SELAMAT DATANG MEA: TEPATILAH JANJIMU, INILAH KETAKWAANKU !!

Ternyata pimpinan-pimpinan negara ASEAN dapat digolongkan sebagai pemberani. Dua belas tahun lalu, tepatnya pada tahun 2003, mereka dengan berani menyepakati bahwa pada tahun 2015 akan diterapkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Harapannya, modal internasional yang selama ini fokus ke Tiongkok dan India, juga masuk ke Asean. Selanjutnya, di kawasan Asean terjadi peningkatan produk domestik bruto, pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan pengurangan tingkat kemiskinan. Betul-betul kesepakatan (dan janji) yang sangat berani.
Bisakah kesepakatan MEA ini terwujud? Sepertinya kalau kesepakatan mobilisasi tenaga kerja, modal dan barang antar negara ASEAN akan terwujud. Namun, banyak juga yang pesimis, khususnya pada terpenuhinya janji pengurangan pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Mengapa? Karena terdapat berbagai masalah yang berat seperti krisis anggaran, krisis dollar dan krisis industri yang mengancam kestabilan negara. Belum lagi masalah lain seperti krisis politik dan bencana.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa MEA menyebabkan muculnya kerugian. Sebagai contoh adalah kerugian yang bakal diderita kalangan pekerja Indonesia. Sebelum MEA saja mereka mudah dipecat, apalagi dengan adanya MEA. Sebelum MEA, pekerja dipecat hanya ketika perusahaan mengalami kemerosotan. Saat MEA mulai diberlakukan, pekerja dapat dipecat, walaupun perusahaannya tidak mengalami kemerosotan. Alasannya pemecatan adalah perusahaan pindah ke negara lain yang menjadi basis produksi. Alasan lainnya lagi adalah perusahaan sudah mendapat pekerja dari negara lain yang lebih berkualitas.
Contoh lain adalah kerugian yang bakal diderita kalangan pengguna pinjaman ribawi. Sebelum MEA, para pengguna pinjaman ribawi sudah merasakan betapa mahalnya harga pinjaman ribawi. Saat MEA, pengguna pinjaman ribawi ‘mati kutu’ sebab para pemberi pinjaman ribawi ‘jual mahal’. Mereka dapat menekan dan memaksakan kehendak, kalau tidak dipenuhi oleh pengguna pinjaman ribawi, mereka akan memilih pindah dan beroperasi/meminjamkan uang di negara lain.
Contoh lain lagi adalah kerugian yang bakal diderita kalangan konsumen. Sebelum MEA, konsumen sudah merasakan naiknya harga berbagai barang. Apakah saat MEA harga barang menjadi lebih murah? Boleh disimpulkan bahwa konsumen akan merasakan harga menjadi lebih mahal. Harga barang di Indonesia menjadi relatif sama dengan harga barang di Thailand atau harga barang di Indonesia menjadi relatif sama dengan harga barang di Singapura. Jadilah konsumen merasakan harga barang menjadi semakin mahal.
Adapun pihak yang optimis beralasan bahwa berbagai kerugian yang muncul dari MEA dapat diatasi oleh manfaatnya. Kalangan pekerja terdorong untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi persaingan dengan pekerja negara lain. Inilah manfaat MEA. Pekerja industri mobil misalnya, berusaha meningkatkan kualitas kerjanya. Kalau industrinya pindah ke Thailand, mereka tidak di PHK tetapi tetap dipekerjakan di Thailand. Atau kalau industrinya tetap di Indonesia, lalu datang pekerja dari Thailand, Singapura, Malaysia, Philipina, dll, pekerja Indonesia siap bersaing dengan mereka dan tidak di PHK.
Karena telah mempersiapkan diri dengan baik, para pekerja mendapatkan gaji yang pantas. Singkat cerita, hal itu menyebabkan mereka mampu menghadapi tekanan pemberi pinjaman ribawi dan harga barang yang mahal. Selanjutnya, perekonomian ASEAN memiliki daya saing dibandingkan kawasan-kawasan lainnya seperti Tiongkok, India, Afrika, dll. Jadilah ASEAN menjadi bagian penting perekonomian dunia.
Dengan demikian, bahwa melalui kesepakatan MEA, para pemimpin Asean telah berjanji. Adapun janji mereka adalah bahwa kawasan Asean bakal ‘dibanjiri’ modal internasional. Selain itu, mereka berjanji bahwa modal internasional itu tidak menimbulkan bahaya bagi rakyat dan bangsa di Asean. Bahkan mereka berjanji bahwa Asean akan mejadi kawasan yang makmur dan sejahtera. Boleh dikatakan bahwa pimpinan Asean telah mengikatkan diri mereka pada sebuah janji besar.
Semoga janji tersebut bukan hanya tipu-tipuan semata. Pemimpin Asean harus menepati janjinya. Allah SWT Maha Tahu. Sungguh sangat besar kemurkaan Allah SWT kalau para pemimpin itu tidak menepati janjinya. Apalagi kalau janji tersebut kenyataannya adalah ‘tameng’ bagi masuk dan berkembangnya suatu hal yang membahayakan, merusak dan menghancurkan masyarakat. Pasti dan pasti sekali Allah SWT akan sangat-sangat murka. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi para pemimpin Asean selain menepati janji mereka yaitu: Datangkan modal internasional dalam jumah banyak yang tidak membahayakan/merugikan masyarakat!!!. Dan datangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat!!!.

Surat Al Hujurat ayat 13
Apa yang dapat dilakukan oleh umat Islam berkaitan dengan MEA? Umat Islam tidak boleh merasa tidak dapat melakukan apa-apa. Ini sangat keliru sekali. Bahkan umat Islam harus merasa bahwa banyak agenda dapat disiapkan dan banyak hal dapat dilakukan supaya MEA sejalan dengan ajaran Islam. Supaya MEA tidak membahayakan berbagai bangsa. Apa saja?
Pertama, umat Islam harus memperkenalkan diri sebagai bangsa yang mulia. Kalau pikirannya hanya uang, dan mencari untung, apalagi dengan menghalalkan segala cara, tentu tidak menunjukan sebagai bangsa yang mulia. Bahkan pikiran seperti itu adalah pikiran picik yang menunjukan sebagai bangsa rendahan. Tidak perlu juga memperkenalkan sebagai bangsa yang penuh kekerasan. Ini bisa menimbul fitnah bahwa umat Islam adalah bangsa yang biadab. Bangsa yang mulia adalah bangsa yang selalu dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan tetap menjunjung tinggi ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Umat Islam dapat memperkenalkan kerjasama syirkah sebagai alternatif pinjam-meminjam ribawi. Memang sudah ada perbankan syariah. Namun, agar alternatif terhadap pinjam meminjam ribawi lebih lengkap, dapat diperkenalkan syirkah inan di mana pihak internasional dan pihak lokal Asean bersama-sama patungan modal untuk suatu bisnis tertentu. Atau dapat diperkenalkan syirkah mudhorobah di mana pihak internasional sebagai sekutu modal, sedangkan pihak lokal Asean sebagai sekutu kerja untuk menggarap suatu bisnis tertentu. Jika masa kerja sama sudah habis, dilakukan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.
Hal ini sangat bermanfaat baik bagi pihak lokal Asean dan pihak modal internasional. Syirkah bermanfaat bagi pihak lokal Asean, karena menggerakan bisnis di Asean. Pihak modal internasional juga mendapat manfaat, karena modal yang ditanamkan pada bisnis lokal di Asean menghasilkan keuntungan. Selain itu, bisnis internasional dapat berkenalan dengan kemuliaan salah satu ajaran Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin. Lebih-lebih lagi, kalau mengadopsi kerja sama bisnis ini, mereka dapat terlepas dari tuduhan hanya mengeksploitasi kalangan lokal Asean dan menyebabkan timbulnya berbagai krisis.
Umat Islam juga dapat memperkenalkan profesionalitas seorang pekerja muslim. Dalil dalam surat Al Qashshas ayat 77 akan mendorong pekerja muslim menjadi pekerja profesional sebaik-baiknya. Amanah pekerjaan akan dipikul sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya sehingga pekerjaan terlaksana secara tuntas. Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Bangsa-bangsa lain pasti akan terkagum-kagum dengan umat Islam dan agama Islam. Kalangan pekerjanya bekerja secara profesional dan pekerjaannya tuntas dengan sebaik-baiknya, bukan semata-mata karena dorongan materi dan gaji, namun, karena dorongan kepribadian Islam yang ada pada diri mereka. Semua pekerjaan yang ada dalam kontrak kerja akan dipenuhi hingga tuntas sebaik-baiknya sebab akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian juga, sebagai bukti bahwa si pekerja muslim telah berbuat baik pada orang lain dan tidak membuat kerusakan.
Umat Islam juga dapat memperkenalkan diri sebagai bangsa yang suka tolong menolong dalam kebaikan dan tolong menolong dalam ketakwaan, namun tidak suka tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” Bangsa lain, entah dari Singapura, Philipina, Thailand, Myanmar, Timor Leste, dll tidak perlu khawatir di tengah umat Islam. Selama tidak melakukan dosa dan pelanggaran, mereka akan hidup baik-baik saja di tengah umat Islam. Bahkan mereka dapat menyaksikan kehidupan yang baik di tengah umat Islam seperti ibadahnya dan tolong menolongnya, pemerintahannya, politiknya, hukum dan peradilannya, pendidikannya, dll. Kalau mereka mengalami kemiskinan di tengah umat Islam, sedangkan sanak saudaranya jauh di negeri asalnya sana, baitulmal akan membantu sepenuhnya sehingga mereka tidak dihantui kelaparan dan kekurangan.
Kedua, adalah memastikan bahwa MEA berjalan sesuai dengan ajaran agama Islam. Dalam hal ini ada dua agenda besar umat Islam. (1) mendorong para pemimpin memenuhi janjinya bahwa modal internasional masuk tanpa membahayakan masyarakat dan bahwa terjadi kemakmuran dan kesejahteraan. (2) menghilangkan semua hal yang melenceng dari agama Islam saat MEA. Tugas ini tentu saja sangat berat karena seolah-olah memposisikan umat Islam untuk mengkritik para pemimpin dan sistem yang ada. Namun, tugas ini merupakan tugas mulia. Oleh karena itu harus dilaksanakan. Apalagi jika dilandasi oleh surat Ali Imron ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Sesungguhnya, tugas kedua umat Islam ini, juga merupakan perkenalan yang baik umat Islam kepada bangsa-bangsa lain. Umat Islam akan dikenal sebagai bangsa yang bukan bangsa kecil, bodoh dan penakut. Sebaliknya umat Islam akan dikenal sebagai bangsa yang kritis, rasional, adil dan selalu memperjuangkan yang benar. Oleh karena itu, kalau memang MEA disiapkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan, umat Islam akan welcome dan menyambut kehadiran berbagai bangsa dengan penuh ketakwaan secara kaaffah. Nashrun minnalllahi wa fathun qariib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: