HIJRAH MENUJU PERADABAN ISLAM

Tidak terasa kita kembali memasuki bulan Muharram, bulan dimana kaum muslimin akan menyambut datangnya Tahun Baru Hijrah. Sudah menjadi kebiasaan bagi kaum muslimin dalam rangka memperingati datangnya tahun hijrah, mengadakan berbagai kegiatan; mulai dari muhâsabah (perenungan), zikir akbar hingga berbagai festival seni dan budaya Islami. Semua itu dilakukan dalam rangka menumbuhkan kecintaan pada penanggalan tahun Islam, serta untuk menyegarkan kembali pemahaman kaum Muslim terhadap satu peristiwa besar, yakni hijrahnya Rasulullah SAW dan para Sahabat r.a. dari Makkah ke Madinah
Sayangnya pergantian tahun baru hijrah kali ini hadir dalam suasana yang penuh keprihatinan. Banyak sekali kejadian sedih dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin. Mulai dari persoalan kemiskinan, kerusuhan berbau SARA seperti yang terjadi kerusuhan di Tolikora, papua; Dolar yang semakin menggila; Hukum yang kurang adil; belum lagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum pro kepada rakyat seperti: kenaikan BBM, privatisasi, pendidikan, kesehatan; dan berbagai persoalan lainnya yang membelenggu nasib umat Islam. Bagaimana mungkin kejadian-kejadian diatas bisa menimpa kaum muslimin, padahal jumlah kaum muslimin mayoritas di dunia? Apa yang salah dengan semua kejadian ini? Benar rupanya kabar yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa meskipun kaum muslimin jumlahnya banyak tapi kondisinya lemah bahkan tidak berguna. Diriwayatkan dari Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Transformasi Pemikiran & Metodologi Islam
Sebagaimana hadist diatas yang menyebutkan bahwa “kaum muslimin ibarat buih dilautan” meskipun jumlahnya mayoritas tapi kondisinya lemah, dan tertindas. Apa penyebabnya? Sebenarnya segala permasalahan yang menimpa kaum muslimin seperti yang terjadi akhir-akhir ini, Islam memiliki solusinya dan telah membuktikannya selama lebih dari empat belas abad lamanya. Mulai dari masalah kemiskinan; Islam telah menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap orang baik pangan, sandang dan papan. Mekanismenya adalah: Pertama, memerintahkan setiap kepala keluarga bekerja (QS 62: 10) demi memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Islam telah menjadikan hukum mencari rezeki tersebut adalah fardhu (QS 2: 233). Gabungan kemaslahatan di dunia dan pahala di akhirat itu menjadi dorongan besar untuk bekerja. Kedua, mewajibkan negara untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Ketiga, mewajibkan ahli waris dan kerabat yang mampu untuk memberi nafkah yang tidak mampu (QS 2: 233). Keempat, jika ada orang yang tidak mampu, sementara kerabat dan ahli warisnya tidak ada atau tidak mampu menanggung nafkahnya, maka nafkahnya menjadi kewajiban negara (Baitul Mal). Dalam hal ini, negara bisa menggunakan harta milik negara, harta milik umum, juga harta zakat. Bahkan jika masih kurang, negara bisa menetapkan kewajiban pajak bagi orang yang kaya.
Dalam masalah keberagaman Islam juga memiliki solusinya. Bahkan Islam memandang keragaman agama, keyakinan, suku, ras dan bahasa sebagai perkara yang alami dan lumrah. Islam tidak berusaha menghapus keragaman tersebut dengan cara memaksa semua orang untuk meninggalkan agama dan keyakinan mereka. Islam dengan tegas melarang seorang Muslim memaksa orang kafir memeluk agama Islam. Islam hadir untuk mengatur keragaman yang ada di tengah-tengah masyarakat agar terbina kerukunan dan sikap saling menghargai satu dengan yang lain. Tidak hanya itu, Islam pun menyeru manusia meninggalkan keyakinan dan sistem hidup kufur, menuju agama Islam yang lurus
Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah yaitu ketika Rasulullah SAW menegakkan Negara Islam di Madinah, struktur masyarakat Islam saat itu tidaklah seragam. Masyarakat Madinah dihuni oleh kaum Muslim, Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik. Namun, mereka bisa hidup bersama dalam naungan Daulah Islamiyah dan otoritas hukum Islam. Entitas-entitas selain Islam tidak dipaksa masuk ke dalam agama Islam atau diusir dari Madinah. Mereka mendapatkan perlindungan dan hak yang sama seperti kaum Muslim. Mereka hidup berdampingan satu sama lain tanpa ada intimidasi dan gangguan. Bahkan Islam telah melindungi kebebasan mereka dalam hal ibadah, keyakinan, dan urusan-urusan privat mereka. Mereka dibiarkan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.
Demikian juga dalam masalah ekonomi secara makro, Islam telah membuktikan tanpa harus membebani rakyat dengan segala macam pajak, kaum muslimin bisa hidup sejahtera. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab (13-23 H/634-644 M), misalnya, hanya dalam 10 tahun masa pemerintahannya, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negeri. Pada masanya, di Yaman, misalnya, Muadz bin Jabal sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat. Pada masanya, Khalifah Umar bin al-Khaththab mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar (1 dinar =4,25 gr emas). Kemudian dari mana negara bisa mensejahterakan rakyatnya? Islam secara panjang lebar telah menjelaskan sumber-sumber pemasukan negara (Baitul Mal).
Secara garis besar, sumber pendapatan negara (Baitul Mal) ada lima. Pertama: hasil pengelolaan harta milik umum dengan ketiga jenisnya. Potensi pemasukan dari jenis pertama ini sangat besar di Dunia Islam, tentu jika dikelola dengan benar sesuai syariah. Contohnya di Indonesia. Kalau APBN Indonesia menggunakan prinsip syariah akan didapatkan dana tiap tahunnya sebesar 1.764,45 juta dinar yang setara dengan Rp 1. 764 triliun hanya dari satu sumber saja, yaitu kepemilikan umum yang dikelola oleh negara. Minyak: 121,5 juta dinar (Rp 182,25 triliun), Gas: 178,9 juta dinar (Rp 268,35 triliun), Batubara: 127,5 juta dinar (Rp 191,25 triliun), Emas & Mineral: 33,5 juta dinar (Rp 50,25 triliun), BUMN Kelautan: 48,9 juta dinar (Rp 73,35 triliun) dan Hasil hutan: 666 juta dinar (Rp 999 triliun).
Kedua, hasil pengelolaan fai, kharaj, ghanimah, jizyah, ’usyur dan harta milik negara lainnya dan BUMN selain yang mengelola harta milik umum. Ketiga, harta zakat. Keempat, sumber pemasukan temporal. Ini sifatnya non-budgeter. Di antaranya: infak, wakaf, sedekah dan hadiah; harta ghulul (haram) penguasa; harta orang murtad; harta warisan yang tidak ada ahli warisnya; dharibah (pajak); dll. Berdasarkan potensi dan sistem APBN Syariah inilah, Negara tidak akan mengalami defisit APBN dan tidak akan menjadikan pajak sebagai sumber utama pendapatan negara.
Islam-pun juga tidak mengenal yang namanya “kegaduhan” akibat kenaikan harga BBM seperti saat ini. Berdalih ingin mengurangi subsidi yang kurang tepat, yang konon hanya dinikmati oleh orang-orang kaya, harga BBM seenaknya dikendalikan oleh negara. Islam tidaklah begitu. Dalam pengaturan kepemilikan umum, yang mempunyai hak adalah rakyat karena merekalah yang mempunyai hak milik. Seperti BBM, jalan, dll. Maka karena rakyat yang memiliki hak, keputusan menaikan harga BBM tidak bisa seenaknya ditetapkan oleh negara, harus persetujuan pemilik sah yaitu rakyat. Negara hanya sebagai pelaksana keputusan rakyat. Bagaimana caranya, negara bisa membuat survei lewat institusi independen untuk mengetahui kehendak rakyat. Jika sistem ini berjalan maka tidak ada ceritanya mafia migas bermain karena yang mengawasi rakyat.
Masalah kebutuhan pokok rakyat lainnya seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan; maka Islam juga tidak kalah hebatnya. Anggarannya pun tidak mengenal batasan, misal minimal 20% atau lebih dari nilai APBN; akan tetapi standartnya adalah cukup atau tidak! Karena merupakan kewajiban pokok negara maka negara wajib menyediakan anggarannya dengan pengaturan yang benar, jangan malah memprioritaskan bidang yang bukan kewajiban pokok. Bagaimana kalau anggarannya tidak cukup, maka negara diberi keleluasaan untuk mencari dana dengan cara yang benar, misal menarik pajak hanya pada orang-orang yang mampu.
Penegakan hukum, Islam juga luar biasa. Islam selalu mengedepankan proses hukum melalui jalur pengadilan. Setiap orang punya kedudukan yang sama di mata hukum. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah marah besar dikarenakan salah satu wanita bangsawan Quraisy telah melakukan pencurian dan mereka mengutus Usamah ra (seorang sahabat yang dianggap dekat dengan Rasulullah saw) untuk meminta keringanan agar dibatalkan hukum potong tangan tersebut. Setelah mendengarkan permohonan Usamah, Rasulullah SAW menjawab dengan tegas: Apakah kamu meminta pertolongan (keringanan) dalam masalah hudud (ketetapan hukum Allah)? Kemudian Rasulullah saw berkhutbah: “Sesungguhnya umat sebelum kamu sekalian dihancurkan karena ketidakadilan, bila orang elit mencuri dibiarkan dan bila orang lemah mencuri ditegakkan hukum had. Demi Allah, seandainya Fatimah anak Muhammad mencuri akan aku potong tangannya”. Oleh karenanya kalau hukum Islam ditegakkan, maka kejadian yang sering kita dengar tentang perlakuan hukum terhadap “para pejabat” di negeri ini pasti tidak terjadi. Demikian juga pasti kita juga minim mendengan kriminalitas yang menggila, karena hukuman dalam Islam begitu tegas dan tidak mengenal kompromi.
Berbagai solusi Islam sebagaimana penjelasan tersebut diatas bisa terwujud hanya jika Islam diterapkan secara utuh yaitu sebagai satu peraturan hidup, baik secara pemikiran atau metodologi penerapannya. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika membangun masyarakat Madinah. Dimana saat itu, Islam ditegakkan bukan hanya sebagai agama ritual saja, akan tetapi sebagai peraturan hidup yang utuh. Bukan seperti sekarang ini, Islam hanyalah sekedar ibadah ritual, Islam telah dipisahkan antara pemikiran dan metodologinya. Ibarat macan ompong yang tidak bertaji. Oleh karenanya acara peringatan-peringatan tahun Hijrah-pun terkesan hanya sekedar “rutinitas” tanpa bisa menggugah semangat kaum muslimin untuk kembali menegakkan Islam sebagai peraturan hidup di muka bumi ini.

Saatnya Bangkit!!!!
Hijrah, seharusnya merupakan momentum yang tepat bagi kaum muslimin untuk bangkit dari keterpurukannya saat ini. Kaum muslimin tidak boleh lagi ragu akan kebenaran peraturan hidup Islam. Islam telah sempurna, Islam bukan ritual belaka seperti sholat, zakat, haji, akan tetapi Islam adalah sebuah peraturan hidup. Ada yang bertanya “kenapa harus Islam?”. Karena hanya Islam-lah yang diridhai oleh Allah Swt. Allâh Swt telah berfirman :
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al Maidah: 3).
Sebagai bukti syukur seorang Muslim atas nikmat ini adalah dengan menjadikan dirinya sebagai seorang Muslim yang ridha Allâh sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabinya. Seorang Muslim harus menerima dan meyakini agama Islam dengan sepenuh hati. Artinya ia dengan penuh kesadaran dan keyakinan menerima apa yang diajarkan dan mengamalkan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Wallahu a’lamu bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: