain dalam MOS. Siswa baru harus menggunakan atribut dan membawa barang-barang yang sebenarnya bukan perlengkapan sekolah. Menggunakan pakaian tertentu, kertas, koran atau kantung plastik sebagai topi, kardus bekas sebagai tas, membawa balon, daun kering, batu, papan nama besar yang dikalungkan di leher, dll adalah contoh-contoh pembebanan dan penugasan selama MOS yang tidak proporsional.
Masih banyak mudarat lainnya. Orang-orang baru menyadari sebagai mudarat kalau timbul korban yang ramai diberitakan. Padahal tanpa diberitakan pun timbul korban. Konon kabarnya ada orang tua yang keluar duit per hari selama MOS anaknya Rp 75.000/hari untuk membeli barang-barang pembebanan dan penugasan yang tdak perlu. Bukankah ini termasuk korban dan mudarat MOS? Kenyataannya, baru ketika ada berita sensasional, kesadaran mengenai mudarat MOS muncul. Misalnya ketika ada pemberitaan mengenai menteri pendidikan inspeksi mendadak (sidak) ke sekolah, menemukan MOS yang tidak sesuai dengan jiwa pendidikan, lalu membubarkan acara MOS itu, barulah ramai orang menyuarakan penghapusan MOS.
Atau ketika ada pemberitaan mengenai kekerasan yang dilakukan panitia terhadap peserta didik baru, teriakan hapuskan MOS menggema ke mana-mana. Coba saja perhatikan reaksi orang-orang yang sangat menyayangkan terhadap dugaan kekerasan saat MOS di suatu SMK sampai-sampai siswa baru harus di bawa ke rumah sakit. Apalagi terhadap kejadian yang terjadi di suatu SMA yang menyebabkan siswinya meninggal karena diduga kelelahan saat MOS, meskipun tidak ada kekerasan dan diduga si siswi sudah sakit lebih dahulu. Terheran-heran, trenyuh, tidak dapat menerima, jengkel dan marah mewarnai reaksi masyarakat. Penjelasan kepala sekolah atau siapa pun rasanya sulit diterima.
Memang masyarakat sudah tidak dapat menerima MOS yang seperti itu. Ada peristiwa sedikit saja sudah seperti ‘menyulut bom’ atau ‘minyak bertemu api = berkobar’. Reaksi atas kematian Evan Christopher Situmorang (12), siswa di SMP Flora Pondok Ungu Permai, adalah contoh muaknya masyarakat pada MOS. Kelelahan setelah berjalan sekitar 4 km atas perintah seniornya menjadi ‘bahan dasar’ percakapan dan penolakan kesadisan MOS, walaupun belum ada kejelasan penyebab kematiannya yang terjadi beberapa hari dan setelah masa MOS lewat. Apalagi kalau mengetahui bahwa pengawasan sekolah sangat minim terhadap MOS oleh senior. Rasanya kemarahan terhadap MOS sudah sampai ubun-ubun, geram sekali.
Permasalahannya, budaya MOS sudah sangat mengakar kuat. Ada yang berpendapat bahwa kalau tidak ada MOS sepi dan tidak seru. Apalagi bagi pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari MOS, hilangnya MOS justru suatu hal yang disayangkan. Seharusnya terukurlah. Kalau ada kekerasan atau hal-hal aneh dalam MOS itu saja yang dihilangkan. Itu adalah kesalahan oknum. MOS sendiri sebaiknya jangan dihilangkan. Begitu kira-kira pendapat yang berkembang sekarang.
Di tingkat Perguruan Tinggi MOS dikenal dengan nama OPSPEK, tapi sebenarnya intinya sama. Memang tindak kekerasan tidaklah seperti kejadian yang pernah ramai di STPDN dulu, namun kadang kalau kita cermati acar tersebut jauh dari kata mendidik. Justru terlihat mahasiswa tidak seperti mahasiswa yang berkultur akademis. Ada panitia yang berjas almamater memasang wajah masam dan bodi tukang pukul, dan yang siswa baru berpakaian dan memakai atribut yang serba aneh. Inikah figur calon intelektual? Korban-korban pun berjatuhan: Ery Rahman, praja baru IPDN tahun 2000, Donny Maharaja mahasiswa baru Universitas Gunadarma tahun 2001, Wahyu Hidayat praja baru STPDN tahun 2002 atau Fikri D.Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tahun 2013.

Pendidikan Islam Tidak Mengenal Kekerasan
Pergantian nama dari MOS menjadi MOPD tidak berpengaruh karena jika didalamnya masih ada kekerasan maka tidak akan memberikan output yang baik. Seperti dulu pernah dilakukan STPDN yang berubah menjadi IPDN karena adanya kasus kematian dari mahasiswa baru, tetap saja kasus tersebut akan terulang kembali selama sistem pendidikannya tidak berubah. Jika fakta kekerasan masih terjadi pada dunia pendidikan maka tentu tujuan pendidikan tidak akan tercapai.
Sesungguhnya kurikulum dari lembaga pendidikan yang berbasis kekufuran juga berbahaya, karena jika kurikulum tersebut berbasis kekufuran maka tentu output yang dihasilkan jauh dari ajaran Islam dan tentunya pola pikir dan sikapnya pun tidak sesuai dengan hukum-hukum Islam. Saat ini kita jumpai para pejabat yang duduk di pemerintahan banyak yang koruptor. Lantas, pendidikan yang bagaimanakah yang seharusnya ada di negara kita?
Islam mewajibkan seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu baik ilmu untuk bekal hidup di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:” Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi). Sistem pendidikan dalam Islam telah diatur dengan jelas, sistematis dan sempurna karena berdasarkan al Qur’an dan As Sunnah. Pada zaman Kekhalifahan, pendidikan menggunakan standart hukum-hukum Islam sebagai syarat pelaksananannya. Oleh karena itulah, kurikulum dan program pendidikan diperlukan demi tercapainya tujuan pendidikan. Sebelum program dan kurikulum pendidikan dirancang maka perlu kita ketahui tentang tahap-tahap perkembangan untuk membentuk kepribadian Islam setiap anak, yaitu:
Tahap I, (usia 0-7 tahun). Tahap ini disebut tahap pertumbuhan balita, dimana anak sangat membutuhkan peran dari sang ibu sebagai pendidik pertama. Ketika anak telah berusia 6 tahun anak diajarkan adab sopan dan santun serta sifat-sifat akhlak mulia.
Tahap II, (usia 7-10 tahun). Tahap ini merupakan tahap pemeliharaan anak dengan pengarahan, pemberian nasehat, teguran dan peringatan, bisa juga dengan pukulan yang ringan atau tidak membahayakan pada saat-saat tertentu jika memang diperlukan.
Tahap III, (usia 10-15 tahun). Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting karena merupakan tahap perubahan/pubertas sehingga perlu perhatian khusus Tahap ini anak akan diajari kedisiplinan, jika melanggar maka diterapkan hukuman. Misalnya, diajak sholat tapi dia tidak mau, maka orang tua boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak membahayakan.
Tahap IV, tahap ini merupakan tahap penyempurnaan kepribadian dan mulai memberikan beban tanggung jawab kepadanya, yaitu mulai anak berusia 15 tahun ke atas. Anak diajari untuk bersikap mandiri.
Begitulah tahap-tahap pendidikan dalam Islam, antara tahap satu dengan yang lainnya berbeda. Dengan demikian maka program, metode dan kurikulum pendidikan dalam Islam berlandaskan pada akidah Islam. Pendidikan Islam akan mencetak generasi Islam dengan kepribadian Islam yang kuat dan mengakar dalam kehidupan yang memiliki bekal ilmu untuk kehidupan dunia dan akhirat. Penghargaan yang besar akan diberikan Allah SWT kepada mereka yang menuntut ilmu demi kemuliaan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu berilah kelapangan didalam majelis-majelis maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu dan apabila dikatakan berdirilah kamu maka berdirilah niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Mujadilah:11)
Hal lain yang patut diperhatikan bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Rasulullah SAW bersabda:”Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”(HR Al Bukhari dan Muslim). Jadi jika terjadi kekerasan pada area yang dipimpinnya maka pemimpin pun harus bertanggung jawab terhadapnya, termasuk pemimpin lembaga pendidikan akan dimintai pertanggung jawaban selama mengelola pendidikan tersebut. Begitu pula dengan kegiatan MOS, hendaknya seorang pemimpin harus selektif terhadap kegiatan yang akan dilakukan dalam penyambutan siswa baru. Apakah akan menimbulkan dampak positif/negatif. Karena jika mengarah pada kekerasan maka seorang pemimpin tidak boleh membiarkannya. Apalagi jika sampai terjadi hilangnya nyawa orang lain maka pemimpin pun juga harus bertanggung jawab, mulai dari pelaku kekerasan, guru, pemimpin lembaga pendidikan maupun kementerian pendidikannya termasuk negara. Hukum Islam sangatlah tegas terhadap pelaku tindak kekerasan yang terbukti bersalah maka dia akan dihukum dengan hukuman yang setimpal. Yang terbukti membunuh maka dia akan dibunuh juga, bagi yang menciderai anggota tubuh maka akan dicederai juga pada anggota tubuh yang sama.
Apa arti dibalik MOS kalau hanya dimeriahkan dengan perlakuan semena-mena senior yang setelah itu hanya menertawakan junior dengan wajah sengsara mereka. Alih-alih memberikan kenangan tersendiri dalam memori setiap individu yang melewati masa-masa itu, bagi junior hanya bisa tunduk dan merasa takut dihadapan kakak kelas.
Siswa baru yang ingin menuntut ilmu maka janganlah dipersulit, karena di awal tujuan mereka datang ke sekolah di jenjang yang lebih tinggi untuk memperoleh ilmu, seharusnya pihak sekolah termasuk para senior menyambutnya dengan suka cita karena mereka akan menjadi bagian dari keluarga sekolah tersebut. Kalaupun ada kegiatan MOS, maka MOS harus mengarah pada kegiatan yang lebih mendidik, mengeksplorasi pengetahuan dan kemampuan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, membangun karakter bukan sebagai ajang perpeloncoan dan balas dendam, karena perpeloncoan hanya akan melahirkan peserta didik yang suka dengan kekerasan. Jika ingin memunculkan keakraban atau ingin mengenalkan tradisi/peraturan di sekolah/pengenalan ekstra kurikuler maka haruslah dengan kegiatan yang positif tanpa ada kekerasan fisik yang bisa berujung kematian. Misalnya MOS bisa dilakukan dalam ruangan kemudian mengenalkan fasilitas sekolah, para pendidik mereka, ekstra kurikuler di sekolah dll. Para pemimpin sekolah pun juga harus berhati-hati dalam menyeleksi kegiatan yang akan dilakukan dalam penyambutan siswa baru karena mereka adalah pemimpin bagi seluruh warga sekolah tersebut. Selain itu, peran negara sangatlah besar di dunia pendidikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan vital. Negara bertanggung jawab pada rakyatnya yang menyangkut sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan, dan pendidikan. Wallahu’alam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: