ALHAMDULILLAH PEDOFILIA DAPAT DIATASI

Sangat disayangkan dunia ini dipenuhi berbagai marabahaya seperti jaman jahiliyah dahulu kala. Anak kecil pun menjadi sasaran marabahaya itu. Kalau dahulu anak kecil perempuan dibunuh keluarganya/ayahnya sendiri, saat ini mereka menjadi incaran sadisme kejahatan seksual dan pembunuhan oleh para pedofil. Sungguh, ini adalah hal yang sangat-sangat jahiliyah yang keterlaluan.
Anak kecil zaman dahulu masih beruntung dibandingkan anak kecil zaman sekarang. Jaman jahiliyah dulu yang menyulitkan anak kecil telah berubah menjadi jaman Islam yang melindungi semua orang termasuk anak kecil. Sedangkan jaman jahiliyah sekarang ini sepertinya tidak segera berubah menjadi jaman Islam seperti yang diharapkan yaitu melindungi semua orang, termasuk anak-anak. Betul-betul masa yang ‘mengerikan’ bagi anak kecil. Mereka saat ini ternyata diincar sadisme.
Pada sekitar tahun 1996 misalnya, anak-anak telah menjadi korban kekejaman seorang Robot Gedek. Anak-anak itu disodomi, dibunuh dan dipotong-potong menjadi berbagai bagian lalu dibuang ke berbagai tempat. Selanjutnya, Sekitar tahun 2006 anak-anak kembali menjadi korban. Pelakunya dikenal dengan nama sebutan Babe. Pura-pura mengurusi anak-anak jalanan, kenyataannya banyak di antara mereka yang menjadi korban kebejatan dari si Babe ini.
Tahun 2014 ada kejadian sadisme si Emon. Konon, dia melakukan perbuatan bejat terhadap puluhan anak di Sukabumi. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah ‘kado’ dari Jakarta International School (JIS). Seolah-olah Jakarta International ‘surga’ bagi pedofil karena tukang kebun di sana pedofil. Gurunya konon juga ada yang pedofil. Bahkan pedofil luar negeri macam William James Vahey yang buronon FBI juga ke sana. Sungguh hal yang sangat memprihatinkan.
Tahun 2015 ini anak Kalideres Jakarta menjadi korban. Yang melakukan perbuatan sadis bukan orang yang jauh-jauh dari anak-anak, namun ternyata tetangganya sendiri. Tidak hanya di kota besar macam Jakarta saja kejadian seperti ini terjadi. Di kota-kota lainnya juga terjadi. Di Jogjakarta misalnya, laporan kepolisian menunjukan bahwa tahun 2010 polisi menerima 5 pengaduan sedangkan pada tahun 2014 menerima 9 pengaduan. Anak-anak di kota kecil juga menjadi korban sadisme itu. Sebagai contoh, seorang anak dari Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah, kota kecil yang letaknya lebih dari 600 km dari Jakarta, menjadi korban sadisme tetangganya sendiri.
Komnas PAI pernah merilis data yang menunjukan betapa banyaknya anak kecil yang mengalami masalah itu. Tahun 2014 saja terdapat sekitar lebih dari 200 anak mengalami kejahatan seksual. Adapun sebuah perkiraan menyatakan masih banyak sadisme ini yang tidak dilaporkan dan tidak terdata. Adakah yang dapat melindungi anak-anak dari sadisme ini?
Dunia jaman sekarang seharusnya malu terhadap dunia pada masa lalu. Katanya modern: peralatan-peralatan dan teknologinya, ilmu-ilmunya dan peradabannya. Namun, kenyataannya sadisme pedofilia terhadap anak-anak tidak dapat diatasi. Kalau sudah begitu Deklarasi Wina tentang anak maupun deklarasi lainnya menjadi tidak ada gunanya. Deklarasi hanya sebuah deklamasi. “…The Child by reasons of his physical and mental immaturity, needs special safeguards and care, …”
Bandingkan dengan jaman Islam dulu di mana peralatan, teknologi masih sederhana, ilmu juga masih sederhana namun peradabannya mampu menghentikan kebiadaban jahiliyah waktu itu. Budaya membunuh anak perempuan langsung sirna, begitu Islam datang memberikan kesadaran mendalam tentang makna anak, termasuk anak perempuan.
Dapat diatasi
Harus ada kesadaran internal untuk mengatasi sadisme. Salah satu hal penting adalah pendidikan kepribadian Islam. Pendidikan ini menanamkan hal-hal yang baik yang harus dikerjakan dan menanamkan hal-hal buruk yang harus ditinggalkan. Pendidikan kepribadian Islam harus benar-benar mengakar sehingga muatan pendidikan Islam menjadi ‘nyawa’ anak didik sampai akhir hayat nanti dan digunakan untuk mengarungi kehidupan dengan penuh kebajikan.
Hal yang tidak kalah penting adalah menghilangkan gambaran-gambaran buruk di tengah masyarakat. Misalnya saja menghilangkan gambaran kekerasan dan sadisme di tengah masyarakat. Demikian juga menghilangkan gambaran porno dan cabul. Intinya, gambaran-gambaran buruk harus tidak nyata di tengah masyarakat.
Hilangnya gambaran-gambaran buruk ini diharapkan (1) menghilangkan kontradiksi antara pendidikan dengan kenyataan di masyarakat. Dengan hilangnya kontradiksi tersebut, diharapkan pada setiap orang muatan pendidikan kepribadian berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan. (2) mencegah bergejolaknya hormon pada setiap orang yang ‘mendorong’ munculnya naluri-naluri melakukan hal buruk seperti kekerasan, sadisme dan tindakan porno/cabul.
Dengan cara seperti ini saja, mungkin sudah banyak dapat menguraikan permasalahan kekerasan, sadisme, dan pedofilia di tengah masyarakat. Mungkin hanya orang-orang yang sifatnya di luar kebiasaan yang masih harus ditangani secara khusus.
Kalau memang ada orang-orang yang diduga kelebihan hormon tertentu dan mudah bergejolak naluri kekerasan, sadisme, dan pedofilia walaupun pemicunya berupa gambaran buruk di tengah masyarakat dihilangkan dan orang-orang tersebut telah diberikan pendidikan Islam, maka terhadap orang-orang tersebut harus diperhatikan secara khusus.
Suntik kimia kebiri atau meminum ramuan tradisional yang dapat mengurangi hormon pemicu kekerasan, sadisme dan pedofilia tersebut dapat dilakukan, asalkan tanpa paksaan. Banyak berpuasa juga dapat membantu. Hal ini bukan hukuman bagi pedofil. Namun upaya pencegahan berupa ‘penyembuhan’ yang dilakukan supaya seseorang tidak melakukan perbuatan kekerasan, sadisme dan pedofil.
Adapun bagi orang-orang yang membenarkan kekerasan, sadisme dan pedofilia, lalu melakukannya, maka harus diberikan sanksi yang setimpal. Untuk kekerasan dan sadisme, qishos menjadi hukuman yang tepat. Biar si pelaku kekerasan dan sadisme merasakan tidak enaknya kekerasan dan sadisme itu, lalu berusaha sendiri menurunkan seminimal mungkin hormon yang memunculkan naluri kekerasan dan sadismenya. Dikurung/dipenjara walaupun antara 3 sampai 15 tahun, tanpa merasakan kekerasan dan sadisme memang kurang teruji untuk membuat pelaku jera. Namun dengan qishos, InsyaAllah pelaku dapat merasakan pentingnya kehidupan.
Untuk pedofil, tentu saja tidak diberikan sanksi pengebirian sebab pengebirian adalah usaha preventif. Pedofil sudah melakukan kejahatan zina, jadi hukumannya adalah hukuman untuk pezina, yaitu rajam. Kalau sebelum atau sesudah melakukan kejahatan zina mereka melakukan kejahatan kekerasan dan sadisme, tentu saja hukumannya dua macam, yaitu rajam dan qishos. Dengan demikian pedofil mendapatkan hukuman setimpal.
Bagaimana kalau hukuman rajam dan atau qishos menyebabkan kematian si pedofil? Itu memang risiko yang harus ditanggung. Perbuatan mereka itu sangat kejam terhadap anak kecil yaitu melakukan pelecehan seksual sedangkan dia sudah memiliki istri dan melakukan sadisme yang menyebabkan kematian si anak kecil. Jadi rajam dan qishos yang menyebabkan kematian bagi pelaku pedofil memang setimpal. Rasa keadilan di tengah masyarakat yang sangat-sangat geram kepada pedofil terpenuhi. Selain itu para pedofil lain akan ketakutan setengah mati, lalu mereka memilih jalan benar berupa mengobati kelebihan hormon dengan teknik suntik, jamu atau puasa ditambah dengan memperkuat pendidikan kepribadian Islam, maka selamatlah dan amanlah masyarakat dari jahiliyah pedofilia. Moga-moga juga, hukuman rajam dan qishos menyebabkan Allah yang Maha Pengampun dan Pemaaf mengampuni dosa si pedofil.
Memang orang-orang kafir tidak menyetujui segala bentuk hukuman mati. Hal ini diikuti juga oleh sebagian umat Islam. Yang harus dipahami di sini adalah ‘psikologi’ orang-orang kafir. Sebenarnya mereka itu sendiri yang salah dan kejam, dilanda penyakit “cinta dunia dan takut mati”. Makanya, ketika melihat hukuman mati mereka terbelalak seperti melihat diri mereka sendiri dan perbuatannya. Lalu mereka ketakutan dan tidak ingin melihat hukuman mati. Bahkan kematian pun mereka sebenarnya tidak ingin melihatnya. Itulah psikologi orang kafir terhadap kematian dan hukuman mati.
Sejuta alasan pun dikemukakan untuk tidak melihat hukuman mati tersebut. Bahkan kalau perlu mereka menggunakan segala cara mempengaruhi pihak lain dan umat Islam supaya seperti mereka, yaitu menolak hukuman mati. Lalu terpenuhi psikologi mereka “cinta dunia dan takut mati”
Adapun bagi umat Islam yang hak, kehidupan di dunia harus berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan petunjukNYA. Sedangkan kematian pasti akan datang, entah orang takut atau tidak. Yang penting setelah kematian akan datang kehidupan abadi di mana di sana mendapatkan ridlo dan ampunan dariNYA di surga, dan tidak mengalami murkaNYA di neraka. Berdasarkan hal itu, umat Islam tidak takut terhadap kematian, melakukan hukuman mati sesuai agama Islam atau kalau mengalami kesalahan yang berat sesuai hukum Islam dihukum mati oleh pihak yang berwenang. Jadi berdasarkan ajaran Islam, yang tepat atas pedofil yang terbukti di pengadilan Islam melakukan pelecehan seksual terhadap anak kecil padahal si pedofil sudah menikah, adalah dirajam sampai mati. Apalagi kalau sebelum dan atau sesudahnya melakukan kekerasan dan sadisme sehingga si anak yang menjadi korban mengalami kematian, hukuman yang tepat adalah qishos.

Kesimpulan
Masyarakat dapat mengulangi kegemilangan masa lalu. Kejahiliyahan sirna berganti cahaya dan kemuliaan. Kalau dahulu jahiliyah pembunuhan terhadap anak perempuan oleh keluarga/ayah dapat diatasi dengan konsep mulia anak sebagai karunia Allah SWT sehingga akan selalu terdapat generasi penerus terangnya cahaya ilahi, sekarang jahiliyah pedofilia dapat diatasi. (1) Masyarakat luas harus menjadi masyarakat yang normal melalui terdapatnya pendidikan yang membentuk kepribadian Islam dan hilangnya gambaran kekerasan, sadisme dan gambar porno/cabul di tengah masyarakat. (2) Sebagian kecil masyarakat yang tidak normal mendapat perlakuan khusus. Tanpa paksaan, mereka yang kelebihan hormon yang memicu kekerasan, sadisme dan pedofilia diobati dengan suntik kimia, minum jamu tradisional atau memperbanyak puasa. (3) Oknum yang terbukti di depan majelis peradilan Islam melakukan kekerasan, sadisme dan pedofilia, dihukum setimpal dengan harapan memenuhi rasa keadilan di tengah masyarakat, membuat jera oknum lain, dan mendapatkan maaf dan ampunan dari Allah SWT. Hukuman setimpal tersebut bisa berupa hukuman maksimal yang membawa kematian si oknum. Kalau itu semua dilakukan secara kaaffah dan dengan ikhlas lillahi ta’ala, InsyaAllah untuk kedua kalinya kejahiliyahan sirna berganti kemuliaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: