MENGHILANGKAN PERILAKU ANARKIS DALAM PENDIDIKAN

Ospek atau orientasi pengenalan kampus, sebenarnya adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada lingkungan barunya, sistem belajar dan sistem evaluasi di kampusnya. Selain itu Ospek juga membantu mahasiswa baru dalam memperkenalkan mahasiswa baru dalam berinteraksi dengan civitas akademika yang ada dikampusnya. Oleh karena itu, jika menilik dari tujuannya maka tidak heran kemudian banyak pihak yang sangat mendukung kegiatan tersebut. Akan tetapi pada prakteknya, Ospek kebanyakan diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menjadi ajang perploncoan, bahkan yang lebih kasar lagi menjadi ajang pembantaian generasi muda. Seperti kasus yang terjadi tahun lalu, dimana Fikri Dolasmantya Surya (20), mahasiswa baru jurusan Planologi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, meninggal secara tidak wajar di sela-sela ospek perguruan tinggi swasta tersebut. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) barangkali menjadi kampus yang dikenang publik karena kegiatan pembinaan mahasiswanya (praja) yang sarat kekerasan. Sebuah laporan menyebutkan, sejak 1993-2011 sebanyak 21 praja IPDN tewas.
Tentunya yang terakhir adalah yang kita lihat dalam praktek MOS di sekolah-sekolah. Masih banyak praktek-praktek kekerasan fisik psikologis yang dilakukan oleh senior kepada anak-anak baru yang secara tidak langsung diamini oleh pimpinan institusi sekolah. Pemberian sanksi fisik dan sebagainya menjadi bagian yang wajar dan lumrah dilakukan dalam praktek MOS di sekolah. Begitulah gambaran praktek pendidikan di negeri ini, lantas bagaimana kita mensikapi fenomena penyelewengan dalam kegiatan orientasi ini?

Komunitas Interaksi Yang Salah
Kita ketahui bersama bahwa manusia itu secara fitrahnya merupakan makhluk sosial, tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lainnya. Sehingga sudah bukan rahasia lagi bahwa segala bentuk kebudayaan, tatanan hidup dan sistem kemasyarakatan akan sangat mempengaruhi bagaimana interaksi akan terjadi. Dalam kasus Ospek yang kemudian sampai timbul korban meninggal, itu pada dasarnya adalah interaksi yang salah dari kelompok tersebut. Dan interaksi yang salah ini pasti dipengaruhi oleh suatu kebudayaan, tatanan hidup yang salah juga. Seperti orang yang masuk dalam komunitas geng (perusuh), maka sudah pasti akan dilahirkan generasi yang brengsek/bajingan juga. Demikian juga jika seseorang itu masuk dalam komunitas yang baik, maka akan dilahirkan generasi yang baik.
Kasus Ospek yang mengedepankan kekerasan, sejatinya merupakan kesalahan komunitas interaksi yang dibangun oleh kalangan kampus itu sendiri. Mereka tidak sadar bahwa apa yang coba mereka terapkan adalah suatu metode interaksi dari sistem sosialis-komunis, dimana dalam sistem sosialis-komunis tidak dibangun berdasarkan akal melainkan berdasarkan materi. Sehingga dalam konsep sosialisme, materi merupakan sumber kehidupan. Dengan konsep tersebut, manusia dianggap seperti materi, perlu disiapkan agar cukup siap menghadapi kondisi yang akan datang. Jadi tidak heran manusia dianggap seperti mesin, perlu dilatih, digembleng yang seringkali tidak sesuai fitrah manusia. Inilah yang terjadi kenapa sampai terjadi konsep Ospek (perploncoan).
Hal ini berbeda dengan Islam, dimana Islam dibangun berdasarkan akal bukan materi. Sehingga yang dibangun adalah pola tingkah laku yang mengikuti pola pikir. Dalam hal komunitas interaksi, Islam telah menawarkan sebuah komunitas yang standartnya adalah benar atau salah sesuai dengan aqidah dan hukum. Dimana dalam komunitas ini yang diperjuangkan adalah menegakan aqidah dan hukum sebagai dasar perilaku manusia. Sehingga karena dasarnya adalah aqidah dan hukum, semua aktivitas dalam komunitas ini akan selalu didasarkan pada aqidah dan hukum. Semisal, Rasulullah bersabda : “Tidak beriman seseorang diantara kalian hingga ia (dapat) mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari). Makanya tidak mengherankan ketika terjadi peristiwa hijrah ke Madinah, dan ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum muhajirin dengan Anshar, kaum Anshar dengan suka cita membantu saudara Muhajirin, ada yang menawarkan rumah, harta, dll. Suatu sikap yang saat ini sangat sulit kita dapatkan.
Islam telah menyadari hal ini, sehingga mewajibkan setiap muslim untuk bergabung dengan sebuah komunitas yang bisa meningkatkan keimanan yaitu sebuah komunitas yang bersandarkan aqidah dan hukum. Banyak orang tidak menyadari bahwa kondisi suatu Negara bisa tercermin dari pola pikir dan pola sikap dari komunitas yang ada di Negara tersebut. Kenapa bisa demikian? Coba bayangkan kalau calon-calon pemimpin kita ikut dalam komunitas yang di dalamnya dibangun berdasarkan sistem, atau tatanan hidup yang salah, maka jangan heran kemudian muncul pemimpin-pemimpin yang tidak berpihak dengan rakyat bahkan bisa menjadi seorang diktaktor. Oleh karena itu pembinaan yang dilakukan melalui kekerasan tidak akan membantu memperbaiki kepribadian seseorang untuk menjadi pemimpin yang semestinya punya cara berfikir yang bijaksana, jujur, menjunjung tinggi kebenaran, adil, dan sebagainya.

Menghapus Sifat Anarkis Dalam Pendidikan
Sekolah sejatinya adalah tempat untuk menuntut ilmu, untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi anak didik melalui pendidikan formal. Namun, secara realita kadang tidak berjalan sesuai dengan kondisi ideal itu, yang terjadi justru banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan dalam dunia pendidikan kita.
Misalnya, keberadaan masa orientasi atau dengan istilah sejenisnya, sudah menjadi anggapan yang wajar bahwa masa orientasi yang dilakukan di sekolah dengan istilah MOS atau OSPEK di tingkat perguruan tinggi diwarnai dengan perilaku-perilaku yang bisa dikatakan bersifat “anarkistis”. Mengapa sampai kita katakan demikian? Karena sebagaimana kita lihat bahwa apa yang dilakukan dalam kegiatan orientasi itu jauh dari apa yang dimaksud dengan mendidik. Alih-alih mendidik, yang terjadi adalah adanya kegiatan perpeloncoan, fisik, dan melakukan penghinaan kepada siswa/mahasiswa baru. Tidak jarang perpeloncoan itu sampai menimbulkan kekerasan yang dilakukan oleh penyelenggara baik itu kekerasan fisik yang minim seperti hukuman push up, scot jam, dan sebagainya sampai hukuman fisik seperti menempeleng, menendang dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas semacam ini tentu merupakan aktivitas yang bersifat “anarkis” atau main hakim sendiri. Dengan dalih adanya pelanggaran aturan tertentu kemudian panitia berhak memberikan sanksi semacam ini. Hal semacam ini harus dihentikan karena merupakan bentuk pelanggaran hukum yaitu main hakim sendiri.
Perbuatan-perbuatan anarkis yang ada di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya harus dihilangkan. Karena sekecil apapun pelangaran yang dilakukan oleh peserta orientasi maka panitia bahkan sekolah tidak berhak untuk memberikan sanksi yang sifatnya di luar sanksi administratif. Karena sekolah bukanlah instansi penegak hukum, sekolah adalah instansi pendidikan. Sekolah atau penyelenggara tidak bisa mengambil alih kewenangan negara dalam memberikan sanksi atas pelanggaran sekecil apapun, bahkan untuk sekedar menjewer seseorang. Jangan hanya berdasar kewajaran dan melanggar peraturan kemudian melakukan aktivitas menjewer dan yang lainnya. Peraturan sekolah tidak boleh keluar dari aturan hukum, aturan di sekolah adalah aturan hukum yang secara umum berlaku di masyarakat yang apabila ada pelanggaran maka itu menjadi kewenangan peradilan untuk menyelesaikannya bukan sekolah.
Praktek ini juga tentu sekaligus memberikan kritik kepada ahli-ahli hukum yang ada saat ini, kenapa aktivitas anarkis di sekolah seolah dianggap sesuatu yang wajar. Padahal dalam kondisi lain seorang ayah misalkan menjewer anaknya dan anaknya merasa terjadi kekerasan bisa dilaporkan kepada pihak yang berwajib, mengapa hal itu tidak sama dengan apa yang terjadi di sekolah. Seolah-olah yang dilarang hanyalah kekerasan yang sifatnya keras, untuk kekerasan yang sifatnya kecil dianggap biasa. Seharusnya sekecil apapun kekerasan yang dilakukan itu merupakan tindakan pidana yang harus dipidanakan ke pengadilan. Jadi sekolah dan penyelenggara tidak bisa dengan mudah untuk memberikan sanksi fisik kepada peserta orientasi. Bahkan kalau pihak sekolah merasa perlu adanya sanksi fisik kepada peserta didik, maka gunakanlah jalur hukum, biar pengadilan yang menentukan apakah perlu diberikan sanksi atau tidak. Karena pada dasarnya pelanggaran dalam sekolah adalah bentuk perselisihan antara sekolah/panitia dengan siswa. Segala bentuk perselisihan ini harus diputuskan berdasarkan hukum yang benar melalui peradilan bukan dengan main hakim sendiri karena sekolah tidak punya hak untuk menilai suatu perbuatan itu salah atau tidak. Namun demikian, dalam hal substansi pendidikan sekolah/perguruan tinggi memiliki hak untuk menilai seorang siswa apakah dia termasuk siswa yang pandai atau kurang pandai. Karena memang secara substansi institusi sekolah/perguruan tinggi melalui guru/dosen diberikan kewenangan untuk menilai secara substansi terhadap materi pembelajaran bukan berkaitan dengan teknis perilaku yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa.
Kewenangan negara tidak boleh diambil oleh pihak manapun dalam menegakkan hukum. Sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang. Adanya pelanggaran merupakan kewenangan pengadilan untuk menyelesaikannya. Adanya pelanggaran di sekolah kewenangan penyelesaiannya adalah di pengadilan juga. Dan memang seharusnya secara logika hukum ditegakkan untuk semua persoalan dan bagi siapa saja.

Pendidikan Islam untuk Membangun Kepribadian Islam bukan Kepribadian Anarkis
Pendidikan dilakukan dalam rangka untuk membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan Islam dilaksanakan dalam rangka membentuk kepribadian Islam yang sesuai dengan aqidah dan hukum Islam. Sehingga yang diperbaiki adalah akalnya/pemikirannya bukan fisiknya. Perlu diketahui bahwa kepribadian setiap manusia terdiri dari pola pikir dan pola sikap. Kepribadian tidak ada kaitannya dengan bentuk tubuh, kekuatan tubuh, dan sejenisnya. Merupakan kedangkalan berfikir bagi orang yang mengira bahwa kondisi fisik merupakan salah satu faktor penunjang kepribadian. Oleh karena itu sebuah kekeliruan besar menjadikan Ospek (perploncoan) sebagai salah satu sarana untuk bisa mengubah kepribadian seseorang. Manusia memiliki keistimewaan disebabkan akalnya, dan perilaku seseorang adalah menunjukan tinggi rendahnya akal seseorang. Perilaku seseorang di dalam kehidupan tergantung mafahimnya (persepsinya). Jadi dengan sendirinya tingkah laku terkait erat dengan pemahaman, dan tidak bisa dipisahkan. Pemahaman ini terbentuk dari jalinan fakta/realita dengan maklumat (informasi) atau sebaliknya. Artinya pada saat terjalinnya fakta dengan informasi sebelumnya, maka terbentuklah pola pikir. Oleh karena itu, dalam pembentukan kepribadian seseorang, Islam lebih mengedepankan akal dari pada fisik sesuai dengan fitrah manusia.
Membangun kepribadian, akan dipengaruhi metodologi yang digunakan. Apabila metodologinya salah maka akan melahirkan generasi salah (diktaktor, koruptor, dll). Akan tetapi jika yang digunakan adalah metodologi yang benar (Islam), maka akan dilahirkan generasi yang benar, generasi yang selalu menjadikan aqidah dan hukum Islam sebagai landasan berfikir serta bertingkah laku. Generasi yang senantiasa menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai pedoman dalam melakukan setiap langkah perbuatannya. Generasi yang berusaha untuk senantiasa terikat pada aturan Allah Swt dan senantiasa mencintai Allah Swt. Semoga anak-anak kaum muslimin menjadi anak-anak yang selalu taat kepada Allah Swt. Amieen. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: